Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
KEMATIAN kedua orangtuanya akibat wabah felenza telah membuat Ogbanje Ojebeta (tujuh tahun) kehilangan hak atas dirinya. Hanya untuk mendapatkan uang untuk membiayai pesta akil balig yang dianggap sebagai tradisi penting bagi masyarakat Ibuza, Okolie, abang kandung Obejeta, tega menjual adiknya sebagai budak. Harganya sangat murah, hanya delapan pound sterling.
Maka di sebuah pagi yang gelap, Okolie membangunkan adiknya dari tidur nyenyaknya. Okolie hanya mengatakan mereka akan pergi ke pasar Onitsha untuk menjumpai Ma Palagada, kerabat jauh mereka. Ojebeta pernah mendengar pasar besar tersebut dari mendiang ibunya. Terletak tidak terlalu jauh dari kampung mereka. Tetapi Ojebeta belum pernah berkunjung ke sana.
Kendati sudah bangun pagi-pagi untuk menghindari pertemuan dengan banyak orang, tetap saja ada Eze, saudara mereka yang melihat. Okolie berkilah bahwa mereka hendak mengunjungi kerabat mereka di Onistha. Dengan nada marah, Okolie menghindari pembicaraan lebih lanjut dengan Eze untuk menutupi rahasianya.
Kebodohan, kemiskinan, dan rendahnya nilai agama adalah penyebab Okolie menjual adiknya sendiri. Padahal, Ojebeta adalah anak perempuan yang sangat diharapkan bapak-ibunya karena selama ini semua bayi perempuan dalam keluarga tersebut selalu meninggal. Ojebeta juga diyakini akan meninggal sehingga keluarganya mengunjungi seorang raja sehingga ia diberi jimat agar bayi itu berumur panjang. Dengan jimat dan tato daun sirih menghiasi wajahnya, Ojebeta tumbuh menjadi gadis yang unik, dan cerdas.
Dia banyak belajar dari temannya sesama budak, dan juga dari Ma Palagada. Perempuan yang membelinya itu sesungguhnya bukan tuan yang kejam. Bahkan terlihat ia sangat menyayangi para budak perempuannya. Namun, tidak demikian dengan suaminya yang dipanggil Pa Palagada. Lelaki gendut itu malah menggunakan kedudukannya dengan menghamili salah seorang budak perempuan yang paling dewasa yang mereka miliki.
Kecantikan dan kecerdasan yang dimiliki Ojebeta malah memberikan berkah kepadanya. Ia ditaksir Clifford, satu-satunya putra Ma Palagada dari hasil pernikahannya dengan Pa Palagada. Bahkan lelaki itu berjanji akan menikahi Obejeta setelah menyelesaikan seluruh urusan bisnisnya. Namun, keadaan berubah dengan cepat setelah Ma Palagada meninggal dunia. Kecerdasan dan perilaku Ejebeta yang beradap membuat seorang anak Ma Palagada, Victoria, ingin membawanya menjadi pembantu. Itu artinya, Ojebeta tidak akan menghirup udara kebebasan. Ia akan selamanya diperlakukan sebagai budak yang harus mengabdi.
Di situlah muncul keberanian Ojebeta untuk melawan keinginan anak dari pemilik dirinya. Dia merasa harus menjadi penentu jalan hidupnya sendiri. Kendati mendapat kekasaran dan penghinaan, akhirnya Obejeta bisa kembali ke Ibuza, kampung halamannya. Dia bergelut lagi dengan kemiskinan dan kebodohan masyarakat sekitar, tetapi ia merasa bahagia karena sudah menjadi pribadi yang merdeka.
Buku ini mengambil latar di Ibuza, Nigeria, pada masa-masa awal kolonial di mana perbudakan masih sering dilakukan kendati secara diam-diam. Penulisnya, Buchi Emecheta, menggambarkan kehidupan yang begitu dekat dengan dirinya, sebab Buchi juga dilahirkan di Lagos, Nigeria dari orangtua dari Ibuza. Tak heran kalau penggambarannya tentang kehidupan masa lalu penduduk Nigeria begitu nyata. Harapan untuk mendapatkan peradaban seolah terbuka lebar ketika warga Inggris masuk yang bukan saja membawa ilmu pengetahuan tetapi juga menyebarkan agama baru. Masalah muncul karena seperti karakteristik khalayak di mana pun, masyarakat Nigeria juga terbagi dalam kelompok yang bisa menerima perubahan dan antiperubahan. Alasan mempertahankan identitas diri seringkali mendapat gesekan di tengah masyarakat yang intensitasnya kerap merugikan masyarakat sendiri. Kondisi seperti itu masih kita jumpai sampai sekarang, termasuk di sini, di negara kita.
Novel ini juga bisa dibaca dalam konteks kesetaraan gender perempuan Afrika yang memperjuangkan hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan dan kesejahteraan; kendati Emecheta sama sekali tidak menyinggung masalah tersebut secara gamblang. Pada masa itu, masalah gender memang belum menjadi isu penting. Seorang perempuan muda bukan milik mereka sendiri, tetapi merupakan milik keluarganya terutama para lelaki; jiwa dan raga. Perempuan sama sekali tidak mempunyai pilihan dalam menentukan jalan hidupnya sendiri.
Kisah ini disajikan dalam bahasa yang sederhana, begitu mudah dipahami tetapi berkelas. Tidak banyak percakapan tak penting di dalamnya. Bahkan sebuah ketegangan pun disampaikan dengan nada ringan yang menjadi ciri khas Emecheta dalam beberapa karyanya. Namun, kesederhanaan itulah yang membuat Buchi Emecheta meraih sejumlah penghargaan, mulai dari Penulis Muda Terbaik di Inggris pada 1983 dan penghargaan sastra Jock Campbell New Statesman Award.***
(Resensi: Ayi Jufridar)
Data Buku
Judul: GADIS BUDAK
Pengarang: Buchi Emecheta
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Tebal: 377 hal
Cetakan: I, 2010
Dia baru berusia dua tahun ketika dinobatkan sebagai kaisar, dalam suasana kerajaan yang penuh intrik dan gejolak.
PADA 2 Desember 1908, di Aula Kedamaian Istana Terlarang, ribuan orang berkumpul menghadiri upacara penobatan kaisar baru. Upacara biasanya memakan waktu sepanjang hari. Sebelum penobatan, kaisar baru harus menerima para pemimpin tentara istana, menteri, pejabat sipil dan militer, raja kecil, serta gubernur untuk melakukan kowtow (penghormatan).
Belum juga usai, sang kaisar sudah kelelahan. Dia menjerit, menangis, dan meraung-raung. Wali kaisar, yang tak lain adalah ayahnya, gelisah. Setengah berbisik dia membujuk anaknya: “Jangan nangis. Yang sabar ya. Semuanya segera selesai. Semuanya akan usai.” Beberapa orang yang mendengar bisikan itu berkata: “Ini adalah pertanda buruk.”
Henry Pu Yi, kaisar baru itu, yang lahir pada 7 Februari 1906, baru berusia dua tahun. Dia menggantikan kaisar lama yang mati dibunuh pendukung republik.
Pu Yi jadi penerus Dinasti Qing dalam situasi penuh prahara. Kaum revolusioner republik sedang gencar mengupayakan perubahan sistem pemerintahan China dari monarki menjadi republik. Seorang penasihat istana bernama Yuan Shih Kai menjadi musuh dalam selimut dalam pemerintahan Pu Yi.
Pada 12 Februari 1912 Yuan berhasil mempengaruhi janda permaisuri Lung Yu untuk menjatuhkan pemerintahan Pu Yi. Yuan lalu membentuk pemerintahan republik sementara dengan dia sebagai presidennya. Segala urusan politik dan ekonomi kerajaan berada di bawah pengaturan Yuan.
“Aku kaisar yang berkuasa dalam suasana seperti itu selama tiga tahun lamanya, tanpa adanya kesadaran yang nyata akan situasi politik,” kata Pu Yi dalam otobiografinya.
Pu Yi jadi kaisar tanpa titah. Dia menjalani hidup sebagai seorang interniran di Istana Terlarang. Tapi dia masih memperoleh hak pelayanan sebagai kaisar dan menjalankan tradisi kerajaan berdasarkan Perjanjian Perlakuan Baik yang dibuat ayahnya dan Departemen Rumah Tangga dengan pihak republik. Di sisi lain, keluarga Qing berjanji akan terus mendukung Yuan sebagai kaisar bila dia memegang teguh perjanjian itu. Tapi Yuan keburu meninggal dunia, hanya 83 hari setelah memegang kekuasaan sebagai kaisar.
Banyak orang percaya itu adalah kutukan langit karena dia telah merebut kepemimpinan “Putra Langit” secara tidak sah. Berita kematiaannya disambut penuh sukacita oleh para penduduk Kota Terlarang. Kematian Yuan memunculkan kembali kerinduan masyarakat Kota Terlarang, bahkan sebagian masyarakat China, terhadap pemerintahan Dinasti Qing. Mereka menuntut restorasi pemerintahan. Pada 1917 restorasi Dinasti Qing mencapai puncaknya. Pu Yi kembali menjadi kaisar penuh.
Tapi masa-masa indah itu hanya berlangsung sesaat. Kaum revolusioner republik kembali menyerang Istana Yu Ching milik Dinasti Qing dengan menggunakan kekuatan udara –yang pertama dalam sejarah China. Setelah itu pemerintahan republik mengeluarkan dekrit yang menurunkan tahta Pu Yi sebagai kaisar. Kecuali di Istana Terlarang, Pu Yi kembali kehilangan kekuasaannya.
Beruntung Pu Yi memiliki banyak tutor yang kelak mempengaruhi pikiran-pikirannya. Salah satunya Reginald Fleming Johnstone, alumnus Universitas Oxford Inggris. Melalui dirinya Pu Yi belajar berbagai hal mengenai dunia Barat. Keduanya kerap berdiskusi soal kondisi dan sistem politik di sejumlah negara, kekuatan negara setelah Perang Dunia I, hingga kebiasaan keluarga kerajaan Inggris.
“Kurasa dia tak pernah menyadari seberapa dalam pengaruh dirinya terhadap diriku; bahwa stelan wolnya membuatku mempertanyakan nilai kain sutera dan brokat China; dan pulpen di dalam sakunya membuatku malu menggunakan kuas dan kertas Chinaku,” kenang Pu Yi.
Kekuasannya yang terbatas hilang ketika pemerintahan republik mengumumkan berakhirnya Perjanjian Perlakuan Baik. Kedudukan Pu Yi sebagai kaisar dicabut; hanya rakyat biasa. Pu Yi kemudian melarikan diri ke Tietsin, sebuah daerah yang masih menjadi wilayah konsesi Jepang atas China. Di sini Pu Yi berusaha mengonsilidasikan kembali sisa-sisa pengikut setianya. Tutor-tutor Pu Yi meyakinkannya bahwa restorasi hanya bisa terwujud dengan bantuan Jepang.
Jepang sendiri mendekati Pu Yi dengan mengundangnya berkunjung ke sebuah sekolah untuk anak-anak Jepang dan pesta ulang tahun Kaisar Jepang. Bahkan pada 1934 Jepang mengangkat Pu Yi sebagai kaisar boneka di Machukuo di utara China untuk memuluskan berbagai kepentingan Jepang di China. Pada masa ini, melalui stempel Pu Yi, Jepang menggulirkan kerja paksa hingga puluhan ribu rakyat China tewas. Jepang juga kemudian berhasil menduduki wilayah Beijing. Tapi, ibarat kacang lupa kulitnya, Jepang lalu mencabut kekuasaan Pu Yi.
Pernah bekerja sama dengan Jepang, Pu Yi dicap sebagai kolaborator. Pada 1945, dalam suasana Perang Dunia II, Pu Yi ditangkap pasukan Soviet dan dibawa ke Chita, Siberia. Selama tujuh hari berturut-turut Pu Yi diperiksa di pengadilan penjahat perang.
China sendiri sudah berubah. Pada 1 Oktober 1949, Mao Tse Tung resmi membentuk Republik Rakyat China. Pu Yi sendiri baru menikmati kemerdekaan dirinya sepuluh tahun kemudian ketika Mao mengumumkan pemberian amnesti kepada para tahanan perang, termasuk Pu Yi.
Buku ini ditulis oleh Pu Yi di dalam penjara. The Last Emperor, otobiografi Henry Pu Yi ini, menceritakan pengalaman hidupnya yang luar biasa: penobatannya sebagai kaisar pada usia sangat muda, hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, korupsi yang menggerogoti kerajaan, menjadi “boneka” penguasa Jepang, mendekam di penjara sebagai tawanan perang, hingga menjadi tukang kebun di mana hanya sedikit orang yang mengenalnya sebagai “Putra Langit”. Selain itu, buku ini menjelajahi perjalanan sejarah China dalam memasuki era modern. Buku ini mengilhami film dengan judul sama, disutradarai Bernardo Bertolucci, yang meraih 9 Piala Oscar.
Pada 17 Oktober 1967, Pu Yi wafat dan dimakamkan di samping makam kaisar sebelumnya, Kaisar Kuang Hsu.
[Resensi: Jay Akbar]
Detail Buku
Judul: THE LAST EMPEROR
Anak Judul: Kisah Tragis Kaisar Terakhir China
Penulis: Henry Pu Yi, Direvisi oleh Paul Kramer
Penerbit: Serambi
Cetakan: III, Mei 2010
Tebal: 468 hlm
Dimuat di Majalah Historia
http://www.majalah-historia.com/majalah/historia/berita-271-kaisar-tanpa-titah.html
Simak bincang santai buku terbaru Serambi, THE LAST EMBER,
novel bergaya Da Vinci Code karya Daniel Levin
tentang misteri di balik penggalian Al-Aqsa
Yang akan dibahas oleh Kurnia Efendi
Minggu, 11 Juli 2010
Pukul 14.00 WIB
Hanya di DFM 103,4 FM Jakarta
Jangan lewatkan ya, karena akan 3 hadiah buku buat para pendengar yang beruntung .
NB: Kalau beli The Last Ember di PBJ dapat diskon s.d 40% lho!
Klik detailnya di sini http://cerita-utama.serambi.co.id/gcu.php/the-last-ember.php
Anda yang di luar Jakarta juga bisa mendengarkannya via streaming di http://www.radiodfm.com/
Jangan lewatkan bincang seru kali ini yang akan membahas buku klasik yang indah, MADAME BOVARY
novel yang disebut-sebut sebagai karya brilian yang kemudian banyak menginspirasi karya-karya sastra sesudahnya.
Tentang mimpi-mimpi romantis dan kenyataan yang tak seiring sejalan ..
Minggu, 11 Juli 2010
Pukul 14.00 WIB
Hanya di Pro2 RRI 105.00 FM Jakarta
Jangan lewatkan ya, karena akan 3 hadiah buku buat para pendengar yang beruntung.
NB: Kalau beli di PBJ dapat diskon s.d 40% lho!
Klik detailnya http://cerita-utama.serambi.co.id/gcu.php/madame-bovary.php
Anda yang di luar Jakarta juga bisa mendengarkannya via streaming di http://www.rri.co.id/
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.