Ketika Buku Berkata [resensi LIBRI DI LUCA]

21 Jun 2010 Pada: Resensi Pembaca
Dari abad ke abad buku terus menerus dihasilkan dan dibaca. Tak jarang buku dibakar dan penulisnya ditumpas. Toh buku terus ada. Tak ada jegalan yang mampu menghalangi lahirnya dan dimaknainya sebuah buku. Inilah yang menarik dari novel Libri di Luca; sebuah novel yang mengisahkan buku yang terus bicara.
Matinya Sang Pengarang

Dalam esainya berjudul The Death of the Author, Roland Barthes mengungkapkan tentang persoalan sastra sebagai mahkota dan kesimpulan ideologi kapitalisme selalu mementingkan “pribadi” sang pengarang. Pengarang seperti lengket dalam tulisan yang telah ia buat. Seorang pengarang terus saja membayangi karyanya lewat catatan, biografi, wawancara, dan kesadaran pengarang yang ingin menyatu dalam karyanya. Tak mengherankan kalau kemudian citra buku terpusat kepada pengarang secara tiranik, pribadinya, sejarahnya, seleranya, dan kegairahanya. Karya pun tak pernah dibiarkan melenggang sendirian. Padahal menurut Barthes, seharusnya pengarang mati setelah karyanya lahir.

Persoalan yang diungkapkan Roland Barthes itulah yang ingin dijawab oleh Mikkel Birkegaard dalam novelnya Libri di Luca. Dalam Libri di Luca diceritakan betapa sebuah buku mampu berbicara sendiri tanpa harus dibantu oleh pengarangnya. Semakin dibaca buku itu, semakin banyak tafsir yang dihasilkan, bahkan seringkali melenceng dari keinginan awal penulisnya. Reproduksi makna terus terjadi: “beberapa buku bagaikan diisi kembali setiap kali dibaca.”(hal.63).

Oleh karena itu, sebuah buku yang belum dibaca tidak akan berarti apa-apa walaupun pengarang berkoar-koar bahwa bukunya adalah karya unggul. Di sinilah sebuah buku akan menentukan nasibnya sendiri. Ia bisa hilang dan bisa juga abadi. Semakin banyak buku itu dibaca, maka semakin “bermakna” buku itu: “buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.” (hal.63). Pembacalah—yang melakukan reproduksi makna—yang mementukan “kekuatan” sebuah buku, bukan pengarangnya.

Mendengar Suara Buku

Hanya ada satu tempat idaman untuk rumpun kata-kata. Buku. Di situlah mereka bisa menjalankan fungsi sebenarnya—menyampaikan ilmu pengetahuan, membagi infromasi, hingga menyuarakan kebenaran—tanpa takut lenyap seketika terbawa angin yang berhembus. Buku adalah sebuah prasasti, tempat kata-kata menjejakkan maknanya yang ambigu sembari menunggu dipahami lebih lanjut. Pun, sebuah kotak harta karun misterius yang bisa mendatangkan berbagai resiko.

Hal inilah—selain ingin menjawab persoalan Roland Barthes—yang juga ingin disampaikan Luca dan Jon dalam novel Libri di Luca. Novel ini menampilkan sesuatu yang masih asing, yaitu sisi lain dari seorang penggila buku alias kutu buku yang masih sering dipandang aneh oleh beberapa orang. Selintas, Luca, si pemilik toko buku antik Libri di Luca, hanyalah seorang tua pendiam yang lebih memilih hidup di antara tumpukan buku koleksi dan jualannya daripada dengan Jon, anak semata wayangnya.

Keegoisan ini sempat dipandang Jon sebagai salah satu sifat khas para penggila buku yang cenderung aneh dan individualis. Apalagi, Jon seorang pengacara yang tak pernah punya waktu untuk membaca banyak buku, kecuali buku hukum. Namun, seiring bergulirnya waktu, Jon yang semula memandang sebelah mata pada pengabdian almarhum ayahnya pada dunia literatur akhirnya menyadari kesalahan yang telah dibuatnya—kesalahan orang awam pada umumnya. Ternyata, buku pun bisa berbicara; mengisahkan dirinya sendiri. “Gambaran itu sedemikian meyakinkan sehingga Jon ingin melirik ke samping untuk melihat anak itu dengan lebih jelas, tetapi matanya tidak lagi mematuhi dirinya. Mereka menolak meninggalkan halaman buku itu dan terus menelusuri kalimat demi kalimat di dalam buku tentang anak itu….” (halaman 84)

Jon juga menemukan alasan lain atas kesetiaan almarhum ayahnya pada buku-buku: “…Itulah hal yang menakjubkan dari semuanya. Rupanya, setiap buku memiliki suaranya tersendiri… Seperti berkomunikasi langsung dengan buku itu sendiri—dengan jiwanya.” (halaman 85)

Ada cerita di balik cerita. Inilah yang terjadi jika buku bisa berdiri sendiri. Ia selalu memberikan sebuah cerita baru setiap kali dibaca ulang.

Senjata Yang Dikutuk

Kira-kira, ada sekian ratus buku baru yang dicetak dan beredar di negeri ini setiap tahun, namun hanya sedikit buku yang benar-benar layak dimaknai ulang, ditafsirkan, dan diteruskan “suara”-nya kepada orang lain. Yaitu, hasil karya yang mampu mengubah pandangan seseorang tentang sejarah, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Pun, membuka mata dan menyentak kesadaran pembacanya akan fakta yang sebenarnya. Sayangnya, buku-buku semacam itulah yang paling dicari oleh segelintir pihak untuk dimusnahkan karena dianggap sebagai buku yang menyimpan “kutukan”. Kutukan tentang kebenaran.

Di dalam Libri di Luca, yang berlatar belakang kota Denmark di zaman modern, potret masyarakat urban yang disajikan Mikkel ternyata tak jauh berbeda dari apa yang ada di Indonesia. Suara politik bagai “suara Tuhan”. Yang mampu mengaduk-aduk segala hal semaunya, termasuk dunia literatur. Mikkel memunculkan seorang tokoh politisi yang hendak menutup kelas-kelas membaca di sekolah demi membelokkan aliran dana ke kas pribadinya. Namun, kejadian ini berakhir mudah di dunia khayal Mikkel. Dia memberikan kekuatan khusus kepada sejumlah penggila buku yang disebut Lector. Yaitu, kemampuan memengaruhi pikiran seseorang melalui bacaan hingga sesuai yang diinginkan. Di tangan mereka, buku menjadi senjata.

Dalam dunia nyata, imajinasi Mikkel tidaklah terlalu berlebihan. Banyak buku dipaksa menjadi kayu api karena dicap berbahaya. Sebagai contoh, semua buku karangan Pramoedya Ananta Toer sebagian besar dilarang. Karya tersebut dikerangkeng hanya karena penulisnya berpandangan politik berbeda–terlepas dari isi buku tentang serangkaian kebenaran pada masa itu, disamping ungkapan rasa kebangsaaan yang kuat. Hingga sekarang, sejumlah buku tetap diburu untuk dibungkam atau dibakar dengan berbagai dalih yang bermuara pada satu kesimpulan picik. Buku-buku itu terkutuk. Tidak pantas dibaca karena akan merusak moral, stabilitas negara atau apapun namanya. Tapi, tanpa disadari, membumihanguskan buku-buku terkutuk sama saja dengan melepaskan kutukan itu ke tengah pusaran angin. Kutukannya akan hinggap dan tersemai di mana-mana.

(Resensi oleh Anin Siswanto)

Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Tagline: Novel tentang Perkumpulan Rahasia Pencinta Buku
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 588 hlm

Good Wives @ Majalah D’Sari, Juli 2010

21 Jun 2010 Pada: Resensi Media Massa

Kisah-kisah Unik Piala Dunia

18 Jun 2010 Pada: Resensi Pembaca

SEJAK diselenggarakan pertama kali tahun 1930, perhelatan akbar Piala Dunia (World Cup) selalu mengundang hingar bingar. Olah raga paling populer sejagat itu -tak dumungkiri- menyedot perhatian penduduk bumi di seluruh dunia. Maklum, piala dunia tidak lagi sekedar permainan. Lebih dari itu, event piala dunia sudah melampaui batas lapangan hijau jadi simbol dari denyut nadi perjuangan ‘nasionalisme’ sebuah bangsa, ritual dan religion global. Bahkan seiring kemajuan zaman, piala dunia sudah dikemas menjadi bisnis global.

Tapi, terlepas dari semua itu, sepak bola tetap sebuah pertandingan di atas lapangan hijau. Maka, ketika Piala Dunia digelar menampilkan perwakilan 32 negara, di lapangan hijau itu akan tersaji sebuah pertunjukan serupa drama –permainan adu skill, strategi, dan kekuatan untuk dapat jadi pemenang. Karena ujung dari pertandingan adalah kalah dan menang. Wajar jika dari lapangan hijau Piala Dunia itu: lahir pahlawan bola, bintang dan selebritis lapangan. Juga, setumpuk kisah seputar suka duka yang tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi melampaui batas stadion.

Piala dunia memang memiliki ranah unik yang mirip panggung. Dari sejarah piala dunia pun menyisakan peristiwa menarik, heroik, lucu dan unik yang tidak saja terjadi di lapangan, melainkan juga di balik stadion. Giuseppe Meazza pernah meninggalkan kisah unik dalam pertandingan semifinal Piala Dunia tahun 1938. Dalam pertandingan melawan Brazil, Italia mendapat berkah pinalti setelah Domingos da Guia melakukan tackle terhadap Silvio Piola. Meazza jadi eksekutor. Tapi sebelum ia melakukan eksekusi, tali celananya putus. Penonton tertawa geli. Ia tak peduli, menarik bagian atas celana dengan mencekeram begitu saja. Drama itu membuat kiper Walter de Soza Goulart menahan geli. Tapi, Meazza tak peduli dan menata konsentrasi. Eksekusi sukses, Meazza digulung senang sampai mengangkat kedua tangannya dan lupa tali celananya putus sehingga hal itu menjadikan auratnya terbuka.

Piala dunia penuh kisah unik. Soal sepatu pun bisa menjadi tragedi. Tim India, pernah berangkat ke laga Piala Dunia 1950 dengan tanpa sepatu, karena tak tahu kalau main bola di Piala Dunia harus mengenakan sepatu. Kisah tentang sepatu juga dialami Leonidas (di Piala Dunia 1938). Saat melawan Polandia, ia sempat membuat kontroversi –masuk lapangan tanpa sepatu. Praktis, ia diusir wasit Eklind dan diminta untuk memakai sepatu. Tapi, saat ia mencetak gol keempat yang memastikan kemenangan 6-5, ia tak memakai sepatu -setelah melepaskan sepatu dan mencelupkan kakinya ke lumpur untuk mengelabuhi wasit.

Kisah soal sepatu yang tak kalah unik dialami Just Fontaine waktu harus bertanding di Swedia 1958. Saat diputuskan untuk jadi pengganti Bliard, ia dicekam galau. Sepatu yang ia miliki rusak dan tak bisa dipakai. Untung, Stephane Bruey tanggap meminjamkan sepatunya. Tak disangka, berkat sepatu pinjaman itu, Fontaine mencetak 13 gol dalam enam laga.

Piala dunia memang permainan sepak bola, tapi tidak lepas dari unsur politik, ideologi, ras, ekonomi, dan agama. Hal itu menjadikan piala dunia penuh perseteruan yang tak jarang mengancam nyawa pemain. Kiper Inggris, Gordon Banks tak bisa bermain menghadang Jerman Barat di seperempat final (1970) justru dikabarkan karena keracunan. Luis Monti sempat diancam kematian. Saat mewakili Argentina di Piala Dunia 1930, ia diancam akan dibunuh jika Argentina menang. Saat mewakili Italia (1934), ia diancam pemimpin fasis Italia –jika Italia kalah lawan Cekoslovakia. Berbeda dengan Monti yang bisa lolos, Andreaz Escobar mengalami kematian tragis –ditembus 12 peluru karena ulah seorang yang kecewa: kalah di meja judi.

Buku karya Asep Ginanjar dan Agung Hasya ini merekam kisah-kisah unik yang pernah terjadi di Piala Dunia. Setumpuk peristiwa yang mengiringi Piala Dunia itu diolah penulis dengan menampilkan 100 + fakta unik—ditambah profil para pemain, pelatih, pahlawan sepak bola dalam Piala Dunia. Juga data dan fakta historis Piala Dunia 1930 hingga 2006.

Kendati demikian, kisah-kisah unik dalam buku ini bisa jadi semacam kaledioskop ringkas Piala Dunia 1930 hingga 2006. Apalagi, buku ini dilengkapi panduan singkat Piala Dunia 2010 dan jadwal pertandingan dari penyisihan grup hingga final. Hal itu menjadikan buku ini tidak saja akan menambah wawasan seputar Piala Dunia, melainkan juga pas menemani Anda dalam menoton Piala Dunia yang sekarang ini diselenggarakan di Afrika Selatan.

Oleh N. Mursidi
(Resensi ini dimuat di Koran Jakarta, Kamis 17 Juni 2010, http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=54977)

Detail Buku
Judul: 100+ Fakta Unik Piala Dunia
Penulis: Asep Ginanjar & Agung Harsya
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2010
Tebal: 235 hlm

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi