Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Manusia dengan segala kerumitan berpikirnya tetap menjadi pelajaran menarik bagi manusia generasi selanjutnya. Sejujurnya, cerita di buku ini sepertinya tidak rumit. yang rumit itu adalah perasaan-perasaan yang terlibat pada pelaku-pelaku dalam novel ini. Novel ini berlatar di awal tahun 1920-an, dimana baru saja selesai Perang Dunia I. Mungkin hampir sama dengan di Indonesia, keadaan awal setelah perang kemerdekaan berakhir, ditandai dengan munculnya orang-orang kaya baru. Di Deli, contohnya, orang kaya bermunculan karena merampas kebun tembakau yang tadinya milik kompeni.
Mari kita lihat tokoh di Novel ini satu-persatu.
Jan Gatsby: Tokoh utama novel ini adalah Jan Gatsby. Jay Gatsby adalah seorang kaya dan seorang yang penuh misteri. Ia berusia 30 tahun, diduga kekayaannya dari menjual alkhol dan saham. Ia terobsesi ingin kembali pada gadis pujaannya, Daisy, yang telah menikah dengan pria lain. Dengan kekayaannya, ia membeli rumah mewah tak jauh dari kediaman Daisy
Nick: Tetangga yang sekaligus narator novel ini adalah Nick. Nick dan Gatsby tinggal di daerah “West” memerhatikan di rumah Jay yang sering diadakan pesta meriah. Nick berusia sama dengan Gatsby, tentang bagaimana sifatnya, kurang mendapat penekanan, sebab biasanya narator berada dalam posisi “penonton” alih-alih pelaku.
Daisy Buchanan: Sepupu Nick. Seorang perempuan yang terjebak di perkawinannya. Sebelumnya ia berjanji pada Gatsby, bahwa sekembalinya Gatsby dari Eropa, mereka akan menikah. Namun, Daisy memilih Tom sebagai suaminya. Sebenarnya, bukan karena cintanya pada Tom, namun karena Daisy melihat kekayaan Tom. Ia mencurigai suaminya telah berselingkuh. Daisy sendiri terperangkap dalam perkawinannya. Ia sadar suatu saat ia pun akan dicampakkan oleh suaminya.
Jordan Baker: Jordan hampir mirip keadaannya dengan Tom dan Daisy. Konsep hidup bersenang-senang, dan tidak perlu peduli dengan orang lain ini mungkin yang membuat Jordan tidak banyak musuh.
Tom Buchanan: Tom adalah sahabat Nick ketika berkuliah di Yale University. Tom juga adalah seorang pemain (nasional) olahraga football di New Heaven. Kekayaan Tom luar biasa, Nick menceritakan suatu hal yang sulit dipercaya ketika Tom membawa sejumlah kuda Polo dari Lake Forest. Tom digambarkan sebagai orang yang “rusak” karena uang dan kekuasaan. Ia menjadi kasar dan tidak percaya pada istrinya, dan juga rasis. Tom tumbuh besar di keluarga yang cukup mapan, ia mengira apapun bisa didapat dengan uang.
Lokasi di Novel ini terjadi di New York City, Long Island, di dua area yang disebut “West Egg” and “East Egg.” Secara umum, novel ini berbicara tentang gaya hidup yang populer pada awal 1920-an. Istilah ini biasa disebut “jazz age.” Dari masa ini dapat diketahui bahwa era musik jazz sedang tumbuh-tumbuhnya. Masa ini berlangsung kira-kira sepuluh tahun, hingga akhir 1930-an, sebelum masuk era “The Great Depression,”
Ternyata di balik gemerlap musik jazz, pesta, dan dansa, ada sebagian orang yang memang tidak bahagia. Gatsby yang kesepian, sering menyelenggarakan pesta meriah di rumahnya, di kawasan West Egg. Ia ingin menjadi bagian kaum kaya, mengenakan pakaian mahal, membuat orang lain terpesona dengan hartanya, termasuk Nick, si narator.
Gatsby ingin mendapat Daisy kembali. Latar belakang Gatsby sebenarnya bukanlah orang kaya. Setelah pensiun dari ketentaraan, ia bekerja pada seorang Yahudi. Tidak dijelaskan apa dan bagaimana yang ia kerjakan. Dengan usia yang masih relatif muda, ia mampu mengumpulkan uang dan membangun rumah mewah lengkap dengan taman yang indah. Di sini terletak kekeliruan Gatsby. Uang bukanlah alat untuk mencapai kebahagiaan. Tidak dipungkiri bahwa salah satu untuk meraih kebahagiaan itu, dibutuhkan uang. Berjalan-jalan ke tempat yang indah, mengerjakan hobi, membeli makanan, membeli pakaian dan sebagainya yang menyenangkan, semuanya memerlukan uang. Namun, uang bukanlah segalanya.
Suatu ketika, Nick mengunjungi Daisy dan keluarganya di wilayah East. Dari pertemuan tersebut, kita mendapat suasana rumah itu. Daisy mengalami KDRT. Buku jarinya terluka. Daisy mengatakan: Inilah yang kudapat karena menikahi seorang pria kasar, spesimen fisik raksasa yang sangat besar dari___ (h.25). Selanjutnya, Tom adalah orang yang mengunggulkan ras kulit putih, terlihat dari bacaannya Kebangkitan Kekaisaran Kekuatan Kulit Berwarna karya Lothrop Stoddard (1920). Dan Jordan Baker, teman Daisy sedang menghabiskan libur panas di East Egg. Jordan menggosipkan kalau Tom punya wanita lain di New York.
Dari novel ini, dapat kita ketahui bagaimana gaya hidup orang-orang pada masa Jazz Age itu, ada beberapa peristiwa yang perlu kita perhatikan:
Ketika Nick menanyakan perihal anak perempuan Daisy. Daisy mengatakan kalimat kurang pantas: Aku senang dia anak perempuan. Dan kuharap dia akan menjadi anak yang bodoh-itulah hal terbaik bagi seorang anak perempuan di dunia ini, anak cantik yang bodoh (h.32). Tidak siapkah ia menjadi ibu?
Pertengkaran antara Tom dan Gatsby di depan Daisy dan Nick, dimana Tom menuduh Gatsby dan Wolfshiem membeli sejumlah toko obat dan menjual alkohol, sekaligus penyelundup minuman keras. Penyebab pertengkaran adalah Tom sebenarnya tidak percaya kalau Gatsby kuliah di Oxford, namun merembet ke masalah rumah tangga dan berujung pada gosip dan fitnah pada Gatsby. Mungkin ada kalanya kita perlu mengkonfirmasi berita miring, tetapi kurang etis jika bahasa yang digunakan terkesan menuduh dan merendahkan harga diri seseorang.
Sebuah artikel menyebutkan adanya ketidaksinkronan cerita di novel ini dengan faktanya. Ketika Gatsby menunggu di rumah Nick, ia melihat buku ekonomi karya Clay (h.131). Penulis artikel ini menggali dari sumber-sumber lain dan menemukan ketidaklogisan. Pertama, jika Nick alumni dari Yale, dari penelitian ke arsip Yale, buku Ekonomi Clay tidak pernah digunakan di Yale University pada masa 1920-an. Buku teks ekonomi Yale pada saat itu adalah tulisan Irving Fisher. Selain itu, dari catatan kaki, diketahui Clay menerbitkan buku ini di London, namun penelitian penulis ini, tidak ada satu universitas di Amerika yang menggunakan buku ini sebagai buku teks pada masa itu.
Buku ini menjadi bahan bacaan penting bagi pendidikan sekolah di Amerika. Mungkin menjadi salah satu bahan untuk mengenal kebudayaan Amerika di abad 20, isu-isu mengenai kekayaan, materialisme, kelas sosial, perkawinan serta perselingkuhan. Jika memang tertarik dengan kebudayaan Amerika, tidak salah memilih buku ini. Saya sendiri merasa kesulitan membaca novel ini, apakah ini karena terjemahannya, saya belum membaca naskah aslinya. Atau karena narator yang kurang jelas menjelaskan tentang bagian apa yang dilihatnya dan bagian yang terjadi secara langsung. Untuk sementara saya berkesimpulan, Nick harus bertanggungjawab atas cara dia menceritakan yang kurang baik.
Saya merenungkan betapa hidup itu tidak sederhana. Punya ambisi kaya dan bahagia itu tidak salah, mungkin yang salah kalau kita dalam meraih ambisi itu menjadi angkuh, tidak menghargai sesama kita, dan tidak bersyukur. Melihat keseluruhan isi novel ini, sepertinya diwakili oleh kutipan:
“Hanya ada yang dikejar, yang mengejar, yang sibuk, dan yang lelah” (h.125)
“Rasanya selalu menyedihkan bila melihat sesuatu dengan sudut pandang baru atas hal-hal yang dengannya kau telah mengeluarkan kekuatan untuk menyesuaikan diri”(h.161)
“Jadi kita terus bergerak, maju melawan arus, pantang surut ke masa lalu” (h.276)
Peresensi: Helvry Sinaga
http://blogbukuhelvry.blogspot.com/2011/05/great-gatsby.html
Detail Buku:
Judul: THE GREAT GATSBY
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Tebal: 356 hlm
Cetakan: I, Oktober 2010
Harga: Rp 29.000
Judul: Lampuki
Penulis: Arafat Nur
Penyunting: Adi Toha dan Moh. Sidik Nugraha
Tebal: 436 halaman
Cetakan: I, Mei 2011
Sinopsis:
Inilah novel menyentuh dan mencerahkan berlatar Aceh pada masa penuh gejolak setelah kejatuhan Soeharto. Lampuki adalah sebuah satir cerdas tentang gebalau konflik antara tentara pemerintah dan kaum gerilyawan yang pada ujungnya menyengsarakan orang-orang kecil tak berdosa.
Di pusat cerita adalah seorang lelaki kampungan berkumis tebal bernama Ahmadi. Dialah mantan berandal yang kemudian tampil menjadi pemimpin laskar gerilyawan yang berlindung di desa Lampuki. Si kumis yang banyak lagak ini menghasut para penduduk untuk mengangkat senjata melawan tentara yang datang dari pulau seberang. Namun, walau dia selalu lolos dari kejaran orang-orang berseragam, para penduduk desalah yang kena batunya. Orang-orang tak berdaya itu kerap menjadi sasaran kemarahan tentara.
Kisah kian menarik dengan bumbu cinta terlarang antara Halimah, istri Ahmadi yang bertugas mengutip pajak perjuangan ke rumah-rumah penduduk, dan Jibral si Rupawan, pemuda tanggung penakut yang menjadi pujaan hati gadis-gadis sekampung.
Novel ini ditulis penuh perasaan dan dengan rasa humor yang cerdas. Tak tampak penggambaran hitam-putih sehingga pesan melesap ke dalam cerita dengan bahasa yang lincah walaupun kental terasa pemihakan terhadap si lemah.
Komentar Pembaca:
“Strategi pengarang untuk mengambil jarak emosional dengan masalah politik dan sosial penting yang diungkapkannya berhasil menyadarkan kita bahwa protes atau komentar sosial dan politik tidak harus disampaikan dengan bahasa kepalan tangan. Pengarang telah memanfaatkan penghayatan dan pengetahuannya tentang masalah itu untuk menyusun sebuah kisah yang mampu menumbuhkan simpati terhadap tokoh-tokoh yang terlibat di dalamnya.”
—Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan guru besar sastra UI, juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
“Di dalam Lampuki, Arafat bergerak, membawa kita pada sehimpun kisah yang mengejutkan, penuh satir, dan hanya mungkin lahir oleh kekacauan politik … Dia telah mengganggu apa yang paling tidak diinginkan otoritas moral di mana pun: khayalan untuk melindungi sifat buruk manusia!”
—Azhari Aiyub, penulis Aceh, penerima anugerah internasional Free Word Award 2005
| “Lampuki adalah novel satir yang cerdas, membincangkan luka negeri sambil tertawa. Ia membikin kita penasaran sampai khatam.”
—Abidah el Khalieqy, novelis, penulis cerita film Perempuan Berkalung Sorban, tinggal di Yogyakarta “Sebuah novel yang menarik, pedih, dan berani; mengungkit Aceh sebagai luka yang belum sepenuhnya selesai.” —Helvy Tiana Rosa, sastrawan, motivator menulis, dan dosen Universitas Negeri Jakarta |
“Lagi-lagi Aceh membikin kejutan! Sebelumnya soal perang, lalu tsunami, dan kali ini Lampuki. Kisahnya amat menyentak dan sangat berani.”
—Gol A Gong, penulis, Ketua Forum Taman Baca Masyarakat Indonesia, dan pendiri komunitas Rumah Dunia, Serang
“Arafat Nur sangat cerdas merebut realitas sosial yang beranak duri dalam daging dari peristiwa Aceh. Dia intip, dengar, lihat, dan rasakan kecamuk berpuluh tahun yang mengeram di bumi Aceh, diolah melalui kemampuan berpikir, melahirkan pengalaman jiwa, maka jadilah realitas sastra bernama Lampuki. Novel ini mengungkit kegetiran kondisi sosial Aceh dengan cara bergelak tawa yang sesungguhnya pahit mengiris jiwa. Memang, sesungguhnya kekuasaan sangat dekat dengan kejahatan. Lampuki sangat luar biasa. Bravo, Arafat!”
—Sulaiman Juned, penyair, kolumnis, dramawan, sutradara teater, pendiri Komunitas Seni Kuflet, dan dosen teater Institut Seni Indonesia Padangpanjang
“Meskipun Arafat menceritakan tokoh-tokoh pesong dari kampung Lampuki, sesungguhnya dia sedang membahasakan perangai anak manusia yang bisa kita temukan di belahan bumi mana pun dan pada zaman kapan pun … Dalam Lampuki kita menemukan kisah universal yang ditulis begitu sederhana, lugas, dan mudah dipahami setiap orang. Penulisnya saya yakin suatu hari nanti akan mendunia.”
—D. Kemalawati, sastrawan dan guru, tinggal di Banda Aceh
“Sejarah lebih sering mencatat hal-hal besar, sastrawan perlu mengambil peran mencatat hal-hal yang tidak ditangkap oleh mata formal sejarah. Arafat telah berusaha mencatat fragmen-fragmen kecil dari sebuah ritus sejarah di Aceh.”
—Dianing Widya Yudhistira, novelis, tinggal di Jakarta
“Saya yakin Lampuki menjadi novel paling menonjol tahun ini dan bakal bertahan lama sebab ceritanya mirip gaya penulis dunia. Benar-benar novel yang cerdas, sanggup memukau dari awal sampai akhir.”
—Fikar W. Eda, penyair dan wartawan, tinggal di Jakarta
“Lampuki memiliki keteraturan diksi dan kehati-hatian pemilihan kalimat. Ada kesadaran pascakolonial dalam bernarasi yang tidak tunduk pada bahasa pop pasaran. Ceritanya kadangkala kelu dan muram, tetapi memang begitulah warna dalam kehidupan nyata …”
—Teuku Kemal Fasya, esais, dosen antropologi Universitas Malikussaleh, Banda Aceh
“Lampuki disajikan dengan cara berbeda dari kebanyakan karya sastra di Indonesia. Penceritaannya sangat kuat dengan bahasa yang membumi. Arafat piawai mengambil jarak dengan semua tokoh dan peristiwa, tetapi kisahnya sangat dekat dengan kita semua.”
—Ayi Jufridar, jurnalis dan novelis
Judul: Kenangan Cinta
Penulis: Anton Chekov
Penerjemah: Tisna Prabasmoro
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Tebal: 232 halaman
Cetakan: I, April 2011
Sinopsis:
Tujuh cerita dalam buku ini adalah serangkaian karya terbaik empu cerpen Anton Chekhov yang dikenang dunia sebagai sastrawan produktif walaupun dia juga berprofesi sebagai dokter.
Cerita-cerita dalam kumpulan ini berkisah tentang suka duka cinta anak manusia berlatar Rusia pada akhir abad ke-19 yang kerap menohok kita dengan kejutan tak terduga. Dengan kelihaiannya dalam melukiskan gejolak batin karakter rekaannya, Chekhov membawa kita berkenalan dengan tokoh-tokoh unik dan tak terlupakan dalam khazanah sastra dunia.
Inilah sebuah buku menarik yang akan membuat Anda terkesan seraya merenungkan kembali makna cinta dan kehidupan.
“Chekhov membuat saya merasa seperti seorang penulis pemula.”
—George Bernard Shaw, pemenang Hadiah Nobel Sastra 1925
“Cerpen-cerpen Chekhov menyiratkan optimisme
dan cinta akan kehidupan.”
—Maxim Gorky, pelopor sastra realisme sosialis
“Anton adalah seniman tiada banding.”
—Leo Tolstoy, sastrawan besar Rusia
Undangan terbuka bagi para pencinta sastra
Diskusi buku kumpulan cerpen Anak Arloji karya Kurnia Effendi
Jumat, 29 April 2011, pukul 19.00 sampai 21.00
di Serambi Salihara, Jln. Salihara, Jakarta
Akan tampil sebagai pembicara:
- Zen Hae (kritikus sastra)
- Akmal Nasery Basral (penulis prosa)
Moderator: Ryana Mustamin (cerpenis)
Acara ini terselenggara atas kerja sama Penerbit Serambi dan Komunitas Salihara.
ANAK ARLOJI
Inilah sebuah kumpulan cerpen menarik karya salah seorang pengarang Indonesia terkemuka saat ini. Cerpen-cerpen Kurnia Effendi memukau tak hanya dengan kekuatan diksi yang acap liris membius, tapi juga dengan intensitas yang terjaga. Dalam kumpulan ini, pembaca akan menangkap nuansa magis selain aroma cinta yang melekat sebagai ciri karya-karyanya selama ini. Buku ini adalah penanda usia setengah abad pengarangnya yang sekaligus menunjukkan kematangan seorang pendongeng setia.
Komentar untuk buku ini:
“Membaca cerita dalam buku ini seperti membaca hidup kita sendiri. Kita seperti dirayu dan juga merayu. Tanpa kebencian atau dengki. Full of wisdom.”
—Alex Komang, seniman peran
“Cerita-cerita Kurnia Effendi adalah kisah-kisah yang tidak arogan, tidak asyik masyuk dengan dirinya sendiri …. Saya sangat iri pada pencapaian indah tukang cerita yang santun ini.”
—Triyanto Triwikromo, sastrawan, redaktur sastra Suara Merdeka
“Sungguh, saya menangis, tertawa, dan merenung cukup lama setelah membaca cerpen-cerpen dalam buku Anak Arloji … Isi cerita dalam himpunan cerita pendek ini bernyawa, alur kisahnya santun, peng-gambarannya perlahan, tapi menyesakkan.”
—Happy Salma, seniwati peran dan penulis cerpen
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.