Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Sudah banyak yang mengulas novel ini secara serius sehingga saya akan berbicara dari sudut-sudut personal saja.
Ketika memegang pertama kali, pertanyaan yang timbul adalah menyoal tatanan font judul di sampulnya. Bila tidak memahami bahwa yang dicuatkan lebih besar adalah judul utama, maka saya akan menduga judul novel ini adalah “ENZO, The Art of Racing in the Rain”. Tak pelak, kulit mukanya ini enak dilihat karena tidak meriah.
Saya bukan peminat balap mobil, jadi terus terang pernak-pernik balapnya (terutama ketika Denny Swift berada di sirkuit) tidak disimak benar. Begitu juga saat Eve, istrinya, sedang sakit parah. Pasalnya kala membaca novel ini, saya sedang kurang sehat dan mudah terpapar secara psikologis.
Praduga berat yang biasa menempel pada kata filsuf (dari sub judul bahasa Indonesianya, Novel tentang Seekor Filsuf) tidak muncul. Ceritanya relatif cair, asyik diikuti. Tentu saja lebih menggigit kala konflik sebenarnya mengemuka: Denny Swift dipaksa melepaskan hak perwalian putri semata wayang karena kedua mertuanya sedari dahulu tidak merestui pernikahan mereka. Dunia menjadi suram sebab Zoe-lah semangat hidup Denny sejak istrinya tiada.
Secara keseluruhan, sudah tentu Enzo yang paling memikat. Ia menuturkan segala sesuatunya dari kacamata seekor anjing, sedari pertemuan Eve dengan Denny, apa-apa yang ia saksikan, bahkan ia mampu menilai bahwa kedua orangtua Eve tidak layak merawat Zoe hanya dengan memperhatikan cara mereka memberi makan gadis cilik itu. Ia menganggap Maxwell dan Trish si Kembar, karena cara mereka berpenampilan yang nyaris konyol. Namun bagian paling ‘nendang‘ adalah yang ini:
Manusia, jika kau memperhatikan mereka, saling mengubah arah pembicaraan terus-menerus. Ini seperti membawa penumpang dalam mobilmu yang tiba-tiba merampas kemudi dan meninggalkanmu di pinggir jalan. Contohnya, jika kita bertemu di sebuah pesta dan aku ingin bercerita tentang berapa lama waktu yang kuperlukan untuk mengambil bola sepak di halaman rumah tetangga tetapi anjingnya mengejarku sehingga aku harus melompat ke dalam kolam untuk menyelamatkan diri, dan aku mulai bercerita, kau, karena mendengar kata-kata “bola sepak” dan “tetangga” pada kalimat yang sama, mungkin akan menyela dan menyebutkan bahwa tetangga masa kecilmu adalah Pele, pemain sepak bola yang sangat terkenal, dan mungkin saja aku akan bersikap sopan dan berkata, bukankah dia bermain untuk Cosmos di New York?…Aku mohon, belajarlah untuk mendengarkan! (hal. 140-141)
Data Buku
Judul: ENZO, The Art of Racing in the Rain
Pengarang: Garth Stein
Penerjemah: Ary Nilandari
Penerbit: Serambi
Tebal: 408 halaman
Cetakan: II, Juni 2009
Dari http://sinarbulan.multiply.com/reviews/item/30, milik Rinurbad

Apa yang bisa mengalahkan kekuatan atau kemampuan fisik manusia? Bukan, jawabannya bukan kekuatan otot orang lain, tetapi lemahnya tekad dalam diri kita. Sebaliknya, kekuatan tekad dapat menjadi bahan bakar penyemangat bagi orang yang secara fisik lemah. Begitu banyak kisah—entah itu nyata maupun rekaan—yang memberi kita pelajaran tentang hal ini.
Begitupun pesan yang bisa saya ambil setelah membaca novel Delapan Puluh Hari Keliling Dunia. Sekilas, mungkin tidak ada yang istimewa tersirat dari judul itu. Apalagi dengan kemajuan teknologi transportasi zaman kiwari, manusia bisa mengelilingi dunia dalam tempo lebih singkat. Bahkan dengan Google Earth, kita bisa keliling-keliling dunia dalam hitungan detik atau menit saja.
Namun, kita akan dibuat terperangah karena kagum mendengar cerita karya Jules Verne ini ternyata berlatar waktu tahun 1872. Ya, 137 tahun yang lalu, seorang pria Inggris bernama Phileas Fogg menyanggupi tantangan teman-temannya di Reform Club untuk mengelilingi dunia dalam 80 hari. Bukan hanya itu, tetapi lengkap dengan taruhan sebesar 20.000 pound sterling.
Taruhan dilakukan setelah anggota perkumpulan yang terhormat itu membaca berita di koran The Daily Telegraph. Koran itu menyebutkan bahwa dengan beroperasinya lintasan kereta api yang menghubungkan ujung barat dan timur India, manusia (orang-orang Eropa) dapat mengelilingi dunia dalam 80 hari. Bahkan, koran itu memuat pula rute atau kota-kota mana saja yang disinggahi, alat transportasi, perkiraan waktu perjalanan antartitik tujuan. Misalnya, “Dari Yokohama ke San Francisco dengan kapal uap 22 hari.”
Phileas Fogg, sebagai lelaki Inggris sejati, pantang menolak taruhan. Maklum, bagi sebagian penduduk negara kerajaan itu, taruhan adalah “agama” kedua. Lelaki yang digambarkan sebagai sosok yang kalem dan penuh perhitungan—bahkan dalam setiap langkah kakinya—itu pulang ke rumah untuk berkemas dan segera berangkat. Sekadar gambaran betapa dia penuh perhitungan, Fogg memecat pelayannya karena menyajikan air untuk bercukur kurang hangat dua derajat dari biasanya.
Untuk menggantikan pelayannya itu, Fogg mempekerjakan seorang pria asal Perancis bernama Jean Passepartout yang patuh, keras kepala, dan ceroboh—sifat yang menjadi turunan dari keluguannya. Passepartotlah yang menemani Phileas Fogg mengarungi rute London, Suez, Bombay, Calcuta, Hongkong, Yokohama, San Francisco New York, dan kembali ke London.
Namun, siapa sangka jika perjalanan mereka dibuntuti oleh Detektif Fix yang mengira Fogg telah merampok 50.000 ribu pound sterling dari sebuah bank di London. Fix yang tergiur oleh iming-iming hadiah besar mulai berusaha menangkap Fogg sejak di Suez. Dia harus berhasil menangkap buruannya itu di wilayah koloni Inggris—India dan—Hongkong sebelum Fogg sampai di Amerika. Namun, tanpa surat penangkapan dari Inggris, detektif yang tak sabaran itu tak ubahnya macan ompong. Jadi, dia mengatur siasat untuk menghalangi perjalanan Fogg sampai surat penangkapan diterimanya. Setiap kali Fix membuat perkara untuk menghambat Fogg, saat itu pula buruannya berhasil lolos—mulai dari ditangkap polisi di Calcutta sampai ketinggalan Kapal Uap Carnatic menuju Yokohama di Hongkong.
Di sini, Jules Verne tidak menyajikan cerita detektif yang penuh dengan aksi kejar-kejaran. Dia malah menghadirkan cerita “kucing-kucingan” yang kalem antara detektif dengan buruannya. Bahkan, salah satu bab menceritakan Fogg menolong Fix yang menyamar sebagai penumpang kere yang ketinggalan kapal uap menuju Yokohama. Namun, Detektif Fix bukanlah satu-satunya penghambat dalam perjalanan Fogg dan Passepartout. Buasnya alam, kerasnya budaya lokal, dan serangan suku Indian memaksa lelaki Inggris itu memutar otak dan menguras kantong.
Sang penulis, yang sering dianggap sebagai pelopor penulisan fiksi ilmiah, dalam novel ini tidak menggunakan bahasa yang indah, tetapi dia menceritakan petualangan Fogg dengan bahasa yang mudah. Contohnya, ketika menggambarkan cuaca, dia menulis: “Cuaca menjadi buruk …. Angin, yang terus-menerus berada di barat laut, berembus kencang dan memperlambat gerak kapal uap itu.” Di sisi lain, Verne teperinci dalam perihal jarak. Mungkin ini dimaksudkan untuk mempertegas karakter Fogg yang matematis itu.
Keseluruhan cerita dalam buku yang terbit pertama kali pada 1873 ini ditutup dengan Bab 37 yang di bawahnya tertulis keterangan “Phileas Fogg tidak mendapatkan apa-apa dari perjalanannya keliling dunia selain kebahagiaan” sebagai ganjaran bagi kekuatan tekadnya. ***
Moh. Sidik Nugraha
Identitas Buku
Judul: 80 HARI KELILING DUNIA
Penulis: Jules Verne
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: I, Juni 2009
Tebal: 307
Benarkah Ernest Hemingway seorang intel?
simpatisan kiri? seorang agen komunis?
Lalu mungkinkah ada kaitannya dengan latar Kuba yang dipilihnya untuk novel Lelaki Tua dan Laut?
Berikut dikutip dari detiknews.com:
Miami – Sastrawan Ernest Hemingway dituduh sebagai seorang agen intelejen Uni Soviet, Komitet Gosudarstvennoy Bezopasnosti (KGB). Ernest direkrut menjadi intel sekitar tahun 1941. Ia bahkan memiliki sebuah nama sandi sendiri.
Rahasia ini terbongkar di dalam sebuah buku “Spies: The Rise and Fall of KGB in Amerika” seperti dilansir dari www.wcbstv.com, Senin (13/7/2009). Buku tersebut adalah catatan mantan pejabat KGB, Alexander Vassiliev yang mendapat akses pada saat era Stalin. Selain Vassiliev, Yohanes Dini Haynes dan Harvey Klehr juga turut menulis dalam buku tersebut.
Disebutkan, Ernest direkrut menjadi intel tahun 1941 dan diberi nama depan ‘Agro’. Namun, karena dinilai gagal memberikan informasi seputar politik kepada KGB, kontrak Ernest diputus tahun 1950.
Penulis yang telah meninggal tahun 1961 itu telah melahirkan sejumlah karya sastra terkenal. Di antaranya adalah From Whom the Bell Tolls, Men Without Women, Salju Kilimanjaro, hingga Lelaki Tua dan Laut. Atas karyanya ia pun diganjar Nobel di bidang sastra tahun 1954.
Detail Buku
Judul buku: LELAKI TUA DAN LAUT
Judul asli: The Old Man and the Sea
Penulis: Ernest Hemingway
Penerjemah: Yuni Kristianingsih P.
Penyunting: Mita Yuniarti
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2009
Tebal: 145 hlm
Pernahkah kau merasa takut menghadapi hari tua? Aku pernah. Sebagai seorang yang telah berikrar untuk melajang seumur hidup, rada ngeri juga membayangkan hari tuaku kelak. Berbeda dengan mereka yang hidup “normal” – menikah dan punya anak – barangkali masa pensiunku nanti akan kuhabiskan sendiri, tanpa anak cucu. Mungkin aku akan menghuni panti jompo yang sewanya kubayar dari uang pensiunku. Di sana, dengan sebuah laptop (pasti 30 tahun lagi bentuk komputer semakin canggih dan ringkas), aku akan mengisi sisa hidupku dengan menulis. Seperti NH Dini (Eh, tapi Eyang Dini kan punya 2 orang anak, ya?)
Tetapi yang barangkali paling kukhawatirkan tentang masa tua adalah menyaksikan tubuhku menjadi semakin lemah. Kulitku akan mengerut dan mengeriput. Wajahku akan penuh gurat-gurat aneh sebagaimana almarhum nenekku. Mungkin aku juga akan menjadi pikun, sedikit tuli, dan mengenakan kacamata setebal pantat botol. Bisa jadi juga aku akan mengenakan kerudung demi menutupi warna perak uban-uban. Itu kalau aku memang beruntung dikaruniai umur panjang hingga 70, misalnya.
Barangkali, bagi seorang nelayan, menjadi tua merupakan persoalan tersendiri. Seperti halnya Santiago, tokoh dalam Lelaki Tua dan Laut, cerpen keren karya Hemingway yang memenangi Pulitzer Prize tahun 1953. Ia tentu tidak berpikir untuk tinggal di rumah jompo di tepi pantai dan menanti ajal sembari membaca buku.
Bagi Santiago, laut adalah hidupnya. Ia mengenal samudera seakrab ia mengenal jemari tangannya. Di usia senjanya, saat kekuatan fisiknya sudah sangat menurun, ia masih melaut. Sebagaimana kehidupannya yang selalu sendiri, melaut pun dilakukannya sendiri. Ia hanya memiliki seorang sahabat kecil, Manolin, yang kadang-kadang menemaninya berburu ikan.
Sekali dalam hidup Santiago, terjadi sebuah peristiwa yang tak akan pernah dilupakannya: ia berhasil menangkap ikan marlin raksasa setelah melaut selama 85 hari. Itulah rekornya sebagai nelayan.
Pak Tua Santiago berhasil menaklukkan ikan marlin yang lebih besar dari perahunya itu setelah berjuang keras dan mengorbankan seluruh miliknya yang paling berharga: pisau, alat pancing, tali temali, dan perahunya.
Penaklukkan itu merupakan pembuktian bahwa meski ia sudah uzur namun masih sanggup bertahan hidup selama 85 hari di tengah gelombang untuk kemudian mengalahkan seekor ikan raksasa. Sendirian! Dengan sisa-sisa tenaganya. Dengan jemari tuanya yang sempat kram. Dengan otot-otot liatnya. Dengan lutut yang gemetar. Dengan tetesan darahnya. Ia bukan hanya mengalahkan marlin gede itu, tetapi juga sejumlah hiu ganas yang berusaha merebut tangkapan besarnya tersebut.
Membaca kisah Santiago ini, yang terasa olehku adalah sebuah kesepian yang sangat dalam. Sebuah perasaan kesendirian yang sangat menyentuh dari seorang pria tua di pengujung usianya. Ia kerap bercakap-cakap dengan dirinya sendiri atau dengan alam sekitarnya: ikan-ikan, burung-burung camar, penyu, angin, awan, atau tangannya sendiri:
Dia berdiri, mengelap tangannya pada celana. “Sekarang,” katanya, “kamu bisa melepaskan tali senar itu, Tangan, dan aku akan memegangnya dengan lengan kanan saja sampai kauhentikan omong kosong itu.” (hlm 65)
Nyaris di sepanjang kisah, bertebaran monolog seperti itu yang diucapkan oleh tokoh Santiago. “Percakapan” inilah yang membawa pembaca kepada sebuah kisah yang penuh perenungan tentang kehidupan, terutama hidup di masa tua. “Seseorang seharusnya tak sendirian pada usia tua mereka, pikirnya. Tetapi ini tak bisa dielakkan.” (hlm 53)
Mungkin selagi Santiago muda belia, masih sekuat kuda tenaganya, ia tidak merasa kesepian seperti saat itu. Atau mungkin juga, ia baru merasa hidupnya sangat sunyi setelah memiliki Manolin sebagai sahabat yang telah memberinya kesempatan merasakan mempunyai seseorang yang menyayangi dan mencintai. Memiliki seseorang yang ia cintai dan sayangi. Diam-diam, ia sering merindukan Manolin.
Dengan lantang ia berkata, “Aku berharap aku bersama anak lelaki itu.” Tapi kau tidak bersama anak lelaki itu, pikirnya. Kau hanya bersama dirimu sendiri dan kau lebih baik kembali bekerja…(hlm 57).
Cerpen (ada juga yang menyebutnya novela) ini telah mengantarkan Hemingway kepada puncak ketenaran sebagai salah seorang penulis papan atas Amerika. Menurut para kritikus sastra, inilah karya masterpiece penulis kelahiran Illinois, 21 Juli 1899 itu. Berkat popularitasnya pula, telah beberapa kali, cerita si Tua Santiago ini diangkat ke layar lebar.
Konon, pengarang yang menikah empat kali ini, adalah seorang pecandu berat alkohol. Di masa tuanya, ia menderita depresi yang parah lantaran merasa tak mampu lagi menulis dengan baik. Ia menghabisi hidupnya dengan menembak kepalanya sendiri. Saat itu ia nyaris berumur 62 tahun. Tragis banget, ya?
Tetapi, untunglah, aku tidak ikut-ikutan depresi setelah membaca Lelaki Tua dan Laut ini. Sudah lama aku tak merasa ngeri lagi ihwal bayangan masa tuaku nanti. Toh, belum tentu aku akan hidup sampai tua, kan? Kata orang bijak, bayangan itu sering jauh lebih menakutkan ketimbang benda aslinya. Jadi, siapa takut? ***
oleh Endah Sulwesi
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.