Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Detail Buku
Judul: GADIS BUDAK
Anak Judul: Suka Duka Seorang Perempuan yang Dijual Kakaknya
Penulis: Buchi Emecheta
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Desember 2009
Tebal: 380 hlm
Harga: Rp 44.000
Apakah perempuan memang dilahirkan sebagai dan untuk menjadi budak?
Apakah dia tidak akan pernah bebas?
Meskipun wajahnya ditato bermotif daun bayam, Ogbanje Ojebeta sebenarnya masih terlihat cantik. Penampilannya semakin unik dengan masih lonceng dan kulit kerang yang berbunyi dan berayun ketika dia bergerak. Baginya, lonceng itu adalah jimat.
Setelah bapak-ibunya meninggal dan dia masih berumur tujuh tahun, Ojebeta dijual oleh abangnya dengan harga cuma delapan pound sterling. Namun kakaknya berdalih ini untuk kebaikan Ojebeta, karena ketika itu kampungnya sedang dilanda wabah mematikan, meski alasan sebenarnya adalah karena dia butuh biaya untuk pesta akil balig demi menjaga gengsinya.
Selama sembilan tahun hidup sebagai budak, Ojebeta banyak belajar tentang kehidupan. Dia mengamati tingkah laku keluarga majikannya. Dia juga banyak belajar dari teman-temannya sesama budak.
Selain itu, novel ini memotret apa saja yang terjadi dalam sebuah masyarakat di Ibuza, Nigeria, ketika budaya asing—termasuk agama—masuk ke dalam tatanan nilai yang telah ajek.
“Buchi Emecheta menulis dengan ciri khas seorang pendongeng. Ceritanya jelas dan sederhana seperti batu pahatan.”
—Houston Chronicle

Detail Buku
Judul: TRIO MUSKETRI
Anak Judul: Persahabatan. Bela Negara. Cinta. Pengkhianatan
Penulis: Alexandre Dumas
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Desember 2009
Tebal: 540 hlm
Harga: Rp 49.000
Novel legendaris ini menceritakan petualangan D’Artagnan, pemuda yang penuh semangat. Dia berasal dari keluarga yang berbudi luhur dan ingin mengabdikan diri pada rajanya. Karena itulah dia meninggalkan rumah dan keluarganya ke Paris untuk bergabung dengan pasukan pengawal raja, musketri.
Dalam perjalanan, dia terlibat percekcokan dengan seorang lelaki misterius. Di luar dugaan, surat pengantar dari bapaknya yang harus dia berikan untuk mempermudah dia bergabung dengan musketri hilang seiring dengan hilangnya lelaki misterius itu. Cobaan belum berhenti di situ.
Tidak berapa lama setelah dia menginjakkan kaki di Paris, dia langsung terlibat masalah dengan tiga orang lelaki. Entah sudah kehilangan akal sehatnya atau memang benar-benar pemberani, dia menyetujui untuk berduel dengan ketiganya dalam waktu hampir bersamaan. Duel tidak terjadi. Dia malah berkawan dengan ketiga orang itu—Athos, Porthos, dan Aramis. Mereka bersatu melawan para pengawal kardinal.
Sementara itu, kardinal diam-diam terlibat persaingan dengan raja. Akibatnya, mau tidak mau, D’Artagnan dan para musketri terlibat dalam pusaran manisnya cinta, kuatnya persahabatan, dan getirnya pengkhianatan.
Novel klasik ini pada awalnya dimuat dalam bentuk cerita bersambung di majalah Le Siècle Prancis pada edisi Maret sampai Juli 1844. Namun dalam perkembangannya hingga sekarang, novel ini telah banyak diadaptasi dan memberi pengaruh pada begitu banyak karya setelahnya.
Mungkin saya termasuk salah satu orang yang tidak bisa lepas dari buku. Buku adalah penghibur, pembuka jendela ilmu, penuntun khayalan yang tak berbatas, sampai yang sederhana: sebagai pengisi waktu saat harus menunggu atau mengantre.
Tapi, bagaimana jika kegiatan membaca buku ternyata tidak sekadar menikmati sebuah cerita? Bagaimana jika buku yang kaubaca keras-keras bisa memengaruhi orang yang mendengarnya hingga mau menuruti keinginanmu? Sebaliknya, bagaimana jika kau, sebagai pendengar, bisa memengaruhi orang yang sedang membaca, untuk berpikir sesuai keinginanmu?
Ide menarik ini dilontarkan Mikkel Birkegaard dalam novel perdananya, LIBRI DI LUCA. Dia menggambarkan bahwa di sekeliling kita bertebaran orang-orang dengan kemampuan seperti tersebut di atas, para Lector yang terbagi menjadi dua kelompok, pemancar dan penerima.
Tokoh utama dalam buku ini, Jon Campelli, dihadapkan pada fakta mengejutkan tersebut, ketika mewarisi toko buku antik dari ayahnya yang meninggal secara tak wajar. Ayahnya adalah seorang pemancar hebat, dan tidak diragukan lagi, bakat itu pun mengalir dalam darah Jon, seorang pengacara andal yang awalnya skeptis pada hal-hal ‘tak masuk akal’ seperti itu.
Dengan bantuan teman-teman ayahnya, Jon mulai memasuki dunia rahasia para Lector, menguak kenyataan pahit yang membuat ayahnya mengasingkan dia selama dua puluh tahun, sampai menyelidiki penyebab kematian ayahnya. Penyelidikan yang pada akhirnya mempertemukan Jon dengan kelompok Lector yang ingin menguasai dunia, dengan kemampuan mereka memengaruhi orang lewat bacaan.
Menarik karena Birkegaard mengaitkan ide ini dengan fakta sejarah ketika para Pustakawan menempati posisi terhormat di Alexandria. Dengan perpustakaan Bibliothica Alexandrina yang menakjubkan, Alexandria di Mesir menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia ribuan tahun yang lalu. Sekilas mengingatkan saya pada novel Da Vinci Code, yang juga memadukan fiksi dan sejarah secara apik.
Ketegangan cerita yang terbangun perlahan-lahan hingga memuncak di bagian akhir, cukup membuat penasaran walaupun kita sudah bisa menebak siapa yang akan menang. Seperti khasnya cerita thriller, kejutannya adalah orang-orang yang disangka teman ternyata adalah musuh, atau sebaliknya.
Tokoh utama juga tidak dibiarkan kering tanpa sentuhan kisah cinta. Meskipun klise, tampaknya plot percintaan di antara peperangan tetap menjadi bumbu penyedap andalan yang gurih.
Libri di Luca adalah bacaan lezat yang berhasil membuat saya makin mengagumi kekuatan yang terkandung dalam sebuah buku. Sekaligus, jadi sedikit berhati-hati jika bertemu orang yang sangat pandai membacakan cerita dari buku, sampai membuat pendengarnya terbuai.
(Barokah Ruziati)
Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 588 halaman
Dalam setiap pidato hari kemerdekaan 17 Agustus di lapangan Merdeka, Bapak Besar Republik Indonesia, Ir Soekarno, selalu memberi sebutan populer untuk menandai setiap tahun yang sedang dihadapi masyarakat Indonesia. Khusus tahun 1964-1965, Presiden menyebut tahun 1964-1965 ini sebagai tahun Vivere Pericoloso (TAVIP). Vivero Pericoloso merupakan idiom yang dikutip dari bahasa Italia. Artinya, hidup penuh bahaya.
Ungkapan tersebut merupakan sedikit dari kegeniusan Bung Karno dalam menciptakan istilah-istilah bersahaja, yang membuat rakyat selalu terpesona, selaksa mantra-mantra pengubah kenyataan lewat lontaran-lontaran. Suatu lingkaran retorika hipnotis massa. Sederhananya, karisma orasi itulah yang pada akhirnya menciptakan suatu masyarakat negeri yang setia memegang teguh prinsip kenegaraan. Dialah salah satu putra terbaik bangsa.
Pada tahun yang disebut dengan TAVIP tersebut, pemilik nama aseli Kusno Sosrodiharjo itu melihat sebagian besar ibu kota dunia sedang memainkan drama konfrontasi dan saling propaganda. Bung Karno pun begitu. Beliau memanasi egonya dengan nyala sikap diktatoris terang-terangan Eropa abad 1930-an. Malaysia hendak diganyang. Pelindung Malaysia yakni Inggris juga ditantang. Amerika Serikat ditolak. Seluruh dunia Barat dan India juga diajak bersitegang. Orang kulit putih dari kekuatan yang baru muncul—New Emerging Forces (Nefos), dan kekuatan lama yang mapan—Old Established Forces (Oldefos) disebut sebagai Neo-kolonial imperalis (Nekolim).
Peci hitamnya dimiringkan dalam sikap menantang: campuran mencengangkan antara aura pengancam dan playboy. Orang-orang kadang menyebutnya Bapak, tetapi yang lebih pantas baginya adalah Bung, kakak laki-laki yang pemberani, yang melaksanakan setiap tindakan berani yang telah mereka idam-idamkan, dan menyerukan setiap makian yang terbayangkan setiap makian yang terbayangkan pada kemapanan dunia—dan pada tuan-tuan kolonial tersembunyi yang mungkin mencoba untuk kembali. (hal 23).
Sementara, Presiden yang memiliki banyak sekali julukan ini (Pemimpin Besar Para Buruh, Komandan Utama Revolusi Mental, dan sebagainya) tak dapat disangkal memiliki keyakinan yang sang besar kepada negerinya. Sangat optimistik. Secara misterius, uang pinjaman yang besar digunakan untuk membeli persenjataan dan mendirikan bangunan baru. Presiden juga telah mengeluarkan ketetapan: Jakarta harus segera menjadi ibu kota dunia. Maka hadirlah: lapangan Merdeka; monumen-monumen berdiri; Kota Lama hingga Hotel Indonesia di Jakarta Baru berjejer sejumlah bank dan kantor baru yang berlapis kaca dan sebuah toko serba-ada yang besar dengan aksen barat. Dengan ini dunia memang telah diyakinkan. Artinya, ketika Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia mampu berdiri di atas kaki sendiri, seluruh mata dunia pun mulai memandang dan memberi perhatian.
Terbukti, 55 negara telah menaruh perwakilan di Indonesia. Misi dari Amerika Serikat dan Uni Soviet tampil dengan mewah di negara Indonesia. Bung Karno membaca fenomena ini: oleh karena semakin kuat beliau menghina mereka (negara asing), semakin banyak yang mereka lakukan untuk menopang mimpi-mimpinya, maka Soekarno tetap angkuh pada keberadaan negara-negara luar.
Soekarno dipuja-puja seluruh rakyat. Hampir semua orang mengasihinya, tak terkecuali golongan yang selalu berbeda paham. Soekarno adalah ratu adil yang menyatukan semua yang berlawanan di dalam dirinya. Menyatukan tiga ribu pulau. Soekarno bukan sekadar seorang Muslim atau sosialis, bukan juga Hindu atau Kristen, melainkan kedua-duanya. Orang yang sanggup mewujudkan dualitas.
Akan tetapi mendekati masa akhir kepemimpinannnya, jika diibaratkan dalam lakon pewayangan, Arjuna ’Soekarno’ boleh dikatakan telah gagal memperhatikan nasihat-nasihat Khrisna. Sebab, segalanya dikaburkan oleh nafsu; sebagaimana api oleh asap, sebagaimana cermin oleh debu. Dan dengan itulah matanya telah terbutakan oleh hal-hal besar seperti revolusi tanpa henti.
Momen-momen di kala bertemu dengan petani Marhaen, ketika itu Soekarno bersepeda di desa Cigareleng di tahun 1922 pun tak sengaja terlupakan. Amnesia ini dikentarai karena upaya memfokuskan diri pada revolusi kehidupan bangsa. Revolusi yang diproyeksikan bakal dilaksanakan sampai mati. Dan, Bung Karno alpa mengunjungi kegemarannya masa lalu yakni menghampiri Pasar Baru, menengok rakyat yang selalu bertumpu padanya. Sama-sama demi memajukan bangsa, tapi Beliau lebih memilih mengunjungi resepsi-resepsi bersama tamu kenegaraan di hotel mewah: Hotel Indonesia. Demi melanjutkan revolusi pembangunan meraih tempat utama di dunia, Bung Karno lupa bau rakyat yang paling penting; bau kretek beraroma cengkeh—rokok yang diisap orang-orang miskin. Bau tersebut bercampur bau salah makanan favorit rakyat: sate yang dipanggang di atas anglo arang.
Kebijakan politik yang tidak berlandaskan pada kepentingan masyarakat ini berimplikasi membentuk pandangan-pandangan kritis berbagai golongan. Tuntutan rakyat, pemberontakan hingga mencoba mengkudeta pemerintahan pun pernah terjadi. G30S merupakan upaya puncak dari usaha pemberontakan tersebut. Dan uniknya, keduanya, antara pemberontak Wayang Golongan Kiri (PKI) dan Wayang Golongan Kanan Kantor Pusat Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) bergerak atas nama tokoh yang dicintai mereka: Soekarno. Di sini, dalam peristiwa berdarah inilah, sejarah Indonesia 1965 terlihat kabur, samar, dan sukar dinalar. Tetapi pengaburan sejarah tersebut dapat dimaknai dengan baik jika mengamati novel fiksi historis The Year of Living Dangerously: Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965 karya Christopher Koch.
Christopher Koch menulis The Year of Living Dangerously ini atas dasar pengalaman kakaknya, Philip Koch. Saat negara Indonesia sedang berkecamuk dahsyat, Philip Koch memang sedang berada di Indonesia sebagai reporter. Setelah melakukan serangkaian observasi, novel diselesaikan pada 1978, kemudian diadopsi dalam film yang berjudul sama The Year of Living Dangerously pada 1982.
Karya dan film tersebut telah meraih berbagai penghargaan. Ironisnya, kendati mendapat sambutan hangat di seluruh dunia, namun karya dan film yang bercerita tentang keadaan Indonesia ini justru dilarang beredar di negeri yang digunakan dalam setting. Pelarangan ini dilakukan sejak rezim orde baru. Alasannya sepele, kisah di dalamnya tidak sesuai dengan sejarah asli. Timbul kecurigaan, barangkali kekuasaan orde baru mendefinisikan ’fiksi’ sebagai hal yang bisa dipertanggungjawabkan, dikorelasikan, atau setidaknya ada titik singgung dengan realitas sesungguhnya. Sayangnya, titik singgung tersebut tidak akan bertemu jika realitas yang dikonstruksi sebagai kebenaran sesungguhnya, maksudnya adalah realitas versi kekuasaan orde baru. Dua hal yang konyol dan tidak masuk akal hanya untuk mempertahankan kepentingan pribadi. Beruntung pada 1999, larangan tersebut dicabut.
”Mencintai Indonesia karena aku turut memiliki kenangannya.”
Begitulah kata salah satu tokoh dalam novel yang menggunakan cover beda dalam terbitan terbarunya ini; Hamilton. Apabila dikorelasikan pada pelarangan yang terjadi di era orde baru, maka dengan tidak memperbolehkan menghadirkan novel 496 halaman ini di Indonesia bukankah sama halnya membunuh kecintaan masyarakat terhadap negerinya sendiri. Oleh sebab itu, terlepas dari benar/tidaknya, baik/buruk muatan yang ada, novel ini merupakan sajian berharga dari dunia untuk Indonesia.
Tentang sejarah kita sendiri: seharusnya pengetahuan kita lebih menyeluruh ketimbang orang-orang di negara lain.
Detail Buku
Judul: THE YEAR OF LIVING DANGEROUSLY: Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965
Penulis: Christopher J Koch
Penerjemah: Yuliani Liputo
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Tebal: 496 halaman
Cetakan: Cetakan II, Oktober 2009
Peresensi: Risang Anom Pujayanto
Resensi dimuat di Surabaya Post, Sabtu, 9 Januari 2010
http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=b02c89251106e1fdd9d92744be9f94f2&jenis=f457c545a9ded88f18ecee47145a72c0
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.