LITTLE WOMEN, Drama Keluarga Sepanjang Masa

12 Feb 2010 Pada: Resensi Pembaca

little-woman_low“.. lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia daripada menjadi istri yang sengsara, atau gadis murahan, yang keranjingan mencari suami ..” (h. 212)

Sangat besar kemungkinan bahwa perkataan Nyonya March ini merupakan argumentasi dasar Louisa May Alcott atas pilihannya sendiri untuk tetap melajang, sebagaimana tertera dalam profil di pembukaan novel. Kendati gadis-gadis keluarga March telah beranjak dewasa dan mulai mengenal lawan jenis, tidak berarti mereka lepas kendali.

Membayangkan keindahan romansa merupakan hal yang wajar terkait kesukaan mereka membaca. Namun begitu mereka menutup buku, khususnya bagi Jo—yang tidak lain tidak bukan adalah representasi Alcott, kisah cinta yang berbunga-bunga kurang menarik seandainya mereka dipaksa menjadi orang lain. Alih-alih membiarkan putri-putrinya bergaul dengan pria tidak sopan meskipun berkelimpahan, Marmee lebih suka membiarkan mereka dalam “kotak perhiasannya”.

Membesarkan empat orang anak perempuan dengan karakter berlainan selagi suami membaktikan diri di medan perang sungguh tidak mudah. Hebatnya, Marmee tidak pernah mengeluh. Dengan semangat dan cinta kasih yang besar terhadap sesama, ia mengajak keempat putrinya memberikan sarapan mereka kepada tetangga yang kekurangan sebagai hadiah Natal. Wanita ini menggunakan siasat yang cerdik saat mereka berkeinginan menghabiskan liburan dengan bermalas-malasan. Langkah yang patut menjadi inspirasi dalam pola asuh sehat.

“Bekerja itu sehat, dan ada banyak pekerjaan untuk setiap orang; pekerjaan itu membuat kita terhindar dari kebosanan dan kesalahan, bagus untuk kesehatan dan semangat, juga memberi kita perasaan berdaya dan kemandirian yang lebih baik daripada uang atau baju.” (hal. 252)

Ini bukan kali perdana saya membaca karya klasik terjemahan, meskipun ini pertama kalinya saya mengonsumsi secara utuh Little Women [dalam arti bukan saduran]. Semangat yang ditiupkan Louisa May Alcott sama kokohnya dengan yang saya temukan dalam kisah senada mengenai kepala keluarga dalam novel berbobot Geraldine Brooks, Kapten March. Deskripsi kuat karakter Marmee yang mengakui sejujur-jujurnya kepada Jo bahwa ia pun seorang pemarah yang harus menempuh waktu lama, berkat bimbingan sang suami yang sabar, guna meredam temperamennya sungguh memesona. Sebagai orangtua, Marmee tidak menuding, menggurui, apalagi menguliahi berlebihan sambil menempatkan diri sebagai “manusia suci”. Tak pelak, selain Jo sang penulis yang tomboy, Marmee adalah personifikasi wanita tegar yang saya favoritkan.

Ketika meresapi cerita yang meluncur pada pergaulan anak-anak March, mata saya digenangi sungai mendapati Amy dihukum sangat keras oleh gurunya karena menyimpan asinan limau. Penghayatan terjemahan yang lebur membuat saya ikut merasa pedih oleh pukulan di tangan gadis cilik itu, menyeret deras pada memori masa kecil [saya juga pernah dipukul guru di depan kelas karena tidak membawa buku PR]. Beth, yang pemalu dan menciut apabila diajak bicara oleh orang asing, membuktikan keteguhan hatinya dengan menunaikan amanat sang ibu agar tetap memerhatikan keluarga Hummel. Kepiluan menikam saat bayi malang yang sakit campak meninggal di pelukan Beth hadir sempurna, mencengkeram urat-urat mata sehingga ingin membalik halaman lagi dan lagi.

Satu daya pikat lain, yang membuat novel ini kian berkilau, adalah permainan kreativitas putri-putri March saat berkemah dan bertemu teman-teman Laurie dari Inggris. Pergesekan budaya menjadikan suasana panas, namun mereka tetap beradu potensi dengan praktik cerita estafet secara lisan. Jadilah bukan sekadar permainan yang menghasilkan tantangan, melainkan betotan imajinasi yang sambar-menyambar dan mengayakan.

“.. Aturlah waktunya untuk bekerja dan bermain, buatlah agar setiap hari itu berguna dan menyenangkan, buktikan bahwa kalian mengerti nilai waktu dengan memanfaatkannya sebaik-baiknya. Dengan demikian masa muda kalian akan menyenangkan, di masa tua nanti tidak akan banyak penyesalan, dan kehidupan menjadi keberhasilan yang mengesankan, meskipun kita miskin.” [hal. 253]

Empat bintang untuk penulisnya, empat bintang untuk penerjemahnya. Karya yang sangat cemerlang sebagai referensi praktisi penerjemahan, terkhusus buku-buku fiksi klasik.

(Resensi: Rini Nurul Badariah)

Detail Buku
Judul: LITTLE WOMEN
Penulis: Louisa May Alcott
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi
Cetakan: II, November 2009
Tebal: 489 halaman

The Phantom of the Opera

9 Feb 2010 Pada: Senarai, Terbaru

the-phantom-low

Detail Buku
Judul: THE PHANTOM OF THE OPERA
Penulis: Gaston Leroux
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Februari 2010
Tebal: 488 hlm
Harga: Rp 49.000

Christine dilanda kesedihan dan kesepian setelah bapak ibunya meninggal dunia. Namun ternyata, situasi itu membuka jalan baginya untuk menemukan bakatnya yang luar biasa setelah bergabung dengan paduan suara di Gedung Opera Paris. Dari sana cerita berawal.

Di gedung itu, Christine mendengar suara yang bernyanyi dan berbicara dengannya. Dia memercayai suara itu berasal dari Malaikat Musik yang sepakat untuk mengajarinya musik surgawi. Di luar dugaan, itu merupakan suara hantu opera yang telah bertahun-tahun memeras pengelola gedung itu.

Apa yang terjadi jika si hantu jatuh cinta padanya, sementara keselamatan penghuni gedung opera menjadi taruhannya?

THE PHANTOM OF THE OPERA adalah karya klasik yang telah sering diadaptasi ke dalam banyak karya, di antaranya film, sejak pertama kali diterbitkan pada 1910 di Prancis.

“Cerita paling liar dan fantastis.”
—New York Times Book Review

AZAZIL, Godaan Raja Iblis

1 Feb 2010 Pada: Resensi Pembaca

azazil_low3“Lembaran manuskrip ini berisi sebuah buku yang kuwasiatkan agar diterbitkan sesudah kematianku. Ini karya terjemahanku yang kuupayakan sebisaku agar sesuai aslinya, berasal dari sekumpulan lembaran perkamen yang ditemukan sepuluh tahun lalu di puing-puing kota tua yang berlokasi di barat laut kota Aleppo di Suriah. Membutuhkan tujuh tahun untuk menerjemahkan manuskrip ini dari Bahasa Suryani ke Bahasa Arab. Namun kini, setelah terjemahan selesai, saya menyesal sudah bersusah payah melakukannya.”

Saya butuh dua hari untuk menuntaskan buku ini. Isinya benar-benar membuat saya terpesona. Saya harus memperlmbat kecepatan saya membaca agar bisa lebih memahami berbagai ungkapan makna yang tersirat serta memahami filsafat yang diuraikan.

Buku ini terwujud dari hasil negosiasi seorang pendeta Hypa dengan Azazil adalah raja iblis yang diusir Tuhan dari surga karena membangkang. Hypa setuju untuk menuliskan kisah hidupnya dalam waktu 40 hari dengan harapan sesudah ia selesai menulis maka Azazil mau membiarkannya hidup tenang.

Dalam proses tulis-menulis tersebut, banyak hal yang ingin ditulis Hypra ditentang oleh Azazil. Namun, ada juga saat Azazil merayu Hypa untuk menuliskan kisah menurut versi Azazil. termasuk menuliskan rahasia kelam hidupnya serta pikiran-pikiran terlarangnya yang sesat menurut gereja.

Hypa hidup pada masa pergolakan iman Kristen di abad kelima Masehi. Saat itu terjadi pertentangan antara berbagai aliran gereja menyangkut konsep-konsep sakral, termasuk soal Trinitas dan ketuhanan Yesus, yang kemudian berpuncak pada serangkaian tragedi kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan.

Dikisahkan juga situasi serta kondisi kehidupan bermasyarakat pada saat itu, dimana semua yang bersinggungan dengan gereja akan dianggap musuh. Salah satu yang mengalaminya adalah Hypatia yang sering dijuluki Mahaguru Abad Ini. Ia mengalami peyiksaan dari pengikut gereja, tubuhnya dikuliti lalu dipotong empat!

Empat potong tubuh itu kemudian dilemparkan ke tempat yang sekarang menjadi lokasi pembuangan sampah. Meski tubunya sudah terbelah empat, Hypatia masih hidup. Dia siuman ketika api mulai membakarnya. Teriakan terakhirnya membahana sebelum dia diam untuk selamanya; seakan-akan langit kerajaan Tuhan menyerap habis erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya yang pernah mengajarkan keagungan filsafat kepada manusia.

Sebagai bumbu, dikisahkan juga cinta terlarang antara Hypa dengan dua wanita jelita. Oktavia yang penyembah berhala dan Martha sang penyanyi gereja. Sepertinya perlu dituliskan ini novel untuk dewasa.

Biasanya, saya tidak pernah tergoda komentar orang mengenai buku. Tapi saat saya membaca kalimat berikut:
“Azazil adalah buku paling berbahaya bagi keimanan Kristen.”
Saya jadi tergoda untuk membacanya. Suatu keputusan yang tidak salah!

(Truly Rudiono)

Detail Buku
Judul: AZAZIL, Godaan Raja Iblis
Pengarang: Youssef Ziedan
Penerjemah: M. Aunul Abied Shah
Penyunting: M. Irfan
Tebal: 574 hal
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: Desember 2009

libriMasih ingatkah kita akan pengalaman masa kecil ketika kita sedang dibacakan cerita oleh orang tua kita ? Tentunya sangat mengasikan karena biasanya kita akan terpukau oleh ceritanya sehingga kita seolah-olah berada dalam kisah yang sedang kita dengar itu.

Namun, pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah buku yang dibacakan akan memberi pengaruh yang lebih dahsyat lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya dan menjadikan apa yang ada dalam buku terasa begitu nyata melainkan dapat mempengaruhi jiwa, pikiran, dan persepsi mereka yang mendengarnya. Hal inilah yang terpikirkan oleh Mikkel Birkegaard penulis muda Denmark yang ia tuangkan dalam novel perdananya yang berjudul Libri di Luca.

Dalam karyanya ini Mikkel menceritakan mengenai para pembaca buku yang dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka yang mendengar apa yang sedang dibacanya. Para pembaca ini disebut dengan Lector, yaitu mereka yang melatih sebuah seni membaca keras-keras dari sebuah teks sehingga dapat memberi penekanan sesuai dengan keinginan si Lector. Dengan demikian hal ini akan mempengaruhi persepsi mereka yang mendengarkan isi dari sebuah teks yang dibacanya

Lector ini sendiri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pemancar yang dapat mempengaruhi persepsi pendengar terhadap tulisan yang sedang dibacanya, dan kelompok penerima yang mampu mempengaruhi persepsi seseorang yang sedang membaca sebuah buku. Jika dua kelompok ini disatukan maka akan tercipta sebuah sinergi yang dahsyat yang dapat mempengaruhi dunia sesuai dengan apa yang diinginkan para Lector. Di tangan mereka, buku bisa menjadi sebuah senjata!

Novel ini diawali dengan kisah kematian Luca Campelli seorang Lector yang memiliki sebuah toko buku antik terkemuka di Kopenhagen Denmark yang diberinya nama Libri di Luca. Kematiannya sangat ironis karena Luca Campelli meninggal secara mendadak di toko buku kebanggaannya ketika ia sedang membaca buku antik yang sangat ia sayangi.

Luca hanya memiliki seorang anak yang bernama John, seorang pengacara handal. Namun walau John adalah anak tunggalnya hubungan antara Luca dengan anaknya tidaklah sedekat hubungan antara seorang ayah dan anak pada umumnya sehingga tak heran jika John tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya.

Kematian Luca otomatis membuat toko buku Libri di Luca diwariskan pada John. Dengan bantuan Iversen selaku sekretaris pribadi Luca dan Katherine, pegawai kepercayaan Luca lambat laun John mulai mengenal aktifitas ayahnya beserta isi dari Libri di Luca yang menyimpan begitu banyak buku-buku berharga.

Melalui penuturan Iversen akhirnya terungkap bahwa Libri di Luca ternyata merupakan markas sebuah perkumpulan rahasia pecinta buku yang terdiri dari para Lector yang memiliki kekuatan mempengaruhi pendengarnya baik sebagai pemancar maupun penerima. Dan yang paling mengejutkan bagi John adalah ternyata tanpa disadarinya dirinyapun mewarisi kemampuan ayahnya sebagai seorang Lector.

Tidak berapa lama setelah kematian Luca, toko buku Libri di Luca mendapat serangan bom yang menghanguskan sebagian toko buku antik tertua di Kopenhagen itu. Hal ini membuat John Iversen dan Katherne menaruh curiga bahwa kematian Luca bukanlah kematian biasa melainkan ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Libri di Luca beserta perkumpulan rahasianya.

Kematian Luca dan serangan terhadap Libri di Luca memang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan diantara para anggota perkumpulan, antara Lector penerima dan pemancar saling mencurigai sehingga perkumpulan rahasia ini nyaris terpecah belah. Kecurigaan John dan kawan-kawannya akhirnya mengerucut pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan diluar perkumpulan rahasia Libri di Luca yang bertujuan untuk memecah belah Perkumpulan dan mempengaruhi para Lector untuk dapat menguasai dunia lewat kekuatannya.

Pencarian siapa dalang dari kekisruhan ini tak mudah. John dan kawan-kawan harus berpacu dengan waktu, taruhannya adalah nyawa mereka sendiri dan nyawa para Lector yang satu persatu tewas dengan berbagai cara. Pencarian ini ternyata membawa John, Iversen, dan Katherene melintas benua menuju Mesir, dimana pernah berdiri dan kini sedang dibangun kembali sebuah Perpustakaan terbesar di dunia di Alexandria Mesir (Bibliotheca Alexandrina). Ternyata di tempat ini pulalah cikal bakal terbentuknya perkumpulan rahasia para lector.

Bagi para pecinta buku, novel ini akan menjadi sangat menarik karena mengupas tentang buku dan pembacanya. Buku di tangan seorang lector bisa menjadi sebuah alat yang mempengaruhi dunia. Selain itu Mikkel juga dengan menarik memadukan sebuah fakta sejarah mengenai Bibliothica Alexandrina, perpustakaan paling besar sedunia yang pernah ada di muka bumi ini dengan kisah thriller fantasi yang menghibur.

Plot cerita yang disuguhkan penulisnya dibangun secara perlahan dan mencapai klimaksnya di bagian akhir. Berbagai fakta dibeberkan secara rinci sehingga pembaca bisa memahami logika dari sebuah kisah yang dibangun. Seperti kitah-kisah misteri lainnya, pembaca akan dibuat terkecoh menduga siapa yang menjadi dalang dari misteri kematian Luca Campelli. Jadi bersiap-siaplah untuk terkaget-kaget di bagian akhir novel ini.

Yang agak disayangkan dalam novel ini adalah kurangnya penulis mengeksploitasi kisah ketika berada di Bibliothica Alexandrina. Setting di Alexandria ini baru muncul di bagian-bagian akhir, andai saja setting di perpustakaan ini lebih diekplorasi lebih banyak lagi tentunya novel ini akan lebih menarik dan membuat wawasan pembaca mengenai Bibliothica Alexandrina semakin bertambah.

Saya juga agak menyayangkan deskripsi yang berlebihan mengenai kekuatan seorang Lector yang dengan kekuatan yang dimilikinya bisa menimbulkan fenomena lecutan-lecutan api, asap, cahaya, dll. Andai saja fenomena fisik seperti itu dihilangkan dan diganti dengan deskripsi mengenai bagaimana keadaan jiwa dan pikiran seseorang yang telah dipengaruhi oleh seorang Lector tentunya kesannya akan lebih dramatis dan dalam dibandingkan dengan menonjolkan fenomena fisiknya.

Terlepas dari hal di atas, bagaimanapun novel ini sangat menghibur. Gambaran toko buku antik Libri di Luca dan perpustakaan terbesar di dunia yang pernah ada di Bibliotheca Alexandrina, serta kemampuan seorang lector yang mempengaruhi pendengarnya pasti akan menarik minat para bibliophile dan para pembaca umumnya untuk melahap habis novel ini.

Selain itu, novel ini berhasil menempatkan posisi pembaca buku di tempat terhormat sebagai tokoh sentral dan merupakan ruh dari keseluruhan novel ini, berbeda dengan novel-novel lain yang kadang menempatkan tokoh seorang pembaca buku hanya sebagai pelengkap cerita dengan sosok seorang berkacamata tebal yang terasing dalam dunianya sendiri.

Dari semua hal diatas, tak heran jika novel ini mencuri perhatian para pembaca buku fiksi dan menuai sukses. Hal ini terbukti ketika cetakan pertamanya sebanyak 10.000 ekslempar ludes hanya dalam waktu tiga hari saja. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam tujuh belas bahasa dan menjadi International Best Seller. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi penulisnya karena ini adalah novel perdananya.

(Resensi: Hernadi Tanzil)

Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 588 hlm

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi

Flickr PhotoStream

    1 538f00004985untitledDSC_5722