Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Detail Buku
Judul: ARUMDALU
Penulis: Junaedi Setiyono
Tagline: Tiap-tiap sejarah besar diwarnai kejadian kecil yang kadang lebih menarik daripada peristiwa besar itu sendiri
Penerbit: Serambi
Tebal: 380 hlm
Cetakan: I, Mei 2010
Harga: Rp 39.000
Arumdalu adalah nama tambahan bagi Raden Ayu Danti. Arumdalu, nama Jawa untuk bunga sedap malam, menjadi nama yang melekatinya lantaran kesukaannya menyuntingkan bunga itu di rambutnya.
Pada awal meletusnya Perang Jawa, awal 1825, hampir semua orang Salatiga, terutama kaum lelakinya, mengenal Danti Arumdalu. Orang-orang selalu menghubungkannya dengan kehidupan malam. Selanjutnya Arumdalu dikasak-kusukkan sebagai pelacur kelas tinggi, simpanan seorang bangsawan kaya raya dari Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dari sudut pandang pengawalnya, Ki Brontok, kisah tentang Arumdalu ini dituturkan. Dari keterlibatannya dengan pembunuhan jagal sapi Ki Abilawa, kisah ini mengalir. Dan alirannya harus sampai pada upaya pembebasan seorang panglima laskar Dipanegaran yang termasyhur, Kiai Maja, yang ditangkap dan kemudian disekap di Benteng Salatiga. Namun, misi itu menjadi begitu rumit dan diperumit lagi dengan persoalan yang menggejolak di dalam dada para pembebas, persoalan manusia yang tidak dapat memungkiri jeritan hati nuraninya.
————
Junaedi Setiyono menulis cerpen, puisi, dan novel. Novel pertamanya, Glonggong (Serambi, 2007) merupakan salah satu pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ 2006 dan menjadi finalis Khatulistiwa Literary Award 2008. Kini dia mengajar dan tinggal di Purwerejo.
“Seperti pada buku pertama, Glonggong, pada Arumdalu ini Junaedi Setiyono mampu membuat sejarah terasa hidup di depan mata.”
—Ahmad Tohari
Masih tentang kisah percintaan antara Manusia dan Vampire yang akhir-akhir ini semarak dalam berbagai versi novel. Ada yang mengutamakan dalam segi romantisme yang kental, ada yang setengah berdarah-darah, ada pula yang ringan dan tidak terlalu kuat kesan horornya, seperti dalam Novel The Vampire Diaries ini.
Adalah seorang Stefan Salvatore yang tiba-tiba datang ke Desa Fell’s Church, bersekolah di Sekolah Menengah Robert E.Lee. Dia datang dengan sejuta misteri dan sejuta pesona, membuat sang Ratu sekolah tersebut, Elena, begitu penasaran dan menginginkannya.
Namun ternyata Elena bertepuk sebelah tangan, Stefan tidak pernah menghiraukannya dan sengaja meremehkannya didepan teman Elena. Ia harus mendapatkan laki-laki itu, bahkan jika itu akan membunuhnya. Tak peduli jika itu akan membunuh mereka berdua, ia harus mendapatkannya. Itulah janji Elena pada dirinya, yang merasa harga dirinya diinjak-injak akibat penolakan dari Stefan.
Lembar demi lembar buku ini terus mengisahkan tentang perjuangan Elena untuk mendapatkan cinta Stefan, mulai dari menyebar isu miring tentang Stefan, membuat trik-trik jahil bersama kedua sahabatnya, Bonnie dan Meredith, sampai berbuat konyol saking merasa putus asanya. Yang akhirnya mengantarkan ia pada masa lalu Stefan yang kelam dan menyakitkan.
“Kamu ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya, apa yang terjadi terhadap Katherine?” bisiknya. Elena mengangguk, pasti. “ Kalau begitu aku akan mengatakannya. Ia meninggal keesokan harinya. Aku dan kakakku Damon, kami membunuhnya.”
Alih-alih takut dan menjauh ketika Elena mengetahui hal kelam tentang Stefan, ia malah meminta Stefan menjadikannya seperti adanya Stefan.
“Aku telah membuat keputuan, Stefan, ujarnya lembut, memfokuskan pandangannya. “aku menginginkannya.”
Stefan menelan ludah, “Kamu tidak mengerti apa yang kamu minta.”
Penasaran kan? Baca aja ….
Ending dari Novel ini mengambang. Hal ini wajar, mengingat The Vampire Diaries : The Awakening, adalah Novel pertama dari Trilogi The Vampire Diaries. Dan pastinya, saya sangat penasaran dengan kelanjutan dari kisah Elena Gilbert dan Stefan Salvatore ini, semoga segera terjawab di buku selanjutnya.
(Resensi oleh Noviane Asmara)
Detail Buku
Judul: The Vampire Diaries: The Awakening
Penulis: L.J.Smith
Penerbit: Atria
Tebal: 281 Hlm
Terbit: Maret 2010
Di Gedung Opera Paris melekat legenda Hantu Opera (The Phantom of the Opera) yang dipercayai banyak orang. Hantu itu berupa sesosok laki-laki kurus yang memakai mantel hitam berekor. Seorang saksi yang pernah menyaksikannya, mengungkapkan profil si Hantu.
“Sosoknya luar biasa kurus; mantel hitamnya menggantung bebas di badannya yang hanya tulang-tulang. Matanya menatap tajam ke depan, tidak bergerak, dan letaknya begitu dalam di rongga matanya sehingga kau nyaris tidak melihatnya. Kau hanya melihat dua buah lubang gelap, seperti yang biasa terlihat pada tengkorak. Kulitnya sekeras kulit beduk. Warnanya bukan putih, melainkan kuning kusam. Hidungnya begitu kecil sehingga kau tidak dapat melihatnya ketika memandangnya dari samping, dan ketiadaan hidung tersebut membuatnya kelihatan menyeramkan. Rambutnya berupa tiga atau empat gumpalan hitam yang terjurai di dahi dan di belakang telinga.” (hal. 19).
Kehadiran hantu itu dijadikan lelucon bagi sebagian orang, sedangkan bagi kalangan yang pernah melihat atau memiliki pengalaman langsung dengannya, menyimpan kepercayaan tersendiri pada makhluk itu, termasuk soal balkon nomor 5 yang sudah jadi ‘milik’ Hantu Opera. Penulis buku ini, Gaston Leroux, meyakinkan pembaca bahwa hantu itu benar-benar ada. Namun ia bukan sesuatu yang mistis. Hantu itu adalah sosok manusia riil yang berdarah-daging dan bernyawa.
Sebagai kisah klasik yang menarik, The Phantom of the Opera sudah diadaptasi ke berbagai bentuk, seperti film berjudul sama yang dibintangi oleh Gerard Butler, Emmy Rossum, dan Patrick Wilson pada tahun 2004. Ceritanya cukup klise, berpulun tentang kisah cinta segitiga antara seorang soprano (penyanyi opera) bernama Christine Daaé yang dicintai oleh makhluk buruk rupa bergelar Hantu Opera dan seorang bangsawan muda bernama Viscount Roul de Chagny. Daaé yang awalnya hanya seorang soprano biasa, mendadak menjadi terkenal setelah berlatih bernyanyi dibimbing Malaikat Musik yang tak lain adalah Hantu Opera.
Drama misteri percintaan yang berlatar tahun 1864 itu berhubungan dengan peristiwa misterius yang terjadi di ruang santai penari dalam gedung Opera. Kejadian itu berupa penculikan Christine Daaé, menghilangnya Viscount Roul de Chagny, dan tewasnya Viscount Philippe de Chagny (kakak Roul) di tepi telaga yang mengarah ke Rue Scribe di bawah gedung Opera.
Hal-hal aneh hadir mengiringi petualangan Chistine dan Roul yang ternyata telah saling mengenal sejak kecil. Mereka dikejar-kejar teror Hantu Opera yang tidak rela Chistine jatuh ke pelukan laki-laki lain. Ada bagian-bagian yang menggidikkan. Di antaranya saat Hantu Opera perlahan-lahan membuka topeng putih penutup wajahnya di hadapan Chistine. Suasana horor begitu seram ketika Chistine menyaksikan rupa tengkorak yang mengerikan. Di akhir kisah, Christine mencium muka itu.
Novel ini menyenangkan untuk dibaca. Terutama bagi penyuka sastra klasik. Lebih syahdu bila membacanya sambil mendengarkan musik Mozart atau iringan biola yang menyayat.[]
(Resensi: Ade Efdira)
Detail Buku
Judul: THE PHANTOM OF THE OPERA
Penulis: Gaston Leroux
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Februari 2010
Tebal: 488 hlm
Detail Buku
Judul: GURUN CINTA
Anak Judul: Persaingan Asmara Ayah dan Anak
Penulis: François Mauriac
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penyunting: Anton Kurnia
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, April 2010
Tebal: 292 hlm
Harga: Rp 29.000
Seorang pria dan anak lelakinya ingin memiliki wanita ini …
Novel memukau karya pemenang Hadiah Nobel Sastra 1952 ini menjanjikan pengalaman membaca tak terlupakan bagi orang-orang yang tak takut merenungkan hasrat manusia
secara terbuka. Inilah karya terbaik François Mauriac, salah satu pengarang terkemuka dunia, yang berhasil menggondol
Grand Prix du Roman de l’Academie Française pada 1926.
Gairah seorang remaja lelaki berusia delapan belas tahun terhadap seorang wanita dewasa, itulah tema novel klasik yang menakjubkan ini. Tanpa sepengetahuan masing-masing, seorang ayah dan anak lelakinya jatuh cinta kepada wanita yang sama.
Bagi sang ayah, wanita ini adalah godaan untuk meninggalkan keluarga dan karier demi sekilas kebahagiaan terakhir. Bagi sang anak, wanita ini adalah sasaran gairah ragawi yang dirasakan sedang tumbuh di dalam dirinya. Wanita itu sendiri—cantik, menarik, misterius—memiliki efek yang sangat berbeda bagi kedua lelaki … meskipun itu di luar kehendak si wanita.
“Sebuah drama memukau yang menyingkap kisah cinta segitiga antara seorang ayah, anak lelakinya, dan seorang wanita.”
—-The Times
“Gambaran kehidupan yang gamblang dan ditulis dengan menarik, tak lekang oleh waktu.”
—-Daily Oklahoma
“Penggambaran yang memikat dan mengharukan mengenai manusia yang sedang dicekam gairah.”
—-Washington Star
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.