“Aku mungkin berkemauan keras, tapi tidak ada yang bisa mengatakan bahwa aku keluar dari kodratku, karena misi istimewa seorang wanita adalah untuk menghapus air mata dan menahan beban.” [hal. 507]

Waktu seakan terbang bagi Marmee, atau Bu March. Tiba waktunya bagi wanita bijaksana ini melepaskan sang putri sulung, Meg, ke tangan seorang lelaki yang meminangnya. Dengan menawan, Alcott memaparkan tahap-tahap adaptasi Meg dan John sebagai suami-istri yang saling menghormati. Di sinilah terlihat bahwa, meskipun ditulis dan diterbitkan sudah sangat lama, pelajaran yang terkandung dalam novel ini masih dapat dimanfaatkan di masa kini. Agar seorang istri tidak mencurahkan terlalu banyak perhatian kepada anak-anak, misalnya, namun melibatkan suami sehingga tidak merasa tersisih dan lebih memilih diam di rumah orang lain. Agar suami yang pulang dan lelah bekerja tidak kecewa. Juga terdapat semacam pantangan supaya suami-istri tidak menyampaikan keluhan pribadi kepada orang lain, namun memecahkannya dan berusaha terus terang satu sama lain.

Jo masih merupakan karakter paling cemerlang dan mencuri hati. Ketika Laurie menyatakan cinta, ia tidak terkejut namun cukup canggung menyampaikan penolakan. Saya tergelak-gelak tatkala Jo diajak Amy bertamu, dan menanggapi teguran adiknya yang sangat santun itu dengan berperilaku ramah berlebih-lebihan. Nuansa feminis dalam pemikiran Alcott menguar lebih kuat dalam novel lanjutan Little Women ini. Kendati demikian, seperti dituturkan pada kutipan di atas, kecerdasan dan kemandirian tidak menjadikan putri-putri keluarga March berlaku pongah.

Amy mulai menapaki usia remaja. Beth lebih memerlukan perlindungan saudara dan keluarganya, sebab kondisi fisiknya ternyata belum pulih benar. Jo masih menulis dengan serius, berusaha menjaga Beth, dan mendapat konsekuensi pahit lantaran kurang terampil memilah kata sehingga kehilangan peluang untuk mencapai impian pergi ke Eropa. Amy-lah yang mereguk kesempatan itu dan mengembangkan bakat sebisa mungkin.

Cukup mengherankan sebab di negeri aslinya, buku ini digolongkan ke dalam genre anak-anak. Topiknya masih menyoal keluarga, dengan rangkaian konflik personal mengenai kepribadian seseorang, masalah asmara, pilihan jalan hidup, dan mempertimbangkan masa depan. Secara ekonomi, kondisi keluarga March tetap sama. Namun kasih sayang antara mereka terjalin hangat. Sub plot paling menggetarkan ialah sewaktu Jo kembali menulis, setelah terendam rasa kurang percaya diri. Dan orangtuanya mendorong sepenuh hati, sehingga Jo membuktikan bahwa menulis sebagai aktivitas bersenang-senang, menuangkan isi kepala, tanpa memikirkan unsur komersil, justru menghasilkan sesuatu yang luar biasa responsif.

Bagi para penjelajah yang tidak keberatan menyimak buku bernuansa wanita, kisah perjalanan Amy dan Laurie ke Eropa, berikut pertemuan Jo dengan Profesor Bhaer, akan menjadi daya pikat yang besar.

(Resensi: Rini Nurul Badariah)

Detail Buku
Judul : GOOD WIVES
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : M. Sidik Nugraha
Tebal : 534 Halaman
Penerbit : Serambi
Cetakan: I, April 2010

Persaingan Asmara Ayah dan Anak

11 May 2010 Pada: Resensi Pembaca

Apa jadinya bila ada persaingan asmara antara ayah dan anak memperebutkan satu perempuan?? Novel Gurun Cinta (Le Desert de l’amour, 1925) yang meraih Grand Prix du Roman de I’Academie Francaise pada 1926 dianggap sebagai novel terbaik Francois Mauriac oleh para kritukus sastra.

Raymond Courreges dikaruniai wajah tampan, tapi menganggap dirinya monster buruk rupa dan jorok. Umurnya belum genap dua puuh tahun. Setiap hari menaiki trem setiap pukul enam pagi. Di trem itu, melihat seorang perempuan dewasa yang juga selalu menaiki trem. Di trem itulah Rymond mulai jatuh cinta.

Dalam usia lima puluh dua tahun, seorang lelaki masih boleh mengharapkan hidup bahagia selama beberapa tahun lagi, meskipun barangkali hati mereka diracuni oleh penyesalan yang dalam. Itulah yang dipikirkan Paul Courreges. Punya pekerjaan yang mapan sebagai dokter dan memiliki keluarga bahagia belum membuat hidupnya terasa lengkap. Dia mencintai pasiennya, Maria Cross.

Hewan pun akan mengusir anak-anaknya yang sudah dewasa. Bahkan lebih seringnya, hewan jantan tidak mengenali anak-anak itu sebagai anak-anak mereka. Hanya manusia yang mengembangkan perasaan sentimental untuk melestarikan tiap-tiap peranan itu.

Dalam melestarikan cinta tidak ada kata habis, tapi kita segera menyadari bahwa kelompok kecil pergaulan kita semakin lama semakin mengecil setiap tahunnya.

Kaum muda mengalami kekalahan karena mereka membiarkan diri dengan mudah diyakini mengenai ketidakmampuan mereka.

Semua orang memang sinting jika dalam kesendirian. Pengendalian itu terpaksa difungsikan jika ada orang lain.

Yang jadi masalah bukanlah kesediaan untuk mengungkapkan isi hati, meskipun kita mempunyai pendengar yang bersimpati, walaupu pendengar itu ibu kita sendiri. Siapa diantara kita yang cukup terampil meringkas segenap gejolak jiwa ke dalam beberapa kata saja? Bagaimana mungkin kita dapat melepaskan sebuah perasaan tertentu dari sekumpulan perasaan yang bergejolak?

Kita semua diubah dan diubah lagi oleh orang-orang yang mencintai kita, dan meskipun cinta itu mungkin sudah berlalu, kita tetap seperti hasil gubahan itu –gubahan yang mungkin tidak mereka kenali, dan barangkali juga bukan itu yang menjadi tujuan. Tidak ada cinta, tidak ada persahabatan yang dapat menyilang jalur takdir kita tanpa meninggalkan bekas padanya selamanya.

Kelemahan terakhir manusia terletak pada kemampuannya untuk mengagumi keburukannya sendiri, seakan-akan terpesona ketika melihat berlian.

Pada saat-saat tertentu kita menyadari bahwa kita tidak berarti apa-apa bagi orang tertentu yang sangat berarti bagi kita.

Betapa mengganggunya orang-orang yang tidak menyentuh hati kita, orang-orang yang tidak kita pilih! Mereka benar-benar di luar diri kita. Tidak ada satu pun mengenai diri mereka yang ingin kita ketahui. Seandainya mereka meninggal, kematian mereka sama sekali tidak berartinya dengan ketika mereka masih hidup.

Orang-orang yang terdekat dengan kita selalu yang paling tidak kita pahami. Kita mencapai titik yang bahkan kita tidak bisa melihat apa yang ada di depan mata kita.

Jatuh cinta sangat tidak enak dan berhenti mencintai membuat kita merasa hina.

Manusia seharusnya selalu memikirkan kesulitan orang lain, dan suntikan-suntikan kecil tantangan itulah yang membuat darah selalu mengalir. Manusia tidak punya waktu untuk memikirkan penderitaan batinnya sendiri, memikirkan luka yang menghujam dalam-dalam sampai ke relung lubuk hatinya.

Kisah cinta segitiga antara Maria Cross, Paul Courreges, dan Raymond Courreges ini dikemas dalam novel memukau karya pemenang Hadiah Nobel Sastra 1952.

Kepada siapakah cinta Maria Cross berlabuh??

(Oleh Luckty Giyan Sukarno)

Detail Buku
Judul:  GURUN CINTA
Pengarang: Francois Mauriac
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2010

Good Wives merupakan novel klasik karya Lousia May Alcott (1832-1888) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1869. Novel ini merupakan sekuel dari novel Little Women (1868). Novel ini terlahir atas banyaknya permintaan dari para pembaca Little Woman untuk melanjutkan kisah empat sosok perempuan yang berbeda karakter. Dalam novel ini Alcott masih membahas empat sosok perempuan March, yang paling populer dalam sastra Amerika.

Alcott benar-benar berhasil membawa para pembacanya mengeluarkan semua bentuk emosi. Karena sejak dari halaman awal sampai dengan akhir, saya begitu terhanyut dan terbuai oleh setiap percakapan yang terjadi. Terlalu banyak hal indah dan menyenangkan di sana, tapi tak sedikit hal menyedihkan, hingga tak terasa tiba-tiba mata saya basah karenanya. Saya sengaja melambatkan ritme baca dan tidak bermaksud menyelesaikannya dengan segera, karena saya ingin menangkap setiap pesan, setiap harapan, setiap nasihat dan setiap makna yang tersirat dalam rangkaian kalimat yang tersurat.
Rasanya ingin saya meng-copy paste satu buku ini untuk saya review, karena terlalu banyak hal indah dan bermakna yang akan saya lewatkan bila hanya menulis beberapa paragraf saja …

Meg, si sulung March, mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi John Brooke. Diawali dengan pesta pernikahan sederhana tapi begitu mewah dan hangat, karena dipenuhi cinta dari Ayah, marmee sang Ibu dan ketiga saudarinya, Jo, Beth dan Amy, yang membantu acara pernikahan dengan penuh gembira dan kejutan.
Meg ditempa menjadi wanita dewasa setelah menyandang status istri, walau benturan-benturan kecil sering terjadi dalam kehidupan rumah tangganya. Dan Meg hanyalah wanita biasa seperti kebanyakan wanita lainnya, yang kadang tergoda dengan kemewahan hidup.
Tetapi berkat cinta dan juga suami yang baik hati, dia selalu dapat mengambil hikmah dari apa yang sudah diperbuatnya. Kini keluarga mereka pun lebih semarak dan lebih sempurna dengan hadirnya Daisy dan Demi, si kembar buah hati mereka.

Jo, si perempuan tomboi yang berpikiran bebas dan mandiri. Sekarang semakin produktif, dengan banyak tulisan-tulisan dia yang dimuat dalam koran. Dia memperoleh bayaran yang lumayan dari hasil tulisannya dan dengan senang hati membagi kebahagiaan tersebut dengan keluarganya. Jo mulai merasa dirinya punya kekuatan di rumah itu. Karena dengan daya sihir dari penanya, karya “sampah”-nya berubah menjadi kenyamanan untuk seluruh keluarga. “The Duke’s daughter” bisa dipakai untuk membayar tagihan toko daging, “The Phantom Hand” berganti menjadi karpet baru, dan “Curse of the Coventrys” terbukti merupakan berkah bagi keluarga March karena bisa digunakan untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari dan gaun-gaun baru.

Beth, si perempuan March pemalu yang rapuh. Kian hari kesehatannya semakin buruk, dengan semakin bertambah kurusnya ia dan tidak juga bertambah merah pipinya, tetap pucat seperti awal. Tetapi ia tetap terlihat tegar dan bahagia demi orang-orang yang mencintainya.
Ada satu bab yang membahas tentang “Rahasia Beth”. Membaca kisah di bab ini, saya tak kuasa membendung air mata, dari hanya berkaca-kaca sampai sesenggukan. Mengharu biru sekali “Rahasia Beth” ini, yang hanya Beth bagi dengan Jo, kakaknya.

Maaf saya tidak ingin membagi Rahasia Beth ini kepada kalian. Biarlah untuk saat ini, hanya saya, Beth dan Jo yang tahu…

Amy, si bungsu March yang semakin terlihat menawan dan anggun dalam setiap gerak dan langkah yang dibuat. Berpikir optimis dan praktis, da selalu menebarkan keceriaan di setiap gerak yang dia ayun. Walau ia adalah March termuda dalam keluarga itu, ia bersikap lebih dewasa dari kakaknya, Jo, terbukti saat Jo kebingungan menentukan nasib karyanya yang separuh isi karya tersebut diminta di pangkas oleh penerbit yang akan menerbitkan karyanya. Dan Jo mengundang dewan keluarga bersidang. Saran dari sang Ibu, Ayah, Meg, Beth semuanya masuk akal, tapi hanya saran dai Amy-lah yang praktik dan lebih masuk akal.
“Lakukan apa yang dimintanya. Dia tahu apa yang akan disukai orang-orang, sedangkan kita tidak. Buatlah buku yang baik dan populer dan dapatkan uang sebanyak-banyaknya. Lambat laun, ketika kamu sudah punya nama, kamu bisa mengambil jalanmu sendiri, serta menempatkan tokoh-tokoh filosofis dan metafisis di dalam novel-novelmu”.

Kisah yang Alcott ceritakan di novel ini bagi saya sangat wajar, tidak ada hal yang terasa dipaksakan dan mengusung sisi manusiawi yang kental.
Kelak, mungkin saya akan mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang Bu March pertanyakan
“ Apa yang bisa kamu harapkan ketika aku memiliki empat anak perempuan yang ceri di dalam rumahku, dan seorang pemuda tampan di sebelah rumah kami?”

Secara keseluruhan isi dari kisah ini mengandung pesan moral tentang rasa persahabatan, pengorbanan dan kesetiaan.
Bahasa yang dipergunakannya pun apik, enak dan mudah dicerna, begitu indah dan ringan, sama seperti novel pertamanya, Little Women (Serambi, 2009).

(Resensi: Noviane Asmara)

Detail Buku
Judul : GOOD WIVES
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penyunting : M. Sidik Nugraha
Tebal : 534 Halaman
Penerbit : Serambi
Cetakan: I, April 2010

The Einstein Girl

19 Apr 2010 Pada: Senarai, Terbaru

Detail Buku
Judul: THE EINSTEIN GIRL
Anak Judul: Di Balik Kisah Cinta Sang Ilmuwan
Penulis: Philip Sington
Penerbit: Serambi
Tebal: 528 hlm
Cetakan: I, Mei 2010
Harga: Rp 69.000

Tiga puluh tahun setelah kematiannya, surat menyurat rahasia antara sang jenius Albert Einstein dan matematikawan Serbia yang pernah menjadi istrinya, Mileva Maric, terungkap. Itu mengungkap keberadaan seorang anak haram yang terlahir dua tahun sebelum mereka menikah. Elisabeth Einstein, anak itu, dilahirkan pada akhir Januari 1902 di sebuah desa yang pada saat itu masuk wilayah kerajaan Austro-Hongaria.

Dua bulan sebelum Adolf Hitler naik ke tampuk kekuasaan, seorang gadis muda tanpa busana berparas cantik ditemukan dalam keadaan nyaris tewas di sebuah hutan di luar kota Berlin. Ketika gadis itu akhirnya pulih dari koma, dia tidak mampu mengingat apa pun, termasuk namanya sendiri.

Satu-satunya petunjuk identitasnya adalah secarik kertas yang terletak di dekat tempatnya ditemukan, berisi pemberitahuan sebuah acara kuliah umum tentang Teori Kuantum oleh Albert Einstein. Koran-koran pun dengan segera menamai gadis itu sebagai “The Einstein Girl”.

Psikiater Martin Kirsch berusaha keras menyingkap kebenaran di balik kasus “Pasien E” ini, tetapi lama kelamaan ketertarikan profesionalnya ternyata berubah menjadi rasa cinta kepada sang gadis. Penyelidikan intensifnya kemudian membawanya ke pedalaman Serbia melalui sebuah rumah sakit jiwa di Zürich, tempat ahli waris kejeniusan Albert Einstein – anak bungsunya, Eduard Einstein – tengah menulis sebuah buku yang akan menghancurkan reputasi ayahnya dan sekaligus mengubah dunia.

Ditulis dengan memukau berdasarkan riset yang tekun, novel ini adalah sebuah misteri tentang cinta kasih dan kegandrungan akan ilmu pengetahuan, sekaligus sebuah perjalanan gelap menuju sisi psikologis yang tak pernah diungkap dari seorang ilmuwan paling cemerlang pada abad kedua puluh. Berpijak pada kisah nyata, novel memukau ini berpuncak pada tikungan kuantum yang akan mengejutkan Anda.

Sebuah novel gelap yang indah, sebuah thriller historis yang memukau, sebuah kisah cinta yang menakjubkan.
—Rebecca Scott, pengarang novel laris Ghostwalk

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi

Flickr PhotoStream

    flickrRSS probably needs to be setup