libriMasih ingatkah kita akan pengalaman masa kecil ketika kita sedang dibacakan cerita oleh orang tua kita ? Tentunya sangat mengasikan karena biasanya kita akan terpukau oleh ceritanya sehingga kita seolah-olah berada dalam kisah yang sedang kita dengar itu.

Namun, pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah buku yang dibacakan akan memberi pengaruh yang lebih dahsyat lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya dan menjadikan apa yang ada dalam buku terasa begitu nyata melainkan dapat mempengaruhi jiwa, pikiran, dan persepsi mereka yang mendengarnya. Hal inilah yang terpikirkan oleh Mikkel Birkegaard penulis muda Denmark yang ia tuangkan dalam novel perdananya yang berjudul Libri di Luca.

Dalam karyanya ini Mikkel menceritakan mengenai para pembaca buku yang dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka yang mendengar apa yang sedang dibacanya. Para pembaca ini disebut dengan Lector, yaitu mereka yang melatih sebuah seni membaca keras-keras dari sebuah teks sehingga dapat memberi penekanan sesuai dengan keinginan si Lector. Dengan demikian hal ini akan mempengaruhi persepsi mereka yang mendengarkan isi dari sebuah teks yang dibacanya

Lector ini sendiri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pemancar yang dapat mempengaruhi persepsi pendengar terhadap tulisan yang sedang dibacanya, dan kelompok penerima yang mampu mempengaruhi persepsi seseorang yang sedang membaca sebuah buku. Jika dua kelompok ini disatukan maka akan tercipta sebuah sinergi yang dahsyat yang dapat mempengaruhi dunia sesuai dengan apa yang diinginkan para Lector. Di tangan mereka, buku bisa menjadi sebuah senjata!

Novel ini diawali dengan kisah kematian Luca Campelli seorang Lector yang memiliki sebuah toko buku antik terkemuka di Kopenhagen Denmark yang diberinya nama “Libri di Luca”. Kematiannya sangat ironis karena Luca Campelli meninggal secara mendadak di toko buku kebanggaannya ketika ia sedang membaca buku antik yang sangat ia sayangi.

Luca hanya memiliki seorang anak yang bernama John, seorang pengacara handal. Namun walau John adalah anak tunggalnya hubungan antara Luca dengan anaknya tidaklah sedekat hubungan antara seorang ayah dan anak pada umumnya sehingga tak heran jika John tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya.

Kematian Luca otomatis membuat toko buku Libri di Luca diwariskan pada John. Dengan bantuan Iversen selaku sekretaris pribadi Luca dan Katherine, pegawai kepercayaan Luca lambat laun John mulai mengenal aktifitas ayahnya beserta isi dari Libri di Luca yang menyimpan begitu banyak buku-buku berharga.

Melalui penuturan Iversen akhirnya terungkap bahwa Libri di Luca ternyata merupakan markas sebuah perkumpulan rahasia pecinta buku yang terdiri dari para Lector yang memiliki kekuatan mempengaruhi pendengarnya baik sebagai pemancar maupun penerima. Dan yang paling mengejutkan bagi John adalah ternyata tanpa disadarinya dirinyapun mewarisi kemampuan ayahnya sebagai seorang Lector.

Tidak berapa lama setelah kematian Luca, toko buku Libri di Luca mendapat serangan bom yang menghanguskan sebagian toko buku antik tertua di Kopenhagen itu. Hal ini membuat John Iversen dan Katherne menaruh curiga bahwa kematian Luca bukanlah kematian biasa melainkan ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Libri di Luca beserta perkumpulan rahasianya.

Kematian Luca dan serangan terhadap Libri di Luca memang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan diantara para anggota perkumpulan, antara Lector penerima dan pemancar saling mencurigai sehingga perkumpulan rahasia ini nyaris terpecah belah. Kecurigaan John dan kawan-kawannya akhirnya mengerucut pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan diluar perkumpulan rahasia Libri di Luca yang bertujuan untuk memecah belah Perkumpulan dan mempengaruhi para Lector untuk dapat menguasai dunia lewat kekuatannya.

Pencarian siapa dalang dari kekisruhan ini tak mudah. John dan kawan-kawan harus berpacu dengan waktu, taruhannya adalah nyawa mereka sendiri dan nyawa para Lector yang satu persatu tewas dengan berbagai cara. Pencarian ini ternyata membawa John, Iversen, dan Katherene melintas benua menuju Mesir, dimana pernah berdiri dan kini sedang dibangun kembali sebuah Perpustakaan terbesar di dunia di Alexandria – Mesir (Bibliotheca Alexandrina). Ternyata di tempat ini pulalah cikal bakal terbentuknya perkumpulan rahasia para lector.

Bagi para pecinta buku, novel ini akan menjadi sangat menarik karena mengupas tentang buku dan pembacanya. Buku di tangan seorang lector bisa menjadi sebuah alat yang mempengaruhi dunia. Selain itu Mikkel juga dengan menarik memadukan sebuah fakta sejarah mengenai Bibliothica Alexandrina, perpustakaan paling besar sedunia yang pernah ada di muka bumi ini dengan kisah thriller fantasi yang menghibur.

Plot cerita yang disuguhkan penulisnya dibangun secara perlahan dan mencapai klimaksnya di bagian akhir. Berbagai fakta dibeberkan secara rinci sehingga pembaca bisa memahami logika dari sebuah kisah yang dibangun. Seperti kitah-kisah misteri lainnya, pembaca akan dibuat terkecoh menduga siapa yang menjadi dalang dari misteri kematian Luca Campelli. Jadi bersiap-siaplah untuk terkaget-kaget di bagian akhir novel ini.

Yang agak disayangkan dalam novel ini adalah kurangnya penulis mengeksploitasi kisah ketika berada di Bibliothica Alexandrina. Setting di Alexandria ini baru muncul di bagian-bagian akhir, andai saja setting di perpustakaan ini lebih diekplorasi lebih banyak lagi tentunya novel ini akan lebih menarik dan membuat wawasan pembaca mengenai Bibliothica Alexandrina semakin bertambah.

Saya juga agak menyayangkan deskripsi yang berlebihan mengenai kekuatan seorang Lector yang dengan kekuatan yang dimilikinya bisa menimbulkan fenomena lecutan-lecutan api, asap, cahaya, dll. Andai saja fenomena fisik seperti itu dihilangkan dan diganti dengan deskripsi mengenai bagaimana keadaan jiwa dan pikiran seseorang yang telah dipengaruhi oleh seorang Lector tentunya kesannya akan lebih dramatis dan dalam dibandingkan dengan menonjolkan fenomena fisiknya.

Terlepas dari hal di atas, bagaimanapun novel ini sangat menghibur. Gambaran toko buku antik Libri di Luca dan perpustakaan terbesar di dunia yang pernah ada di Bibliotheca Alexandrina, serta kemampuan seorang lector yang mempengaruhi pendengarnya pasti akan menarik minat para bibliophile dan para pembaca umumnya untuk melahap habis novel ini.

Selain itu, novel ini berhasil menempatkan posisi pembaca buku di tempat terhormat sebagai tokoh sentral dan merupakan ruh dari keseluruhan novel ini, berbeda dengan novel-novel lain yang kadang menempatkan tokoh seorang pembaca buku hanya sebagai pelengkap cerita dengan sosok seorang berkacamata tebal yang terasing dalam dunianya sendiri.

Dari semua hal diatas, tak heran jika novel ini mencuri perhatian para pembaca buku fiksi dan menuai sukses. Hal ini terbukti ketika cetakan pertamanya sebanyak 10.000 ekslempar ludes hanya dalam waktu tiga hari saja. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam tujuh belas bahasa dan menjadi International Best Seller. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi penulisnya karena ini adalah novel perdananya.

@htanzil

http://bukuygkubaca.blogspot.com

Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Des 2009
Tebal: 588 hlm

Anak-anak Tengah Malam: Sebuah Sejarah Keluarga

1 Feb 2010 Pada: Ulasan

midnightPada tahun 1989, Imam Khomeini memfatwa mati Salman Rushdie. The Satanic Verses, novel penulis Mumbay itu, yang terbit setahun sebelumnya, membikin heboh dunia Islam. Novel itu dianggap melecehkan iman umat Muslim, mengolok-olok Tuhan dan rasulullah. Salman Rushdie kemudian ‘diburu’. Novel itu bahkan membunuh salah seorang penerjemahnya, seorang berkebangsaan Jepang, beberapa waktu setelah fatwa itu dikeluarkan Khomeini.

Huh, tetapi tenang saja, novel ini berbeda dengan The Satanic Verses. Novel ini tak akan membikin iman saudara terancam. Hampir-hampir tak ada hujatan terhadap agama mana pun. Dan hampir-hampir tak ada olok-olok terhadap tuhan siapa pun.

Midnight’s Children sesungguhnya memiliki kisah yang sederhana, kisah seorang penulis Mumbay bernama Saleem Sinai yang menghabiskan hari-harinya ‘bekerja’ menulis (mungkin) novel di apartemennya. Dia ditemani pembaca dan komentator pertamanya, seorang ‘juru masak’, seorang ‘pengasuh’nya bernama Padma. Lewat Salem Sinai, kisah-kisah dalam novel ini dituturkan, digelindingkan, dari suatu masa ke masa berikutnya, dari satu peristiwa ke perisitwa lain. Berbagai topik disinggung dan berbagai mitos didedahkan.

Mula-mula, kisah dalam novel ini melesat ke tahun 1912, ke kisah Aazam Aziz, seorang dokter barat modern pertama di lembah subur Khasmir. Dokter Aziz menjalani kisah unik menemukan cintanya pada seorang perempuan hampir fanatik yang selalu sakit-sakitan bernama Naseem Ghani, anak seorang tuan tanah Khasmiri. Dokter Aziz, diminta untuk mengobati Naseem, tetapi perempuan itu tak boleh dipandangi atau disentuh. ‘Seprei bolong’ lalu dijadikan strategi, tabir yang membatasi antara pasien dengan sang dokter. Di bagian mana dari tubuh si pasien yang sakit, ke arah bagian itulah bolongan seprei ditujukan. Hingga dokter dan pasiennya saling jatuh cinta. Mereka lalu menikah dan pindah ke kota suci Amritsar. Di titik inilah sejarah baru sebuah keluarga dimulai.

Pasangan itu, seiring perjalanan waktu, melahirkan bebarapa orang anak. Salah seorang dari mereka, Amina Sinai, setelah menjadi gadis besar, menikah dengan seorang pedagang kulit yang tinggal di Bombay, Ahmed Sinai. Dari pasangan inilah Saleem Sinai (si pusat cerita), lahir. Tetapi tunggu, Saleem Sinai sebenarnya bukan anak kandung dari pasangan itu. Mary Pereira, pembantu keluarga itu, melakukan dosa abadinya dengan menukar nama pada keranda bayi di rumah sakit.

Saleem Sinai, Anak Tengah Malam, lahir tepat tengah malam di hari India memproklamirkan kemerdekaan. Dia mendapat ucapan selamat dari Nehru, Bapak Bangsa India. Dan seperti semua anak India yang lahir tengah malam di hari kemerdekaan itu, Saleem dianugrahi keajaiban: khusus untuk Saleem, ia bisa membaca pikiran manusia, menelurusi lorong-lorong tersembunyi yang tersimpan di otak manusia; ia memiliki kemampuan telepati lewat hidungnya yang penuh ingus, seperti Samson yang kuat karena bulu di kepalanya. Dan di kemudian hari, ketika hidung beringusnya telah disembuhkan, kemampuan itu pun lenyap, tetapi digantikan oleh kemampuan mengendus tiada tara.

Pada diri Saleem Sinai inilah cerita dalam novel ini memusar dan membentuk jejaring. Sejak kelahiran Saleem Sinan, kisah-kisah ‘ajaib’ meletus bagai kembang api menyertai perjalanan usianya. Bagaimana dia memaknai dirinya sebagai anak tengah malam, terlibat kisah cinta-anak-anak dengan Evie Burns seorang anak Amerika, belajar bersepeda dan menabrak kerumunan ‘demontrasi bahasa’, dan di usia mendekati sebelas tahun, rahasia bahwa dia bukan darah dan daging dari Amina Sinai terbongkar. Tetapi cinta tampaknya tak bisa memisahkan keluarga itu. Lalu di usia remaja Saleem, keluarga itu mengungsi ke Pakistan meninggalkan ayah angkatnya yang semakin dikuasai jin-jin alkoholik. Salem terlibat merencanakan kudeta militer di Pakistan, dan kembali ke India ketika ayah angkatnya hampir meninggal karena jantung yang membeku. Dan ketika usianya mendekati 16 tahun, Saleem dan keluarganya benar-benar memutuskan ‘menyeberang’ ke Pakistan untuk selama-lamanya, hidup di tengah orang-orang muslim yang sepenuhnya ‘murni’, ‘fanatik’, berbeda dengan masyarakat muslim kota asalnya (Mumbay, sebelum itu Bombay) yang ‘tak begitu patuh’.

Peristiwa-peristiwa berjumpalitan dalam novel ini, melambung jauh ke awal abad ke 20, lalu ke tahun 1947 tahun kemerdekaan India, lalu ke tahun 1956 ketika Saleem Sinai berusia sepuluh tahun, lalu ke tahun 1961 ketika China dan India terlibat perang di perbatasan dan demam optimisme melanda hampir seluruh India, lalu tiba ke kehidupan Saleem Sinai masa ‘sekarang’ saat umurnya 30 tahun, saat dia menulis kisah keluarganya, ketika dia sulit membedakan dunia fiktif dan nyata, penyakit ‘burung yang tak bisa berdiri’, kehidupan keluarganya yang berantakan akibat kesuntukannya pada tulisannya….

Peristiwa yang dialami tokoh-tokoh dalam novel ini bergerak di antara peristiwa-peristiwa besar dan bersejarah; novel ini seperti betul-betul diikatkan kepada benang sejarah bangsa-bangsa: India yang tercerai oleh berbagai praktisi dan kekacauan politik tak berkesudahan, lahirnya Pakistan, Banglades, perang India-Pakistan. Dan Saleem Sinai seperti refleksi dari perjalanan hidup bangsanya: Allah orang muslim yang bersengketa dengan dewa Hindu; mitos-mitos India kuno; Anglo-Saxon merebut tanah Hindustan dari sultan-sultan Mughal yang tambun; kelahiran India dan kemerdekaannya dari Inggris; konsep Dua Negara atau ‘Negara yang Murni’ yang dicetuskan Muhamad Ali Jinnah yang kemudian melahirkan Pakistan; migrasi besar-besaran muslim India ke negara baru penyair besar Islam Muhamad Iqbal; kematian Gandi; lalu tentang danau hijau di lembah Kasmir yang indah, lalu Mumbay, lalu kota suci Amritsar, lalu Gujarat, kota-kota yang luluh-lantak oleh perang agama yang panjang. Dalam lingkaran peristiwa sejarah seperti inilah peristiwa-peristiwa dalam novel ini bergerak dan tokoh-tokohnya berada, memaknai dirinya baik sebagai Islam, Hindu, Kristen, atau seseorang (seperti Dokter Aziz) yang trauma dengan tuhan agama-agama sehingga memproklamirkan diri atheis.

Membaca novel ini, kita seakan diajak ‘menyusun’ fragmen demi fragmen hidup seseorang, seseorang lagi, dan lagi. Begitu banyak tokoh yang hadir, kadang muncul seperti sembraut benang kusut tak terselesaikan. Fragmen-fragmen itu kadang seperti minta kita susun untuk mendapatkan suatu gambaran dan makna hidup yang utuh-lengkap—atau bisa jadi tidak, cukup kita ikuti saja alir novel ini ke mana membawa.

Sebagai penutup, novel ini, huh, tentang sebuah sejarah keluarga; kelahiran, kematian, maju, dan mundur orang per orang dalam sebuah keluarga besar di tengah perubahan-perubahan besar yang terjadi di sekitar mereka.

Selamat membaca!
(Deddy Arsya)

Detail Buku
Judul: MIDNIGHT’S CHILDREN
Penulis: Salman Rushdie
Penerjemah: Yuliana Liputo
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 692 halaman

100+ Fakta Unik Piala Dunia

14 Jan 2010 Pada: Senarai, Terbaru

100-fakta-unik-lowDetail Buku
Judul: 100+ FAKTA UNIK PIALA DUNIA
Penulis: Asep Ginanjar & Agung Harsya
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 236 hlm
Harga: Rp 39.000

Piala Dunia adalah salah satu ajang yang paling ditunggu-tunggu oleh berjuta-juta manusia di jagat raya. Sejak digulirkan pada 1930, banyak peristiwa menarik, heroik, fenomenal, dramatis, tragis, sekaligus lucu dan unik yang terjadi di sana. Akan tetapi, ada sekian banyak fakta dan peristiwa yang lantas terlupakan atau sengaja dilupakan.

Siapa sangka Guillermo Stabile dan Just Fontaine, dua pencetak gol ulung, justru mencuat karena faktor keberuntungan? Faktor apa yang membuat Garrincha bisa tampil di final Piala Dunia 1962 meski di semifinal diusir wasit? Bagaimana sesungguhnya peristiwa legendaris gol “Tangan Tuhan” Diego Maradona di Piala Dunia 1986? Mengapa bukan Lothar Matthaeus yang mengeksekusi penalti Jerman Barat di final Piala Dunia 1990? Apakah sebetulnya yang membuat Zinedine Zidane menanduk Marco Materazzi pada final Piala Dunia 2006?

Buku ini mengupas lengkap jawaban semua misteri tersebut. Di dalamnya, terdapat 100 fakta unik—termasuk 10 momen terdahsyat—sepanjang sejarah Piala Dunia yang diungkap untuk menunjukkan betapa dahsyat dan menarik perhelatan akbar empat tahunan yang disebut-sebut sebagai “The Greatest Show on Earth” itu. Juga diungkap segala hal pertama yang terjadi di Piala Dunia, profil para pemain, pelatih, dan tokoh-tokoh sepak bola yang mewarnai sejarah Piala Dunia, data dan fakta historis Piala Dunia dari 1930 hingga 2006, serta panduan singkat Piala Dunia 2010. Adapun jadwal pertandingan dari penyisihan grup hingga final dibuat terpisah sebagai bonus sisipan.

Buku luar biasa ini akan menambah wawasan dan mengingatkan para pecinta sepak bola di tanah air bahwa sepak bola bukan soal hasil akhir semata, sekaligus sebagai hidangan pembuka yang menggugah selera sebelum menyaksikan pentas Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

“Piala Dunia adalah drama lahir batin penuh misteri … Buku ini menceritakan semuanya.”
—Hardimen Koto, pengamat dan komentator sepak bola

“Dari buku ini, kita bisa mengetahui betapa besarnya peran faktor-faktor nonteknis dan trik-trik yang ada dalam permainan sepak bola.”
—Firmansyah, mantan pemain nasional Indonesia

“Buku ini menyajikan banyak informasi yang sangat menarik untuk diketahui … tentang keunikan dan serba-serbi Piala Dunia.”
—Bima P. Said, pemimpin redaksi GOAL.com Indonesia

“Belum tentu Anda mengetahui momen-momen hebat apa saja yang pernah terjadi di Piala Dunia!”
—Syamsir Alam, Kapten timnas Indonesia U-19

AZAZIL, The Arabic Da Vinci Code

14 Jan 2010 Pada: Senarai, Terbaru

azazil_low3Detail Buku
Judul: AZAZIL
Anak Judul: Godaan Raja Iblis
Penulis: Youssef Ziedan
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 576 hlm
Harga: Rp 69.000

Azazil adalah buku laris fenomenal yang meraih The Arabic Booker Prize 2009, sebuah penghargaan bergengsi untuk novel yang terbit di Timur Tengah. Dalam novel ini, tokoh-tokoh historis yang disucikan oleh gereja berbaur dengan tokoh-tokoh rekaan, menjalin sebuah kisah yang menarik, kontroversial, dan bikin penasaran.

Novel berlatar sejarah yang ditulis oleh seorang profesor terkemuka ini mengisahkan autobiografi fiksional seorang rahib Mesir bernama Hypa yang hidup pada masa pergolakan iman Kristen di abad kelima Masehi. Saat itu terjadi pertentangan antara berbagai aliran gereja menyangkut konsep-konsep sakral, termasuk soal Trinitas dan ketuhanan Yesus, yang kemudian berpuncak pada serangkaian tragedi kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan.

Novel kontroversial ini diwarnai pula oleh kisah cinta terlarang antara Hypa dengan dua wanita jelita: Oktavia si penyembah berhala dan Martha sang penyanyi gereja. Adapun Azazil adalah raja iblis yang diusir Tuhan dari surga karena membangkang.

Dalam kisah ini, Azazil yang licik menggoda Hypa untuk menuliskan rahasia kelam hidupnya serta pikiran-pikiran terlarangnya yang sesat menurut gereja, di atas lembaran-lembaran perkamen. Berabad-abad kemudian, manuskrip kuno berbahasa Aramaik itu ditemukan dan berhasil diterjemahkan oleh seorang ahli filologi, sekaligus mengungkap sebuah misteri yang telah terkubur lebih dari seribu tahun.

Azazil adalah buku paling berbahaya bagi keimanan Kristen.”
—Kardinal Besyaway, Sekretaris Umum Kepala Gereja Ortodoks Koptik Mesir

“Sebuah novel yang mendobrak sakralitas.”
—Jurnal Al-Qahirah, Mesir

“Azazil adalah karya sastra yang tiada tanding.”
—Koran El-Ra`y, Yordania

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi


Kategori



counter