Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
***
Si Cantik dari Notre Dame merupakan karya Victor Hugo yang termasuk fenomenal dalam sejarah kesastraan Prancis. Terbit pertama kali pada tahun 1831 dengan judul asli Notre-Dame de Paris, karya ini kemudian diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, diadaptasi ke dalam beberapa film dan naskah teater. Meskipun lebih terkenal sebagai penyair, namun karya ini dianggap turut melambungkan nama Victor Hugo sebagai sastrawan dunia, serta mempertegas kedudukannya sebagai penganut aliran romantik yang brilian.
Tokoh utama novel ini adalah lelaki buruk rupa bernama Quasimodo. Bagi warga kota Paris, dalam novel ini diceritakan, Quasimodo adalah seorang haram-jadah yang asal-usulnya diselimuti misteri. Ia dianggap sebagai monster berkaki bengkok dan bermata satu yang dicemooh sekaligus ditakuti. Anak-anak takut melihat wajahnya. Perempuan yang sedang hamil bisa keguguran jika bertatapan dengannya.
Warga kota Paris mengenal Quasimodo sebagai si bongkok penjaga lonceng Gereja Notre-Dame. Ia memukul lonceng gereja dengan bunyi yang mengerikan. Tak diketahui secara pasti asal-usulnya. Ia konon adalah anak seorang pelacur kota Paris yang disihir menjadi setan buruk-rupa setengah manusia oleh dua penyihir gipsi. Sang ibu yang menyaksikan anaknya telah berubah buruk-rupa lalu menjadi setengah gila setengah petapa, dan dengan putus-asa meninggalkan Quasimodo. Namun, beruntung, seorang pendeta Katolik pada gereja Notre Dame menyelamatkan dan membesarkannya kemudian.
Claude Frollo (seorang wakil uskup yang dingin, larut dalam khayali ilmu pengetahuan, dan sangat berambisi menyelesaikan percobaan alkimianya) merawat dan membesarkan Quasimodo. Ia kemudian menempatkan anak itu sejak usia masih muda-belia menghuni bagian lonceng gereja Notre Dame. Ia memberi Quasimodo tugas memukul lonceng gereja setiap waktu misa tiba atau hari-hari besar Kristen lainnya. Kondisi ini membuat Quasimodo tuli dan perlahan-lahan bisu. Kondisi ini pula yang menyebabkan ia semakin terpisah dari kehidupan sosial kota Paris.
Peristiwa dalam novel ini dimulai pada 6 Januari 1482 di Paris. Pada tanggal itu Feast of Fools (Festival Kaum Dungu) tengah berlangsung di pusat kota Paris. Festival ini merupakan festival rakyat yang populer selama abad pertengahan, yaitu sekitaran abad ke-15 dan 16. Festival ini merupakan sebuah pesta rakyat di mana olok-olok terhadap kekuasaan gereja Katolik maupun kerajaan Prancis berlangsung.
Dalam festival di atas, karena keburuk-rupaanya, Quasimodo diangkat oleh orang ramai menjadi Paus Kaum Dungu. Ia menjadi bahan olok-olok orang ramai selama festival berlangsung. Meskipun begitu, diangkat menjadi Paus Kaum Dungu serta diakui keberadaannya di tengah kehidupan sosial kota Paris membuatnya senang untuk sementara waktu. Dan di festival itulah pula ia bertemu dan jatuh cinta dengan seorang perempuan gipsi cantik bernama La Esmeralda.
Namun Claude Frollo mengetahui Quasimodo melanggar larangannya untuk tidak menghadiri Festival Kaum Dungu. Kisah Quasimodo lantas bergulir menjadi penuh tragedi. Quasimodo ditangkap prajurit kerajaan, ia dibawa ke meja persidangan. Dan dalam proses persidangan—sebuah persidangan yang ‘lucu’; terdakwa tuli, hakim juga tuli—Quasimodo akhirnya didakwa dan dijatuhi hukuman. Ia dipasung dengan disaksikan seluruh warga kota Paris, meski akhirnya dibebaskan kembali.
Di sisi lain, La Esmeralda, si gadis gipsi, terlibat sebuah peristiwa di mana peristiwa itu menyeretnya ke tiang gantungan. Ia dituduh telah membunuh seorang perwira Prancis bernama Phoebus yang menjalin cinta dengannya. Dikisahkan buku ini, Quasimodo yang perkasa namun buruk-rupa itu menyelamatkan Esmeralda yang akan dihukum gantung di saat tak satu orang pun mau menyelamatkan nyawa gadis itu. Namun, akibat keberaniannya itu, Quasimodo juga terancam akan dihukum mati.
Dalam memperoleh cinta Esmeralda, Quasimodo juga harus berhadapan dengan wakli uskup Claude Frollo (ayah angkatnya) yang ternyata juga jatuh cinta setengah mati pada perempuan gipsi itu. Selain itu, beberapa laki-laki lain seperti Phoebus yang pernah dicintai Esmeralda (meskipun diketahui ia hanya mengharapkan tubuh perempuan itu belaka) ternyata masih hidup. Dan seorang filosof-penyair yang bernama Gringoire juga mengincar cinta perempuan gipsi itu.
Berlatar Paris abad ke-15, novel ini menggambarkan bagaimana kehidupan sosial-keagamaan di Paris, di mana perebutan kuasa antara Gereja Katolik dan otoritas Raja Louis XI mulai menampakkan tanda-tandanya. Persoalan penguasaan tanah oleh gereja Katolik, para uskup yang pongah dengan kesalehan mereka, serta di sisi lain kelas bangsawan yang angkuh memegang martabat darah kebangsawan mereka diperbincangkan secara eksplisit maupun implisit dalam novel ini.
Selan itu, juga digambarkan dalam novel ini bagaimana masyarakat abad pertengahan masih diselimuti mitos-mitos dan mistik. Kita bisa mengatakan, semakin shaleh masyarakat abad pertengahan, ternyata semakin tidak rasional mereka. Ini misalnya tergambar dari kepercayaan warga kota Paris dalam novel ini yang percaya bahwa kambing Esmeralda telah menyebarkan kekuatan setan, ilmu sihir, yang menyebabkan Phoebus terbunuh.
Sementara di sisi lain, cemooh kaum liberalis mulai pula terdengar meskipun masih sayup-sayup sampai. Oleh sebab itu, novel ini juga memuat gagasan-gagasan liberalistik, tentang kebebasan manusia, salah satunya dalam ranah ilmu pengetahuan yang ketika itu masih dipandang sebagai musuh agama (seperti yang tergambar dalam kutipan di awal tulisan).
Sebagai karya klasik dalam khazanah kesastraan dunia, buku ini layak untuk dibaca. Selamat menikmati!
(Resensi: Deddy Arsya, penyuka buku, tinggal di Padang)
Detail Buku
Judul: SI CANTIK DARI NOTRE DAME
Penulis: Victor Hugo
Penerjemah: Sunaryono Basuki KS
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juli 2010
Tebal: 570 hlm
Secara garis besar, novel ARUMDALU mengisahkan seorang Danti Arumdalu—kembang kota Salatiga pada masa pra-Perang Diponegoro—sejak masa remajanya hingga menikah serta kemudian menjadi ’simpanan’ bangsawan Ngayogyakarta, yang diwarnai hubungan dengan beberapa orang yang pernah menaksirnya, termasuk Ki Brontok teman semasa kecil yang kemudian menjadi pengawalnya.Di sisi lain, juga pemuda Resa yang pernah menjadi pacarnya, yang lebih merumitkan peristiwa karena sesudah ayahnya dibunuh oleh orang-orang misterius. Sehingga terjadi permusuhan antarkelompok,yang dilatari oleh masalah pribadi sekaligus keberpihakan antara mereka yang memihak kolonial Belanda dan mereka yang memihak kepada Pangeran Diponegoro.
Yang menarik, plot ceritanya dibuat dengan model ‘menulis surat’ (oleh seorang tokoh bernama Danukusuma).
Dan dalam Arumdalu, tokoh Aku sebagai pencerita yang bernama Ki Brontok (mudanya bernama Brata), juga bercerita berdasarkan cerita-cerita dari orang-orang dekatnya. Karena dalam kisah keseluruhan Sang Aku juga hanya menjadi sosok kecil yang terlibat dalam kejadian-kejadian yang lebih besar.
Yang tak kalah menarik, dalam memberikan sugesti pembacanya serta memperkuat penceritaan, penulis agaknya sengaja menyusupkan banyak kata, ungkapan, dan bebasan-paribasan Jawa, Belanda, bahkan Cina. Yaitu untuk lebih menonjolkan situasi ketika tanah Jawa dikuasai oleh penjajah Belanda dan Cina yang diperankan sebagai begundalnya.
Pemakaian kata-kata lokal dan asing itu mendukung ‘warna lokal’ novel ini. Selebihnya memberikan tambahan kosa-kata bahasa kita, serta memperkaya pengetahuan kebahasaan dan budaya masyarakat penuturnya. Pembaca juga akan menemukan banyak nuansa-nuansa puitis di dalamnya.
Dalam Arumdalu ini, penulisnya cukup bijak dalam menggambarkan peristiwa kekerasan. Detail tapi tidak vulgar. Gambaran perkelahian tidak terkesan membosankan, tapi cukup melukiskan kegarangan laki-laki dalam memperjuangkan prinsip hidupnya.
Begitu pun dalam melukiskan peristiwa seksualitas, tampak cukup logis, karena sebelumnya sudah dikisahkan latar-belakang kehidupan yang berat, yang melingkupi suasana kejiwaan tokoh-tokohnya.
Pada bagian lain, Junaedi tampak piawai melukiskan suasana seseorang dalam kondisi mabuk minuman keras. Ia tidak semata menggambarkannya secara fisik, tetapi gejolak batin yang tak terkendali, seperti ketika Brata pulang ke rumah masa kecilnya di loji Wanditan ternyata sudah kosong, hanya menemukan botol-botol jenewer yang kemudian dihirupnya.
Jurang kehidupan sosial kemasyarakatan pun digambarkan cukup apik, hingga mampu mengantar Pembaca melewati time tunnel ke masa lampau. Singkatnya, dari novel ARUMDALU ini banyak hikmah yang bisa kita sadap. Tiada lain untuk memilih yang baik dan diteladani, serta yang buruk untuk disingkiri.
(Oleh Soekoso DM, penyair dan budayawan)
*tulisan ini disampaikan pada acara bedah buku ARUMDALU karya Junaedi Setiyono, 8 Agustus 2010 di Gedung Wiloso Muda Mudi, Purworejo.
Detail Buku
Judul: ARUMDALU
Tagline: Tiap-tiap sejarah besar diwarnai kejadian kecil yang kadang lebih menarik daripada peristiwa besar itu sendiri
Pengarang: Junaedi Setiyono
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 378 hlm
“Hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah harus tetap menjalani hidup yang tanpa tujuan.”
Menikah dengan Charles Bovary sepertinya adalah kesalahan terbesar dalam hidup Emma Rouault. Betapa tidak, sebagai gadis yang pernah sekolah dan tinggal di asrama, dia sudah terbiasa dengan kehidupan kota. Selain itu, Emma sangat menyukai buku fiksi, sejarah, serta filsafat. Dia bukan lagi gadis desa biasa yang merasa nyaman hidup di wilayah pertanian. Sedangkan Charles suaminya, sang dokter, adalah seorang laki-laki dengan gaya bicara sedatar permukaan jalan, tanpa ekspresi, humor, atau imajinasi.
Sejak berusia belasan tahun, Emma sudah biasa melumuri tangannya dengan debu yang melekat pada buku-buku tua yang dipinjamnya di perpustakaan. Dia sudah melahap buku-buku fiksi romatis tentang skandal asmara, pasangan kekasih, perempuan simpanan, air mata dan peluk cium, serta para pria gagah sekuat harimau. Dia menghayalkan dirinya tinggal di istana bangsawan berjendela gotik dan didatangi pangeran berkuda hitam yang datang ujung senja. Emma sangat mengagumi Mary Queen of Scotts, Joan of Arc, Heloise, Agnes Sorel, La Belle Ferronie, Clemence Isaure, serta para perempuan mulia dan jahat lainnya.
Sebagai yang menyukai tantangan, Emma merasa bosan dengan rumah tangganya yang monoton. Menurutnya Charles begitu hambar. Dia hanya berbicara tentang hal-hal umum, tidak suka nonton drama di gedung teater, tidak pandai berenang, tidak menguasai ilmu bela diri, tidak pandai menembak, dan tidak tahu menahu soal teknik berkuda yang dibaca Emma dalam sebuah novel. Bagi Emma, Charles benar-benar seorang laki-laki yang payah. Seharusnya dia tahu banyak hal, piawai dalam pelbagai aktivitas, dan penuh inisiatif saat sedang dimabuk asmara. Namun, kenyataannya Charles tidak pernah mengajarkan apapun, tidak tahu apapun, dan tidak menginginkan apa pun. Seolah dia yakin bahwa istrinya telah bahagia.
Meski dibenci istri yang sangat dicintainya, sebenarnya Charles adalah seorang dokter yang penuh dedikasi. Dia bertugas hampir ke semua desa, menembus hujan salju, menantang amukan badai. Dia hanya makan telur dadar di rumah-rumah petani, menyelipkan tangan di balik pakaian tidurnya yang agak lembab, membiarkan mukanya berlumuran darah segar saat menangani pasien yang pendarahan. Dia tekun dan setia.
Namun Emma yang kesepian akhirnya menemukan kesempatan bertualang yang kelak harus dibayarnya dengan mahal. Dia menjalin hubungan dengan seorang karyawan firma hukum bernama Leon yang gemar membaca buku seperti dirinya. Setiap bertemu, mereka mendapat kesempatan untuk bertukar pikiran dan hasrat. Sepeninggal Leon, masih tanpa sepengetahuan Charles, Emma bermain api dengan Rodolphe!
Novel yang telah berusia 1,5 abad ini pernah menyulut kontroversi di Prancis karena begitu lugas mengungkapkan fenomena kehidupan masyarakat borjuis Prancis yang di permukaan tampak begitu saleh namun di belakang penuh skandal. Pada tahun 1857 Gustave Flaubert, sang pengarang, pernah diadili dengan tuntutan sebagai penulis yang ‘tidak bermoral’ dan ‘tidak beragama’ karena novel Madame Bovary yang ditulisnya ini begitu lancang menelanjangi bobrok masyarakat zamannya.
Sekali pun mengungkap perihal kehidupan kaum borjuasi yang glamour, novel ini tetap layak dibaca karena menyuarakan sisi-sisi manusiawi yang teredam oleh hiruk pikuk norma dan nilai moral masyarakat yang terkadang picik. Kenakalan Emma dan kenaifan Charles adalah seperti dua nadi yang terus berdenyut dalam kehidupan nyata.
(Resensi: Ade Efdira,
dimuat di harian Singgalang, Minggu 1 Agustus 2010)
Detail Buku
Judul: MADAME BOVARY
Penulis: Gustave Flaubert
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 507 hlm
Karya klasik ini sungguh cantik meski berakhir tragik. Kekuatan buku ini terletak pada keterampilan berbahasa yang sungguh berbakat, pengetahuan kosa kata yang berlimpah dan kekayaan referensi yang luas, serta ketekunan yang luar biasa ketika menuliskannya. Daya khayal pengarang tentang karakter manusia ditumpahkan sehabisnya hingga pembaca mendapat gambaran yang nyaris prima. Contoh, misalnya ketika pengarang berusaha memvisualisasikan betapa buruk tokoh Quasimodo, dia menulis begitu rupa dan akhirnya, silakan pembaca membayangkan sendiri kalau sanggup (hal. 34).Cerita dibuka dengan keramaian di jantung kota Paris di awal bulan Januari tahun 1482. Warga libur karena berbarengan beberapa tradisi festival. Para kaum borjuis dan rakyat jelata tumplek di sini saling memberi pendapat dan menunjukkan diri, sambil menunggu untuk melihat pertunjukan kembang api, tari dan sandiwara di alun-alun kota. Meski tokoh dan peristiwa saling tumpang-tindih tetapi Hugo menyusun satu per satu dengan sabar dan teliti sehingga pembaca bisa memotret festival secara utuh.
Di sini penulis mulai memperkenalkan tokoh-tokoh utama. Pierre Gringoire, sang penyair dan filsuf, yang menulis naskah sandiwara untuk ditampilkan hari itu. Lalu si bengal Jehan Frollo, pendeta Claude Frollo, pendeta yang disiplin dan juga seorang ilmuwan, serta penampilan La Esmeralda, si gadis gipsi yang menawan, dengan kambingnya, Djali. Terakhir Quasimodo, si bongkok jelek rupa yang diangkat anak oleh pendeta Claude Frollo, yang tugasnya membunyikan lonceng katedral Notre-Dame, yang karena pekerjaannya itu dia jadi tuli.
La Esmeralda menari berputar-putar di alun-alun, Claude Frollo melongok dari jendela menyaksikan keindahan itu, lalu jatuh cinta mati-matian. Sejak itu kepalanya tidak berhenti memikirkan Esmeralda dan dipenuhi nafsu memiliki gadis itu. Quasimodo waktu itu sedang kepayahan mempertahankan diri dari tuduhan warga, juga jatuh cinta kepada Esmeralda dengan caranya sendiri, ketika gadis itu memberi seteguk air segar dari tangannya sendiri. Tak lama Esmeralda menyelamatkan Pierre Gringoire dari hukuman pancung, dengan rela menjadi suami imajiner tanpa niat akan mencintainya. Ia sendiri mencintai Kapten Phoebus de Chateaupers tetapi bertepuk sebelah tangan.
Claude Frollo dipenuhi kecemburuan karena Esmeralda mencintai Kapten, berusaha membunuh Kapten namun tidak berhasil, tetapi Esmeralda menjadi satu-satunya terdakwa dan harus dihukum gantung.
Cinta Frollo kepada Esmeralda demikian buta dan menggebu. Hugo menulis sesi ini demikian indahnya, penuh ungkapan perasaan yang sangat dalam hingga menyiksa dan menggigit otaknya (hal 359), cinta yang membuatnya merasa terkutuk dan dia telah terpesona kepada cinta itu. “Neraka bersamamu, tempat itu menjadi surga bagiku, melihatmu lebih memesona daripada pesona Tuhan” (hal 326). Membacanya, saya demikian mengasihani Frollo dan mengharapkan Esmeralda menerima cinta itu. Aduh.
Dan saya mencintai Hugo karena mengawal karakter perempuan Esmeralda yang demikian tegar dan sesuai dengan kebeliaanya. Gadis itu teguh membela kebenaran meski ia terpaksa mengakui tuduhan pembunuhan dan sihir yang tidak dilakukannya. Ia pun menolak dibebaskan dari hukuman oleh Frollo dan menggantinya dengan cinta tulus yang ia miliki untuk Kapten Phoebus.
Cinta Quasimodo kepada Esmeralda tak kalah indahnya meski diliputi kemustahilan. Ketika gadis itu begitu menginginkan sang kapten, Quasimodo menawarkan diri untuk membawa kapten itu kepadanya, meski tidak membuahkan hasil. Saya menyukai kata-kata indah yang keluar dari mulut si buruk rupa Quasimodo kepada Esmeralda, ”burung hantu tak pernah memasuki sarang burung wallet” (hal 377), atau “the owl enters not the nest of the lark”. Saya membayangkan warga Paris kelas mana pada masa itu telah terbiasa membaca karya sastra, tidak masalah semiskin apa pun, karena bahkan penyair (Gringoire) hampir disamakan dengan pengemis, saking sulitnya kondisi ekonomi abad pertengahan itu.
***
Novel ini adalah sebuah masterpiece. Judul aslinya adalah Notre-Dame de Paris, diterjemahkan ke bahasa Inggris The Hunchback of Notre-Dame, dan ke bahasa Indonesia menjadi Si Cantik dari Notre-Dame. Baik si bungkuk Quasimodo dan si cantik Esmeralda mendapat porsi yang kurang lebih sama, tetapi pusat penceritaan (focus of narration) sebernarnya memang di katedral Notre-Dame.
Alur ceritanya sederhana dan linear. Memang ada kisah bayi Esmeralda dan sejarah ibunya, tapi hanya sebagian kecil. Plot yang tumbuh seiring berkembangnya cerita dan karakter. Penulis mendeskripsikan tiap tokoh dan karakter dan bangunan fisik dan keadaan dengan jelas hingga terpatri tegas di benak pembaca.
Hugo menulis novel 200.000 kata ini pada 25 Juli 1830, dua hari kemudian terjadi demo dua hari di Paris dan penulisan terhenti. Baru kemudian September 1830 dimulai kembali dan selesai pada pertengahan Januari 1831. Buku ini terjual 3100 kopi selama delapan bulan setelah buku terbit, angka yang tinggi pada masa itu, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1833.
Saya memuji kerja keras Pak Sunaryono Basuki K.S yang telah dengan baik menerjemahkan karya klasik ini hingga para pecinta karya klasik dunia di tanah air bisa menikmati karya yang hebat ini.
(Resensi: Ita Siregar)
Detail Buku
Judul: SI CANTIK DARI NOTRE DAME
Penulis: Victor Hugo
Penerjemah: Sunaryono Basuki
Penyunting: Anton Kurnia
Tebal: 570 hlm
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juni 2010
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.