Kamus Khazar: Legenda Bangsa Pemburu Mimpi

30 Sep 2009 Pada: Resensi Pembaca

khazar_lowLegenda Bangsa Pemburu Mimpi

“Mimpi adalah taman setan, dan semua mimpi di dunia ini sudah dimimpikan dahulu kala. Kini mimpi-mimpi itu ditukar begitu saja dengan realitas yang tak kalah bekas dan usangnya, persis seperti uang logam ditukar dengan surat obligasi dan sebaliknya, dari tangan ke tangan…”

Khazar adalah nama sebuah bangsa pengembara yang berasal dari Timur. Bangsa ini suka berperang dan memeluk sebuah keyakinan asing. Sekitar abad ketujuh dan kesepuluh, pernah berdiam di sebuah negeri antara Laut Kaspia dan Laut Hitam, hingga kemudian, setelah berperang dengan berbagai bangsa, seperti Arab dan Rusia akhirnya hilang dari muka bumi.

Musnahnya bangsa Khazar diyakini bukan karena ditumpas perang, namun karena berganti keyakinan yang disertai dengan mengubah jatidiri. Namun orang-orang tidak tahu, apakah hal itu benar atau tidak, dan apabila benar, berpindah ke keyakinan apakah bangsa Khazar? Satu hal yang dipercayai adalah, awal mula perubahan besar itu ketika penguasa bangsa Khazar yang disebut khagan, bermimpi dan mengundang tiga filsuf dari tiga agama besar yang mengapit bangsa Khazar; Islam, Kristen dan Yahudi untuk menafsirkan mimpi tersebut. Khagan berjanji bahwa dia dan seluruh rakyatnya akan pindah ke agama yang bisa memberikan penjelasan paling benar. Peristiwa unik itu disebut Polemik Khazar.

Menggunakan perspektif Islam, Kristen, dan Yahudi, novel bergaya ensiklopedi ini mencoba menyibak kembali teka-teki yang menimpa nasib bangsa Khazar. Buku ini terdiri atas tiga jilid, yakni Buku Merah (dengan sudut pandang Kristen), Buku Hijau (dengan sudut pandang Islam), dan Buku Kuning (dengan sudut pandang Yahudi) yang masing-masingnya memberikan penjelasan tentang bangsa Khazar dan polemik yang menjadi bagian sejarahnya. Ada informasi yang sama, namun antar versi lebih sering berbeba (bertentangan). Misalnya, menurut Buku Merah, yang berhasil memenangkan Polemik Khazar adalah filsuf Kristen, yakni St. Cyril atau Konstantin Sang Filsuf, sehingga khagan Khazar dan rakyatnya masuk agama Kristen. Sedangkan menurut versi Buku Hijau, utusan Arab yang bernama Farrabi bin Qurrah-lah yang berhasil memberikan argumentasi paling memuaskan khagan sehingga dia dan pengikutnya masuk Islam. Lain lagi menurut Buku Kuning, Rabi Isaac Sangari-lah yang berhasil membimbing rakyat Khazar jadi pemeluk Yahudi.

Meski beranjak dari polemik tiga agama besar yang terkesan faktual, novel ini tidak kehilangan rasa fiksinya. Kemenarikan novel ini tidak saja pada puzzle aneka legenda dan anekdot yang membangun imajinasi kita tentang bangsa Khazar, namun juga dengan adanya tantangan pembacaan. Membaca novel ini, seperti bertualang meneruka hutan lebat. Akan sampai di mana dan mendapatkan apa, itu tergantung dari usaha pembacaan kita karena novel ini tak berjalan dengan alur linear. Novel disajikan berupa topik-topik tercerai berai yang dapat dimualai dari mana saja dan dilanjutkan ke mana saja. Untuk mengenali sebuah nama dan memahami sebuah persoalan, kita juga akan ditantang untuk membuka lembaran-lembaran lain berulang kali.

Fantasi yang sangat memikat disuguhkan Milorad Pavic melalui tiga orang tokoh Kyr Avram Brankovich, Yusuf Masudi, dan Samuel Cohen yang bisa membaca mimpi orang lain serta masuk ke dalamnya. Mereka disebut pemburu mimpi. Dalam mimpinya, Avram Brankovich menyaksikan peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Samuel Cohen. Cohen memimpikan kehidupan Brankovich, dan Masudi berusaha menemukan Cohen dengan mengejar Brankovich. Ketiga orang tersebut sama-sama menjadi penulis Kamus Khazar di bawah pengaruh Putri Ateh.

Metafora tentang bangsa Khazar seperti persoalan besar bangsa-bangsa di dunia yang terkepung oleh pengaruh kuat globalisasi, apakah akan bertahan dengan jati diri atau mencebur menjadi sama dengan yang lain. Tak salah bila novel ini termasuk dalam program Penerjemahan Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) karena merupakan salah satu karya sastra dunia yang mengesankan.[]

Detail Buku
Judul: KAMUS KHAZAR
Pengarang: Milorad Pavic
Penerjemah: Noor Cholis
Penerbit : Serambi, Juni 2009
Tebal : 501 halaman
Peresensi : Ade Efdira

Resensi ini dimuat di Singgalang edisi Minggu, 29 September 2009

Resensi imut HOW THE WORLD MAKES LOVE

30 Sep 2009 Pada: Resensi Pembaca

howtheworld21Let’s talk about love!

I just finished reading the second book by Franz Wisner: How The World Makes Love (it’s my mudik book actually). It’s interesting to read about the man that has been dumped days before his wedding and make his way around 53 countries honeymoon-ing with his brother, now trying to get love lesson from countries all over the world. Franz and Kurt back to their traveling adventure once again!

Here I understand that love has been interpret differently on different culture & faith. He started his journey to learn about love in Brazil. Where love seems to be all around. But the fact was unpretty. Divorce is one major problem. Infidelity is one of the biggest reason. Then he flew to India to learn about love because he read Kama Sutra and thinks it’s a good idea to go to India to get more knowledge. But fact is, Kama Sutra has been a practical joke in India. No one actually read it. It’s just another book.

In India, relationship was mostly arranged. You get married because someone has recommend you. Seeing Indian and Arab way of loving the new stranger they met on the wedding day, makes Franz realize that there’s such of form of love. He thought he must need to think thousand times before he make a new commitment after the failure of his almost-wedding, but knowing that commitment could build love, he immediately take action. You’ll get more personal insight and relationship stories of him in this book.

Interesting fact was when he went to New Zealand. The life priorities for UK people was: Love, Friends then Career. US people as you might have guessed: Career, Love then Friends. But in New Zealand, you put your friends first, then career and love at last. In New Zealand, you go to cafe/bar to chat with your friends. If you try to wink at someone, everybody will stare at you in disbelief. I guess it’s pretty much the same here in Indonesia.

In Indonesia, love, relationship & marriage define as:
- When man say he love a woman, after months of approach attempts. Woman is rarely to declare love.
- Going out on Saturday night, watching movies, eat out, the guy must pay.
- Sometimes they go on a home date, watching tv/DVD at the girl’s parents house, where the parents are usually joining them.
- Not having sex before marriage. You simply don’t kiss on the street like in Brazil.
- Mother start talking about marriage after her daughter have a month of relationship, simply because the his daughter age is almost 30.
- Your auntie or uncle could match you up over a blind date.
- You’ll get married and invite 1000 people minimum, mostly people you don’t know. Parents usually pay.

Maybe you know more about Indonesian way to love? Let’s hear from you!

dari http://www.salsabeela.com/2009/09/28/how-the-world-makes-love/

DETAIL BUKU
Judul: HOW THE WORLD MAKES LOVE, Petualangan Keliling Dunia Sang Pecundang Cinta
Penulis: Franz Wisner
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juni 2009
Tebal: 496 hal

yld_lowThe Year of Living Dangerously
Cinta di Tengah Gejolak Revolusi 1965

[Dilarang terbit oleh rezim Orde Baru]

PENGHARGAAN:
*The Age Book of the Year Award
*National Book Council Award

Data Buku
Judul: THE YEAR OF LIVING DANGEROUSLY
Penulis: Christopher Koch
Penerbit: Serambi
Tebal: 496 halaman
Cetakan: I, September 2009
Harga: Rp 49.000

“Novel terbaik tentang Indonesia.”—www.amazon.com

“Karya fiksi yang disajikan dengan matang dan bernas, dipersiapkan dengan baik dan dituliskan dengan indah.”—Larry McMurtry, penulis pemenang Pulitzer Prize dan Academy Award

Tahun 1965, sebuah masa yang dikenal sebagai “Vivere Pericoloso—Hidup Penuh Bahaya”, yang membelokkan arah hidup bangsa Indonesia. Pemerintahan Sukarno membawa Indonesia ke tengah ketidakpastian. Dalam kondisi ekonomi Indonesia yang lemah, Presiden menghabiskan uang untuk membangun monumen-monumen megah, seraya menyulut api kebencian terhadap Barat dan mengobarkan semangat konfrontasi dengan negara tetangga: Ganyang Malaysia! Inggris kita linggis, Amerika kita setrika!

Sementara itu, di Jakarta yang penuh gejolak, tempat intrik politik bergolak dan bahaya senantiasa terendus—seperti bau rokok kretek—terjebak Guy Hamilton, seorang wartawan Barat, Billy Kwan, juru kamera bertubuh kate keturunan Cina-Australia, dan Jill Bryant, perempuan Inggris yang sama-sama mereka cintai.

Inilah sebuah drama penuh liku tentang revolusi, cinta segi tiga, kesetiaan, dan pengkhianatan. Selain itu, novel ini membeberkan berbagai peristiwa politik sepanjang tahun penuh pergolakan sampai hari-hari terakhir kekuasaan Presiden Sukarno setelah digulingkan oleh kudeta militer Jenderal Soeharto menyusul Gerakan 30 September.

Setelah lewat 40 tahun, ingatan tentang rangkaian tragedi 1965—ketika ratusan ribu rakyat sipil yang dituduh komunis dibantai menyusul pembunuhan para jenderal di Jakarta—mulai luntur bagi banyak orang. Koch, novelis dan wartawan kawakan Australia, menghidupkan kembali peristiwa itu dengan detail mencekam dalam novel yang dilarang beredar di Indonesia oleh rezim Ode Baru sejak 1978 ini.

Sedemikian menariknya novel ini sehingga diangkat ke layar perak pada 1982 dengan dibintangi para aktor terkemuka Hollywood: Mel Gibson, Sigourney Weaver, dan Linda Hunt. Seperti novelnya, filmnya pun dilarang diputar di Indonesia walaupun mendapat sambutan hangat di seluruh dunia. Tak pelak, novel ini sungguh layak dibaca oleh khalayak luas untuk lebih memahami sejarah kita sendiri.

“Penting dibaca generasi masa kini …”—The Jakarta Post

“Novel yang indah.”—The Sidney Morning Herald

“Cerdas, menyentuh, meyakinkan …” —Anthony Burgess, penulis novel kontroversial A Clockwork Orange

Little Women: Kisah Persaudarian yang Manis

7 Sep 2009 Pada: Resensi Pembaca

little-woman_low
“Masukkan dia ke oven. Mungkin dia akan merasa hangat dan hidup lagi,” kata Amy berharap. (Bab 11)

Apa jadinya jika sebuah keluarga sederhana dihuni oleh empat remaja perempuan? Hasilnya adalah sebuah karya abadi yang tak lekang sampai berumur hampir satu setengah abad. Hasilnya adalah sebuah cerita klasik yang tak bosan-bosannya diadaptasi ke dalam film, opera, drama, dan anime. Itulah novel berjudul Little Women yang cerita di dalamnya akan membuat kita berkata atau bergumam: “ya ampun” atau “oh so sweet”.

Empat bersaudari dalam keluarga March itu biasa dipanggil Meg, Jo, Beth, dan Amy. Mereka memiliki karakter dan bakat yang sangat berbeda: dari yang keibuan dan pemalu sampai yang tomboy. Untunglah mereka memiliki ibu yang bisa menjembatani perbedaan karakter itu dengan bijaksana, sementara bapak mereka bertugas di medan perang saudara.

Untuk membantu keuangan keluarga yang hidup di New England pada abad ke-19 ini, Meg bekerja sebagai tutor di sebuah keluarga kaya. Selain itu, Jo juga bekerja di rumah bibinya yang lebih kaya. Beth yang karena saking pemalunya terpaksa bersekolah di rumah, sementara Amy belajar di sekolah. Namun bagi mereka tidak ada yang lebih menyenangkan selain berkumpul dan bermain dengan saudari tercinta.

Louisa May Alcott, sang pengarang, membagi bukunya secara baik sehingga setiap karakter mendapat porsi yang rata. Misalnya, dalam satu bab Louisa mengajak pembacanya menjajaki karakter Amy. Maka, dia bercerita si bungsu itu mendapat hukuman dari gurunya karena membawa barang yang “diharamkan” ke kelas. Dari sana pembaca bisa lebih memahami bahwa Amy bersifat kekanak-kanakan dalam menangani masalah. Begitupun dengan Meg yang anggun dan sedikit angkuh, Jo yang tomboy, dan Beth yang pemalu dan berjiwa sosial.

Sementara itu, pada bagian lain, Louisa mempertemukan mereka berempat dalam suatu konflik. Dari percekcokan yang sering dialami kakak-adik sampai perkara yang menyerempet maut, mereka alami dan atasi bersama. Setidaknya, ada tiga peristiwa menonjol yang menguji ikatan persaudaraan mereka. Pertama, ketika Jo marah besar karena buku catatannya dibakar oleh Amy, tetapi kemudian dialah yang menolong adiknya itu ketika nyaris tenggelam. Kedua, ketika Beth menolong bayi tetangganya yang akhirnya meninggal dalam pangkuannya sehingga dia tertular penyakit yang mengancam jiwanya. Namun di sisi lain, pengorbanan Beth ini menyadarkan kedua kakaknya dan mereka merawat adiknya itu, sementara sang ibu menjenguk suaminya di medan perang di Washington. Ketiga, ketika Jo menjual rambutnya untuk menambah ongkos perjalanan ibunya ke Washington.

Nilai Pengasuhan
Marmee, panggilan sayang March bersaudari untuk ibu mereka, selalu memiliki cara dalam mendidik keempat anaknya tanpa harus menggurui apalagi mengancam. Sebagai contoh, saya ceritakan sebagian dari bab yang berjudul “Eksperimen”.

Suatu ketika di musim panas, March bersaudari ingin berlibur seperti teman-teman mereka yang lebih mampu. Namun karena tidak punya uang untuk pergi ke tempat wisata, mereka berinisiatif membebaskan diri dari tugas pekerjaan rumah sehari-hari. Mereka memutuskan untuk larut dalam hobi-hobi mereka. “Sesekali tidak mengerjakan tugas, pasti tidak masalah,” pikir mereka. Namun, ketika petang menjelang dan makan malam belum terhidang, mereka sadar telah melakukan kesalahan dan berjibaku membereskan seisi rumah serta menyiapkan makan malam. Marmee membiarkan anak-anaknya melakukan “percobaan” sehingga mereka dapat mengerti dengan sendirinya akibat dari pilihan yang mereka ambil.

Nilai pengasuhan inilah yang mungkin membuat novel ini tak tergantikan. Sementara itu, saya sedikit mengenyampingkan kehadiran Laurie, bocah kaya tetangga keluarga March. Walaupun sebenarnya kita bisa membandingkan pola pengasuhan yang dilakukan Marmee dan Pak Laurence, kakek Laurie. Bagi saya, kehadiran Laurie hanyalah bumbu penyedap untuk cerita cinta remaja puber yang tentu saja sudah terlalu ketinggalan zaman.***

Moh. Sidik Nugraha

Identitas Buku
Judul: LITTLE WOMEN
Penulis: Louisa May Alcott
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Terbit: I, Juli 2009
Halaman: 489

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi