Saat Nasib ARUMDALU Tidak Sewangi Bunganya

25 May 2010 Pada: Resensi Pembaca

“Kau, kuundang ke sini untuk mendapatkan hakmu … ” Danti menarik Resa ke pinggiran tempat tidur.
“Danti, orang mati itu hidup, Aku yakin itu ….” Bisik Resa.

Hidup memang penuh kejutan! Seorang Raden Mas malah menjadi centeng alias pengawal seorang gadis pujaannya, yang karena kemolekan tubuhnya mampu meluluhlantahkan hati pria dari segala golongan. Demikian juga nasib yang menimpa Raden Mas Brata. Pemujaannya terhadap Danti membuatnya menderita lahir dan batin.

Seperti yang sudah-sudah, sang pembawa panah cinta memang memiliki hak penuh dimana ia mau melepaskan anak panahnya. Seperti yang sudah-sudah juga, alih-alih melepaskan anak panah cinta seorang Raden Ayu Danti Arumdalu ke seorang Raden Mas, anak panah cinta malah dipanahkan ke seorang anak tukang jagal bernama Resa.

Raden Ayu Danti mendapat tambahan nama Arumdalu, bunga sedap malam yang terkenal wanginya. Namu itu diberikan karena ia sering menghiasi rambutnya dengan bunga itu. Bahkan calon ibu mertuanya membuat rangkaian khusus untuknya yang dikalungkan oleh calon ayah mertuanya. Sayang kasih sayang keduanya hanyalah bisa diberikan oleh calon mertua bukan oleh mertua!

Walau pihak keluarga berhasil membuat Danti menikah dengan pilihan keluarga, namun ia tetap menghendaki Resa. Bahkan Danti nekat mengundang Resa untuk memasuki kamar pengantinnya. Alih-alih mewujudkan niatnya menyerahkan kesucian diri, Danti justru menemukan sebuah fakta yang membuatnya kian mencintai Resa. Hal itu justru membuka tabir rahasia bagaimanakah sebenarnya kisah kasih keduanya.

Buku Arumdalu tidak hanya bercerita mengenai ksiah cinta seorang Danti, Brata dan lainnya, namun juga mengenai situasi dan kondisi perjuangan kemerdekaan saat itu. Bagaimana para tokoh pemuka masyarakat berjuang memperebitkan kemerdekaan, mereka yang menjadi teliksandi atau mata-mata hingga kisah perjuangan pasukan Pangeran Diponegoro.

Disebutkan juga bagaimana jika pemuka agama dan pemuka adat bekerja sama bisa melanggengkan kekuasaan dunia. Pemanggu agama bertugas menakut-nakuti orang dengan siksa neraka. Sedangkan pemangku adat negara bertigas menaku-nakuti orang dengan siksa penjara (hal. 270).

Buku ini membuatku seakan pulang kampung!
Seakan ikut berbelanja ke pasar tradisional, membantu mempersiapkan aneka upacara adat hingga memahami filsafat lima “A” Yaitu wisma, wanita, turangga, curiga, kutila (tempat tinggal, istri, kendaraan, senjata serta hiburan).

Memahami mengapa ada istilah bobot bibit dan bebet. Sesuatu yang baru kupahami sekarang dan harus kutanamkan pada benak anakku satu-satunya. Mengerti mengapa “urusan tempat tidur” harus dikerjakan dengan ritual tertentu. Di buku ini hubungan suami istri dilakukan pada saat “Lingsir Wengi” sekitar pukul 01.00. Bisanya ditandai dengan Burung Puter dan Deruk yang digantung di atap mengeluarkan suara merdunya secara bersahutan. Bedanya dengan jaman sekarang yang dimana saja, kapan saja bahkan kadang dengan siapa saja ^_^

Membaca uraian panjang lebar mengenai bagaimana perempuan dambaan para lelaki di halaman 161 membuatku jadi berpikir, bagaimana jika seorang perempuan tidak memenuhi kriteria yang ada, Jangankan semua, satu saja sudah sulit. Tak heran perempuan Jawa sangat ketat dan jlimet jika berurusan dengan ke kecantikan.

Buku ini membuatku teringat pada buku Maharani (Pearl S. Buck), Karena pernikahan sebelumnya, Danti mampu membuat seorang pembesar tunduk padanya. Semua keinginannya terpenuhi, bahkan yang menurut orang tidak mungkin. Padahal status Danti hanyalah perempuan simpanan dari priagung bernama Pringgawinata. Ternyata Danti tidak sepolos dan selugu yang diperkirakan orang.

Kadang, ada suatu saat aku tidak ingin menjadi Orang Jawa. Namun biar bagaimana, itu sudah melekat di badan, yang bisa dilakukan hanyalah melakukan beberapa kompromi. Buku ini membuatku untuk kembali ingat pada akar dimana aku berasal.

(Resensi: Truly Rudiono)

Detail Buku
Judul: ARUMDALU
Pengarang: Junaedi Setiyono
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tebal: 380 hlm
Cetakan: I, Mei 2010

AZAZIL, Novel yang Mengguncang Iman

25 May 2010 Pada: Resensi Pembaca

Agama datang mengajarkan keselamatan dan jalan kebaikan bagi penganutnya. Namun apa jadinya ketika agama (atau suatu paham keagamaan) dilegal-formalkan oleh sebuah kekuasaan politik? Tidakkah kemudian agama berpotensi menjadi pisau yang melukai ‘yang berbeda’, berpotensi menjadi api yang membakar penganut lain sampai hangus sampai tiada?

Sejarah memperlihatkan bahwa agama bisa saja menjadi api yang berkobar-kobar dan membakar. Dalam tarikh Kristen, sejak Konversi Konstantin yaitu sejak agama Kristen diterima dan ditetapkan sebagai agama resmi kerajaan Romawi, agama Kristen berkembang luas di tengah-tengah masyarakat Eropa dan timur dekat. Namun penyebaran yang luas ini juga mengakibatkan benturan keras di sana-sini. Apalagi sejak Konsili Niceaea di abad keempat memutuskan suatu konsensus tentang kredo keimanan Kristen; konsili ini kemudian membentuk dikotomi ‘resmi’ dan tidak resmi, benar dan sesat, sesuai ajaran kristus atau menyimpang, kafir atau beriman. Maka legalitas atas satu agama atau suatu paham keagamaan oleh suatu kekuasaan politik, melegalkan pula kekerasan atas nama Tuhan, atas nama suatu agama.

Dan di abad keempat dan kelima, sejarah Kristen diwarnai oleh kekerasan yang merebak di mana-mana. Pendeta-pendeta Kristen membantai penyembah-penyembah pagan, menghancurkan berhala-berhala, dan meruntuhkan kuil-kuil pagan mereka. Penganut Kristen membunuhi bahkan sesama penganut Kristen yang dianggap menyimpang dari ajaran resmi hasil konsili. Sementara perbedaan pandangan mengenai iman Kristen di tataran para intelektualis Kristen pun terus meningkat bahkan berubah lebih keras. Baik itu persoalan trinitas, ketuhanan Yesus Kristus, maupun persoalan ketuhanan Bunda Maria; ini melahirkan mazhab-mazhab teologi dalam dunia Kristen yang kemudian diselesaikan dengan konsili-konsili lainnya yang melahirkan suatu teologi resmi, yang otomatis dianggap sepenuhnya benar, sementara yang di luar itu salah. Inilah pula yang kemudian berakibat bahwa yang tetap menyimpang dari ajaran resmi hasil konsili harus ditindak, seringkali dengan cara kekerasan: penyaliban, pembakaran hidup-hidup, rajam, dan penyiksaan-penyiksaan lain a la zaman kegelapan Eropa.

Dan novel ini menggambarkan bagaimana hebatnya kemelut dalam tubuh dunia Kristen masa itu. Hypa, tokoh utama novel ini, adalah seorang rahib. Ia makan sekali sehari, sedikit tidur, dan menghabiskan malam-malamnya bersembahyang menyebut nama Tuhan. Di samping seorang rahib, Hypa juga seorang tabib yang bisa menyembuhkan orang sakit. Ia mengabdikan dirinya tanpa meminta bayaran apa pun dari pasiennya. Ia berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menebar kasih melalui kemampuannya mengobati sakit manusia. Di masa lalu, ayah Hypa yang penganut pagan dibunuh dengan kejam oleh orang-orang Kristen di depan matanya. Trauma akibat pembunuhan itulah yang membuatnya melarikan diri dari kehidupan dunia, mengembara dari kota-kota penting dalam dunia Kristen; berziarah ke tempat di mana Yesus Kristus dan nabi-nabi pernah singgah. Ia terlihat paripurna sebagai seorang rahib dan juga seorang tabib.

Namun, manusia tampaknya tak akan bisa terbebas dari dosa, karena sebenarnya Hypa penuh dengan keraguan dalam memandang iman Kristen yang dianutnya. Ketika mengunjungi Alexandria untuk belajar ilmu pengobatan, ia terperangkap dalam rayuan Azazil, sang raja iblis. Ia menanggalkan jubah kerahibannya, berzina dengan perempuan penyembah pagan bernama Oktavia selama tiga hari tiga malam. Dan ketika menyadari dirinya berdosa, dengan penuh rasa sesal ia melarikan diri dari perempuan itu. Di Alexandria inilah pula, dalam pelarian itu, ia menyaksikan lagi kekejaman penganut Kristen terhadap penyembah agama tradisi Mesir.

Inilah novel di mana tokoh utamanya yang fiktif bergerak di antara tokoh-tokoh Kristen yang benar-benar pernah ada dalam sejarah. Hypa yang fiktif ada di antara tokoh-tokoh besar dalam sejarah Kristen. Ia misalnya berteman dengan Nestor, Uskup Agung Konstantinopel (uskup agung ibukota Romawi), dan mengetahui asal-muasal kenapa Nestor memberontak terhadap keuskupan Barat. Mereka berbagi kitab-kitab terlarang dunia Kristen, mereka berdiskusi tentang nabi-nabi Kristen, mereka menukil pendapat Santo Agustinus dan filosof skolastik lainnya. Hypa mendukung Nestor yang dengan tegas menganggap bahwa trinitas sebagai pemahaman keliru. Nestor menggugat ketuhanan Yesus Kristus sebagai bersifat politik demi mempertahankan kekuasaan romawi. Di kemudian hari, akibat pendapatnya yang keras membantah ketuhanan Yesus dan Bunda Maria, uskup agung Nestor dikucilkan dari keuskupan, jabatannya sebagai uskup agung Konstantinopel dilucuti oleh kekaisaran. Ia dihinakan di mana-mana, pengikutnya (para Nestorian) diburu di banyak tempat.

Bukan hanya berhubungan karib dengan Nestor yang di kemudian hari ajarannya mendapat tempat yang luas di kalangan umat Kristen bahkan sampai hari ini, Hypa juga berhubungan dengan tokoh besar lain dalam dunia pagan. Novel ini menceritakan bagaimana Hypa menghadiri seminar-seminar yang dilakukan Hypatia, seorang matematika dan filosof perempuan pagan yang sangat cerdas dan brilian untuk zaman itu. Bahkan ia menyaksikan wanita itu tewas di tangan para pendeta Kristen dan tubuhnya dicincang di jalan-jalan di kota Alexandria. Dalam sejarah, kematian wanita itu dianggap menandai wafatnya kegiatan intelektual Alexandria. Dan iman Hypa semakin terguncang hebat menyaksikan itu. ‘Kasih’ yang selama ini diyakininya sebagai ajaran dasar Kristen luluh-lantak.

Novel ini dengan penuh ironi memperlihatkan juga bagaimana dunia Kristen masa itu tidak lagi seperti apa yang diajarkan Al Masih. Seorang uskup kota Alexandria, dengan jubah emasnya, mengangkat pedang tinggi-tinggi, dan menyorakkan pembantaian. Pedang, jubah berlapis emas, teriakan-teriakan ‘bunuh’, seakan mewakilkan bahwa dunia Kristen masa itu sesungguhnya telah mencampakkan ‘kasih’ dan ‘kesederhanaan’ sebagai ajaran Al Masih yang substansial ke balik punggung mereka.

(Resensi: Dedy Arsya, Dimuat di Tabloid Suara Kampus, Mei 2010)

Detail Buku
Judul: AZAZIL, Godaan Raja Iblis
Penulis: Youssef Ziedan
Penerjemah: M. Aunul Abied Shah
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Januari 2010
Tebal: 574 halaman

Bedah Buku ARUMDALU di Radio DFM

21 May 2010 Pada: Kabar

Apa/siapa sih Arumdalu itu?
Kenapa ARUMDALU menarik perhatian?

Cari tahu rahasianya di bedah buku ARUMDALU,
novel karya Junaedi Setiyono yang merupakan salah satu pemenang Sayembara Menulis Novel DKJ dan finalis Khatulistiwa Literary Award.

Minggu, 23 Mei 2010
Mulai pukul 14.00 WIB
Hanya di DFM 103,4 FM Jakarta

Jangan sampai ketinggalan, karena ada hadiah menarik untuk para pendengar yang beruntung.

Siarannya bisa didengar via streaming via websitenya DFM di http://www.radiodfm.com/

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi

Flickr PhotoStream

    flickrRSS probably needs to be setup