Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Bayangkan Milorad Pavic sebagai pelawak berwajah serius. Dia terus saja ngocol dengan wajah bersungguh-sungguh ketika kita pendengarnya sudah tertawa berguling-guling. Dan mimiknya tak berubah sedikit pun ketika semua orang menatapnya dengan sorot mata tak percaya, menunggu sentakan lelucon berikutnya.
Begitulah gayanya dalam menulis Kamus Khazar, buku tentang sebuah bangsa nomad yang sejak abad ketujuh hingga kesepuluh mendiami wilayah antara dua laut, Laut Kaspia dan Laut Hitam. Bangsa Khazar masuk ke dalam catatan sejarah ketika bergabung dengan Byzantium pada 627 M untuk memerangi bangsa Arab, lalu lenyap dari panggung sejarah karena peristiwa yang menjadi bahasan utama dalam buku ini: perpindahan mereka dari keyakinan asli ke salah satu dari tiga agama monoteis, Yahudi, Islam dan Kristen.
Tapi tak penting benar soal ketepatan sejarah itu, karena novel ini mengandung banyak unsur rekaan dan tidak terlalu berkaitan dengan sejarah bangsa Khazar yang sebenarnya. Kamus ini sendiri, menurut penulisnya, pertama kali disusun pada 1691 oleh Joannes Daubmannus, seorang penerbit kamus di Polandia. Edisi pertama itu dicetak lima ratus salinan, satu di antaranya dengan tinta beracun bergembok emas serta salinan penyertanya yang bergembok perak. Tapi semua salinan itu telah dihancurkan setahun berikutnya, “dengan cara yang luar biasa barbar”. Kamus edisi kedua susunan Pavic yang pertama kali terbit pada 1988 ini merupakan upaya rekonstruksi atas edisi Daubmannus yang telah lenyap.
Sekali lagi tak penting benar apakah kamus edisi pertama itu memang pernah ada atau tidak. Pavic bercerita dengan gaya seorang sejarawan teliti dan sekaligus pendongeng yang membual. Sebagai sejarawan dia tampil bersungguh-sungguh sehingga kita hampir percaya ada sedikit kebenaran dalam kisahnya, tapi segera kesan ilmiah itu lenyap lantaran dia mendampingkannya dengan deskripsi menggelikan yang tak masuk akal.
Di halaman-halaman kamus ini kita akan bertemu orang-orang seperti Averkie Skila yang bekerja sebagai pelayan diplomat pada kesultanan Utsmani di Konstantinopel, dengan tugas memburu hantu-hantu yang berkeliaran di dalam mimpi-mimpi orang. Gelsomina Mohorovishich yang “merasa memiliki tiga Jumat hingga tiba waktu makan malam … tangan mungilnya begitu gemulai dan sedemikian hangat sehingga orang bisa merebus telur di situ.” Atau Dr Isailo Suk (15 Maret 1930-2 Oktober 1982) arkeolog, ahli Arab profesor universitas Novi Sad, yang suatu pagi terbangun dengan kunci emas di dalam mulutnya.
Kamus ini terdiri atas tiga bagian: Buku Merah, Hijau dan Kuning, berturut-turut menampilkan persoalan Khazar dari sumber-sumber Kristen, Islam dan Yahudi. Terbit dalam dua versi, maskulin dan feminin, yang keduanya identik kecuali untuk tujuh belas baris yang krusial. Serambi menerbitkan edisi maskulinnya. Tapi, saya kira, juga tak penting benar apakah sungguh-sungguh ada dua edisi itu, ataukah itu cuma kalimat bergaya di sampul bukunya.
Penulisnya menganjurkan agar “pembaca tidak memegang buku ini kecuali terpaksa. Dan jika dia benar-benar menyentuhnya, semoga itu terjadi pada hari-hari ketika dia merasakan bahwa pikiran dan sikap hati-hatinya menukik lebih dalam daripada biasanya, dan biarkan dia membaca seperti dia menangkap ‘demam lompat’, sebuah penyakit yang menyingkir setiap dua hari sekali dan hanya menyerang pada hari-hari feminin sepanjang pekan” (h27-28). Saran yang aneh, menggelikan.
Menamatkan buku ini perlu kegigihan tertentu, karena narasinya steril dari kegentingan yang biasanya membuat kita ingin cepat-cepat mencapai akhir. Pada bagian pendahuluan pengarangnya sudah memperingatkan, buku ini tidak perlu dibaca semuanya; orang bisa membaca setengah atau satu bagian saja dan berhenti di situ, seperti yang biasa dilakukan dengan kamus. Atau membacanya secara diagonal, dengan menghubungkan lema yang sama pada ketiga kamus. Sebuah tawaran pengalaman membaca yang unik. Namun, pada akhirnya kenikmatan buku ini adalah pada deskripsi-deskripsinya yang mengejutkan, jungkir balik logika dalam dunia fakta-dustanya, dan keliarannya mendobrak makna kata. Karena kedahsyatannya dalam tiga hal itulah akhirnya buku ini tertamatkan juga.
Bagaimana dengan Anda?
Detail Buku
Judul: KAMUS KHAZAR
Pengarang: Milorad Pavic
Penerjemah: Noor Cholis
Penerbit : Serambi, Juni 2009
Tebal : 501 halaman
Peresensi : Yuliani Liputo
Sumber: http://bukanruanghampa.blogspot.com/2009/10/kamus-khazar-sebuah-novel-leksikon.html
Tentu saja ada sesuatu yang sangat istimewa pada dirinya sehingga kucing ini dibuatkan memoar. Dia Dewey. Lengkapnya, Dewey Readmore Books. Dia tinggal di Perpustakaan Umum Spencer, Iowa, Amerika Serikat. Selama sembilan belas tahun kehidupannya, dia telah menginspirasi seorang perempuan yang hidupnya penuh cobaan dan penduduk sebuah kota kecil yang terpuruk. Semua itu bisa terjadi karena ketulusan sang kucing.
Kira-kira delapan minggu setelah kelahirannya, Dewey ditemukan dalam keadaan nyaris beku oleh Vicki Myron—manusia yang kemudian menjadi ibu angkat bagi si kucing—di antara buku-buku dalam kotak pengembalian di Perpustakaan Umum Spencer. Dewey pun tidak ketakutan apalagi berusaha melawan seperti biasa dilakukan kucing buangan pada umumnya. Dia percaya manusia yang ada di hadapannya akan menolongnya. Tanpa pikir panjang, Vicky yang ketika itu menjabat sebagai direktur perpustakaan tersebut langsung menggendong dan menyelimuti kucing itu.
Dalam waktu singkat, Dewey berhasil membeli hati seluruh staf perpustakaan. Dengan dukungan rekan-rekan sesama pustakawan, Vicki memelihara Dewey di perpustakaan itu. Dari hari ke hari, kucing itu menjelma menjadi “duta perpustakaan” meskipun tidak ada seorang pun yang menunjuknya. Hewan kecil itu sepertinya telah memutuskan untuk mengabdikan diri pada perpustakaan yang kini menjadi rumahnya.
Secara fisik, Dewey digambarkan sebagai kucing jantan yang tampan dengan bulu jingga, mata lebar, dan telinga tegak. Namun lebih dari itu, dia bersifat terpuji. Kita bisa membacanya di halaman 112: “Dewey tidak memilih-milih orang yang disayanginya. Dia mencintai semua orang tanpa pilih kasih.” Setiap hari dia menemani semua pustakawan dan pengunjung sehingga mereka merasa merekalah satu-satunya orang yang diperhatikan oleh kucing itu. Setiap hari dia akan menyambut orang pertama yang datang ke perpustakaan, duduk di pangkuan pengunjung yang membutuhkannya, menemani anak-anak selama Jam Mendongeng, dan menjadi “wakil resmi” perpustakaan jika ada pengunjung yang mengadakan rapat di sana.
Bacalah bagian yang menceritakan hubungannya dengan anak cacat bernama Crystal di halaman 114-116.
Crystal adalah anak yang cacat fisiknya paling parah …. Dewey langsung memperhatikan Crystal, tetapi mereka tidak segera menjalin hubungan. Gadis itu sepertinya tidak terlalu tertarik pada Dewey …. Sampai pada suatu minggu, Dewey melompat ke nampan kursi roda anak itu. Crystal memekik kegirangan. Dan itulah suara pertama yang keluar dari mulut gadis remaja itu setelah bertahun-tahun mengunjungi perpustakaan. Satu keajaiban Dewey.
Crystal bukanlah satu-satunya sahabat Dewey. Selain dia, ada juga seorang gelandangan yang rutin datang ke perpustakaan dan seorang anak yang setiap hari ditinggal ibunya bekerja. Setiap kali menjemput anaknya di perpustakaan, si ibu selalu bertanya, “Apa yang Dewey lakukan padamu?” Pertanyaan itu membuka obrolan di antara ibu dan anak yang tidak memiliki banyak waktu untuk bersama itu.
Kehadiran Dewey berhasil meningkatkan jumlah kunjungan ke Perpustakaan Umum Spencer yang awalnya 63.000 menjadi lebih dari 100.000 per tahun. Dari pengunjung sebanyak itu, 19,4 persen datang dari county di sekitar Clay County, wilayah tempat Spencer berada. Dewey mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sekarang adalah staf publisitas yang secara tidak langsung telah menyebarkan keberadaan Perpustakaan Umum Spencer ke seluruh dunia. Dewey telah menjadi sahabat para pengunjung perpustakaan itu sehingga ketika dia kabur karena tergoda ingin mencicipi kehidupan di luar, banyak orang menanyakan, “Ke mana Dewey?”
Bagi orang yang tidak memelihara kucing, buku ini memberi pengetahuan bahwa kucing adalah binatang yang tertib. Dewey, misalnya, dia memiliki jadwal harian yang tetap. Mulai dari menyambut pengunjung setiap pagi sampai bermain petak umpet saat malam sebelum pustakawan terakhir pulang.
Memoar Vicki dan Spencer
Buku ini bisa juga dibaca sebagai memoar seorang perempuan yang tegar menjalani segala ombang-ambing kehidupan. Vicki Myron, penulis buku ini, dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga besar petani. Kemudian dia menikah dengan seorang lelaki baik yang lantas menjadi pemabuk kelas berat. Setelah dikaruniai anak perempuan, mereka bercerai dan Vicky menjadi orangtua tunggal. Namun, pada umur 28 tahun itu dia justru baru kuliah sarjana dan kemudian lulus dengan nilai terbaik. Di sela-sela kesibukannya sebagai Direktur Perpustakaan Umum Spencer, dia meraih gelar master di sebuah universitas yang berjarak empat jam perjalanan dari tempat tinggalnya. (Perlu diingat, waktu itu tahun 1988 dan belum ada kuliah jarak jauh.) Ketika perempuan yang mengagumkan ini merasa tertekan akibat pekerjaan penyakitnya, Dewey selalu ada di sisinya.
“Jika pikiranku mandek, lelah, atau tertekan, dia melompat ke pangkuanku atau ke keyboard komputer …. Dewey memang punya indra menakjubkan untuk mencari waktu yang tepat,” kenang Vicki. Lalu mereka berdua bermain petak umpet di perpustakaan yang telah sepi itu.
Spencer adalah kota yang belum banyak berubah sejak 1931 (hal 12). Dalam buku ini, kita dapat membaca perjalanan kota pertanian kecil yang mulai berubah sejak revolusi industri. Kemudian, kota ini terpuruk ketika Depresi Besar melanda Amerika Serikat pada dekade 1930-an. Keadaan ini diperparah dengan ludesnya pusat denyut ekonomi kota itu, Grand Avenue, akibat kebakaran besar yang diawali oleh seorang anak bermain api. Jika kota-kota lain segera pulih dari kebangkrutan ekonomi, tidak demikian dengan Spencer.
Pada akhirnya, kita akan menarik benang merah dalam memoar ini: Dewey, Vicki, dan Spencer berhasil bertahan dari keterpurukan dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.[]
Selamat membaca,
Moh. Sidik Nugraha
Identitas Buku
Judul: DEWEY
Anak Judul: Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati
Penulis: Vicki Myron dan Brett Witter
Penerjemah: Istiani Prayuni
Penyunting: Mita Yuniarti dan Anton Kurnia
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Terbit: I, Oktober 2009
Little Women adalah novel klasik karya Lousia May Alcott (1832-1888) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1868. Dalam novel ini Alcott menciptakan empat sosok perempuan yang paling populer dalam sastra Amerika hingga kini. Mereka adalah Meg, yang tertua diantara keempat anak perempuan keluarga March, berusia 16 tahun, sangat cantik dan lembut. Jo, 15 tahun, pribadi yang penuh semangat, temperamental, suka bereksperimen dan senang menulis. Beth, 13 tahun gadis yang lembut, pendiam dan baik hati, serta si bungsu Amy, 12 yang memiliki jiwa seni, egois, manja serta kekanak-kanakan.
Keempat anak ini tinggal bersama ibu mereka, sementara sang ayah pergi bertempur dalam perang saudara. Keluarga ini hidup dalam kesederhanaan, sementara ayahnya pergi ibu serta keempat anak gadis March bahu membahu bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sementara utuk melakukan pekerjaan rumah tangga, mereka dibantu oleh Hanah yang setia mengabdi pada keluarga March.
Keseharian yang dialami oleh keempat wanita keluarga March inilah yang dieksplorasi dengan baik oleh Alcott dalam novelnya ini. Walau mereka memiliki ibu yang bijak dan saling mengasihi satu dengan yang lainnya namun keempat gadis dengan karakter yang berlainan ini membuat mereka tak luput dari berbagai pertengkaran, kadang mereka saling memuji namun ada juga ejek mengejek, perkelahian, cemburu, dll seperti yang dialami oleh sebuah keluarga pada umumnya. Selain itu persahabatan mereka dengan Laurie, pemuda kaya tetangga mereka yang tinggal bersama kakeknya ikut mewarnai kehidupan keluarga sederhana ini. Bersama Laurie, mereka menikmati masa remaja dan persahabatan yang indah
Pada intinya dalam novelnya ini Alcott menuturkan keseharian keempat gadis March dengan begitu hidup dan menarik, seperti bermain teater dalam rumah, berpikinik, membuat koran sendiri, dan kejadian-kejadian lainnya yang ikut membentuk mereka menjadi perempuan dewasa. Eksplorasi karakter dan berbagai peristiwa yang dialami oleh keempat gadis March ini dideskripsikan dengan porsi yang hampir sama, tiap babnya secara bergantian menceritakan salah satu dari mereka sebagai pusat cerita. Walau demikian karakter Jo yang merupakan cermin dari kepirbadian Alcott sendiri tampak selalu muncul dan mengambil peran dibandingkan yang lainnya.
Apa yang dikisahkan oleh Alcott sangat manusiawi dan wajar, tidak berlebihan, seperti halnya keluarga kita pada umumnya sehingga membaca novel ini seperti membaca kehidupan kita sendiri. Ada berbagai peristiwa keseharian yang menarik yang dikisahkan Alcott misalnya bagaimana pertengkaran antara Jo dan Amy karena hal yang sepele malah membuat Jo begitu membenci Amy yang telah memusnahkan buku karangannya yang telah lama ia tulis untuk ia persembahkan pada ayahnya kelak.
Novel ini juga memuat kisah yang mengandung nilai-nilai pengorbanan dan kemanusiaan baik antara keluarga March atau dengan orang lain. Misalnya ketika Jo rela mengorbankan rambutnya untuk dijual ke sebuah salon demi menambah ongkos perjalanan ibunya ke Washington untuk menjenguk ayah mereka yang sakit keras.
Lalu ada pula kisah Beth yang tetap menolong bayi tetangganya yang menderita penyakit menular hingga akhirnya bayi tersebut meninggal di pangkuannya. Karenanya tak lama kemudian Beth pun tertular penyakit yang mematikan ini. Saat inilah saat yang paling berat yang dialami keempat gadis keluarga March. Mereka harus merawat Beth ketika kedua orang tua mereka tak ada di rumah. Saat-saat mereka menolong Beth yang sedang berjuang melawan maut inilah yang membuat mereka menyadari bahwa kehadiran keluarga mereka jauh lebih berharga dibanding apapun
Ada banyak tema menarik yang diangkat oleh Alcott dalam novelnya ini, selain masalah kehangatan keluarga, pengorbanan, cinta kasih antar saudara dan cinta romantis Meg, novel ini juga mengangkat isu feminisme melalui sosok Jo yang mandiri dan selalu menentang aturan yang membatasi kebebasannya. Menarik karena ketika novel ini dibuat, isu feminisme belum sepopuler saat ini sehingga bisa dikatakan bahwa Alcott adalah penulis yang memiliki wawasan berpikir melebihi zamannya.
Selain itu novel ini juga memberikan contoh bahwa dalam kehidupan perempuan yang sederhana, kehidupan yang berhasaja dan berkualitas masih mungkin diperoleh. Tak ada yang lebih berharga ketimbang memiliki keluarga yang saling mencintai. Hal ini seolah mendobrak pandangan umum bahwa kebahagiaan hanya dapat diperoleh melalui oleh kelimpahan materi semata.
Dengan segala kelebihan yang ada dalam novel ini maka tak heran jika novel yang ditulis Alcott hanya dalam tempo dua setengah bulan (antara 1867 dan awal 1868) ini langsung menuai sukses ketika pertama kami diterbitkan pada 30 September 1868. Lebih dari 2000 ekslempar terjual seketika. Novel ini juga direspon secara positif oleh para kritikus sastra dan langsung menyebut novel baru itu sebagai sastra klasik. Hal ini kelak terbukti karena novel ini menjadi novel yang laris selama puluhan tahun dan dibaca hingga kini dari generasi ke generasi.
Sesaat setelah novel ini terbit dan banyak dibaca orang, Alcott kebanjiran surat dari pembacanya yang menuntut sekuel dari novelnya tersebut. Memenuhi keinginan pembacanya untuk menulis kelanjutan dari kisah keempat gadis keluarga March ini, Alcott pun akhirnya menulis sekuel Little Woman yang diberinya judul Good Wives pada tahun 1869. Kedua bagian ini sering disebut dengan Little Women or Meg, Jo, Beth and Amy. Tak hanya berhenti sampai di situ, kisah keluarga March terus berlanjut Alcott terus menulis dan menerbitkan Little Men (1871) dan Jo’s Boys (1886), yang menceritakan kehidupan anak-anak dari perempuan-perempuan keluarga March. Pada 1880 kedua bagian digabung ke dalam satu volume di Amerika dengan judul Little Women or, Meg, Jo, Beth and Amy.
Hingga kini kisah keempat perempuan keluarga March terus dibaca orang. Sejumlah karya merujuknya. Geraldine Brooks, misalnya, menerbitkan novel March pada 2005, novel ini bercerita tentang Tuan March, ayah keempat perempuan March, selama Perang Saudara. Novel ini kemudian dianugerahi Pulitzer Prize for Fiction 2006. Tak hanya dalam ranah buku, kisah keluarga March juga telah menggelitik para sineas untuk melayar lebarkan karya Alcott ini, hingga kini Little Woman sudah 14 kali diadaptasi ke layar lebar . Selain film, Little Woman juga dibuatkan versi serial TVnya, anime-nya, panggung opera, drama musical, dll
Selain itu menurut buku “ 1001 Books You Must Read Before You Die” karya Peter Boxall, novel Little women ini menginspirasi banyak penulis perempuan antara lain Simone Beauvoir, Joyce Carol Oates, dan Cynthia Ozick (salah satu penulis amerika paling top saat ini). Karenanya hadirnya terjemahan novel ini patut dipresiasi dengan baik karena jika sebelumnya novel klasik ini hanya dibaca dan dibicarakan di lingkungan terbatas yang melek sastra, kini novel ini menjadi lebih terbaca oleh kalangan yang lebih luas lagi.
Peresensi: h_tanzil
Detail Buku
Judul : LITTLE WOMEN
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Penerbit : PT. Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Juli 2009
Tebal : 489
DEWEY, kucing termanis sedunia itu, akan mengudara.
Kapan?
Minggu, 11 Oktober 2009, pukul 14.00 WIB
di Radio Pro 2 RRI 105.1 FM
Jangan lewatin ya, ada doorprize bukunya lho.
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.