Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Saat menghadiri prosesi pemakaman ayahnya, Luca Campelli, Jon melihat banyak orang yang tidak dikenalnya juga hadir mengikuti prosesi tersebut. Hasrat Luca Campelli untuk meninggal dikelilingi oleh buku-buku kesayangannya terwujud. Bahkan pidato perpisahannya pun dikutip dari berbagai buku.
Sepeninggal ibunya, hubungan Jon dengan ayahnya tidak harmonis. Jon benar-benar tidak mengira bahwa ia mendapat warisan sebuah toko buku antik, Libri di Luca, di Kopenhagen dengan penjaga toko yang mengidap dyslexia, Katherina. Serta harus berurusan dengan sebuah perkumpulan membaca yang tidak biasa!
“Jadi menurutmu apa yang membuat seseorang bagus dalam membacakan sesuatu keras-keras, Jon?” tanya Iversen, asisten ayahnya saat Jon berkunjung ke Libri di Luca, beberapa saat setelah pemakaman ayahnya. Selanjutnya Iversen menceritakan sebuah rahasia keluarga yang selama ini dipendam ayahnya. Keluarga Jon adalah Lector, dan para anggota perkumpulan membaca yang sering berkumpul di toko buku ayahnya juga para Lector.
Lector adalah mereka yang melatih sebuah seni yang berhubungan dengan kemampuan membaca seseorang. Seseorang bisa tergerak dengan apa yang dibaca oleh orang lain, mampu mempengaruhi orang tanpa disadari oleh mereka, mempengaruhi pandangan mereka akan tulisan, tema, atau hal lainnya. Juga bisa mengubah pendapat seseorang tentang sebuah masalah. Belakangan, kelompok ini terbagi menjadi dua, pemancar dan penerima.
Pemancar adalah jenis yang bisa mempengaruhi mereka yang mendengarkan sebuah bacaan dan oleh karenanya mampu mempengaruhi persepsi pendengar dan sikap terhadap tulisan yang sedang dibaca.
Penerima adalah jenis yang lainnya dan Katherina adalah penerima! Peraturannya pun sangat gampang, jangan baca apa pun di hadapan seorang penerima dan menghindari pembacaan yang dilakukan oleh seorang pemancar.
Saat Libri di Luca mengalami serangan pembakaran, Jon mulai mempertimbangkan untuk mengaktifkan dirinya. Tanpa disadarinya, Jon juga memiliki kemampuan itu. Kemampuan tersebut sangat membantu profesinya sebagai pengacara, terutama saat membacakan argumentasi penutupnya di pengadilan. Argumentasi penutupnya selalu memukau. Presentasinya ditulis kata demi kata dan sangat jarang menyimpang.
Konflik dengan salah satu klien terbesar di firmanya membuat Jon diberhentikan, hal ini memicu kenginannya untuk mengaktifkan dirinya. Proses mengaktifkan diri Jon, disebut juga Seance, nyaris menghancurkan ruang bawah tanah Libri di Luca. Kemampuan yang berada di dalam dirinya ternyata melebihi apa yang diperkirakan orang-orang, bahkan melebihi kemampuan yang dimiliki ayahnya.
Belakangan, Jon, Katherina, dan Iversen menemukan adanya sebuah organisasi selain Perkumpulan Pencinta Buku yang sering bertemu di Libri di Luca. Organisasi tersebut dikenal dengan nama Organisasi Bayangan. Yaitu sebuah kelompok yang berjalan rahasia, di dalam bayangan. Organisasi ini berbeda dengan Perkumpulan Pencinta Buku, para anggotanya terus menggunakan kekuatan mereka untuk aksi kejahatan atau setidaknya untuk memuaskan keinginan mereka sendiri.
Sebagai salah satu toko buku antik tertua di kopenhagen, Libri di Luca menjadi incaran Organisasi Bayangan. Buku-buku yang terdapat di sana tidak hanya memiliki nilai sentimentil untuk seseorang penggemar buku. Buku-buku itu juga telah diisi energi.
Saat Jon berada di Mesir, ia mendapat informasi mengenai asal kekuatan keluarganya. Kisahnya dimulai dari perpustakaan yang ada di Alexandria, Bibliotheca Alexandrina. Selama lebih dari 700 tahun, perpustakaan tersebut juga menjadi surga bagi pendidikan dan ilmu pengetahuan. Namun beberapa kejadian seperti Peperangan Alexandria, yang melibatkan Caesar, peperangan sehubungan dengan Cleopatra, serta perampokan telah mengosongkan isi perpustakaan.
Demetrius adalah seorang filsuf, negarawan, penasihat, dan kepala pustakawan pertama yang menyadari dan melakukan penelitian kekuatan tersebut. Dengan cepat ia menyadari apa yang sedang ditelitinya dan ia merahasiakan pengetahuan tentang kekuatan tersebut, dan mulai mendirikan organisasi. Saat itu organisasinya berupa perkumpulan rahasia bagi mereka yang telah diaktifkan.
Dengan hancurnya perpustakaan, Alexandria juga kehilangan statusnya sebagai pusat pendidikan dan ilmu pengetahuan. Karena organisasi tersebut harus berada di tempat kemajuan sedang berkembang, maka perkumpulan itu pun pecah dan anggotanya menyebar ke seluruh dunia, mendirikan perkumpulan setempat, beberapa pergi ke Italia, di sanalah cikal bakal kemampuan keluarga Jon berasal.
Thomas Armstrong dalam buku “7 Kinds of Smart: Menemukan dan Meningkatkan Kecerdasan Anda” mengemukan mengenai berbagai macam kecerdasan manusia. Salah satunya adalah kecerdasan linguistik/World Smart, yaitu kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif. Ciri-cirinya antara lain menikmati membaca buku, mengeja kata-kata dengan mudah, serta mempunyai kosakata yang luas. Jika mengacu pada hal ini, maka seseorang yang cenderung memiliki kecerdasan linguistik/World Smart, sangat berpotensi menjadi seorang Lector.
Bayangkan berapa banyak lector yang ada di dunia serta apa akibatnya jika mereka menyalahgunakan kekuatan tersebut. Maka kalimat yang berbunyi “Di tangan para Lector, sebuah buku bisa menjadi alat untuk membunuh manusia” sepertinya tidak berlebihan. Di sisi lain, sebuah buku cerita mengenai Pinokio dalam Bahasa Italia telah menyelamatkan nyawa Jon, Katherina, dan Muhammad.
Selanjutnya bagaimana karier Jon sebagai pengacara? Apa hubungan antara Jon dan klien terbesar firma hukumnya dengan Libri di Luca? Lalu bantuan seperti apa yang diberikan Muhammad, seorang imigran ahli teknologi informasi dalam upaya menyelamatkan Jon? Serta apa peranan UNESCO dalam kasus ini?
Sepertinya Anda harus mencari tahu sendiri dengan membaca buku ini.
(Truly Rudiono)
Data Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Tagline: Novel tentang Perkumpulan Rahasia Pencinta Buku
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: Serambi
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 588 hal
Buku yang diangkat dari kisah nyata ini menceritakan kisah Dewey seekor kucing jalanan yang ketika usianya baru beberapa minggu dibuang ke sebuah kotak pengembalian buku di Perpustakaan Umum Spencer, Iowa, Amerika Serikat oleh seseorang tak dikenal saat musim dingin di tahun 1998. Ia baru ditemukan keesokan harinya oleh direktur perpustakaan, Vicki Myron.
Dalam keadaan yang hampir mati beku kedinginan Vicki mengangkat kucing itu dan segera menghangatkannya dan menjadikan perpustakaan sebagai rumah bagi si kucing. Siapa yang bisa menduga, tindakan sederhana yang dilakukan Vicki terhadap anak kucing jalanan itu kelak akan memberi pengaruh yang luar biasa besar baik untuk dirinya, Perpustakaan kota Spencer, bahkan kota kecil Spencer, Iowa pada umumnya.
Kucing malang itu diberinya nama Dewey, seperti nama penemu system pengklasifikasian buku. Dewey segera mencuri hati para pegawai Perpustakaan Spencer. Hampir semua staf perpustakaan mencintainya. Tak seperti kucing jalanan pada umumnya, Dewey terlihat lebih manis, cerdas, dan yang terutama adalah sikapnya dan interaksinya yang baik terhadap pengunjung perpustakaan.
Awalnya kehadiran Dewey hanya diketahui oleh staf perpustakaan dan beberapa pengunjung saja, namun lambat laun Dewey semakin terkenal, seminggu setelah ia tinggal di perpustakaan kisah penyelamatan Dewey muncul di harian pertama surat kabar lokal. Publisitas ini akhirnya membuat seluruh penduduk Iowa mengetahui keberadaannya.
Kepopuleran Dewey dan sikap manisnya terhadap pengunjung perpustakaan membuat Dewey seolah menjadi duta perpustakaan dan inspirasi bagi siapa saja yang berinteraksi dengannya. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya orang yang tertarik pada Dewey, jumlah kunjungan ke perpustakaan Spencer bertambah secara mencolok. Orang-orang tinggal lebih lama di perpustakaan dibanding sebelumnya, mereka pulang dengan gembira dan kegembiraan itu dibawa pulang ke rumah, ke sekolah, dan ke tempat kerja. Dan orang-orang mulai membicarakan Perpustakaan Spencer.
Ketenaran Dewey ternyata terus bertambah, kini ia tak hanya dikenal di Iowa, kisahnya bahkan menembus hingga ke kota-kota sekelilingnya, melintasi negara bagian, hingga akhirnya merebak ke Negara-negara lain. Bahkan televisi NHK Jepang memilih Dewey menjadi proyek pertama mereka dalam pembuatan film dokumenter binatang.
Kehidupan Dewey selama sembilan belas tahun ini akhirnya memang akan menjadi sumber kebanggaan bagi Iowa, sebuah kota pertanian yang ketika Dewey ditemukan nyaris bangkrut. Dewey memang tidak menciptakan lapangan kerja atau apapun yang membuat kota Iowa menjadi maju secara ekonomi, namun tanpa disadari kehadiran Dewey muncul pada saat yang tepat dimana saat itu Amerika dilanda krisis ekonomi, kehadiran Dewey sedikit banyak telah mengalihkan pikiran negatif dari pendududuk Iowa akibat krisis ekonomi.
Kisah kehidupan Dewey, kucing perpustakaan inilah yang oleh Vicki Myron (penemu Dewey) dan Bret Witter (editor dan pecinta kucing) dituangkan dalam sebuah buku yang diberinya judul “Dewey”. Secara umum buku ini memang menceritakan bagaimana seekor kucing jalanan yang dibuang orang kelak akan menjadi kucing yang paling dikenal di dunia dan bagaimana Dewey menjadi inpirasi bagi banyak orang.
Pada awalnya Dewey hanya menyentuh kehidupan Vicki, ia menjadi perekat hubungan Vicky dengan anak gadisnya yang mulai renggang. Lalu Dewey juga menjadi perekat hubungan antar staf perpustakaan Spencer tempat Vicki bekerja. Lambat laun pengaruh positif Dewey semakin meluas lagi. Sikapnya yang manis terhadap pengunjung perpustakaan membuat ia menjadi kucing yang paling dicintai.
Tak hanya warga kota Iowa saja yang mencintai Dewey, bahkan orang-orang dari luar kota yang jaraknya puluhan hingga ratusan kilometer dari Iowa pun kerap berkunjung ke perpustakaan Spencer untuk menemui Dewey.
Dari keseluruhan kisah mengenai Dewey dalam buku ini, kita tak akan menemui sebuah peristiwa heroik yang dilakukan Dewey. Dewey bukanlah kucing pahlawan, ia hanyalah seekor kucing biasa, namun yang membuat ia terkenal dan menjadi inpirasi bagi banyak orang adalah sikapnya yang manis terhadap semua pengunjung perpustakaan.
Dewey tidak memilih-milih orang yang disayanginya. Dia mencintai semua orang tanpa pilih kasih. Setiap hari dia Setiap menyambut orang-orang yang datang ke perpustakaan, duduk di pangkuan pengunjung yang membutuhkannya, sehingga membuat orang-orang itu merasa diperhatikan oleh Dewey.
Hal terbesar yang dilakukan Dewey adalah bagaimana persahabatannya dengan Crsytal seorang gadis cacat. Dewey mampu mengubah gadis yang tadinya sangat tertekan menjadi lebih optimis dan menikmati saat-saat bahagia bersamanya. Tak hanya dengan Crystal, Dewey juga bersahabat dengan seorang gelandangan, anak yang setiap harinya ditinggal kerja oleh ibunya, hingga seorang eksekutif muda. Hubungannya dengan banyak orang dari berbagai kalangan itulah yang membuat Dewey menjadi inpirasi bagi semua orang yang berinteraksi dengannya.
Apa yang ditulis oleh Vicki mengenai kucing kesayangannya ini memang luar biasa, namun untungnya Vicki tak terjebak untuk menuliskan semua kelebihan Dewey. Di buku ini juga akan terungkap sisi buruk Dewey seperti cerewet dalam memilih makanan, sulit untuk diajak ke dokter, kabur dari perpustakaan, dll. Sehingga sosok Dewey yang ditampilkan bukanlah sebagai kucing sempurna, melainkan seekor kucing normal yang memiliki kabaikan dan keburukan.
Selain tentang Dewey, tampaknya penulis juga menuturkan kisah hidupnya dalam buku ini. Mulai dari kisah pernikahannya yang gagal, perjuangannya membesarkan satu-satunya anak gadisnya, hingga berbagai penyakit yang dideranya.
Karena kehidupan Dewey berada dalam perpustakaan, maka aktivitas dan semua pernah-pernik perpustakaan akan muncul di buku ini. Seperti bagaimana perkembangan perpustakaan Spencer dari waktu ke waktu selama Dewey hidup, beralihnya sistem manual ke komputerisasi, usaha-usaha yang dilakukan perpustakaan kota Spencer untuk menarik minat pengunjung, dll.
Hal ini tentunya sangat menarik dan bermanfaat juga bagi pemerhati dan praktisi perpustakaan kita. Sedikit banyak kita akan belajar dan disadarkan bahwa fungsi perpustakaan bukan sekedar gudang yang sunyi tempat menyimpan buku, melainkan juga sebuah tempat untuk berkumpul, ruang publik di mana perpustakaan menjadi sentral bagi perkembangan dan berbagai aktifitas sosial dan budaya masyarakat di sekitarnya.
Sebagai kesimpulan, buku yang diangkat dari kisah nyata ini kita akan disuguhkan kisah menakjubkan dari seekor kucing yang begitu menginpsirasi jutaan orang. Bukan karena tindakan kepahlawanannya, melainkan karena cinta, kemurahan hati, dan kekuatan hubungan yang baik antara manusia dengan hewan. Selain itu, buku ini juga mengajak pembacanya untuk berpikir positif di tengah segala kesulitan hidup.
(Resensi: Hernadi Tanzil)
Kisah Dewey rencananya akan dilayarlebarkan dengan Meryl Streep sebagai tokoh Vicki
Detail Buku
Judul: DEWEY
Anak Judul: Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati
Penulis: Vicki Myron dan Brett Witter
Penerjemah: Istiani Prayuni
Penyunting: Mita Yuniarti dan Anton Kurnia
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Terbit: I, Oktober 2009
Tebal : 400 hlm
Bagaimana sebuah bangsa (mencoba) mempertahankan agama nenek moyang mereka di tengah gempuran agama-agama besar dunia: Yahudi, Kristen, lalu Islam, agama-agama besar Ibrani?
Bangsa Khazar merupakan contoh tepat untuk menjawab pertanyaan itu. Meskipun informasi tentang bangsa Khazar masih tetap simpang-siur hingga kini. Baik sumber Yahudi, Kristen, maupun Islam sama-sama mengacungkan telunjuk telah berhasil memikat dan merebut hati bangsa Khazar untuk memeluk agama mereka. Masing-masing pihak menyatakan telah memenangkan polemik menafsirkan mimpi sang khagan dan mengatakan secara agak superior bahwa agama merekalah yang dianut bangsa Khazar secara permanen dan besar-besaran. Sementara dari khasanah Khazar sendiri nyaris tak ada sumber yang mengatakan bangsa mereka telah menganut salah satu agama besar Ibrani itu.
Imperium Khazar terbuka bagi masuknya agama-agama Ibrani setidak-tidaknya ketika khagan (pangeran) Khazar bermimpi. Sesosok malaikat muncul dalam mimpi khagan Khazar dan berkata kepadanya: “Tuhan berkenan dengan mimpimu, tetapi tidak dengan perbuataanmu.” Sang khagan memutuskan mengundang tiga filsuf untuk menafsirkan mimpi itu karena tak terpuaskan hanya oleh tafsiran ahli-ahli mimpi “teolog-teolog” Khazar sendiri. Sang khagan mengundang ahli-ahli dari tiga agama besar dunia ketika itu (seorang darwis, rahib, dan rabi) untuk menafsirkan mimpi itu, dengan ketentuan khagan dan seluruh rakyat Khazar akan menganut agama sang pemenang.
Bahasan utama novel ini merupakan peristiwa perpindahan bangsa Khazar dari agama asli mereka. Novel leksikon ini terdiri dari tiga bagian besar. Bagian pertama yang disebut sebagai Buku Merah berisi sumber-sumber Kristen tentang bangsa Khazar dan kristenisasi bangsa tersebut. Sumber Kristen menyebut tahun 861 masehi sebagai tahun bangsa Khazar mulai memeluk iman Kristen. Tahun ini bertepatan pula dengan tahun kedatangan teolog Yunani untuk ikut serta dalam polemik menafsirkan mimipi sang khagan. Raib Kristen itu disebutkan dalam sumber Kristen telah berhasil memenangkan polemik dan mengkristenkan orang-orang Khazar secara luas.
Bagian kedua merupakan Buku Hijau, bagian dari Kamus Khazar yang berisi sumber-sumber Islam tentang bangsa Khazar. Dalam bagian ini diketahui bangsa Khazar meninggalkan agama asli mereka dan beralih menganut Islam pada masa kekuasaan khalifah Abbasiyah Harun Arrasyid (786-809). Sumber lain mengatakan bangsa Khazar memeluk Islam setelah kalah dalam perang melawan bangsa Arab, dan sebagai konsekuensinya mereka menerima perdamaian dan Islam.
Sumber lain mengatakan, Arab dan Khazar pernah terlibat perang pada tahun 642 masehi, tetapi bangsa Arab dapat dikalahkan pada 653 masehi, dan baru pada tahun 772/773 bangsa Khazar dapat dikalahkan, yaitu pada masa khalifah Muhamad Marwan. Seorang darwis Islam (dalam bagian lain utusan Islam disebut sebagai mullah) berhasil memenangkan perdebatan atas tafsir mimpi sang khagan. Sumber lain justru menyebutkan sang darwis atau mullah tidak berhasil memenangkan perdebatan karena terbunuh dalam perjalanan menuju negeri Khazar atas konspirasi orang-orang Yahudi dan Kristen.
Bagian ketiga merupakan bagian kamus Khazar yang disebut Buku Kuning yang berisi pendapat sumber-sumber Yahudi tentang bangsa Khazar. Sumber-sumber Yahudi pada bagian ini mengatakan bahwa bangsa Khazar mengalami Yahudisasi yang hebat setelah utusan Yahudi berhasil memenangkan perdebatan. Oleh sang rabi Yahudi, Islam dan Kristen digambarkan sebagai agama yang suka berperang, suka berbunuh-bunuhan.
Kedua agama itu memiliki armada perang, kata sang rabi, sementara Yahudi (yang tersisih dari konstelasi politik masa itu, diusir oleh Kristen Eropa, terlunta-lunta dalam pengembaraan politik mereka) adalah agama yang tidak punya angkatan perang, oleh sebab itu “dianggap” mereka tidak suka berperang. Menurut sumber yang sama, atas dasar itu, agama Yahudi lebih diterima di tengah bangsa Khazar dibandingkan dua agama besar Ibrani lainnya. Tahun 740 menunjukkan tahun dimulainya Yahudisasi bangsa Khazar.
Tiap-tiap sumber dari agama-agama besar Ibrani memiliki gambaran yang berbeda-beda tentang bangsa Khazar. Mereka juga memiliki pendapat yang tak sama tentang siapa yang memenangkan polemik “menafsirkan mimpi sang khagan”. Tiap-tiap pihak sama-sama mengklaim telah memenangkan perdebatan. Entah mana dari sumber-sumber itu yang benar, sumber-sumber Khazar sendiri hampir tidak ada untuk memberi petujuk yang lebih jelas dan terang untuk menjawabnya. Kecuali benda-benda yang diperkirakan dan diduga sisa-sisa peradaban Khazar yang tak dapat memberi penjelasaan yang memadai untuk menjawab kesimpang-siuran informasi tentang mereka.
Baik sumber Islam, Yahudi, maupun Kristen menyebutkan bahwa bangsa Khazar telah mencoba, secara eksplisit, menolak agama-agama besar Ibrani itu. Dalam suatu sumber menyebut bahwa agama mereka diterima, namun sumber lain dari pihak yang berbeda akan menggagalkannya dengan alasan-alasan yang mereka miliki untuk membantah keunggulan agama tersebut. Dari sumber-sumber itu didapatkan kesimpulan bahwa ada saja yang salah dalam pandangan bangsa Khazar atas ketiga agama besar dunia itu.
Bangsa Khazar mencela Islam maupun Kristen yang sering terlibat perang, padahal mereka sama-sama agama yang mengajarkan cinta kasih. Namun, bangsa Khazar juga tidak menerima Yahudi (yang untuk masa itu bersih dari riwayat peperangan). Karena bagi orang Khazar, terusirnya umat Yahudi dari daratan Eropa dan terlunta-lunta dalam pengembaraan yang menyakitkan adalah akibat kebodohan dan kegagalan mereka. Oleh sebab itu, bangsa Khazar menilai agama Yahudi juga tidak sesuai untuk dianut oleh bangsa mereka, karena mereka tidak mau terusir seperti umat Yahudi yang bodoh dan gagal.
Catatan di halaman paling belakang buku ini tepat, “bangsa Khazar adalah metafora untuk sekelompok kecil manusia yang bertahan di antara kekuatan-kekuatan adidaya dan agama-agama besar”.
Selamat membaca!
(Deddy Arsya, tinggal di Padang)
Detail Buku
Judul : KAMUS KHAZAR, Sebuah Novel Leksikon
Penulis : Milorad Pavic
Penerjemah : Noor Cholis
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2009
Tebal : 505 halaman
“Semua hal dalam kehidupan Anda adalah perwujudan iman Anda kepada apa yang tidak terlihat.”—Dr. Joseph Murphy
Apakah keajaiban? Apakah ia merupakan sesuatu yang jarang kita alami? Ataukah sebenarnya kita dilingkupi olehnya setiap hari? Dr. Joseph Murphy (1898-1981) mengatakan, keajaiban adalah segala sesuatu yang terjadi di luar kendali diri kita. Dalam bukunya ini, ia menyebut sang pengendali keajaiban yang tidak terlihat itu sebagai “Kecerdasan Tak Terhingga”.
Buku ini terbagi ke dalam 15 bab yang mengandung 96 kisah nyata. Sebagian besar cerita itu berasal dari orang-orang yang berkonsultasi dengan Joseph Murphy dalam kurun waktu 50 tahun perjalanan hidupnya menggeluti spiritualitas. Buku ini sendiri terbit pada 1965. Artinya ketika itu Murphy berumur 67, usia yang matang bagi seorang “petualang spiritual” untuk menulis buku. Jadi, tidak berlebihan jika dia mengatakan, “Aku telah melihat banyak keajaiban terjadi pada lelaki dan perempuan dari segala latar belakang kehidupan di seluruh dunia.”
Joseph Murphy termasuk ke dalam angkatan awal Gerakan Pemikiran Baru yang muncul pada akhir abad ke-19 di Amerika Serikat. Setelah meraih gelar PhD Psikologi dari University of Southern California, dia berpetualang untuk mempelajari agama-agama besar di dunia. Salah satu bukunya yang paling dikenal berjudul The Power Of Your Subconscious Mind.
Penceramah agama, (maha)siswa, tentara, ibu rumah tangga, pengusaha, atlet, penulis, agen real estate, dan penjahat adalah sebagian orang yang kisahnya bisa dibaca dalam buku ini. Mereka mendatangi (atau dikunjungi oleh) Murphy atau berhubungan melalui surat. Mereka mengeluhkan masalah yang sebagian besar disebabkan oleh racun spiritual yang mereka pupuk baik secara sadar atau tidak.
“Ini mustahil. Saya melihat tidak ada jalan keluar (bukan ’saya tidak melihat jalan keluar’). Tidak ada harapan lagi,” kata seorang gadis putus asa.
Joseph Murphy sering mendengar keluhan seperti yang dilontarkan gadis itu dengan masalah yang beragam: mulai dari persoalan akademis yang sederhana sampai kesehatan yang divonis tak dapat disembuhkan. Menurutnya, jutaan orang buta secara psikologis dan spiritual karena terus-menerus mengatakan bahwa tidak ada jalan untuk memecahkan masalah mereka. Selain itu, rasa benci, sakit hati, iri, dan takut dapat menyebabkan kebutaan spiritual.
Namun, tidak semua orang yang diceritakan dalam buku ini memiliki masalah. Misalnya, seorang pemuda yang memiliki metode tersendiri untuk mengenali racun spiritual dalam pikirannya. Dia menyebutnya foto mental. Sang pemuda memaparkan cara melakukannya: Perhatikan dengan saksama segala lintasan pikiran, sensasi, suasana hati, reaksi, dan nada bicara kita. Kemudian, untuk segala, katakanlah, “Semua ini bukan dari Tuhan. Semua ini merusak dan menyesatkan. Aku akan berpaling kepada Tuhan dan berpikir menurut pandangan hikmah, kebenaran, dan keindahan.”
Joseph Murphy menekankan pentingnya bagi kita untuk mengenal cara kerja pikiran alam bawah sadar yang menurutnya bisa dipengaruhi oleh pikiran sadar kita.
“Penyembuhan pikiran spiritual adalah kinerja gabungan yang selaras dari pikiran sadar dan pikiran bawah sadar Anda, yang diarahkan secara ilmiah untuk tujuan tertentu.” (Hal. 61)
“Pusatkan mental dan emosi pada jawaban yang tepat, dan Anda akan mendapatkan sebuah respons (dari Kecerdasan Tak Terhingga).” (Hal. 95)
Untuk membantu orang-orang yang berkonsultasi padanya, Murphy hampir selalu menyarankan jalan keluar yang sama. Dia memerintahkan orang itu berdoa, mengingat sifat-sifat Tuhan yang ada dalam dirinya, dan membayangkan tujuan apa yang dicapai sampai terasa nyata.
Penulis buku ini menceritakan dia pernah mengunjungi seorang penjahat yang kecanduan alkohol sampai titik kronis. Si penjahat itu meyakini ajalnya sudah dekat dan akan dihukum oleh Tuhan. Dengan cara di atas, Murphy menyembuhkan orang itu dan tidak lama setelah itu, berdasarkan diagnosis medis, ia dinyatakan akan tetap hidup. Dan sepuluh hari kemudian, ia meninggalkan rumah sakit.
Bagi saya pribadi, membaca buku-buku spiritual selalu memberikan kesan berbeda. Karena, setiap penulis buku jenis ini pasti memiliki jalan tersendiri dalam pencariannya mengenal Yang Tak Terhingga. Sebagaimana lahir, batin senantiasa membutuhkan nutrisi yang salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan membaca buku seperti ini.
Selamat membaca
Salam keajaiban,
Moh. Sidik Nugraha
Detail Buku
Judul: KEAJAIBAN KEKUATAN PIKIRAN
Penulis: Dr. Joseph Murphy
Penerjemah: Ajeng Arshanti Patty
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Tebal: 249 hlm
Ukuran: 15 x 23 cm
Terbit: November 2009
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.