Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Pasang sabuk pengaman anda dan bersiap-siaplah untuk sebuah cerita yang menegangkan, mencekam, dan melaju kencang. Itulah endorsement dari Steve Berry, penulis The Charlemagne Pursuit dan The Amber Room di cover bergambar Colosseum dan Al Aqsa ini.
Sebuah tato bundar kecil dari bahasa Latin dan Yunani tampak melingkari pusat sang mayat dalam tulisan merah keunguan yang dalam. Phene nike umbilicus orbis terrarium. Kemenangan di pusat dunia. Itulah petunjuk awal.
Tropafum Josepho Illumina. Phere Nike Umbilicius Orbis Terrarum. Eytz chaim hee I’machaziki’im ba. Merupakan beberapa kalimat simbol untuk menemukan artefak bersembunyi berusia 2.000 tahun yang selama ini banyak dicari-cari. Benda itu adalah simbol sejarah yang dianggap lebih hebat dibandingkan dengan mitos agama mana pun.
Beberapa pengetahuan yang perlu tahu:
Perawan Corinthia. Yaitu sebuah praktik kuno di mana para penguasa memerintahkan para tahanan perang wanita masuk ke kota mereka kembali dan menguburkan mereka di dalam tiang-tiang kota.
Steganos berarti catatan yang disembunyikan, misalkan penulisan yang tersembunyi. Sebuah pesan stenografi tidak hanya berupa enkripsi, kita bahkan tidak menyadari keberadaannya.
Yayasan Al-Quds. Yayasan yang disubsidi UNESCO dibentuk di Maroko pada 1998 untuk memelihara warisan kebudayaan Islam di Yerusalem.
Aliterius. Adalah pemain sandiwara yang paling disenangi Kaisar Nero dan menggunakan hubungan politiknya untuk mempengaruhi sejumlah keputusan.
Roma adalah satu-satunya kota di dunia dengan dua kedutaan, sebuah misi diplomatik untuk Italia dan lainnya untuk kedutaan Vatikan seluas seratus delapan hektar.
Para pustakawan selalu menyuruh para siswa menggunakan tongkat kayu untuk membalikkan halaman karena minyak yang dikeluarkan oleh tangan manusia menjadi penyebab utama lapuknya dokumen.
Artefak seringkali diubah untuk menyembunyikan tanda identifikasi yang diberikan museum.
**
Oh, yang saya suka adalah peran pustakawan sebagai kunci dalam sejarah yang tersembunyi ribuan tahun. Walaupun bukan sebagai pemeran utama, pustakawan berperan penting dalam alur cerita hingga rela mengorbankan nyawanya. Kita diajak menelusuri berbagai perpustakaan dan museum kuno untuk mencari bukti sejarah di masa lalu. Selain ada pustawan bernama Mose Orveti, ada juga Kardinal Francesco Inocenti.
Sungguh perpaduan yang ciamik antara Angels and Demons-nya Dan Brown dan The Name of The Rose-nya Umberto Eco. Kisah seorang Jonathan Marcus, pengacara muda dan Dr. Emili Tria, yang mempunyai julukan Malaikat Artefak, serta dengan bantuan seorang pustakawan Sinagoge Agung, Mose Orvieti ini mengupas teka-teki dengan simbol-simbol sejarah dibalut naskah-naskah kuno.
Sebuah referensi naskah kuno di dalam novel ini nyata, begitu pula dengan Dewan Wakaf –sebuah yayasan perwalian rahasia Islam yang menangani Baitallah di Yerusalem sejak 1187 M.
Seperti yang Matthew Pearl, penulis novel laris Dante Club bilang: “Dalam debutnya yang orisinal, Daniel Levin mengungkapkan dengan jelas sebuah dunia di mana arkeologi, hukum dan rahasia agama menyatu dalam sebuah interaksi yang menegangkan.”
Detail Buku
Judul: THE LAST EMBER
Penulis: Daniel Levin
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2010
Tebal: 573 hlm
Emma Rouault mengira menikahi seorang lelaki mapan akan mewujudkan fantasinya sebagai perempuan muda. Seusai kemeriahan pesta perkawinan, Emma meninggalkan rumahnya dan masuk ke dalam kehidupan Charles sebagai seorang officier de santé di Tostes. Seiring perjalanan waktu, Emma sadar telah menempuh jalan yang keliru. Perkawinan tidak mengarahkannya pada realisasi fantasi serupa yang ia baca dalam buku-buku percintaan. Charles tidak memiliki ambisi laiknya kaum lelaki dan romantisme bukanlah gaya hidupnya. Bagi Charles yang berpikiran sederhana, kebahagiaan hanya terletak pada kecakapannya menuntaskan pekerjaan sesuai jadwal. Kekecewaan Emma mengental saat menghadiri sebuah pesta kalangan borjuis dan menemukan kehidupan bergelimang kesenangan para duchess. Seketika, seolah-olah memandang melalui kaca pembesar, ketidakmenarikan Charles kian mencolok.
Demi Emma, Charles rela meninggalkan tempat yang telah memapankan hidupnya selama empat tahun. Mereka pindah ke Yonville, tempat yang mencelikkan Emma akan kebutuhan petualangan asmara bagi seorang istri yang tidak bahagia. Meskipun telah melahirkan seorang anak, Emma tidak mampu mencegah letupan gairah yang dibangkitkan oleh Léon Dupuis, anak muda yang bekerja di kantor notaris Monsieur Guillaumin. Sial baginya, sebelum sempat terbakar kepanasan gairah Léon, anak muda pergi ke Paris melanjutkan kuliah hukum.
Léon boleh saja berlalu, namun Yonville masih menyimpan lelaki lain. Meskipun Rodolphe Boulanger dikenal sebagai pemangsa perempuan, undangan perselingkuhannya tidak mungkin ditepis Emma. Emma tidak menyadari, bagi petualang syahwat semacam Rodolphe, begitu seorang perempuan jatuh cinta pada, ia menjadi kurang menarik. Yang tersisa sekadar hubungan demi menikmati momen-momen penuh berahi tanpa mengempiskan pundi-pundi uang. Dalam berhubungan dengan lelaki, Emma memiliki kecenderungan bersikap posesif. Merasa telah menguasai Rodolphe, ide melarikan diri bersama-sama tidak urung tercetus. Sayangnya, Rodolphe tidak mau bersifat murah hati dalam hal ini, baginya Emma tidak cukup layak dijadikan berhala. Terpuruk karena ditinggalkan Rodolphe, Emma hampir luluhlantak. Untunglah, Léon muncul lagi dalam kehidupannya dan mampu membangkitkan semangat hidup Emma. Maka sekali lagi Emma terlena dan mengabaikan kenyataan, sangat sulit petualangan cinta berakhir bahagia.
Madame Bovary adalah salah satu dari dua novel yang disebut-sebut sebagai karya terbesar yang pernah ditulis―yang lain Anna Karenina karya Leo Tolstoy. Merupakan novel Gustave Flaubert (1821-1880), pengarang Prancis, yang pertama kali diterbitkan sekaligus melambungkan namanya sebagai salah satu pengarang penting pada abad ke-19. Novel ini memiliki sejarah yang mengundang perhatian khalayak. Mulai ditulis tahun 1850, membutuhkan waktu lima tahun untuk bisa diselesaikan. Sebelum diterbitkan pada tahun 1857, novel ini dimuat secara bersambung dalam majalah sastra (1856) yang membuat Flaubert dipengadilankan karena dianggap menodai norma agama dan masyarakat. Flaubert dibebaskan dari tuduhan atas pertolongan Marie-Antoine Jules Sénard, pengacara dari Rouen, kepada siapa buku ini didedikasikan (hlm. 5).
Novel ini mendedahkan kebangkitan dan kehancuran mimpi-mimpi romantis seorang perempuan muda dalam lembaga pernikahan. Ketika mimpi-mimpi itu sukar diwujudkan dalam hubungannya dengan suaminya (karena si suami tidak memahaminya), ia menengok ke luar jendela dan menemukan potensi di luar rumah. Menafikan semua norma yang berlaku, ia menjerumuskan diri dalam petualangan ekstramarital yang tidak memberikannya garansi kebahagiaan. Begitu sadar kemubaziran kelakuannya, ia tidak lagi punya optimisme untuk bermain-main dengan kehidupan. Tindakannya yang didominasi egoisme menciptakan efek domino yang mengenaskan bagi keluarganya. Kendati hanya sebaris, guratan Flaubert di penghujung novel terasa menggerogot: “Berthe hidup dalam kemiskinan dan ia terpaksa harus bekerja pada sebuah pemintalan kapas untuk membiayai hidupnya.”(hlm. 503-504). Dari kisah tragis keluarga Bovary, tampaknya Flaubert hendak mengingatkan bahwa dalam sebuah ikatan pernikahan setiap pelaku perlu menciptakan kesepakatan untuk saling terbuka dan saling memahami, terlebih dalam segi seksualitas. Kesepakatan ini akan menjadi semacam kontrasepsi bagi pembuahan problem yang mungkin bisa dicegah.
Dalam hubungan lelaki-perempuan, Flaubert mencitrakan Emma alias Madame Bovary sebagai perempuan dengan kesadaran seksualitas yang tinggi. Meski Rodolphe menganggapnya tidak lebih dari pemuas nafsu belaka, ia berhasil mencuri kesempatan memanfaatkan lelaki itu untuk kepuasan ragawinya. Léon Dupuis, tidak hanya menyilih apa yang tidak ingin diberikan lagi oleh Rodolphe, tapi membalikkan posisi yang ditegakkan lelaki itu. Jika bagi Rodolphe, Emma adalah kekasih gelap, bagi Emma, Leon adalah kekasih gelapnya. Mungkin, inilah yang disebut-sebut mengilhami secara tidak langsung munculnya feminisme.
Bukan hanya Emma karakter yang dibangun dengan cermat oleh Flaubert. Charles, kendati didapuk sebagai lelaki tidak beruntung, karakternya sebagai lelaki tanpa ambisi membesut kuat. Demikian juga Rodolphe yang bergelimang hawa nafsu tapi memendam kepengecutan ataupun Leon yang lantaran pengejaran kepuasan seksual, tidak mampu merebut setir dari tangan Emma. Monsieur Lheureux pemilik toko sekaligus rentenir merupakan karakter yang berperan paling penting dalam kejatuhan Emma. Kemahiran manipulatifnya mengaburkan perspektif Emma. Belakangan terungkap, aktivitasnya sebagai rentenir berhubungan dengan lelaki lain, yang menawarkan bantuan kepada Emma dengan seks sebagai imbalan. Karakter Monsieur Hormais, lelaki yang tidak pernah tulus menolong orang lain, cukup mencuri perhatian. Lelaki yang berprofesi sebagai apoteker ini ateis tapi merasa lebih religius dari para pastor dan tidak segan untuk mengecam mereka. Sejak diperkenalkan hingga novel disudahi, Homais adalah seorang pelanggar undang-undang sejati.
Sebagaimana lazimnya fiksi klasik yang dikisahkan dengan cara berbunga-bunga, novel ini menuntut semangat tinggi para pembaca. Penerjemah edisi Indonesia telah menghasilkan karya terjemahan yang mudah diikuti, tetap klasik tapi tidak kuno. Namun, napas panjang Flaubert yang menghasilkan deskripsi melimpah terasa sangat tumpat hingga memasuki bagian ketiga (dari tiga bagian) novel. Bisa dipastikan memasuki bagian ketiga, pembaca akan didorong untuk menuntaskan novel ini.
Setelah berumur lebih dari seratus lima puluh tahun, efek menggegerkan seperti kali pertama dipublikasikan sudah mengendap. Bukan karena publik telah mengenal novel ini secara intim, tapi karena perselingkuhan dan religiositas Katolik bukan lagi tema yang cukup mencuri perhatian. Meski begitu, ‘Madame Bovary’ tetap layak dibaca, paling tidak untuk mengetahui bagaimana fiksi klasik ini mampu memengaruhi banyak karya lain yang menyusulnya.
(Resensi: Jody Setiawan)
Detail Buku
Judul: MADAME BOVARY
Pengarang: Gustave Flaubert
Penerjemah: Santi Hendrawati
Tebal: 507 hlm.
Cetakan: 1, Juni 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Kesetiaan pada dusta adalah sesuatu yang tak bisa diterima, betapapun itu mungkin lebih nyaman bagi orang-orang berpandangan sempit dan tak punya prinsip (hlm. 455).
Sejauh yang diketahui publik, seumur hidupnya Albert Einstein hanya memiliki satu istri yaitu Elsa Löwenthal yang dinikahinya Juni 1919. Pada 1986 terungkap bahwa ternyata Einstein pernah menikahi Mileva Máric, ilmuwan Serbia yang tercatat sebagai wanita pertama yang belajar matematika dan fisika di Eropa. Mereka menikah di Swiss pada Januari 1903 dan bercerai enam belas tahun kemudian, setelah hidup terpisah selama lima tahun, Máric di Zurich sedangkan Einstein di Berlin. Dari pernikahan mereka, diketahui telah lahir dua putra, Hans Albert Einstein dan Eduard Einstein. Si bungsu Eduard dikenal sebagai pemuda cerdas dengan bakat musikal. Saat dalam proses mewujudkan impiannya menjadi psikiater, pada usia 20 tahun Eduard didiagnosis mengidap skizofrenia dan dirawat di rumah sakit jiwa Burghölzli di Zϋrich. Gangguan kesehatan mental yang dialaminya merenggangkan hubungannya dengan ayahnya. Albert Einstein (1879-1955) beremigrasi ke Amerika Serikat menjelang berkuasanya si kanselir Jerman Adolf Hitler menggantikan Presiden Paul von Hindenburg. Eduard tidak pernah berjumpa lagi dengan ayahnya hingga meninggal karena stroke pada usia 55 tahun, Oktober 1965. Berbarengan dengan terungkapnya pernikahan Einstein-Máric, terungkap pula sebuah fakta mencengangkan. Sebelum menikah pada Januari 1903, dari hubungan mereka telah lahir seorang anak perempuan yang dipanggil Lieserl pada Januari 1902. Lieserl menghilang setelah orangtuanya menikah secara sah, dan sampai saat ini tidak diketahui nasibnya.
Fakta yang berusaha dipendam dari masa lalu sang ilmuwan yang digadang-gadang sebagai Bapak Fisika Modern ini menjadi tempat berpijak novel bertajukThe Einstein Girl karya Philip Sington.
Dikisahkan Alma Siegel sedang mencari Martin Kirsch, tunangannya yang telah hilang selama dua minggu pada bulan Mei 1933 di Berlin. Seingatnya, Martin yang bekerja sebagai psikiater di Klinik Psikiatri Charité sedang merawat seorang pasien amnesia yang dikenal publik sebagai ‘The Einstein Girl’ (Gadis Einstein). Pasien tanpa nama itu ditemukan hampir tewas di sebuah hutan di Postdam dalam keadaan setengah telanjang dan basah kuyup. Tidak ada identitas yang ditemukan di tempatnya ditemukan kecuali sepotong kertas berisi pengumuman kuliah umum tentang Teori Kuantum di Philharmonic Hall dengan Albert Einstein sebagai pembicara utama. Hal inilah yang membuat media massa menamakannya ‘The Einstein Girl’.
Sebuah kilas balik yang merupakan bagian utama novel dibeberkan panjang-lebar gunamenelusuri jejak Martin Kirsch yang hilang. Sebagai psikiater yang berdedikasi tinggi, Kirsch yang tengah bergumul dengan penyakit neurosifilis, kecewa atas terapi yang dilakukan rekan sejawatnya. Sebelumnya, ia telah menulis sebuah makalah yang dipublikasikan di sebuah jurnal psikiatri sebagai kritik atas terapi tanpa dasar yang pasti itu. Tulisan ini ditambah insiden seorang pasien yang mendapatkan terapi insulin, membuatnya terancam dipecat dari pekerjaannya. Belakangan, Kirsch bertemu seorang pengagum tulisannya yang akan menyelamatkan pekerjaannya.
Kendati terancam dipecat, Kirsch berhasil menjadikan si Gadis Einstein sebagai pasiennya. Alasannya adalah ingin menyelidiki adanya kemungkinan amnesia yang disebabkan oleh gangguan kejiwaan, padahal sesungguhnya gadis itu bukanlah sosok yang asing baginya. Mereka pernah bertemu dan sekalipun sudah bertunangan, Kirsch tidak mampu menampik daya tarik gadis yang dikenalnya sebagai Elisabeth. Demi menolong Elisabeth memperoleh kembali ingatannya, Kirsch menggelar investigasi.
Di tempat Elisabeth tinggal setibanya dari Zϋrich, Kirsch mengetahui jika nama sebenarnya adalah Mariya Draganović. Perhitungan matematis yang ditemukan dalam sebuah buku catatan milik Mariya diteguhkan oleh rekan Albert Einstein sebagai upaya perumusan teori fisika baru, Teori Medan Terpadu. Yang menarik di sini, Albert Eisntein juga sedang meneliti topik yang sama. Tidak diragukan lagi, Mariya adalah wanita dengan kecerdasan luar biasa. Padahal, sampai saat itu, hanya ada dua wanita yang bisa menyerap penemuan Albert Einstein dengan mudah. Mereka adalah Marie Curie dan Mileva Marić, mantan istri Einstein yang bekerja sebagai pengajar di Zϋrich.
Penemuan Kirsch menuntunnya ke Zϋrich untuk bertemu Mileva Máric dan Eduard Einstein, si bungsu yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa Burghölzli. Mereka tidak sepenuhnya terbuka, namun Kirsch menemukan kaitan mereka dengan hidup Mariya. Sebuah fakta lain juga ditemukannya, bahwa sebelum pergi ke Berlin, Mariya pernah menjadikan dirinya pasien di rumah sakit jiwa Burghölzli.
Pertanyaan yang mungkin menyeruak adalah apakah Mariya Draganović adalah Lieserl yang sengaja disingkirkan dari kehidupan Einstein-Máric? Dalam sebuah sub-plot yang disampaikan menggunakan perspektif orang pertama, pembaca akan dibawa mengarung masa lalu Mariya untuk menemukan identitas sejatinya. Menyelami ke lubuk kehidupan Mariya yang enigmatis, Sington akan menyingkapkan sebuah kesetiaan pada dusta yang dilakukan dengan dalih melindungi kehormatan keluarga.
Daya pikat utama The Einstein Girl tidak terbantahkan lagi terletak padapenyingkapan selubung misteri yang meliputi kehidupan Lieserl Máric. Seusai memancing rasa penasaran pada beberapa halaman awal, Sington akan mendorong pembaca mengikuti cerita dengan alur yang tidak terburu-buru. Mungkin akan pembuat sementara pembaca tersendat-sendat, namun tidak bisa diungkiri, Sington mampu mendesak pembaca untuk bertanya-tanya. Apa yang dilakukan Mariya di Berlin hingga ia ditemukan dalam keadaan sekarat? Apa yang akan terjadi dengan penyelidikan Kirsch? Sebuah pamungkas disuguhkan untuk menyempurnakan ide ‘sang penulis’ sebenarnya dari cerita yang kita baca, bahwa: “Akhir suatu cerita haruslah dapat dipercaya atau pembaca akan merasa ditipu. Akhir yang tidak masuk akal akan merusak cerita yang bagus.” (hlm.360). Lantas, memanfaatkan kesalahpahaman yang terjadi sebelum novel benar-benar ditutup, Sington akan menerangkan maksud kalimat pembuka pada bagian “Tak Bernama” (hlm. 13).
Riset intensif seputar kehidupan Albert Einstein yang membawa Sington pada tumpukan arsip Jewish National & University Library di Yerusalem mendukung perwatakan Albert Einstein sebagai karakter yang tidak menimbulkan simpati. Pria yang dinobatkan majalah Time sebagai “Person of the Century” ini boleh tersohor karena kesuksesannya menggulingkan teori lama mengenai cahaya ―dari cahaya sebagai gelombang menjadi cahaya sebagai berkas partikel energi yang disebut kuanta.Tetapi ia juga tergolong manusia yang tidak mampu membangun hubungan dengan manusia lain, termasuk keluarganya sendiri. Tidak hanya terlihat dari pernikahannya dengan Mileva Máric (faktanya, masih terikat pernikahan dengan Máric, ia telah terlibat hubungan ekstramarital dengan Elsa Löwenthal), melainkan juga dalam caranya menyikapi cacat mental putra bungsunya. Disebutkan, Einstein tidak percaya jika penyakit Eduard berhubungan dengan dirinya. Seolah-olah mendukung, Sington menghadirkan pula kecondongan cacat mental dari pihak keluarga Máric. Ketidaksimpatikan si penerima Nobel Fisika tahun 1921 ini terlukis eksplisit dalam respos eksplosifnya terhadap kemunculan Mariya Draganović.
Kegemilangan Sington tampak pula ketika mengemas kompleksitas dunia psikiatri sebagai bagian signifikan novel dengan sokongan deskripsi yang memadai. Kita akan digiring mengenal lekuk-liku dunia yang bermuatan beragam ketidakpastian yang ditandai dengan ketidaksepahaman dalam pemberian terapi. Kita juga akan disadarkan betapa kerap penderita cacat mental menjadi bahan eksperimen dalam rangka penegakan kebenaran masing-masing psikiater. Sang protagonis ―Martin Kirsch― meyakini, salah satu metode untuk menangguk kembali kesadaran para penderita bukanlah menyiksa dengan terapi serampangan, melainkan dengan merangkul untuk menemukan dan memulihkan pemicu gangguan mental mereka.
Menghasilkan karya dengan sentuhan historis pasti tidaklah enteng. Pengumpulan informasi faktual demi menetaskan kisah dengan tingkat kepercayaan tinggi adalah sesuatu yang krusial. Namun, tanpa kepiawaian bertutur, kecermatan memadukan elemen historis dan produk imajinasi, ketangguhan membangun karakterisasi, usaha tersebut akan mubazir. Tampaknya, Philip Sington sangat menyadari hal ini, maka terbitlah The Einstein Girl sebagai karya fiksi yang sungguh laik untuk dibaca.
(Resensi: Jody Setiawan)
Detail Buku
Judul: THE EINSTEIN GIRL
Pengarang: Philip Sington (2009)
Penerjemah: Salsabila Sakinah
Penyunting: Zahra Ilmia & Anton Kurnia
Tebal: 528 hlm
Cetakan: 1, Mei 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
“Seorang ibu rumah tangga, sekaya apa pun, harus tahu bagaimana segala sesuatu harus dilakukan di rumahnya, kalau dia ingin dilayani dengan baik dan jujur.” (Gosip – halaman 21)
Sejak membaca novel Little Women, sudah jatuh cinta dengan kisah Bu March dan keempat anak perempuannya, Meg, Jo, Beth, dan Amy. Dan, membaca Good Wives semakin menebalkan rasa cinta itu. Bisa dibilang, membaca Good Wives serasa membaca buku harian milik sendiri. Banyak sisi kehidupan yang juga dialami para keluarga di penjuru dunia ini, diketengahkan dalam rangkaian jalan cerita.
Alur cerita dibuka dengan persiapan pernikahan si sulung Meg dengan pria tercintanya, John, dimana Bu March memberikan wejangan-wejangan kepada putri tercintanya, dalam menjalani kehidupan suami istri nantinya. Wejangan-wejangan yang disampaikan Louisa May Alcott melalui tokoh Bu March, sangat mengena dengan kehidupan nyata. Semua perempuan yang akan menikah pasti mengalami bagaimana ibunda tercinta memberikan wejangan untuk kehidupan berumah tangganya.
Dalam Good Wives, karakter para tokoh semakin matang. Misalnya saja Jo (tokoh cerita yang paling disenangi pembaca novel Little Women dan Good Wives), digambarkan menjadi wanita penuh semangat, mandiri, terutama dalam menekuni dunia kepenulisan yang disukainya. Sementara Amy, meski memiliki sedikit masalah dengan kakak-kakaknya, namun kedewasaan membuatnya tetap saling mencintai sebagai keluarga.
Tidak hanya sekedar menyajikan cerita-cerita yang penuh keceriaan, kecintaan, Good Wives juga menyajikan masa-masa sulit dan kehilangan anggota keluarga. Selain itu, Good Wives juga menyajikan kalimat-kalimat indah yang patut dikenang seperti misalnya : “Ibu-ibu memerlukan mata yang tajm dan lidah yang bijaksana ketika mereka punya anak-anak perempuan yang perlu diasuh.” (Sendirian – halaman 421). Good Wives memang pantas menjadi novel legendaris.
(Resensi: Indah Julianti Sibarani)
Detail Buku
Judul: GOOD WIVES
Penulis : Louisa May Alcott
Penerjemah : Rahmani Astuti
Cetakan: April 2010
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.