Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Di Indonesia, nama Francis Scott Key Fitzgerald mulai dikenal luas setelah salah satu karyanya, The Curious Case of Benjamin Button (2008), difilmkan dengan judul yang sama dan dibintangi oleh Brad Pitt dan Cate Blanchett. Dalam film besutan sutradara David Fincher itu, Fitzgerald terlihat dengan cerdas menggabungkan genre drama, romance, dan science fiction dalam satu karya utuh.
Fitzgerald sendiri adalah seorang penulis novel, cerita pendek, skenario film, esai dan puisi Amerika Serikat yang cukup tenar di dunia. Dia dikenal sebagai penulis terbesar abad ke-20. Empat novel karyanya yang terkenal adalah This side of Paradise, The Beautiful and Damned, Tender is the Night, dan The Great Gatsby. Sebagian besar karyanya tersebut mencerminkan kehidupan perkawinannya dengan Zelda Sayre yang penuh liku dan sebagian yang lain mengambil tema dan latar kondisi sosio-historis Amerika tahun 20-an.
Melalui masterpiece terbarunya berjudul The Great Gatsby, yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1925 ini, Fitzgerald kembali hadir dengan genre yang hampir mirip dengan novel-novel sebelumnya. Dalam novel yang pernah difilmkan sebanyak empat kali ini, Fitzgerald masuk dalam dunia perselingkuhan dari sebuah keluarga kaya dengan mengambil latar kehidupan sosial masyarakat New York pada “Era Jazz”, yaitu tahun 20-an, pasca terjadinya Perang Dunia I.
Novel ini bercerita tentang kehidupan glamour seorang lelaki misterius bernama Jay Gatsby yang dikisahkan oleh Nick Carraway, seorang pendatang baru di New York yang bekerja sebagai pialang saham yang kebetulan menjadi tetangga Gatsby. Keakraban antara Gatsby dan Nick pun terjalin begitu saja ketika suat hari Nick diundang oleh Gatsby untuk datang pada pesta dirumahnya.
Jay Gatsby, tokoh utama dalam novel ini, adalah seorang pemuda yang terlahir miskin, tapi kemudian berhasil meraih kekayaan dan mencapai status sosial sangat tinggi. Kerja keras Gatsby untuk menaikkan derajatnya ini sebenarnya dilatar belakangi oleh kegagalannya menikahi Daisy Buchanan, kekasihnya yang berasal dari Louisville, yang dijodohkan dengan Tom Buchanan karena alasan kekayaan. Sejak kejadian itu, Gatsby bertekad menjadi seorang yang kaya dengan tujuan untuk mendapatkan kembali cinta Daisy yang masih dipendamnya selama sepuluh tahun.
Setelah menjadi kaya, Gatsby membeli sebuah rumah besar di West Egg, yang sengaja dipilih karena lokasinya yang dekat dengan kediaman Daisy dan hanya terpisah laut. Dalam istananya tersebut, hampir setiap malam Gatsby menggelar pesta ‘kamuflase’ besar-besaran demi satu harapan agar suatu hari Daisy mau datang di pestanya, untuk melihat kesuksesannya sekarang dan untuk bersatu kembali dengannya.
Namun ternyata harapan Gatsby tersebut tak kunjung terwujud, Daisy tidak pernah menjadi bagian dari tamu-tamu yang menghadiri pesta dirumahnya. Tidak sabar dengan penantian tersebut, akhirnya Gatsby meminta bantuan Nick yang juga sepupu Daisy, untuk mengundang Daisy ke rumah Nick. Usaha itupun berhasil dan akhirnya Gatsby bisa bertemu kembali dengan Daisy. Meskipun kini ia telah bersuami dan memiliki seorang anak, namun Gatsby terus berjuang agar Daisy mau kembali kepangkuannya.
Namun, prahara baru muncul secara beruntun ketika Tom mulai mencium gelagat perselingkuhan isterinya dengan Gatsby. Meskipun Tom sendiri sebenarnya juga telah lama berselingkuh dengan Myrtle Wilson, isteri pemilik bengkel langganan Tom, namun ia tetap tidak bisa menerima jika Daisy juga berselingkuh dengan Gatsby.
Daisy yang berada dalam kebimbangan hati untuk memilih antara Tom dan Gatsby, akhirnya terlibat dalam sebuah kecelakaan yang membunuh Myrtle, kekasih gelap Tom, sepulang dari sebuah hotel menggunakan mobil milik Gatsby. Wilson, suami Myrtle, kemudian mendatangi kediaman Tom untuk mengorek informasi tentang pemilik mobil yang telah menabrak isterinya. Tanpa mengetahui bahwa yang menabrak Myrtle sebenarnya adalah Daisy, Tom memberitahu Wilson bahwa pemilik mobil tersebut adalah Gatsby. Tak lama, akhirnya Gatsby pun ditembak mati oleh Wilson di kolam renang yang baru pertama kali dinikmati di rumahnya.
Pada bagian akhir pasca kematian Gatsby, novel ini menghadirkan gambaran Jay Gatsby sebagai laki-laki yang berhasil mencapai mimpinya lewat tokoh Henry C. Gatz, sosok pria kalem yang mengaku sebagai ayah Gatsby kepada Nick.
Agak sulit memang jika saya harus menggambarkan secara detail kerumitan kisah percintaan yang terjalin di antara setiap tokohnya. Bahkan karena saking rumitnya, saya sendiri harus menonton film versi tahun 1974 oleh Jay Clayton untuk memperjelas gambaran imajinasi saya atas alur cerita dari novel ini.
Namun, sisi lain yang menurut saya menarik dari novel ini adalah kisah perselingkuhan yang berujung pada kematian Myrtle dan Gatsby yang diangkat oleh penulisnya. Bagaimanapun, ‘tradisi’ perselingkuhan yang dilakukan secara terang-terangan oleh beberapa tokoh dalam novel ini cukup menjadi gambaran betapa nilai sosial dan moral dalam sinisme, keserakahan, dan pemenuhan hasrat akan kesenangan duniawi telah mulai luntur pada saat itu.
Kiranya, point inilah yang menjadikan kisah dalam novel ini mendapat pujian dari The Washington Post sebagai “karya fiksi terbaik Amerika.” Maka, tidak mengherankan jika novel ini juga dijadikan sebagai referensi bacaan standar dalam pelajaran literatur Amerika pada sekolah menengah atas dan universitas di seluruh dunia. Bahkan, sejak pertama kali diluncurkan, cerita dalam novel ini telah mendapatkan berbagai kehormatan untuk diadaptasi ke dalam berbagai media seperti buku, opera, dan pertunjukan panggung.
Sebagai sebuah karya fiksi, novel ini sangat menghibur dan memikat sekaligus membingungkan, entah karena ceritanya yang memang njlimet atau karena terjemahnya yang kurang pas. Namun terlepas dari semua itu, Anda tentu juga mempunyai kesempatan yang sama untuk membuat penilaian dan memberikan perspektif tersendiri atas beberapa hal mendasar yang diangkat sebagai latar novel ini.
Walhasil, dengan packaging sampul yang menarasikan style glamorous tanpa harus melupakan kesan classic dan elegant ditambah dengan cerita yang cukup menantang, novel ini tentu semakin sayang jika harus Anda biarkan teronggok begitu saja di toko-toko buku tanpa anda miliki dan nikmati.
* Peresensi adalah Abdul Kholiq, penikmat buku, tinggal di Yogyakarta
Detail Buku
Judul: THE GREAT GATSBY
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Tebal: 356 hlm
Cetakan: I, Oktober 2010
Harga: Rp 29.000
The Great Gatsby adalah salah satu novel legendaris karya penulis Amerika F.Scott Fitzgerald (1896-1940). Ketika pertama kali terbit pada tahun 1925 novel ini tidak begitu populer dan hanya terjual kurang dari 25 ribu copy selama sisa hidup Fitzgerald yang meninggal pada usia 44 tahun.
The Great Gatsby dipublikasi ulang pada tahun 1945 dan 1953, barulah setelah itu novel ini menjadi sangat laris dan melambungkan nama Fitzgerald sebagai pengarang kelas dunia.Saking populernya novel ini juga banyak diadaptasi ke dalam film, drama, opera, dan sebagainya. Adaptasi film yang paling terkenal adalah produksi tahun 1974 yang dibintangi oleh Robert Renford yang hingga kini dinilai paling pas memerankan tokoh flamboyan Jay Gatsby.
Tak hanya itu saja The Great Gatsby juga dianggap menjadi novel terbaik sepanjang masa dan menjadi bacaan standard dalam pelajaran literatur Amerika. Selain itu penerbit terkemuka Amerika Modern Library memuji novel ini sebagai “Satu diantara dua novel terbaik Amerika” dan menempatkan novel ini dalam urutan ke dua setelah Ullysses (James Joyce) dalam Daftar 100 Novel Terbaik abad 20 yang disusun berdasarkan peringkat.
Di Indonesia sendiri nama Fitzgerald mungkin kurang dikenal, sebenarnya di tahun 1950 salah satu novel Firzgerald “The Last Tycoon” pernah diterjemahkan oleh Mochtar Lubis dengan judul “Orang Kaya”. Setelah itu namanya kembali terdengar ketika film “The Courious of Benjamin Button” (2008) yang dibintangi Brad Pitt dan telah diputar di Indonesia beberapa waktu yang lalu. Film tersebut merupakan adaptasi dari cerita pendek Fitzgerald dalam judul yang sama.
Lalu apa yang membuat The Great Gatsby menjadi begitu terkenal dan menjadi novel legendaris? Novel dengan setting New York di era tahun 1920-an ini menceritakan sosok Jay Gatsby seorang jutawan dari sudut pandang tetangganya, Nick Carraway, seorang pendatang baru di New York yang sedang merintis kariernya sebagai seorang pialang saham.
Nick tinggal persis di sebelah rumah Jay Gatsby yang secara rutin melakukan pesta-pesta di rumah mewahnya. Walau
Gatsby sering mengundang tetangga-tetangganya yang berasal dari kalangan atas untuk hadir di pesta-pestanya namun siapa sebenarnya sosok Gatsby tetap menjadi misteri bagi banyak orang sehingga banyak beredar gossip bahwa Gatsby adalah seorang panyeludup minuman keras, pernah membunuh orang, dan sebagainya.
Sebenarnya Gatsby sendiri adalah pemuda yang lahir dari keluarga miskin, namun akhirnya ia dapat meraih kesuksesan dan mencapai status sosial yang tinggi. Gatsby muda juga pernah menjadi seorang tentara pada saat Perang Dunia I berlangsung. Saat itu ia sempat menjalin kasih dengan Daisy (sepupu Nick Carraway) yang berasal dari kalangan atas, malangnya ketika Gatsby berangkat berperang Daisy menikah dengan Tom Buchanan seorang pria kaya dari Chicago.
Walau Daisy telah menikah namun Gatsby tetap mencintainya, patah hati karena kekasihnya sudah direbut orang tak membuatnya putus asa, setelah perang usai ia berusaha meraih kesuksesan agar ia dapat merebut kembali Daisy ke pelukannya. Setelah sukses Gatsby membeli sebuah rumah mewah di West Egg, Long Island, New York, rumah itu dipilihnya karena Daisy juga tinggal di bagian lain Long Island yang hanya terpisah oleh laut dengan rumahnya.
Agar dapat bertemu Daisy, Gatsby sengaja secara rutin menggelar pesta-pesta bagi kalangan atas dengan harapan Daisy akan datang ke pesta tersebut, sayangnya Daisy belum pernah sekalipun hadir di pesta-pestanya. Ketika mengetahui bahwa Nick Carraway yang tinggal di sebelah rumahnya adalah sepupu Daisy ia meminta Nick untuk mengundang Daisy ke rumah Nick.
Akhirnya Gatsby dan Nick berhasil bertemu, namun Gatsby akhirnya harus menerima kenyataan bahwa sesungguhnya Daisy tak lagi mencintainya. Walau rumah tangganya dibayangi oleh perselingkuhan suaminya, Daisy tetap memilih tetap bersama Tom, suaminya. Namun Gatsby tak menyerah begitu saja ia berusaha agar Daisy kembali ke pelukannya.
Secara garis besar kisahnya memang sederhana tentang bagaimana Gatsby berusaha memperoleh kembali cinta Daisy, namun jika kita membaca novel ini kita akan dapati bagaimana rumitnya sebuah hubungan cinta dan uniknya pergaulan antar kelas sosial masyarakat Amerika era di tahun 20-an yang dikenal sebagai era “Jazz Age”.
Di novel ini akan terungkap bahwa di masa itu banyak bermunculan orang kaya baru yang hidup dalam kemewahannya.Kehidupan mewah itu membuat lunturnya nilai-nilai moral terlebih dalam hal menjaga kesetiaan terhadap pasangan hidup. Selain tokoh Gatsby, Daisy, dan Nick, novel ini juga menghadirkan tokoh-tokoh lain dengan karakter-karakter yang unik yang sebagian besar menganggap bahwa perselingkuhan adalah hal yang biasa dan sepertinya telah menjadi rahasia umum dan sebuah gaya hidup baru bagi kalangan atas.
Jay Gatsby sendiri merupakan tokoh dengan karakter yang unik, dia merupakan sosok yang misterius, walau ia juga termasuk dalam golongan atas dan gemar mengadakan pesta pesta-pesta mewah ia tak pernah menyentuh minuman keras, dan walau dalam pestanya ia banyak dikelilingi oleh banyak wanita kaya namun Ia tetap setia pada cinta sejatinyapada Daisy. Hanya saja karena saat itu perselingkuhan adalah hal yang biasa Gatsby sepertinya melihat hal itu sebagai sebuah kesempatan untuk merebut kembali Daisy walau Daisy telah bersuami .
Di novel ini tampanya Fitzgerald benar-benar mendeskripsikan apa-apa yang terjadi di era tahun-20an dengan detail, banyak beberapa peristiwa, benda, sastra, teater, dan sebagainya yang disinggung di novel ini sehingga bagi kita akan jadi sebuah hal yang asing, untungnya novel ini menyertakan catatan kaki yang mencoba menjelaskan semuanya itu.
Cara Fitzgerald berhasil mendeskripsikannya dengan detail baik situasi dan pendalaman karakter tokoh-tokohnya
memang memberi warna tersendiri pada novel ini, namunakibatnya ada beberapa bagian yang jadi membosankan. Selain itu, walau tak banyak namun beberapa kalimat dalam novel ini membuat saya agak tersendat membacanya, apakah ini karena terjemahannya yang kurang tepat? Karena saya tak pernah membaca versi aslinya saya tak berani menyimpulkannya demikian.
Bersyukur karena akhirnya novel yang masuk dalam kategori sebagai novel terbaik di abad 20 ini akhirnya bisa kita baca dalam bahasa Indonesia dengan tampilan cover berbentuk komik yang indah namun tak meninggalkan kesan klasiknya. Jika sebelumnya mungkin novel ini hanya dibaca di kalangan terbatas yang melek sastra kini novel ini bisa dibaca di kalangan yang lebih luas lagi. Jika novel ini menjadi bacaan wajib dalam sekolah-sekolah di Amerika tentunya ada hal yang bemanfaat juga bagi pembaca di Indonesia secara umum ketika akhirnya buku ini diterjemahkan.
Bagi saya pribadi dengan membaca novel ini selain dapat memahami situasi sosial masyarakat New York di era tahun 20-an saya juga melihat bahwa walau novel ini ditulis lebih dari 80 tahun yang lalu namun kisahnya masih relevan hingga kini dimana kekayaan dapat meruntuhkan nilai-nilai sosial dan moral dalam sinisme, keserakahan, dan pemenuhan hasrat akan kesenangan duniawi. Apakah nilai-nilai sosial dan moral dunia sekarang tidak lebih baik dari 80 tahun yang lampau?
Sebagai catatan tambahan, saat ini The Great Gatsby mulai dibicarakan orang kembali, kabarnya industri film Hollywood akan memfilkan kembali novel ini. Sutradara Buz Lurhmann (Australia, Moulin Rouge) kini sedang mempersiapkan pembuatan film ini, dan aktor terkenal Leonardo de Caprio disebut-sebut akan berperan sebagai Jay Gatsby.
(Resensi: Tanzil Hernadi)
http://bukuygkubaca.blogspot.com/
Detail Buku
Judul: THE GREAT GATSBY
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Tebal: 356 hlm
Cetakan: I, Oktober 2010
Harga: Rp 29.000
Jay Gatsby, entah nama asli atau nama samaran atau nama yang telah diganti untuk kepentingan tertentu, adalah seorang lelaki kaya raya yang tinggal di sebuah mansion mewah di tepi teluk kawasan West Egg yang indah dan sunyi. Tak seorang pun yang tinggal di daerah itu mengenalnya dengan baik dan mengetahui asal – usul keluarganya. Yang diketahui oleh orang – orang yang mengenal namanya saja adalah pesta – pesta mewah yang selalu diselenggarakannya di tiap Sabtu malam dengan dansa, cerutu dan sampanye melimpah. Ia adalah sosok yang ramah, namun terkesan tertutup. Tak ada yang peduli dengan apa yang ia pikirkan dan rasakan. Orang – orang yang hadir di pestanya merasa sudah cukup hanya mengenal namanya saja seolah itu adalah tiket masuk pesta gemerlap yang diselenggarakannya. Maka tak heran jika segelintir orang pun mulai mengumbarkan cerita – cerita negatif tentang dirinya dan pesta yang diadakannya di tiap hari Sabtu.
Hingga suatu hari, Gatsby, begitu panggilan nama keluarganya, mengirimkan sebuah undangan pesta yang diadakannya di hari Sabtu berikutnya secara resmi kepada Nicholas Carraway, tetangganya yang tinggal di sebuah rumah sederhana dengan halaman rumput tak terawat. Nick pun senang karena merasa sebagai tamu terhormat bagi Gatsby. Sebuah undangan pesta yang membawa Nick melihat sisi lain dari kehidupan kalangan sosial atas. Sebuah undangan pesta yang perlahan mulai mengubah sejarah hidup Nick selanjutnya. Di pesta itu pun Nick bertemu dengan perempuan yang luar biasa dan juga misterius yang kelak menjadi kekasihnya, Jordan Baker. Dan dari Jordan pula Nick akhirnya mengetahui secara gamblang hubungan Gatsby dengan sepupunya, Daisy, di masa lalu serta retaknya rumah tangga Daisy dan Tom karena faktor perselingkuhan.
Nick adalah tokoh dilematis. Ia diciptakan oleh Fitzgerald, selain sebagai narator cerita, juga untuk menjadi saksi atas sebuah hubungan yang penuh intrik dan pengkhianatan sehingga ia sendiri pun mengalami kegagalan dalam urusan percintaannya sendiri. Di akhir kisah, kekasihnya – Jordan – bertunangan dengan pria lain. Gatsby merancang sebuah kejadian koheren untuk bertemu kembali dengan Daisy, sepupu Nick, melalui tangan Nick secara tidak langsung. Sebagai seorang lelaki dewasa, sudah seharusnya Nick dapat mengetahui arah dan maksud tertentu yang akan terjadi jika Daisy bertemu kembali dengan kekasih lamanya. Namun, Nick seolah dibuat tak berdaya dan merasa kasihan pada Gatsby hingga membiarkan kejadian itu terjadi, yang seharusnya bisa dicegah pada awalnya. Nick juga harus senantiasa meredam amarahnya terhadap kebohongan – kebohongan yang diutarakan oleh Gatsby. Selain itu, Nick pun seolah dibuat secara tak kasatmata layaknya malaikat saat ia menemani Tom, suami Daisy, bertemu Myrtle Wilson, selingkuhan Tom yang telah bersuami, di sebuah bengkel pinggir jalan yang penuh debu hingga flat yang dibelikan Tom secara pribadi untuk Myrtle.
Tokoh Nick yang seperti menuliskan buku harian dalam latar penceritaan kisah di buku ini seperti Fitzgerald asli yang sedang berusaha menuang semua pola pikir akan pandangannya terhadap masa hidupnya di waktu itu dalam buku ini. Ia menyayangkan kehidupan manusia yang keluar dari alur semestinya setelah melewati masa penderitaan perang. Ia menjadikan Nick, wujud fantasinya, sebagai orang yang mengutarakan isi hatinya untuk disebarkan kepada dunia luar agar orang – orang di luar sana mengetahui isi pikirannya. Sebuah pilihan yang cerdas.
Gambaran perselingkuhan dan aroganisme dalam tokoh Daisy dan Tom yang dideskripsikan Fitzgerald pun tampak sekali adanya kejenuhan terhadap kehidupan sosial kalangan atas yang monoton pada masa itu. Kedua tokoh ini mencari pelarian fantasi dengan menghalalkan berbagai cara hingga menyakiti orang – orang disekitar mereka. Hingga pada akhir cerita tak ada satu pun tokoh yang digambarkan memiliki akhir kisah yang indah dan berbunga. Akhir cerita yang mendeskripsikan secara nyata keadaan kehidupan di tahun 1920-an pasca Perang Dunia I yang penuh dengan intrik dan pelanggaran terhadap tatanan pola sosial masyarakat yang sarat akan kejenuhan dalam rupa keserakahan, sarkasme, dan hasrat akan kesenangan terhadap duniawi.
Saya tidak tahu citra seperti apa yang hendak dibangun oleh Fitzgerald terhadap tokoh Gatsby hingga memberi judul bukunya The Great Gatsby. Apa yang hebat dari Gatsby disamping kekayaan yang diperolehnya melalui cara yang kurang terpuji atau karena akhir hidupnya yang sangat singkat dan diakhiri dengan cepat secara tragis. Saya merasa adanya ketidakcocokan antara tokoh Gatsby yang dianggap menjadi sentral dalam cerita ini dengan judul The Great Gatsby pada buku ini.
Beberapa baris kalimat yang saya sukai dari buku ini:
Pesan yang tersirat dari buku ini membuatku teringat akan pesan Ratna Sarumpaet kepada putrinya, Atiqah Hasiholan, yakni: “Jangan pernah jatuh cinta pada suami orang.”
(Resensi: Beatrice Cynthia)
Detail Buku
Judul: THE GREAT GATSBY
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Tebal: 356 hlm
Cetakan: I, Oktober 2010
Harga: Rp 29.000
Sejarah bisa dijamah dari berbagai perspektif oleh beragam orang. Sehingga sesuatu yang telah menjadi konsensus umum kadang berubah karena dianggap belum sepenuhnya menggambarkan kejadian sebenarnya, meski telah dikisahkan turun-temurun selama ratusan bahkan ribuan tahun. Sejarah juga kerap menjadi alat politik, karena pihak yang berkuasa tak jarang berusaha mengendalikan sejarah untuk memperkuat kekuasaan mereka.
Semangat yang sama tercermin dalam karya perdana Daniel Levin, The Last Ember atau Bara Api Terakhir. Cerita berawal begitu saja ketika potongan Forma Urbis, peta kuno Roma dari batu muncul di sebuah pameran di Italia yang kemudian dimeja-hijaukan. Di pengadilan, Dr. Emili Travia yang bekerja di Pusat Konservasi Internasional PBB berusaha membuktikan bahwa kepemilikan Forma Urbis itu ilegal, sementara Jonathan Marcus, seorang pengacara muda dan alumnus program doktor di bidang studi klasik ditugaskan oleh kantor pengacaranya untuk mematahkan tuntutan tersebut.
Setelah diteliti lebih lanjut, pesan rahasia berusia ribuan tahun di bawah Forma Urbis yang bertuliskan Tropaeum Josepho Illumina: sebuah monumen yang ditujukan kepada Yosefus, tanpa sengaja terungkap oleh Marcus. Hal itu membuatnya meninggalkan tugas dan kembali bertualang bersama Emili, mantan kekasihnya, dalam dunia arkeologi, menelusuri labirin penuh rahasia dan menguak misteri demi misteri yang terbentang antara Roma dan Yerusalem, guna menyingkap keberadaan menorah tersebut.
Potongan tersebut kemudian oleh Marcus di bawa kepada Chandler Manning, ahli mistisme dunia kuno, yang diidentifikasi merupakan petunjuk tsurat ha-hidah: teka-teki simbolis, yaitu rujukan tersembunyi terhadap simbol monoteisme yang paling kuno berupa menorah tabernakel.
Benda tersebut berbentuk lampu suci becabang tujuh dengan api abadi setinggi tiga meter dan terbuat dari emas murni serta telah berusia 2.000 tahun yang (menurut kepercayaan) menjadi saksi atas perjanjian bangsa Israel dengan Tuhan, simbol perjanjian abadi bahwa keturunan Ibrahim akan sama banyaknya dengan jumlah bintang di langit dan pasir di tepi pantai.
Layaknya dalam film-film detektif, Marcus, Emili, dan Chander menguak satu demi satu petunjuk yang mengantarkan mereka lebih dekat kepada Menorah. Dimulai dengan petunjuk berupa sebuah tato bundar kecil dalam bahasa Latin dan Yunani yang melingkari pusar sang mayat wanita yang diawetkan berusia ribuan tahun bertuliskan Phere nike umbilicus orbis terranium: Kemenangan di pusat dunia.
Petualangan Marcus, sang animal symbolicum, dan Emili dalam memecahkan berbagai petunjuk ternyata tidak berjalan mulus. Di satu sisi ia harus berhadapan dengan sebuah jaringan intelijen zaman dulu yang telah bersumpah untuk melindungi artefak itu. Sementara pada sisi yang lain, Marcus juga dihadapkan pada satu kelompok radikal misterius yang berencana menghancurkan seluruh bukti sejarah yang berada di Bukit Baitallah (al Haram al-Syarif).
Cendekiawan hebat memiliki determinasi seorang pemburu, sifat inilah yang ditamankan dengan baik kepada sosok Marcus oleh penulis. Marcus pun terus berpacu dengan waktu untuk segera menemukan dan menyelamatkan Menorah tersebut sekaligus mengagalkan penggalian ilegal yang dilakukan oleh Dewan Wakaf di bawah Baitallah di Yerussalem demi menghapus warisan Yahudi-Kristen yang berusia ribuan tahun.
Kesan pertama yang muncul setelah membaca novel ini, harus saya akui bahwa Daniel Levin mampu membakar rasa penasaran pembaca lewat plot menegangkan dan penuh kejutan khas cerita thriller dengan balutan konspirasi dan penghianatan yang nampak kental mewarnai perburuan menorah ini.
Setiap kali salah satu tokoh sudah hampir mencapai saat-saat kritis, cerita kemudian berpindah pada tokoh lain dengan kasus yang lain pula. Teka-teki setiap tokoh seolah disimpan erat hingga saat-saat yang tepat untuk diungkapkan. Teka-teki inilah yang dibangun oleh penulis untuk bisa menjahit cerita dalam setiap lembarnya hingga halaman terakhir.
Berbekal latar belakang pendidikan penulis dalam bidang kebudayaan Romawi dan Yunani dari Universitas Michigan dan Sekolah Hukum Harvard serta kemampuan menulis yang baik membuat detail-detail yang digambarkan membawa fantasi pembaca seolah berada di tempat kejadian, menjadi bagian dalam perburuan. Mereka yang awam dengan sejarah Romawi dan Yerussalem sekalipun bisa terbawa mengalir melalui pengungkapan detail lokasi, suasana, dan bangunan yang ada.
Sisi lain yang menurut saya menarik dari novel ini adalah upaya penulis untuk melakukan apa yang dalam dunia ilmiah kita sebut sebagai historical criticism, kritik sejarah. Misalnya, lewat tokoh Marcus, sang penulis hendak menyampaikan bahwa sebenarnya menorah yang asli tidak pernah lepas dari tangan bangsa Yahudi.
Flavius Yosefus, yang selama ini dianggap sebagai pengkhianat Yahudi karena bekerja untuk Kaisar Titus setelah kejatuhan Yerusalem, ternyata seorang mata-mata hebat yang telah berhasil menyelamatkan menorah dari tangkapan pasukan Romawi. Sehingga menorah yang selama ini selalu berpindah tangan mengikuti pihak yang berkuasa, hanyalah duplikat dari menorah yang asli.
Sebagaimana pengakuan penulis, seluruh referensi naskah kuno dalam novel ini adalah nyata. Meskipun begitu, saya tetap menilai karya ini sebagai sebuah novel fiksi. Keseluruhan isi dalam novel ini saya anggap sebatas upaya penulis untuk menafsirkan simbol-simbol yang ada, murni dari perspektif dirinya sebagai seorang ahli hukum. Tapi tentu saja pembaca dapat membuat penilaian dan memberikan perspektif tersendiri atas beberapa hal mendasar yang diangkat sebagai latar persoalan novel ini.
Dari aspek isi, novel ini seirama dengan novel The Da Vinci Code karya Dan Brown, penyajian yang tajam, penuh dengan intrik, dan mencekam. Sehingga bagi anda para pecinta novel thriller, karya Daniel Levin ini sangat sayang jika harus dilewatkan. Selamat berpetualang!
* Peresensi adalah Abdul Kholiq, alumnus Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Detail Buku
Judul: THE LAST EMBER
Penulis: Daniel Levin
Penerjemah: Fahmi Yamani
Tebal : 573 hlm
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juni 2010
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.