The Vampire Diaries: The Fury

12 Jan 2011 Pada: Senarai, Terbaru

Detail Buku
Judul: THE VAMPIRE DIARIES
Anak Judul: THE FURY
Penulis: L. J. Smith
Penerjemah: Nengah Krisnarini
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Tebal: 286 halaman
Cetakan: I, Desember 2010
Harga: Rp 39.000

Elena: telah berubah, cewek populer ini menjelma menjadi sosok yang ditakuti sekaligus diinginkan.

Stefan: tersiksa karena kehilangan Elena, dia bertekad untuk mengakhiri permusuhannya dengan Damon untuk selamanya—apa pun risikonya. Namun, perlahan dia mulai menyadari kakaknya itu bukanlah musuh satu-satunya.

Damon: akhirnya, dia berhasil memiliki Elena. Namun, apakah keinginannya untuk membalas dendam kepada Stefan akan meracuni kemenangannya? Atau apakah mereka dapat bersatu untuk menghadapi pertempuran terakhir?

Fokus buku ketiga serial Vampire Diaries ini kembali ke sang tokoh utama, Elena. Gadis yang diperebutkan dua vampir bersaudara, Stefan dan Damon, kini sudah menjadi salah satu dari mereka. Stefan dan Damon menurut ketika Elena meminta mereka untuk bekerja sama mencari Kekuatan lain yang berada di Fell’s Church, yang sebelumnya telah menenggelamkan Elena di sungai dan membunuhnya. Pada akhirnya kekuatan itu pun merenggut nyawa Elena selama-lamanya.

L. J. Smith telah menerbitkan lusinan buku anak dan remaja. The Vampire Diaries terbit pertama kali pada 1991 dan kini menjadi salah satu serial TV yang paling digemari di Amerika Serikat.

Saat Korupsi Datang Menggoda

12 Jan 2011 Pada: Resensi Media Massa, Resensi Pembaca

Layaknya virus komputer, saat sistem terinfeksi korupsi, tidak sedikit waktu dan tenaga terbuang untuk membuatnya bersih kembali. Ini mengingat korupsi selalu berupaya menduplikasi diri, mencoba menular ke perangkat di sekitarnya yang masih bersih. Walhasil, jika dibiarkan korupsi bisa menyedot habis sumber daya, mengubah lingkungan sekitar jadi keropos, atau bahkan membusuk.

Ia dapat meminggirkan orang jujur yang bekerja penuh integritas dan menggantikan dengan orang yang bekerja serampangan namun jago suap sana suap sini. Novel Korupsi karya penulis ternama sastra berbahasa Perancis, Tahar Ben Jelloun, melukiskan lika-liku upaya penularan korupsi dari sistem yang sudah tercemar ke dalam kehidupan perangkat yang belum terinfeksi.

Berkisah tentang kehidupan Murad, Wakil Direktur Perencanaan dan Pembinaan Kementerian Pekerjaan Umum di kota Kasablanca, karya fi ksi ini memotret dilema moral yang dihadapi pegawai negeri saat melihat lingkungan sekitarnya terjangkit korupsi. Sebagai pejabat, Murad sadar keberadaan parafnya amat penting untuk meloloskan izin membangun.

Ia bangga dan berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya dengan hanya menandatangani berkas-berkas yang sesuai aturan. Hidupnya tidak terjebak politik suap berdalih keluwesan yang dipraktikkan asisten serta direkturnya. Akibat sikapnya, Murad dianggap seperti butiran pasir yang mengganggu kelancaran pergerakan roda mesin korupsi.

Tak ayal, pihak-pihak yang merasa kepentingannya terganggu mulai melancarkan aksi untuk mendongkel Murad dari jabatannya. Sementara itu, Hilma_istri Murad, sering marah-marah. Ia menganggap Murad bukan lelaki sejati karena Murad tidak punya keberanian menerima uang pelicin atau suap. Menyadari kedudukan penting suaminya di kantor, Hilma yang senang kemewahan tidak menerima kenyataan kalau gaji Murad hanya cukup untuk hidup sederhana.

Melihat kebutuhan hidup semakin banyak ditambah mendengar omelan Hilma, membuat Murad berpikir bagaimana cara agar keluarganya hidup layak. Dengan gelar insinyur, ia bisa mencoba melamar di perusahaan swasta. Kesempatan datang saat asisten Murad mengantar berkas izin membangun milik tuan Souanne. Di dalamnya terdapat amplop tebal berisi banyak lembaran uang dirham. Batinnya bergolak, nuraninya tersentak.

Ia tahu apa pun tindakan yang diambil akan memengaruhi kelangsungan prinsip hidup, keluarga, serta kariernya. Bagi Tahar Ben Jelloun, novel Korupsi merupakan tanda kehormatan dan dukungannya pada sosok Pramoedya Ananta Toer, pengarang besar Indonesia. Di tahun 1990-an penulis kelahiran Maroko yang tinggal di Prancis ini tergerak mengunjungi Pramoedya yang saat itu menjalani tahanan rumah di Jakarta dan dilarang menerbitkan buku.

Sayangnya, ketika tiba di Indonesia karena berbagai hal, niat tersebut tidak terlaksana. Namun Tahar sempat membaca novel Pramoedya berjudul Korupsi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis. Novel inilah yang kemudian mengilhami Tahar untuk menulis novel serupa dengan latar dan zaman berbeda. Pada akhirnya, baik di Indonesia ataupun di Maroko, terpisah oleh jarak yang beribu-ribu kilometer, dalam kesempatan yang tepat, virus korupsi bisa menggoda ke dalam jiwa-jiwa yang patah.

(Peresensi adalah Sahesty, alumni FIKOM Unpad yang bergiat di klub menulis Mnemonic, Bandung)

Dimuat di koran-jakarta

http://koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=72193

Detail Buku

Judul : KORUPSI

Penulis: Tahar Ben Jelloun

Penerjemah: Okke K.S. Jaimar

Penyunting: Anton Kurnia

Penerbit : Serambi

Tebal: 233 halaman

Cetakan : I, November 2010

Harga : Rp. 25.000

Korupsi, Sebuah Novel

12 Jan 2011 Pada: Senarai, Terbaru

Detail Buku

Judul : KORUPSI

Penulis: Tahar Ben Jelloun

Penerjemah: Okke K.S. Jaimar

Penyunting: Anton Kurnia

Penerbit : Serambi

Tebal: 233 halaman

Cetakan : I, November 2010

Harga : Rp. 25.000

Korupsi mengisahkan kebobrokan sistem birokrasi di Maroko, serupa dengan di negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Tokoh utama novel ini adalah Mourad, lelaki paruh baya beranak dua yang menjadi narator kisah hidupnya sebagai pegawai negeri cukup berkuasa yang jujur, tapi miskin (dalam arti hidupnya pas-pasan saja). Ia kemudian terjebak ikut arus menjadi korup pada usia 40-an karena berbagai tekanan ekonomi, psikologis dan sosial, terutama akibat cemoohan ibu mertuanya yang cerewet dan istrinya yang matre.

Novel ini menggambarkan dengan baik tarik-menarik jiwa Mourad saat bergulat antara memilih hidup jujur, tapi miskin (lebih miskin dari bawahannya yang korup, Haji Hamid, apalagi dari atasannya yang juga korup), atau menjadi pegawai korup yang banyak harta, tapi mengkhianati intgritasnya yang telah ia jaga selama puluhan tahun.

Kisah ini dijuga dibumbui cerita cinta Mourad dengan seorang janda cantik berhati baik yang lama ditaksirnya, Najia. Mereka tak pernah berselingkuh dalam arti bersanggama, tapi Najia yang masih sepupu jauhnya selalu menjadi pelabuhan damai bagi Mourad jika ia bertengkar dengan istrinya yang galak, cerewet dan matre, Hlima.

Seperti tokoh utama dalam novel Pramoedya, Bakri, yang kemudian menjadi koruptor karena tekanan kehidupan, akhirnya Mourad memilih ikut arus, menikmati uang negara demi kesenangan duniawi. Bukan hanya karena ia tergiur kehidupan mewah yang sebelumnya tak pernah bisa ia cicipi, tapi juga karena korupsi sudah merupakan suatu sistem kolektif yang sukar ditolak oleh seorang naif yang jujur semacam Mourad.

“Kisah yang bikin penasaran tentang godaan untuk menyeleweng dan menerima uang suap …”
—Publisher Weekly

“Penggambaran luar biasa tentang sebuah dilema moral …”
—Booklist

“Sekelas dengan novel-novel Albert Camus …”
—San Francisco Examiner and Chronicle

“Hanya ada yang dikejar, yang mengejar, yang sibuk, dan yang lelah.” (hal. 125)

Bagaimana jika suatu ketika kita mendapatkan sesuatu yang sangat istimewa lantas kehilangan tak berapa lama kemudian sebelum benar-benar memilikinya? Seorang pemuda 17 tahun yang telah jenuh dengan kehidupannya sebagai anak petani miskin yang tidak punya ambisi dan tidak sukses, suatu sore berjalan-jalan di pantai selatan Lake Superior. Telah setahun dia melakoni hidup sebagai pencari kerang, nelayan penangkap salmon, serta mengenal perempuan, tapi dia bukan siapa-siapa di Amerika. Dia bertekad menjadi seseorang yang berbeda dengan membuat nama baru.

Dan seperti dongeng, dia melihat Dan Cody—seorang jutawan perak dari Nevada yang telah berusia 50 tahun—sedang melabuhkan kapal pesiar Tuolomee-nya. Pemuda itu tersenyum ramah dan sang jutawan tua terkesan padanya, terjadi percakapan hingga Cody mengajak berlayar, dan menjadikannya orang kepercayaan. Ketika si ayah angkat wafat, pemuda itu menerima sejumlah warisan—walau tidak semuanya. Pemuda yang beruntung itu bernama Jay Gatsby.

Di mata Nick Carraway—narator novel ini—Gatsby tak ubahnya dengan Trimalchio, yakni seorang tokoh dalam kritik Petronius terhadap hedonisme berjudul Satyricon (54-68 M). Trimalchio adalah bekas budak yang mendadak kaya dan berkuasa. Dia mengadakan jamuan makan malam yang mewah dan mubazir. Seperti Trimalchio, Gatsby gemar mengadakan pesta mewah setiap pekan. Dia menghidangkan  berbagai makanan lezat dan minuman keras meski dia tidak ikut minum. Semua pesta pora yang menjadi perbincangan di kalangan pecandu hiburan di New York itu ternyata digelar Gatsby untuk mengundang seseorang dari masa lalunya sebelum dia dikirim ke medan perang.

Berkat bantuan Nick yang mengadakan sebuah acara minum teh, Gatsby bertemu kembali dengan Daisy, kekasihnya yang telah menikah dengan teman kuliah Nick bernama Tom dan mempunyai seorang anak perempuan. Walau begitu, Gatsby tetap bersikeras bahwa Daisy hanya mencintainya—dia menikah dengan Tom karena terpaksa setelah kehilangan Gatsby. Sebenarnya, di dalam hati, Daisy memang menginginkan Gatsby, bahkan gara-gara cinta yang keras kepala itu, dia tidak menyukai bayi perempuannya. Skandal di balik skandal akan dibuat, namun sebuah peristiwa buruk terjadi.

The Great Gatsby yang berlatar kota New York dan Long Island tahun 1920-an ini merupakan karya terkenal F. Scott Fitzgerald selain “The Currious Case of Benjamin Button”. Pertama kali dipublikasikan pada tanggal 10 April 1925—pada awalnya tidak terlalu terkenal, namun setelah dipublikasi ulang pada tahun 1945 dan 1953, novel ini menjadi sangat laris, dan kadang-kadang dipandang sebagai novel terbaik Amerika. Seperti halnya “The Currious Case of Benjamin Button” yang telah difilmkan dengan Brad Pitt berperan sebagai Benjamin, The Great Gatsby juga telah diangkat ke pertunjukan opera dan film, di antaranya film produksi tahun 1974 yang dibintangi oleh Robert Redford, Mia Farrow, dan Sam Waterston.

Novel yang menjadi bacaan wajib dalam sastra Amerika ini memotret kehidupan sosial masyarakat Kota New York pasca-Perang Dunia I. Di dalamnya digambarkan kehidupan orang-orang yang sangat terobsesi untuk memuaskan hasrat duniawi dengan pamer status, kekayaan, pesta, dan petualangan cinta yang menunjukkan memudarnya nilai-nilai moral dan sosial. Memang, pada saat itu perekonomian Amerika sedang mengalami kemajuan pesat dengan banyaknya orang kaya baru dengan kehidupan yang glamour. Pada saat yang sama dikeluarkan larangan menjual dan mengkonsumsi alkohol sehingga masyarakat setempat mencari pelampiasan.

Melalui Nick yang agak naif, kita dibawa menelusuri petualangan Jay Gatsby dalam kehidupan bernuansa jazz. Nick tidak terlalu mempercayai kisah Gatsby, terutama tentang harta warisan yang dimilikinya, kuliah di Oxford, dan penghargaan yang diperolehnya karena berperang. Namun, Nick bersimpati melihat bagaimana Gatsby berusaha untuk mendapatkan apa yang nyaris dia miliki di masa lalu. Membeli—atau menyewa—rumah mewah yang berdampingan dengan rumah kecil yang disewa Nick, hanya untuk melihat kerlip lampu berwarna hijau—lampu di depan rumah Daisy—di seberang teluk.[]

(Resensi: Ragdi F. Daye)

>> Dimuat dalam harian Haluan edisi Minggu, 26 Desember 2010

Detail Buku
Judul: THE GREAT GATSBY
Penulis: F. Scott Fitzgerald
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Tebal: 356 hlm
Cetakan: I, Oktober 2010
Harga: Rp 29.000

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi

Flickr PhotoStream

    flickrRSS probably needs to be setup