Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Kemerdekaan manusia ibarat sayap yang dapat membawanya naik tinggi ke atas. Namun, sayap tersebut tidaklah senormal sayap biasa. Sayap itu berluka.
Menurut Prof. Driyarkara, seorang manusia yang merdeka mempunyai kekuasaan atas diri sendiri dan perbuatannya. Namun, jika kemerdekaan diibaratkan sepasang sayap, maka apa yang dimiliki seorang manusia merdeka tidaklah sesempurna sayap seekor burung. Ada luka pada sayap tersebut, yang bukan berasal dari luar melainkan akibat kodrat yang melekat padanya. Kemerdekaan manusia pun terbelenggu—membuatnya tidak bisa terbang setinggi-tingginya. Inilah paradoks dalam kehidupan manusia.
Sebagai makhluk yang mempunyai kehendak, manusia bisa melakukan apa saja. Ia merdeka berkehendak, yang artinya bebas memilih untuk melakukan sesuatu atau tidak sesuai keinginannya. Akan tetapi, manusia terbelenggu kodratnya sendiri, yang menyebabkan sebuah kehendak tidak bisa dilakukan. Oleh karena itu, proses kehidupan manusia merupakan upaya menanggalkan belenggu tersebut; bahasa Prof. Driyarkara, “Kemerdekaan yang harus dimerdekakan.” Dengan kata lain, hal ini merupakan laku untuk menuju kebahagiaan sejati.
Novel Firebelly karya J.C. Michaels mencerminkan pergumulan tokoh “aku” demi menggapai kebahagiaan yang hakiki, sebagaimana persoalan yang dikemukan Prof. Driyarkara di atas. Firebelly adalah seekor katak perut api berkaki cacat yang rendah diri. Semula, ia tidak berharap menjalani hidup di luar wadah pajangan toko tempat tinggalnya, hingga pilihan itu menjelma sendiri. Seorang anak perempuan datang menjemputnya untuk menjalani hidup sebagai hewan piaraan. Pilihan yang semula diambilnya dengan setengah hati (ketika ia memutuskan masuk ke dalam jaring), tapi belakangan disyukuri. Aku melompat ke atas batu-batuan besar dan berpura-pura memiliki kerajaan katak sendiri. Aku hampir tidak percaya bahwa semua ini hanya untukku (hal 101).
Tentu saja, perubahan tersebut sangat melenakan. Firebelly hampir saja merasa telah mencapai surga bahagia, jika kodratnya sebagai katak tidak tiba-tiba mengusik. Firebelly tergoda pada dunia di luar kaca sana, tempat dimana ia bisa melompat sepuasnya dan, “Apa yang terbentang di depan seekor katak yg berada di dalam wadah yang nyaman? Aku tidak tahu. Namun, apa yang terbentang di luar sana? Apa saja, semuanya (hal 144). Firebelly mendapati dirinya berdiri di depan cecabang jalan, harus segera menentukan pilihan; ingin tetap berada di dalam atau di luar. Ia pun memilih salah satu yang dianggapnya sanggup memberikan kebahagiaan tertinggi. … Jika aku dapat berada di atas panggung kehidupan dan bukan sekadar mengamatinya dari balik kaca–aku akan melakukannya–aku akan memilih menjadi liar… Jika aku tinggal di luar, jika aku bebas… tidak ada orang yang akan membuat keputusan yang tidak diinginkan untukku. Pilihan mau pergi ke mana dan mau tinggal berapa lama akan sepenuhnya menjadi pilihanku (hal 145-153).
Labirin Kebebasan
Menjadi katak liar di tengah alam bebas ternyata tinggal menjadi cita-cita yang kandas. Pilihan tersebut justru menjerembabkan si katak cacat ke dalam mimpi buruk yang lain. Ia terjebak di dalam sebuah mobil sewaan—setelah berhasil kabur dari sekapan toples ketika akan dipindahkan ke rumah baru. Ia pun didera kesepian dan keterasingan hingga sebuah kesempatan datang lagi. Melalui seorang gadis remaja bermasalah, hidup kembali menawarkan pilihannya. Di hadapan sang gadis, Firebelly melakukan lompatan paling besar seumur hidupnya. Ia menentukan pilihan terakhirnya; menunjukkan kepeduliannya sebagai seekor katak yang menyadari, “…mungkin mereka tidak membutuhkan sesuatu yang lain untuk mereka perhatikan, melainkan sesuatu—atau seseorang—untuk memperhatikan mereka” (hal 78).
Tak jauh berbeda dengan apa yang dialami si katak, manusia pun kerap tersesat di dalam labirin yang sama. Ingin merasakan hidup yang bebas merdeka, tapi masih terbelenggu oleh nafsunya sendiri. Pilihan untuk melakukan atau menjalani sesuatu memang berada di tangan manusia—di sinilah ia sering merasa telah merdeka—tapi ia melupakan bahwa apapun pilihan yang kelak diputuskannya terjadi karena ada dorongan untuk merasakan kebahagiaan yang sejati. Sebuah dorongan kodrat yang tidak dapat dipadamkan dan membuatnya terpaksa tunduk dan terikat. Ia pun tidak berdaulat lagi; tidak merdeka.
Di sisi lain, merdeka juga tidak berarti keliaran. Manusia yang merdeka bukan bermakna seseorang yang bisa bertindak semaunya, sesuka hati. Firebelly telah menuai pelajaran berharga dari keinginannya menjadi katak liar. Pun, Claire, gadis remaja pemberontak, yang menjadi majikan keduanya. Claire memutuskan untuk menguatkan kebebasannya di dunia dengan menjadi tidak rasional, bertindak dengan cara yang tidak bisa dijelaskan atau dipahami… Dia ingin menciptakan kekacauan sebanyak-banyaknya (hal. 258). Keliaran ternyata tidak membuat keduanya merasakan kemerdekaan, justru terjerumus dalam lembah keterasingan. Sebab, kemerdekaan tidak sama dengan perbuatan yang merdeka atau sesuka hati, melainkan merujuk pada kedaulatan, menguasai diri sendiri.
Seharusnya, kemerdekaan dapat menjadi sayap yang membawa manusia pada cita-cita tertingginya; kebahagiaan hakiki. Namun, salah menentukan pilihan bisa berakibat fatal; bukannya terbang tinggi, malah jatuh terjerembab. Demi mencapai kemerdekaan yang sejati, diperlukan transformasi yang tidak mudah. Firebelly mendapatkan kesadaran dan kekuatan bertransformasi itu setelah melalui penderitaan; menjadi katak kesepian yang terasing. Hal yang sama dialami pula oleh Claire.
Manusia adalah pribadi yang berdiri sendiri, tapi juga tergantung pada alam dan masyarakat. Dengan demikian, seharusnya ia tidak mengikuti kecenderungan sifat individualistisnya, melainkan menerima dan membuka diri dengan manusia lain agar kepribadiannya berkembang. Firebelly membutuhkan keberadaan Claire demi memperkuat keberadaan dirinya, menyempurnakan dirinya sendiri, menuju kebahagiaan sejati. Yaitu, kebahagiaan memberikan diri sendiri dalam kecintaan. Pada titik ini, ia telah berhasil menyembuhkan luka, melompat melewati kodratnya; sebuah perubahan menjadi ruh yang mulia, jiwa yang besar dan hati yang hidup. Dengan kata lain, Firebelly telah menyempurnakan laku di dunia.[***]
(Peresensi: Anin Siswanto)
Detail Buku:
Judul: FIREBELLY
Tagline: … kadang kehidupan kita dibelokkan oleh sesuatu yang begitu sederhana dan tidak penting seperti seekor katak buntung …
Penulis: J. C. Michaels
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Tebal: 328 hlm
Cetakan: I, September 2010
Harga: Rp 49.000
Novel Korupsi ini ditulis oleh Tahar Ben Jelloun, seorang penulis dan penyair asal Maroko yang menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Perancis. Novel ini mendapat ‘tempat’ tersendiri di kalangan sastrawan tanah air karena karyanya ini terilhami oleh novel “Korupsi” karya pengarang besar Indonesia Pramoedya Ananta Toer.
Pada awal tahun 1990-an Tahar Ben Jelloun berkunjung ke Indonesia. Saat itu ia ingin sekali bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer yang sangat dikaguminya. Karena saat itu Pram tengah menjalani tahanan kota dan “demi kebaikan Pramoedya” maka ia mengurungkan niatnya untuk bertemu Pram. Namun walau tak sempat bertemu muka dengan Pramoedya, selama di Jakarta ia sempat membaca terjemahan bahasa Perancis novel Korupsi karya Pramoedya yang akhirnya mengilhaminya untuk menulis novel serupa dengan latar Casablanca, Maroko.
Pada tahun 1994 novelnya diterbitkan dengan judul L’Homme Rompu (Lelaki yang Patah). Dengan permainan kata “Rompu”(patah) adalah “corrompu” (korup)yang ia persembahkan untuk Pramoedya, tidak itu saja sebagian royalti dari penjualan novel ini juga ia berikan kepada Pramoedya. Sebagai ungkapan terimakasihnya Pramoedya mengirimkan sepucuk surat pribadi yang menurut Tahar “ditulis dengan sangat indah”. Kini 16 tahun kemudian barulah novel Tahar ini diterjemahkan langsung dari bahasa Perancis dan diberi judul yang sama persis dengan novel Pram yaitu ‘Korupsi’.
Dalam novelnya ini Tahar mengisahkan tokoh Murad, seorang Insinyur lulusan perguruan tinggi di Perancis yang bekerja di Kementrian Pekerjaan Umum di Casablanca, Maroko. Ia adalah wakil direktur Perencanaan Pembangunan dan Pembinaan, salah satu tugasnya adalah mempelajari berkas pembangunan yang diajukan ke kementrian PU. Tanpa parafnya tak ada izin membangun, Namun walau posisinya cukup tinggi gaji Murad tak mencukupi untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.
Sebenarnya jabatan dan pekerjaannya yang ‘basah’ sangat memungkinkan ia memperoleh uang suap dari pihak-pihak yang membutuhkan legalitas dari dirinya, namun Murad memiliki prinsip untuk bekerja secara jujur dan tidak melakukan korupsi sehingga di kalangan rekan-rekan kerjanya ia mendapat reputasi sebagai “manusia besi”.
Sayangnya prinsip yg dipegang teguh oleh Murad tak sejalan dengan istri dan lingkungan kerjanya. Hilma, istrinya selalu mengomel dan menuntut ini dan itu, Hilma juga sering membandingkan kehidupan mereka dengan Haji Hamid, asisten Murad yang walau gajinya lebih kecil dari Murad namun Hamid lebih kaya daripada mereka.
Keteguhan Murad untuk bekerja secara jujur juga membuat ia menjadi ganjalan bagi rekan-rekan kerjanya yang berusaha mendongkel Murad dari kedudukannya. Ketika atasan maupun asistennya melakukan korupsi maka perilaku Murad yang bersih justru dianggap aneh sampai-sampai direkturnya sendiri memberi wejangan agar Murad lebih ‘luwes’ dalam bekerja dan memberikan alasan-alasan yang masuk akal agar Murad juga melakukan korupsi seperti mereka.
Kehidupan ekonomi keluarganya yang serba kekurangan, salah satu anaknya yang sakit-sakitan, tekanan dari istri dan rekan-rekan kerjanya yang terus menggodanya agar melakukan korupsi lambat laun mulai menggoyahkan keyakinannya.
Iman dan keteguhan prinsipnya benar-benar diuji ketika didalam sebuah berkas yang harus ditandatanganinya terdapat segepok uang dirham. Ketika itu hatinya galau karena uang itu lebih dari cukup untuk melunasi hutang-hutangnya sekaligus untuk mengobati anaknya, namun jika uang itu diambilnya maka runtuhlah prinsip anti suap/korupsi yang selama ini ia pegang teguh.
Tahar Ben Jelloun mengemas kisah Murad ini dengan memikat dan begitu hidup, pergolakan batin Murad terdeskripsi dengan sangat baik sehingga pembacanya diajak merasakan kegalauan hatinya dalam mempertahankan prinsipnya. Wejangan panjang lebar dari atasan Murad yang mencoba merasionalisasikan tindakan korupsi terkesan begitu masuk akal dan meyakinkan sehingga tak hanya Murad tapi pembaca novel inipun mungkin akan sedikit membenarkan apa yang dikatakan direkturnya itu.
Kehidupan sosial masyarakat Casablanca dan suasana kota, angkutan umum, lalu lintas, dan perilaku korupsi yang terdapat dalam novel ini juga terasa memiliki banyak kesamaan dengan kota-kota besar di Indonesia sehingga pembaca sejenak akan lupa kalau setting kisah Murad itu berada ribuan kilometer dari Indonesia. Tak heran rasanya kalau Casablanca ini merupakan sister city dari Jakarta, dimana suasana kota dan perilaku korupsi pegawai negerinya memiliki kesamaan.
Munculnya tokoh Nadia seorang janda cantik yang merupakan selingkuhan Murad turut mewarnai novel ini. Bagi Murad hanya Nadialah yang mengerti akan prinsip yang dianutnya sehingga bisa dikatakan Nadia tempat dimana dia bisa melepaskan ketegangan yang dialminya baik di rumah maupun di pekerjaannya.
Melalui perselingkuhannya dengan Nadia ini maka Murad tidak digambarkan sebagai seorang manusia sempurna, di satu sisi ia begitu kokoh mempertahankan prinsipnya sebagai pegawai yang ‘bersih’ namun di satu sisi ia memiliki kelemahan dalam hal wanita. Moralitasnya hanya pada negara namun hal ini tidak berlaku dalam hal hubungannya dengan wanita.
Walau sepertinya novel ini merupakan novel yang menyiratkan sebuah pesan moral pada pembacanya namun untungnya kita tak akan terasa digurui karena Tahar menuliskannya dalam ruang pergulatan batin Murad sebagai tokoh utamanya.
Pergulatan batin Murad dalam mempertahankan prinsipnya dan bagaimana ketika akhirnya ia harus mengambil resiko atas keputusan yang diambilnya, serta kisah cintanya dengan Nadia mengalir tanpa jeda di novel ini. Sepertinya memang penulis tak memberi kesempatan bagi pembacanya untuk berhenti membacanya karena novel setebal 231 halaman ini ditulis tanpa ada pembagian bab. Untungnya kemahiran Tahar dalam merangkai kisah dengan lugas, tidak bertele-tele ditambah dengan terjemahan yang enak dibaca membuat novel ini memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi sehingga beberapa pembaca mungkin akan menghabiskan novel ini dalam sekali duduk.
Novel ini juga merupakan cerminan kehidupan birokrasi masyarakat Indonesia yang dikenal sebagai negara dengan tingkat korupsi yang tinggi karena korupsi sudah mendarah daging dan menjadi sebuah hal yang wajar. Di novelnya ini pada akhirnya Tahar memberikan gambaran pada kita bagaimana seorang yang memiliki prinsip yang teguh untuk bekerja secara ‘bersih’ harus melawan arus dan menghadapi berbagai tekanan dan sistem yang membuat perilaku korupsi menjadi begitu mudah dan mentradisi.
Selain tekanan lingkungan dan sistem, seseorang yang seperti Murad juga mungkin bisa dikalahkan oleh karena kemiskinan yang dialaminya, hal ini sesuai dengan apa yang ditulis Tahar dalam kata pengantarnya bahwa “Di bawah langit yang berbeda, dan berjarak beribu-ribu kilometer, ketika didera oleh kesengsaraan yang sama, kadang-kadang jiwa manusia menyerah pada setan yang sama” (hal 12)
@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com/
================================
Detail Buku
Judul : Korupsi
Penulis : Tahar Ben Jelloun
Penerjemah : Okke K.S. Zaimar
Penerbit : PT Serambi Ilmu Semesta
Terbitan : I, November 2010
Tebal : 232 hlm
Mendiskusikan wacana relasi gender akan terasa melelahkan sekaligus mengasyikkan. Melelahkan karena seakan-akan perbincangan ini tidak akan pernah mencapai titik akhir. Mengasyikkan karena kajian ini akan selalu memunculkan wacana dan perspektif baru dengan jargon yang terus berkembang, sehingga kita tidak pernah jenuh membahasnya.
Kondisi inilah kiranya yang dirasakan oleh Hani Naqshabandi, seorang pengarang, penyair sekaligus kolumnis dari Arab Saudi yang sehari-harinya bekerja sebagai pimpinan redaksi sebuah majalah keluarga berbahasa Arab Al-Sayyidati, yang berkantor di London, untuk menyusun novel yang di angkat dari kisah nyata ini.
Memoar Sarah, sosok wanita yang mulai memasuki usia yang ke tiga puluh satu, dalam novel ini bermula ketika ia membaca sebuah majalah perempuan dengan tema utama “pengkhianatan keluarga” yang secara khusus membicarakan masyarakat Arab Saudi. Karena merasa tidak mendapatkan sesuatu yang semestinya ia dapatkan dari paparan dalam majalah tersebut serta dianggap belum mampu mewakili fenomena pengkhianatan keluarga dalam masyarakatnya, untuk kali pertama kemudian Sarah memutuskan untuk menulis surat kepada Hisyam, sang pimpinan redaksi majalah tersebut.
Surat pertama dan kedua Sarah masih murni berisi tanggapan atas tema pengkhianatan keluarga. Berlanjut kepada surat yang ketiga, Sarah mulai mengisahkan kehidupan pribadinya, kondisi keluarganya yang berbeda persepsi soal pemahaman agama, hingga saat di mana Sarah dilamar oleh Khalid, sosok yang oleh Sarah dianggap sebagai orang yang berbudaya dan terpelajar namun ternyata berperilaku sebaliknya.
Dari sini, surat-surat Sarah pun terus bergulir bak bola salju. Isi suratnya pun semakin bertambah panjang dan melebar karena selain mengisahkan kehidupan rumah tangganya yang gersang, Sarah juga menyingkap sisi terdalam jerit batin teman-temannya yang juga mengalami kegagalan dalam berkeluarga.
Selain disuguhi kisah hidup Sarah dan teman-temannya, novel ini juga menceritakan kisah cinta antara Hisyam dengan Isabel, mahasiswi kajian ketimuran yang sedang meneliti tentang seberapa besar pengaruh tradisi kebudayaan Arab-Timur kuno terhadap kebudayaan Timur modern. Hisyam, yang dalam berbagai tulisannya kerap membela perempuan, namun dalam kesehariannya ia digambarkan sebagai sosok lelaki mata keranjang yang suka mempermainkan wanita, termasuk Isabel dan juga Claudia, seorang wanita asal Italia yang juga menjadi kekasih Hisyam.
Salah satu kelebihan dari novel ini adalah kelihaian penulis dalam mengartikulasikan alur cerita di dalamnya yang seolah mengajak para pembacanya untuk mencuri ciuman, pandangan, dan senyuman yang penuh birahi dari orang lain. Tidak berlebihan kiranya jika novel ini saya anggap sebagai karya erotika. Dan jangan heran jika kemudian novel ini mengundang kontroversi di negeri asalnya. Berikut saya kutipkan salah satu bagian dari isi surat yang dikirimkan oleh Sarah kepada Hisyam:
Khalid kembali berbaring telanjang di bawah selimut,kemudian menagih haknya dengan gaya seperti pada malam sebelumnya. Lelaki yang bersikap lembut sebentar itu telah berubah menjadi seorang pedagang yang meminta barang yang sudah dibelinya.
Malam itu adalah malam tersulit bagiku. Aku tidak ingat apa-apa selain tindihan dan tekanan yang kuat, kemudian darah mengalir dari bagian tertentu tubuhku, padahal aku masih mengenakan baju katun. Aku tidak bisa menolak. Bersama selaput dara yang dirobeknya secara paksa dan kasar, kemanusiaanku juga ikut dirobek. Kehidupan masa lalu berakhir tragis dan kehidupan masa depan pun dimulai dengan tragis. Harapan dan impian hampir mendekati titik nadir. (hal. 275)
Di tempat lain, sang penulis juga mendeskripsikan rutinitas Sarah dengan kata-kata imajinasi yang menggairahkan: Sarah melemparkan tubuhnya ke atas ranjang sehingga kayu gaharu, yang tadi dibakar dengan bara apai, beterbangan ke mana-mana. Tiga perempat tubuhnya tersingkap hingga pangkal paha atas. Sarah merasakan cawan minuman menyentuh pipinya. Ia pun mengangkat kepala, lalu melihat sang kesatria yang hendak merangkak naik ke atas ranjang…Ia merasa bahwa sang kesatria sedang menyentuh tubuh telanjangnya. Tak lama, Sarah pun mencapai puncak orgasme. (hal. 447)
Kelebihan lain yang sekaligus menjadi kelemahan dari karya ini adalah isi novel yang lebih banyak menggunakan corak naratif yang dituangkan dalam bentuk surat-menyurat yang mana di satu sisi seolah pembaca yang menerima surat langsung sekaligus menjadi pihak yang diajak curhat dari sosok Sarah, namun di sisi lain juga akan menjadikan pembacanya cepat bosan ketika menikmati novel ini sebagai efek dari corak penulisan naratif yang meminimalisir adanya dialog dalam setiap bagiannya.
Dengan demikian, sejatinya keberadaan novel Perempuan Terpasung ini menegaskan kembali bahwa tradisi penguburan hidup-hidup perempuan yang pernah terjadi pada perempuan-perempuan Arab sebelum kehadiran Islam masih tetap ada hingga saat ini. Ya, penguburan hidup perempuan pada zaman modern di liang kubur adat kebiasaan dan tradisi-tradisi masa lalu.
Membaca karya Hani Naqshabandi ini, seolah kita diingatkan pada apa yang pernah diungkapkan oleh Fatima Mernissi dalam salah satu karyanya bahwa: “Jika hak-hak wanita merupakan masalah bagi sebagian kaum lelaki muslim modern, hal itu bukanlah karena al Qur’an ataupun nabi, bukan pula karena tradisi Islam, melainkan semata-mata karena hak-hak tersebut bertentangan dengan kepentingan kaum elit laki-laki.” Atau mungkin juga ‘dipaksa’ mengakui apa yang sempat dilontarkan oleh Simon de Beauvoir bahwa kaum perempuan adalah makhluk ‘the second sex’.
Akhirnya, selamat membaca dan bercermin dari jeritan batin para perempuan Muslim Arab Saudi! Semoga mampu memberi inspirasi.
Peresensi : Abdul Kholiq
* Pustakawan dan alumnus Fakultas Ushuluddin, Studi Agama dan Pemikiran Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
======================================
Detail Buku
Judul Buku : Perempuan Terpasung: Gejolak Cinta di Balik Cadar
Penulis : Hani Naqshabandi
Penerjemah : Taufiq Damas
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Tebal : 478 Halaman
Cetakan I : Agustus 2010
Harga : Rp. 47.200,-
Endah Sulwesi, Marketing Komunikasi Serambi(kanan) dalam Obrolan Pembaca Media Indonesia. OPMI membahas buku Korupsi karangan Tahar Ben Jelloun ( Serambi, 2010) di Kantor Media Indonesia, Kedoya, Jakarta Barat, Sabtu(18/12/2010)
OBROLAN Pembaca Media Indonesia pada Desember 2010 membahas novel berjudul Korupsi. Buku ini karya Tahar Ben Jelloun, sastrawan Prancis kelahiran Maroko, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Meski latar belakang kisah ini di Casablanca, Maroko, namun kisah pergolakan batin seseorang mengenai korupsi, terasa dekat dengan kondisi di Indonesia saat ini. Maklum, kasus korupsi selalu menjadi headline utama surat kabar, lengkap dengan semua skandal yang kerap membuat kita geleng-geleng kepala.
Oleh karena itu, pada 18 Desember 2010, peserta OPMI berkumpul di Kantor Media Indonesia, Kedoya, Jakarta Barat, untuk mendiskusikan buku yang diterbitkan Penerbit Serambi ini. Berikut adalah catatannya.
SASTRAWAN Prancis kelahiran Maroko Tahar Ben Jelloun pernah ke Indonesia sekitar 1990-an. Sengaja ia ingin bertemu Pramoedya Ananta Toer. Niatnya tak tercapai lantaran saat itu Pram masih jadi tahanan rumah era Orde Baru.
Tahar pernah membaca karya Pram, Korupsi. Buku L’Homme rompu (diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Corruption) pun ditulis Tahar sebagai bentuk penghargaan atas karya Pram, tahun 1954.
“Kalau boleh membandingkan, menurut saya, cerita Korupsi Pram agak klise,” kata Anton Kurnia, Pemimpin Redaksi Penerbit Serambi di Kantor Media Indonesia, Sabtu (18/12/2010).
Anton sendiri mengaku menemukan buku Tahar dalam edisi bahasa Inggris di perpustakaan Yayasan Lontar. Dia tertarik menerbitkan karya Tahar dalam bahasa Indonesia. Namun, prosesnya tidak gampang. “Soalnya penerbit L’Homme rompu cuma penerbit kecil. Tapi, kami tertolong juga oleh Forum Jakarta Paris,” beber Anton.
Jadilah Korupsi diterjemahkan langsung dari naskah Prancis. “Itu juga sempat ganti penerjemah, karena penerjemah pertama buku ini banyak pekerjaan lain,” aku Anton.
Proses berliku itu–hampir tiga tahun–toh terbayar pantas dalam Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI). Peserta OPMI memberikan apresiasi positif.
“Buku ini punya daya sedot luar biasa. Saya jadi penasaran untuk membaca buku aslinya,” kata Lita Soerjadinata, 33.
Dilema pegawai negeri
Dikisahkan Murad, seorang insinyur yang bekerja di Kementerian Pekerjaan Umum di Casablanca, Maroko, memiliki posisi penting. Murad-lah yang bertugas mempelajari berkas pembangunan. Tanpa persetujuannya, tak ada pembangunan.
Murad serius menjalani tanggung jawabnya. Namun, kejujuran yang menjadi prinsip hidup Murad telah mendatangkan kemiskinan bagi keluarganya.
Sementara tawaran uang suap terus berdatangan ke mejanya, Murad berusaha bertahan di lingkungan kerja yang korup serta rongrongan Hilma, sang istri yang penuntut.
“Aku bisa ngerti sih kenapa Hilma jengkel sama suaminya, pengen ini-itu. Dia kan pasti lihat saudara-saudaranya, tetangga. Sedangkan dalam pikiran dia, Murad yang sekolahnya bagus itu harusnya bisa juga memberikan materi yang lebih,” kata Sitharesmi, geregetan.
Sitha mengaku terhanyut dengan kisah Murad, serta pergolakan batin pegawai negeri itu untuk bertahan menjadi manusia yang lurus, paling tidak untuk urusan integritas.
Namun terkait kesetiaan, Murad tak lurus-lurus amat. Dia memilih berselingkuh. “Pengarangnya mampu menampilkan karakter yang kuat. Tapi manusiawi. Murad itu kan digambarkan lurus, tapi untuk urusan perselingkuhan ya dia selingkuh juga. Mungkin juga karena dia merasa ‘terjebak’ dengan pernikahannya,” timpal Rifai Sumaila.
Penulis Kurnia Effendi menguatkan pendapat Rifai. Baginya, persoalan yang dialami Murad merefleksikan pertentangan idealisme dan tuntutan sosial.
“Bisa jadi, sikap Murad ya turunan juga. Bapak Murad kan diceritakan seperti itu juga, irit karena terpaksa. Sampai-sampai saat meninggal tidak menyisakan harta apa-apa,” ujar Kurnia.
Di tengah kegalauan Murad menghadapi godaan korupsi, anak lelakinya tegas-tegas mengatakan , “Aku seperti ayah, tidak pernah korupsi. Lagi pula aku percaya, kalau semua orang seperti kita, negeri ini pasti akan menjadi lebih baik.”
Bisa ditebak, Murad makin sakit kepala, dan Tahar berhasil menularkan sakit itu pada kepala Anda saat membaca kisah ini. Dilema lelaki jujur digelontorkan Tahar begitu pas, dengan ritme pengisahan yang tak monoton.
Korupsi sebagai tema besar tidak terasa sebagai pesan yang menggurui karena Tahar menyajikannya dalam ruang-ruang pergulatan batin manusia. Novel Korupsi terasa pas dengan kondisi bangsa yang saat ini selalu diributkan dengan urusan suap-menyuap ini.
Penuturan memikat
Gaya penuturan Tahar dalam kisah ini juga menjadi kelebihan tersendiri. Lita mencermati gaya bahasa Tahar yang lugas, tak bertele-tele, namun bernas. Akibatnya, pembaca tak kelelahan.
“Saya juga suka pilihan kalimat Tahar, suka analogi-analoginya,” imbuh Kurnia, lalu membalik halaman buku. Dia lantas mengutip bagian favoritnya. “…Siapa bilang bahwa malam hari mendatangkan saran? Itu salah. Bukan saja malam tidak mendatangkan saran, tetapi malah memperparah masalah, membesar-besarkannya, menjadikannya berat. Aku seakan berada di dalam terowongan. Sulit sekali bergerak maju.”
Murad, kata Kurnia, mengingatkan kepada tokoh Holden Culfield dalam The Catcher in The Rye karangan JD Salinger.
“Saya ingat tokoh utama Salinger itu karena Murad juga digambarkan begitu menyayangi anaknya, Karima. Seperti Holden mencintai adiknya,” kata Kurnia.
Plus, Murad sebagai narator kisah juga terasa seperti Holden yang menggerundel. Anda bisa saja jengkel, memaklumi, bahkan bersimpati pada tokoh Murad. Sosok naif dan jujur yang tergagap-gagap dengan maraknya korupsi di lingkungannya.
“Bahkan ketika akhirnya seseorang tidak tahan dan memutuskan untuk korupsi pun, itu adalah hal yang sulit dilakukan. Perlu taktik, perlu usaha lebih,” kata Lita lalu tersenyum.
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.