Maradona Menari, Tuhan Memberi!

22 Jun 2010 Pada: Resensi Pembaca

Kisah gol “Tangan Tuhan” tak lekang diceritakan. Bahkan telah melegenda. Maradona menjadi aktor utama terjadinya kisah unik itu. Pertarungan antara Inggris melawan Argentina pada Piala Dunia 1986 di Meksiko itu telah menyuguhkan drama tak berkesudahan. Baiklah! Kita coba memutar kembali ingatan ketika peristiwa unik itu terjadi. Ketika itu, babak pertama berlangsung sengit tapi tak membuahkan gol. Skor kacamata, 0-0. Tetapi, enam menit setelah jeda, drama itu terjadi. Lewat tarian khasnya, Maradona bertukar umpan dengan Jorge Valdano. Sayangnya, umpan Valdano tidak sempurna karena membentur kaki Steve Hodge. Bola melambung ke tengah kotak pinalti dan Peter Shilton–kiper Inggris ketika itu–segera menyongsongnya. Dengan tinggi badan yang kalah jauh dari Shilton, Maradona tak kehilangan akal. Tangan kirinya menjulur ke udara mendahului tangan Shilton. Alhasil, kena! Bola sempurna bersarang di gawang Inggris. Uniknya, Ai Ben Nasser, wasit asal Tunisia yang memimpin pertandingan itu tak melihat aksi tangan Maradona. Ia pun mengesahkan gol, dan Maradona pun mengajak rekan-rekan setimnya untuk merayakan gol spektakuler itu.

Apakah drama itu bersudah di sana? Tidak! Tiga menit sesudahnya, Maradona menampilkan sisi uniknya sebagai pebola andal. Dari wilayah permainan sendiri ia menggiring bola melewati Glenn Hoddle dan Peter Reid. Kenny Sansom dan Terry Butcher juga tak mampu mengadang laju Maradona. Bahkan, Terry Fenwick terkecoh begitu mudah sehingga Maradona leluasa menggiring bola ke dalam kotak penalti. Benteng terakhir Inggris, Shilton, berusaha menutup ruang gerak Maradona. Ajaibnya, hanya dengan sepakan klasik yang sederhana, Maradona sukses menceploskan bola ke gawang yang sudah melompong. Begitulah. Setelah mencetak gol lewat “sentuhan” tangannya, Maradona melahirkan gol yang kelak digelari gol terbaik sepanjang masa. Tahun itu pun jadi milik Maradona. Ia aktor uatama–jika tidak disebut tunggal–yang mempersembahkan gelar Juara Dunia bagi Argentina.

Sungguh, kisah “Tangan Tuhan” itu hanyalah penggalan kecil dari keunikan Piala Dunia. Buku 100+ Fakta Unik Piala Dunia hasil kolaborasi cantik dua maniak bola, Asep Ginanjar dan Agung Harsya, menghadirkan rupa-rupa keunikan Piala Dunia yang mungkin terlupakan.

Tandukan dan Joget Perut yang Menghebohkan

Masih ingat tandukan Zinedine Zidane (Prancis) ke dada Marco Materazzi (Italia) pada Piala Dunia 2006? Ini juga cerita menarik yang ditorehkan selama Piala Dunia yang berlangsung di Jerman itu. Setelah sukses menyelesaikan tugasnya sebagai algojo penalti, Zidane menghadirkan cerita yang tak kalah menariknya. Kepalanya bersarang di dada Materazzi–yang seperti pemain Italia lainnya, ia juga jago akting. Wasit Horacio Elizondo asal Argentina pun menghadiahi Zidane dengan kartu yang paling dibenci pemain bola: Kartu Merah.

Apa yang terjadi setelahnya? Tak seperti pemain lain ketika dihukum kartu Merah, Zidane langsung ngeloyor ke luar lapangan dan dengan gontai melewati trofi Piala Dunia yang dipajang di pinggir lapangan. Sirna sudah mimpi Prancis untuk menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya. Tahukah Anda asal-muasal pemicu tandukan sesangar banteng itu terjadi? Hingga saat ini, tak ada jawaban pasti. Seusai turnamen, Zidane menuding Materazzi menghina ibu dan saudara perempuannya. Sedangkan Materazzi bersikukuh membela diri. Begitulah. Drama terjadi lagi.

Oh ya, ada juga kisah menarik tentang goyang perut di sisi lapangan. Jangan mengira Inul Daratista pelakunya. Bukan! Ini juga bukan aksi David Beckam yang banyak digandrungi kaum Hawa. Pelaku goyang perut itu seorang lelaki berusia 38 tahun, Roger Milla. Pada mulanya, Milla sudah menyatakan pensiun dari timnas Kamerun. Tetapi, telepon Presiden Kamerun, Paul Biye, yang meminta kesediaannya untuk kembali membela Kamerun, telah meluluhkan hatinya. Lalu, muncullah goyang perut itu sebagai bentuk selebrasi setelah mencetak gol. Pada saat Kamerun mengalahkan juara bertahan Argentina di laga pembuka, Milla merayakan golnya dengan khas. Begitu pun ketika ia memboyong dua gol ke gawang Rumania di pertandingan kedua, dan dua gol ke gawang Kolombia di babak 16 besar.

Sejak itu, selebrasi gol mulai cair. Tak lagi kaku, tak lagi membosankan.

Tim Kurcaci Paling Berwarna

Pernahkah Anda membayangkan Indonesia jadi juara dunia? Mungkin–seperti kebanyakan penduduk Indonesia–itu adalah hal musykil yang betapa sulit terjadi. Betapa tidak, jangankan juara dunia, lolos ke putaran final Piala Dunia saja susahnya minta ampun. Tetapi, jangan salah terka. Pada Piala Dunia 1938, Hindia Belanda–yang pemainnya berasal dari Nusantara–ikut bertanding dan disemati gelar “Tim Kurcaci”. Ya, sejarah mencatat, Hindia Belanda adalah tim Asia pertama yang meramaikan Piala Dunia. Namun karena kalah teknik dan fisik, pertandingan pertama melawan Hungaria berlangsung timpang. Skor 6-0 untuk kemenangan Hongaria.

Saat itu, tim Hindia Belanda memakai segala berbau Belanda. Kaus tim berwarna oranye, dan lagu kebangsaan yang dinyanyikan adalah Het Wilhelmus, lagu kebangsaan Belanda. Perbedaan fisik menjadi ihwal paling menyolok saat itu. Walikota Reims menyatakan, “Saya seperti melihat 22 atlet Hongaria dikerubungi 11 kurcaci.” Selain kalah fisik, kulit paling berwarna juga jadi milik Hindia Belanda. Tim itu terdiri dari dua pemain asal Sumatra, dua orang Ambon, seorang Jawa, empat orang etnis Tionghoa, dan sisanya berdarah Belanda.

Jadi, kapan lagi kita bisa berlaga di Piala Dunia dengan kostum dan lagu kebangsaan sendiri: Indonesia?

Segala yang Unik di Piala Dunia

Tahukah Anda pemain yang bermain di dua Piala Dunia dan bermain untuk dua negara berbeda? Buku setebal 236 halaman ini menyuguhkan jawabannya.

Adalah Luis Monti pelakonnya. Piala Dunia 1930 sejatinya adalah pertarungan dua jawara dunia, Uruguay dan Argentina. Luis Monti, sang kapten Argentina, dihantui ancaman pembunuhan. Tetapi ia tetap bermain dengan elegan. Yang lebih unik, final itu menggunakan dua bola. Babak pertama menggunakan bola buatan Argentina, dan babak kedua bola produksi Uruguay. Babak pertama Argentina unggul 2-1–dengan menggunakan bola sendiri, babak kedua Uruguay menang 3-0–juga dengan bola sendiri. Karena itu, final 1930 juga dikenal dengan the game of two balls. Nah, kembali ke Luis Monti. Setelah membela Argentina pada Piala Dunia 1930, Monti membela Italia pada Piala Dunia 1934. Uniknya, jika di Uruguay keluarganya diancam akan dibunuh kalau Argentina menang, maka pada Piala Dunia 1934 Monti mendapat ancaman dari Benito Mussolini apabila mengalami kekalahan.

Kisah unik lainnya adalah selebrasi porno ala Giuseppe Meazza. Riwayat mencatat, ketika partai semifinal Piala Dunia 1938, Meazza bermain sangat memikat. Alhasil, kakinya menjadi incaran bek lawan. Ketika Italia mendapat hadiah penalti, Meazza pun bersiap mengemban amanat. Anehnya, tiba-tiba saja celananya melorot dan terpampanglah “sesuatu” yang membuat sebagian penonton tertawa geli. Namun, Meazza tak peduli. Tangan kiri memegang celana, tangan kanan meletakkan bola di titik penalti. Lalu, sembari tangan kiri tetap memegang celana, ia menyepak bola. Kiper Brasil, Walter de Souza Goulart, tak mampu menahan geli. Alhasil, bola meluncur deras ke gawangnya. Tentu saja Meazza kegirangan dan mengacungkan kedua tangannya ke udara untuk merayakan kegembiraan. Kontan saja celananya melorot, dan pemain lain mengerubunginya guna menutupi auratnya. Inilah selebrasi paling unik: Pemain setim mengerumuni pencipta gol, bukan untuk tindih-tindihan atau menari bersama, tapi untuk menunggu sampai celana baru tiba.

Masih banyak kejadian lain yang layak Anda ketahui dari buku ini. Semuanya disajikan dengan bahasa lugas yang mudah dicerna.

Apa yang unik dari Piala Dunia 2010? Bagi saya, tumbangnya tim-tim unggulan pada pertandingan pertama dan kedua adalah sesuatu yang unik. Siapa lagi yang bakal tumbang? Siapa yang akan pulang lebih cepat? Siapa yang akan jadi juara?

(Resensi oleh Khrisna Pabichara)

Detail Buku
Judul: 100+ FAKTA UNIK PIALA DUNIA
Penulis: Asep Ginanjar & Agung Harsya
Penyunting: Anton Kurnia
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, 2010
Tebal: 236 hlm

Setelah dibedah di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad, lalu dibahas di Apa Kabar Indonesia Akhir Pekan tvOne, kini mejeng di Kompas, 22 Juni 2010.

Ketika Buku Berkata [resensi LIBRI DI LUCA]

21 Jun 2010 Pada: Resensi Pembaca
Dari abad ke abad buku terus menerus dihasilkan dan dibaca. Tak jarang buku dibakar dan penulisnya ditumpas. Toh buku terus ada. Tak ada jegalan yang mampu menghalangi lahirnya dan dimaknainya sebuah buku. Inilah yang menarik dari novel Libri di Luca; sebuah novel yang mengisahkan buku yang terus bicara.
Matinya Sang Pengarang

Dalam esainya berjudul The Death of the Author, Roland Barthes mengungkapkan tentang persoalan sastra sebagai mahkota dan kesimpulan ideologi kapitalisme selalu mementingkan “pribadi” sang pengarang. Pengarang seperti lengket dalam tulisan yang telah ia buat. Seorang pengarang terus saja membayangi karyanya lewat catatan, biografi, wawancara, dan kesadaran pengarang yang ingin menyatu dalam karyanya. Tak mengherankan kalau kemudian citra buku terpusat kepada pengarang secara tiranik, pribadinya, sejarahnya, seleranya, dan kegairahanya. Karya pun tak pernah dibiarkan melenggang sendirian. Padahal menurut Barthes, seharusnya pengarang mati setelah karyanya lahir.

Persoalan yang diungkapkan Roland Barthes itulah yang ingin dijawab oleh Mikkel Birkegaard dalam novelnya Libri di Luca. Dalam Libri di Luca diceritakan betapa sebuah buku mampu berbicara sendiri tanpa harus dibantu oleh pengarangnya. Semakin dibaca buku itu, semakin banyak tafsir yang dihasilkan, bahkan seringkali melenceng dari keinginan awal penulisnya. Reproduksi makna terus terjadi: “beberapa buku bagaikan diisi kembali setiap kali dibaca.”(hal.63).

Oleh karena itu, sebuah buku yang belum dibaca tidak akan berarti apa-apa walaupun pengarang berkoar-koar bahwa bukunya adalah karya unggul. Di sinilah sebuah buku akan menentukan nasibnya sendiri. Ia bisa hilang dan bisa juga abadi. Semakin banyak buku itu dibaca, maka semakin “bermakna” buku itu: “buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.” (hal.63). Pembacalah—yang melakukan reproduksi makna—yang mementukan “kekuatan” sebuah buku, bukan pengarangnya.

Mendengar Suara Buku

Hanya ada satu tempat idaman untuk rumpun kata-kata. Buku. Di situlah mereka bisa menjalankan fungsi sebenarnya—menyampaikan ilmu pengetahuan, membagi infromasi, hingga menyuarakan kebenaran—tanpa takut lenyap seketika terbawa angin yang berhembus. Buku adalah sebuah prasasti, tempat kata-kata menjejakkan maknanya yang ambigu sembari menunggu dipahami lebih lanjut. Pun, sebuah kotak harta karun misterius yang bisa mendatangkan berbagai resiko.

Hal inilah—selain ingin menjawab persoalan Roland Barthes—yang juga ingin disampaikan Luca dan Jon dalam novel Libri di Luca. Novel ini menampilkan sesuatu yang masih asing, yaitu sisi lain dari seorang penggila buku alias kutu buku yang masih sering dipandang aneh oleh beberapa orang. Selintas, Luca, si pemilik toko buku antik Libri di Luca, hanyalah seorang tua pendiam yang lebih memilih hidup di antara tumpukan buku koleksi dan jualannya daripada dengan Jon, anak semata wayangnya.

Keegoisan ini sempat dipandang Jon sebagai salah satu sifat khas para penggila buku yang cenderung aneh dan individualis. Apalagi, Jon seorang pengacara yang tak pernah punya waktu untuk membaca banyak buku, kecuali buku hukum. Namun, seiring bergulirnya waktu, Jon yang semula memandang sebelah mata pada pengabdian almarhum ayahnya pada dunia literatur akhirnya menyadari kesalahan yang telah dibuatnya—kesalahan orang awam pada umumnya. Ternyata, buku pun bisa berbicara; mengisahkan dirinya sendiri. “Gambaran itu sedemikian meyakinkan sehingga Jon ingin melirik ke samping untuk melihat anak itu dengan lebih jelas, tetapi matanya tidak lagi mematuhi dirinya. Mereka menolak meninggalkan halaman buku itu dan terus menelusuri kalimat demi kalimat di dalam buku tentang anak itu….” (halaman 84)

Jon juga menemukan alasan lain atas kesetiaan almarhum ayahnya pada buku-buku: “…Itulah hal yang menakjubkan dari semuanya. Rupanya, setiap buku memiliki suaranya tersendiri… Seperti berkomunikasi langsung dengan buku itu sendiri—dengan jiwanya.” (halaman 85)

Ada cerita di balik cerita. Inilah yang terjadi jika buku bisa berdiri sendiri. Ia selalu memberikan sebuah cerita baru setiap kali dibaca ulang.

Senjata Yang Dikutuk

Kira-kira, ada sekian ratus buku baru yang dicetak dan beredar di negeri ini setiap tahun, namun hanya sedikit buku yang benar-benar layak dimaknai ulang, ditafsirkan, dan diteruskan “suara”-nya kepada orang lain. Yaitu, hasil karya yang mampu mengubah pandangan seseorang tentang sejarah, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Pun, membuka mata dan menyentak kesadaran pembacanya akan fakta yang sebenarnya. Sayangnya, buku-buku semacam itulah yang paling dicari oleh segelintir pihak untuk dimusnahkan karena dianggap sebagai buku yang menyimpan “kutukan”. Kutukan tentang kebenaran.

Di dalam Libri di Luca, yang berlatar belakang kota Denmark di zaman modern, potret masyarakat urban yang disajikan Mikkel ternyata tak jauh berbeda dari apa yang ada di Indonesia. Suara politik bagai “suara Tuhan”. Yang mampu mengaduk-aduk segala hal semaunya, termasuk dunia literatur. Mikkel memunculkan seorang tokoh politisi yang hendak menutup kelas-kelas membaca di sekolah demi membelokkan aliran dana ke kas pribadinya. Namun, kejadian ini berakhir mudah di dunia khayal Mikkel. Dia memberikan kekuatan khusus kepada sejumlah penggila buku yang disebut Lector. Yaitu, kemampuan memengaruhi pikiran seseorang melalui bacaan hingga sesuai yang diinginkan. Di tangan mereka, buku menjadi senjata.

Dalam dunia nyata, imajinasi Mikkel tidaklah terlalu berlebihan. Banyak buku dipaksa menjadi kayu api karena dicap berbahaya. Sebagai contoh, semua buku karangan Pramoedya Ananta Toer sebagian besar dilarang. Karya tersebut dikerangkeng hanya karena penulisnya berpandangan politik berbeda–terlepas dari isi buku tentang serangkaian kebenaran pada masa itu, disamping ungkapan rasa kebangsaaan yang kuat. Hingga sekarang, sejumlah buku tetap diburu untuk dibungkam atau dibakar dengan berbagai dalih yang bermuara pada satu kesimpulan picik. Buku-buku itu terkutuk. Tidak pantas dibaca karena akan merusak moral, stabilitas negara atau apapun namanya. Tapi, tanpa disadari, membumihanguskan buku-buku terkutuk sama saja dengan melepaskan kutukan itu ke tengah pusaran angin. Kutukannya akan hinggap dan tersemai di mana-mana.

(Resensi oleh Anin Siswanto)

Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Tagline: Novel tentang Perkumpulan Rahasia Pencinta Buku
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 588 hlm

Tentang Blog Ini

Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.

Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

  Buku Terbaru Lini Gita Cerita Utama

Toko Buku Serambi Online     Little Serambi    

Serambi Podcast  Penerbit Atria

Informasi Al-Quran Produk Serambi

TV Serambi