Penulis: Sayed Kashua

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penyunting: Yulia Safitri

Cetakan I, Mei 2008

Narator adalah seorang etnik Arab yang tinggal di desa kecil di negara Israel. Ia besar dengan dongeng-dongeng dahsyat tentang kakeknya yang berjuang melawan Zionisme dan ayahnya yang masuk penjara karena mengebom kantin sekolahnya (namun kemudian sang ayah malah betah di penjara karena ia bisa membaca berjam-jam di pespustakaan, malah di sana ia belajar bahasa Ibrani).

Narator kemudian memperoleh beasiswa ke sebuah sekolah Ibrani. Di sana ia menemukan oasis untuk kepribadiannya yang kosmopolitan: belajar buku-buku dari mancanegara, berkencan dengan gadis Yahudi liberal, belajar apa itu anti-Semitisme, apa itu golongn minoritas. Ia pun memupuk impian yang diperolehnya dari ayahnya, dari televisi, dari ideologi, bahwa Yahudi dan Arab bisa hidup berdampingan. Ia mencoba membaur Tetapi anak-anak Yahudi sering mengerjainya dan orang-orang Arab mengharap ia akan membuat bom atom. Ia merasa tak nyaman akan kekonyolan orang-orang Arab di sekitarnya, namun kesal pula karena ia tak bisa sepenuhnya membaur dengan orang Yahudi (yang katanya takkan membolehkannya belajar fisika atom). Lantas ke mana ia harus berpaling?

Dia mencoba menjadi “orang Arab”, memeluk segala yang diasosiasikan dengan identitas tersebut. Ketika hal itu tidak cocok, ia mencoba menjadi “orang Yahudi” dan mencoba membaur dengan mereka. Ia toh warga negara Israel. Kemudian, politik dunia mengecewakan cita-citanya. Ia pun mencoba lagi jadi “orang Arab”, menikahi seorang gadis Arab (dengan siapa ia sudah berkencan dan tidur bersama selama lebih dari tiga tahun). Ketika menyewa kamar dari orang Arab mereka bilang mereka sudah bertunangan; ketika mereka menyewa kamar dari orang Yahudi, mereka tak pernah harus menjelaskan.

Hari-hari terus bergulir. Narator menyaksikan orang-orang desanya dan sahabatnya semakin menjadi religius (namun secara irasional, sebagaimana orang yang bunuh diri berpaling pada kematian “I think about God a lot lately. It’s easy… All you need to do to be religious is to wash and pray.”—sahabatnya berceracau tentang Israel supaya membunuh semakin banyak orang Palestina karena itu mendatangkan Mahdi lebih segera), ia diajak temannya naik haji (namun di sana malah mendebatkan pengkavlingan surga dan neraka).

Novel ini menggambarkan kehidupan sehari-hari di ranah yang penuh dengan konflik, di mana kekacauan sudah menyusup sampai ke sel-sel terkecil kehidupan. Kekerasan sangat merajalela sehingga orang-orang saling mendehumanisasi satu sama lain. Menurut nenek narator, tentara Inggris pernah datang ke rumah mereka, mengobrak-abrik, menumpahkan garam di atas gula, dan buang air besar di tumpukan buah zaitun. (Apa benar mereka pernah berbuat begini, kita takkan pernah tahu sebab kita hanya tahu versi nenek ini). Jika benar, maka tentara Inggris ini telah mengganggap keluarga tersebut bukan manusia, yang tak butuh makan dan telah bekerja keras mengumpulkan makanan tersebut. Demikian pula, jika tak benar, maka si nenek telah mendehuminasi tentara tersebut yang menurutnya tega berbuat serupa.

Seperti para Nazi yang memanggil para Yahudi kutu, ethnis Hutu yang memanggil etnis Tutsi kecoa, atau ketika kita marah pada seseorang dan memanggilnya babi atau anjing, manusia kerap mendehumanisasi sesama, mungkin untuk menjustifikasi perasaan benci mereka dan perlakuan keji mereka—yang mungkin jauh di dalam, mereka tahu takkan sanggup mereka lakukan pada sesama yang dianggap “manusia.”

Arab membenci Yahudi, Yahudi membenci Arab, Arab saling membenci, Arab mencoba menjadi Yahudi, Yahudi mencintai Arab, Yahudi menganggap Arab takkan bisa menjadi insinyur atau ilmuwan, Arab mengutuki Yahudi untuk hal-hal yang mereka sendiri lakukan… kedua belah pihak saling membesar-besarkan cerita kekerasan, mengarang-ngarang dongeng… parahnya bukan untuk memprovokasi, tetapi mungkin untuk alasan yang lebih subtil… agar mereka tidak merasa tidak enak karena telah membenci orang lain; untuk memberi alasan bagi rasa benci mereka.

Masalah dengan Rusia, Mesir, Amerika, Kuba sampai menyusup ke masalah penamaan bayi—kau pun tahu masalah sudah berkembang biak, berbelit, mengakar, sehingga mungkin takkan ada jalan keluar atau kesimpulan yang gampang. Memang, novel ini berakhir tanpa kesimpulan yang membuat pembaca merasa lega atau merasa pertanyaan-pertanyaan mereka terjawab. Justru bagus. Dusta jadinya kalau ada pemecahan sederhana atas segala masalah rumit yang diungkit novel ini.

Seperti kata Penelope Lively, “People make love in cities under siege.” Orang-orang terus hidup, bagaimana pun politik atau perang berdera. Bagaimana pun keadaannya, kita akan terus hidup, bagaimana pun kacaunya, bagaimanapun tersesatnya, bagaimanapun putus asanya. Inilah yang ditangkap novel ini.

Buku ini ditulis oleh seorang wartawan Arab warga negara Israel yang kisah hidupnya mirip dengan kisah hidup narator ini. Ia berusia 28 tahun ketika menulis novel ini, dan bukunya telah diterjemahkan ke 6 bahasa, dan banyak dipuji-puji kritikus dari berbagai negara. Novel keduanya, Let It Be Morning, juga disambut dengan baik oleh pres dunia.