Pasang sabuk pengaman anda dan bersiap-siaplah untuk sebuah cerita yang menegangkan, mencekam, dan melaju kencang. Itulah endorsement dari Steve Berry, penulis The Charlemagne Pursuit dan The Amber Room di cover bergambar Colosseum dan Al Aqsa ini.

Sebuah tato bundar kecil dari bahasa Latin dan Yunani tampak melingkari pusat sang mayat dalam tulisan merah keunguan yang dalam. Phene nike umbilicus orbis terrarium. Kemenangan di pusat dunia. Itulah petunjuk awal.

Tropafum Josepho Illumina. Phere Nike Umbilicius Orbis Terrarum. Eytz chaim hee I’machaziki’im ba. Merupakan beberapa kalimat simbol untuk menemukan artefak bersembunyi berusia 2.000 tahun yang selama ini banyak dicari-cari. Benda itu adalah simbol sejarah yang dianggap lebih hebat dibandingkan dengan mitos agama mana pun.

Beberapa pengetahuan yang perlu tahu:

Perawan Corinthia. Yaitu sebuah praktik kuno di mana para penguasa memerintahkan para tahanan perang wanita masuk ke kota mereka kembali dan menguburkan mereka di dalam tiang-tiang kota.

Steganos berarti catatan yang disembunyikan, misalkan penulisan yang tersembunyi. Sebuah pesan stenografi tidak hanya berupa enkripsi, kita bahkan tidak menyadari keberadaannya.

Yayasan Al-Quds. Yayasan yang disubsidi UNESCO dibentuk di Maroko pada 1998 untuk memelihara warisan kebudayaan Islam di Yerusalem.

Aliterius. Adalah pemain sandiwara yang paling disenangi Kaisar Nero dan menggunakan hubungan politiknya untuk mempengaruhi sejumlah keputusan.

Roma adalah satu-satunya kota di dunia dengan dua kedutaan, sebuah misi diplomatik untuk Italia dan lainnya untuk kedutaan Vatikan seluas seratus delapan hektar.

Para pustakawan selalu menyuruh para siswa menggunakan tongkat kayu untuk membalikkan halaman karena minyak yang dikeluarkan oleh tangan manusia menjadi penyebab utama lapuknya dokumen.

Artefak seringkali diubah untuk menyembunyikan tanda identifikasi yang diberikan museum.

**

Oh, yang saya suka adalah peran pustakawan sebagai kunci dalam sejarah yang tersembunyi ribuan tahun. Walaupun bukan sebagai pemeran utama, pustakawan berperan penting dalam alur cerita hingga rela mengorbankan nyawanya. Kita diajak menelusuri berbagai perpustakaan dan museum kuno untuk mencari bukti sejarah di masa lalu. Selain ada pustawan bernama Mose Orveti, ada juga Kardinal Francesco Inocenti.

Sungguh perpaduan yang ciamik antara Angels and Demons-nya Dan Brown dan The Name of The Rose-nya Umberto Eco. Kisah seorang Jonathan Marcus, pengacara muda dan Dr. Emili Tria, yang mempunyai julukan Malaikat Artefak, serta dengan bantuan seorang pustakawan Sinagoge Agung, Mose Orvieti ini mengupas teka-teki dengan simbol-simbol sejarah dibalut naskah-naskah kuno.

Sebuah referensi naskah kuno di dalam novel ini nyata, begitu pula dengan Dewan Wakaf –sebuah yayasan perwalian rahasia Islam yang menangani Baitallah di Yerusalem sejak 1187 M.

Seperti yang Matthew Pearl, penulis novel laris Dante Club bilang: “Dalam debutnya yang orisinal, Daniel Levin mengungkapkan dengan jelas sebuah dunia di mana arkeologi, hukum dan rahasia agama menyatu dalam sebuah interaksi yang menegangkan.”

(Resensi: Luckty Giyan)

Detail Buku
Judul: THE LAST EMBER
Penulis: Daniel Levin
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2010
Tebal: 573 hlm