Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Karya klasik ini sungguh cantik meski berakhir tragik. Kekuatan buku ini terletak pada keterampilan berbahasa yang sungguh berbakat, pengetahuan kosa kata yang berlimpah dan kekayaan referensi yang luas, serta ketekunan yang luar biasa ketika menuliskannya. Daya khayal pengarang tentang karakter manusia ditumpahkan sehabisnya hingga pembaca mendapat gambaran yang nyaris prima. Contoh, misalnya ketika pengarang berusaha memvisualisasikan betapa buruk tokoh Quasimodo, dia menulis begitu rupa dan akhirnya, silakan pembaca membayangkan sendiri kalau sanggup (hal. 34).Cerita dibuka dengan keramaian di jantung kota Paris di awal bulan Januari tahun 1482. Warga libur karena berbarengan beberapa tradisi festival. Para kaum borjuis dan rakyat jelata tumplek di sini saling memberi pendapat dan menunjukkan diri, sambil menunggu untuk melihat pertunjukan kembang api, tari dan sandiwara di alun-alun kota. Meski tokoh dan peristiwa saling tumpang-tindih tetapi Hugo menyusun satu per satu dengan sabar dan teliti sehingga pembaca bisa memotret festival secara utuh.
Di sini penulis mulai memperkenalkan tokoh-tokoh utama. Pierre Gringoire, sang penyair dan filsuf, yang menulis naskah sandiwara untuk ditampilkan hari itu. Lalu si bengal Jehan Frollo, pendeta Claude Frollo, pendeta yang disiplin dan juga seorang ilmuwan, serta penampilan La Esmeralda, si gadis gipsi yang menawan, dengan kambingnya, Djali. Terakhir Quasimodo, si bongkok jelek rupa yang diangkat anak oleh pendeta Claude Frollo, yang tugasnya membunyikan lonceng katedral Notre-Dame, yang karena pekerjaannya itu dia jadi tuli.
La Esmeralda menari berputar-putar di alun-alun, Claude Frollo melongok dari jendela menyaksikan keindahan itu, lalu jatuh cinta mati-matian. Sejak itu kepalanya tidak berhenti memikirkan Esmeralda dan dipenuhi nafsu memiliki gadis itu. Quasimodo waktu itu sedang kepayahan mempertahankan diri dari tuduhan warga, juga jatuh cinta kepada Esmeralda dengan caranya sendiri, ketika gadis itu memberi seteguk air segar dari tangannya sendiri. Tak lama Esmeralda menyelamatkan Pierre Gringoire dari hukuman pancung, dengan rela menjadi suami imajiner tanpa niat akan mencintainya. Ia sendiri mencintai Kapten Phoebus de Chateaupers tetapi bertepuk sebelah tangan.
Claude Frollo dipenuhi kecemburuan karena Esmeralda mencintai Kapten, berusaha membunuh Kapten namun tidak berhasil, tetapi Esmeralda menjadi satu-satunya terdakwa dan harus dihukum gantung.
Cinta Frollo kepada Esmeralda demikian buta dan menggebu. Hugo menulis sesi ini demikian indahnya, penuh ungkapan perasaan yang sangat dalam hingga menyiksa dan menggigit otaknya (hal 359), cinta yang membuatnya merasa terkutuk dan dia telah terpesona kepada cinta itu. “Neraka bersamamu, tempat itu menjadi surga bagiku, melihatmu lebih memesona daripada pesona Tuhan” (hal 326). Membacanya, saya demikian mengasihani Frollo dan mengharapkan Esmeralda menerima cinta itu. Aduh.
Dan saya mencintai Hugo karena mengawal karakter perempuan Esmeralda yang demikian tegar dan sesuai dengan kebeliaanya. Gadis itu teguh membela kebenaran meski ia terpaksa mengakui tuduhan pembunuhan dan sihir yang tidak dilakukannya. Ia pun menolak dibebaskan dari hukuman oleh Frollo dan menggantinya dengan cinta tulus yang ia miliki untuk Kapten Phoebus.
Cinta Quasimodo kepada Esmeralda tak kalah indahnya meski diliputi kemustahilan. Ketika gadis itu begitu menginginkan sang kapten, Quasimodo menawarkan diri untuk membawa kapten itu kepadanya, meski tidak membuahkan hasil. Saya menyukai kata-kata indah yang keluar dari mulut si buruk rupa Quasimodo kepada Esmeralda, ”burung hantu tak pernah memasuki sarang burung wallet” (hal 377), atau “the owl enters not the nest of the lark”. Saya membayangkan warga Paris kelas mana pada masa itu telah terbiasa membaca karya sastra, tidak masalah semiskin apa pun, karena bahkan penyair (Gringoire) hampir disamakan dengan pengemis, saking sulitnya kondisi ekonomi abad pertengahan itu.
***
Novel ini adalah sebuah masterpiece. Judul aslinya adalah Notre-Dame de Paris, diterjemahkan ke bahasa Inggris The Hunchback of Notre-Dame, dan ke bahasa Indonesia menjadi Si Cantik dari Notre-Dame. Baik si bungkuk Quasimodo dan si cantik Esmeralda mendapat porsi yang kurang lebih sama, tetapi pusat penceritaan (focus of narration) sebernarnya memang di katedral Notre-Dame.
Alur ceritanya sederhana dan linear. Memang ada kisah bayi Esmeralda dan sejarah ibunya, tapi hanya sebagian kecil. Plot yang tumbuh seiring berkembangnya cerita dan karakter. Penulis mendeskripsikan tiap tokoh dan karakter dan bangunan fisik dan keadaan dengan jelas hingga terpatri tegas di benak pembaca.
Hugo menulis novel 200.000 kata ini pada 25 Juli 1830, dua hari kemudian terjadi demo dua hari di Paris dan penulisan terhenti. Baru kemudian September 1830 dimulai kembali dan selesai pada pertengahan Januari 1831. Buku ini terjual 3100 kopi selama delapan bulan setelah buku terbit, angka yang tinggi pada masa itu, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris tahun 1833.
Saya memuji kerja keras Pak Sunaryono Basuki K.S yang telah dengan baik menerjemahkan karya klasik ini hingga para pecinta karya klasik dunia di tanah air bisa menikmati karya yang hebat ini.
(Resensi: Ita Siregar)
Detail Buku
Judul: SI CANTIK DARI NOTRE DAME
Penulis: Victor Hugo
Penerjemah: Sunaryono Basuki
Penyunting: Anton Kurnia
Tebal: 570 hlm
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juni 2010
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
sunaryono basuki ks
August 31st, 2010 at 12:18 pm
terimakasih mbak Ita atas pujiannnya