Saat ditanya dalam sebuah wawancara oleh Steve Berry, tentang asal ide pembuatan cerita The Last Ember ini, seperti inilah yang Levin katakan.

“As for the story, the level of espionage in Rome and Greece has always fascinated. I was a classics student and was surprised to discover loads of intrigue around every corner. So I thought, what if some of that ancient intrigue came with modern consequences? I began to research illegal excavation sites around the world and started to see a pattern: some of the largest sites of archaeological destruction were damaged for purely political purposes – simply as a way to erase the past — and then it occurred to me, what if someone was politically motivated to control – not the future, but the past?

Membaca kisah petualangan Jonathan Marcus ini, serasa membuat adrenalin terpacu lebih kencang. Kisah yang mengantarkan Marcus meyingkap mengenai keberadaan Menorah, simbol monoteisme yang paling kuno. Simbol keagamaan sepanjang zaman.

Menorah yang kira-kira seperti inilah gambar ilustrasinya.

Petunjuk awal berupa tulisan Phene nike umbilicus orbis terrarium berhuruf latin dalam bentuk sebuah tatto pada mayat, menjadi hal yang mengantarkan Marcus ke dalam situasi yang lebih kompleks.

Marcus yang akhirnya secara tidak sengaja berpartner dengan Dr. Emili Travia, ilmuwan PBB yang juga adalah mantan kekasihnya di masa lalu, terus-terusan menghadapi bahaya dalam setiap langkah mereka demi menyingkap misteri dalam artefak tersebut. Arterfak yang berumur lebih dari 2000 tahun tersebut.

Pada bab menjelang akhir cerita, dikisahkan Jon dan Emili yang berusaha keluar dari Israel dengan bantuan Eilat Segev memakai pesawat El Al. Mereka bermaksud untuk kembali ke Italia, walaupun pihak Carabineri di Roma telah mengeluarkan surat penahanan yang berlaku di seluruh Uni Eropa bagi mereka berdua.

Lucunya, mereka begitu percaya diri tidak akan sampai tertangkap di bandara Fiumicino, Italia, karena para petugas Carabineri Fiumicino akan mancari-cari mereka berdua di antara penumpang yang hendak ke luar negeri, bukan sebaliknya.

Walaupun ada beberapa orang yang membandingkan kisah dari Levin ini mirip dengan kisah Da Vinci Code series yang ditulis Dan Brown, dari segi pemecahan simbol dan teka-teki, tetapi The Last Ember ini terasa lebih kompleks.

Dari cerita tentang Monoteisme kuno, yang mengapa harus menyembah pohon, mengingatkan saya akan film Avatar yang fenomenal.
Diceritakan juga bagaimana laut merah itu ada dan terbelah, membuat saya kagum akan riset yang dilakukan Levin dan pengetahuan yang ia miliki.

(Resensi: Noviane Asmara)

Detail Buku
Judul: THE LAST EMBER
Penulis: Daniel Levin
Penerjemah: Fahmi Yamani
Tebal: 573 halaman
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juni 2010