Seorang lelaki tua berkacamata dengan perawakan kurus berjalan tertatih-tatih menuju sebuah singgasana kerajaan yang ditutupi kain merah. Lelaki tua itu memandangi kursi dengan penuh perasaan, lalu perlahan mendekati kursi, nyaris melewati tanda dilarang mendekat setelah sebelumnya menengokkan kepala ke kanan dan kiri memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikan dirinya.

Tiba-tiba seorang anak kecil berseru memanggil dirinya, lebih tepatnya memanggil “Kakek” Anak kecil itu memberitahukan bahwa ia dilarang melewati batas yang sudah ditentukan. Lelaki tua itu tertawa dan menjawab kalau dahulu ia pernah duduk di kursi itu.

Sebagai bukti, lelaki tua itu mengatakan bahwa dahulu ia pernah menyembunyikan sebuah bambu berisi jangkrik di balik bantal yang tersusun sebagai alas di kursi tersebut. Sudah pasti si anak kecil tidak mempercayainya. Untuk membuktikan ucapannya, lelaki tua berkacamata itu merogoh ke balik bantal yang diletakkan disana. Saat menarik tangannya, terlihat sebuah bambu berisi jangkrik yang mengeluarkan suara. Diberikannya bambu tersebut ke anak kecil yang memandangnya dengan takjub!

Sepenggal adegan dari Film The Last Emperor membekas di benak saya hingga saat ini. Mungkin adegannya tidak tepat begitu, namun itulah yang terekam di ingatan saya. Pandangan syahdu lelaki tua berkacamata ke arah singgasana sungguh menyayat hati. Lelaki tua berkacamata tidak lain adalah Kaisar Pu Yi, kaisar terakhir di Negeri Cina.

Untuk sekian lama saya masih terpana dengan jangkrik yang mampu mengeluarkan suara, padahal saat itu pagi/siang hari. Maklum sebagai anak yang besar di kota saya hanya tahu kalau jangkrik berbunyi di malam hari. Tidak mengerti kalau ada cara untuk membuat jangkrik berbunyi. Yang ada di kepala saya, adalah perasaan kagum, hebat sekali lelaki tua itu!

Buku ini merupakan Autobiografi Henry Pu Yi (7 Februari 1906 – 17 Oktober 1967) kaisar kedua belas dinasti Qing , yang juga kaisar terakhir Tiongkok. Memerintah dari tahun 1908 sampai 1924. Buku ini terdiri dari enam bagian. Bagian-bagian tersebut berjudul Masa Kanak-kanakku, Masa Mudaku, Pengasinganku, Restorasiku Selama Empat Belas Tahun, Penahananku, serta Hidupku yang Baru. Isinya menceritakan kisah hidup sejak menjadi kaisar,tukang kebun, dan menjadi anggota kongres dan juru bicara bagi masyarakat Manchu.

Membaca buku ini membuat saya merasa kasihan sekaligus kagum pada sosok Sang Putra Langit, Kaisar Pu Yi. Saat berusia 2 tahun ia sudah diambil dari keluarganya untuk menjadi kaisar. Bayangkan anak berusia 2 tahun harus mengikuti berbagai macam seremonial yang sangat melelahkan. Dan jika ia menangis, bukan penghiburan yang diperoleh justru omelan yang diperolehnya. Para kasim bahkan sering mendorongnya ke dalam sebuah kamar dan membiarkannya menangis dan menjerit-jerit hingga berhenti sendiri.

Pertumbuhan psikologisnya sangat menyedihkan. Ia tidak pernah diajari mana yang benar dan salah. Yang perlu dihormati hanyalah orang-orang tertentu saja. Banyak orang yang melakukan kowtow, tindakan menghormati yang ditunjukkan dengan cara membungkuk begitu rendah hingga kepala menyentuh tanah. Setiap saat, Sang Putra Langit disapa dengan sebutan Yang Mulia, Baginda, sehingga mereka yang tidak menyapanya dengan sebutan tersebut akan dianggap bersikap kurang ajar oleh Sang Putra Langit. Belum lagi sejumlah kenakalan yang dilakukan hanya karena iseng.

Walau demikian, hanya sang ibu susu yang mampu ”mengendalikan” Sang Kaisar. Ia mampu memberitahu Kaisar mana yang betul aman yang salah, melarangnya melakukan suatu kenakalan. Untungnya ia bukan wanita yang ambisius, sehingga tidak ada keinginan untuk mengendalikan sang kaisar seperti yang sering dilakukan oleh para ibu susu. Mungkin benar, walau bukan ibu kandung namun air susu mampu mendekatkan seorang ibu dengan anak susunya.

Perkenalannya dengan Johnston tutornya dari Inggris memiliki cerita tersendiri. Saat pertama kali bertemu, Sang Putra Langit duduk di singgasana sambil menerima Johnston yang memberikan penghormatan dengan membungkukkan badan lalu mereka bersalaman. Selanjutnya ganti sebagai penghormatan Sang Putra Langit membungkuk memberi hormat kepada sang tutor lalu pelajaran segera dimulai.

Johnston tidak hanya menjadi tutor bagi Pu Yi, namun juga mempengaruhinya dalam banyak hal, seperti mencarikan nama asing, berpakaian ala barat, memelihara anjing, mengenal berbagai macam produk barang seperti telepon, berlian, hingga permainan tenis. Pu Yi menganggap tutornya adalah orang barat yang paling pintar. Pu Yi bahkan memotong rambutnya karena mendengar komentar Johnston yang bernada mencela.

Saat kecil Pu Yi mendapat perlakuan istimewa. Setelah dewasa, kehidupan megahnya justru berakhir dengan mengenaskan. Selama masa tahanan di Rusia, tidak ada pelayanan yang disediakan untuk dirinya. Beruntung masih ada anggota keluarga yang mau melayaninya, mulai dari membersihkan tempat tidur, membawakan makan hingga mencucikan baju.

Walau pemerintah memberikannya perlakuan khusus serta memperlakukannya dengan hormat, namun Pu Yi mengalami masa yang sulit karena terbiasa hidup dilayani. Misalnya saja ia kebingungan siapa yang akan membawakan mangkuk nasinya. Maklum selama hidupnya ia hanya tahu beres saja. Untung adik iparnya mau membawakan nasi untuknya juga mencucikan baju. Belakangan walau sudah menyerahkan banyak hartanya untuk menunjukkan itikad baik, Pu Yi tetap harus mencuci dan menambal pakaian serta membetulkan kaca matanya yang rusak sendiri. Bahkan sekarang semua orang hanya memanggil namanya dan dia harus datang saat dipanggil.

Banyak hal menarik yang bisa ditemui dalam buku ini. Misalnya pengetahuan Pu Yi serta kaisar terdahulu terhadap dunia luar justru diperoleh dari Buku Alice in Wonderland . Lalu kehidupan sebuah kekaisaran berikut intrik-intriknya. Kita juga diajak mengetahui berbagai hal, dari kebudayaan, peristiwa sejarah dari sisi mata seorang kaisar yang diturun dengan paksa, serta ilmu pengetahuan ala China.

Foto-foto yang disajikan dihalaman belakang kian menambah nilai buku ini. Saat melihat wajah Pu Yi yang berusia 2 tahun dan harus duduk dengan tenang di singgsana, saya jadi melirik keponakan perempuan saya yang berusia kurang dari 2 tahun Dia yang tidak bisa duduk tenang walau sesaat pasti akan mengamuk jika harus duduk manis seperti Pu Yi, apalagi Pu Yi menggenakan baju kebesaran lengkap. Saya kian merasa kasihan sekaligus kagum padanya.

(Resensi oleh Truly Rudiono)

Detail Buku
Judul: THE LAST EMPEROR
Anak Judul: Kisah Tragis Kaisar Terakhir China
Penulis: Henry Pu Yi, Direvisi oleh Paul Kramer
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Februari 2010
Tebal: 468 hlm