ARUMDALU (arum = harum, dalu = malam; arumdalu = nama Jawa untuk bunga sedap malam) adalah novel kedua dari serial Glonggong karya Junaedi Setiyono, penulis yang kini tinggal di Purworejo, Jawa Tengah. Novel Glonggong sendiri merupakan novel pertamanya dan langsung mendapat penghargaan sebagai pemenang keempat (harapan I) sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006.

Novel Arumdalu makin mengukuhkan kekuatan para pengarang asli Indonesia di jagat sastra negeri ini, tak kalah dengan novel-novel (sejarah) terjemahan yang dari sisi kuantitas tetap menguasai ruang display toko-toko buku.

Seperti Glonggong, novel Arumdalu masih memaparkan kisah di seputar Perang Jawa (1925-1930), perang antara pasukan penjajah Belanda melawan penduduk pribumi yang dipimpin Pangeran Dipanegara (kita lebih senang menulisnya Diponegoro). Namun, kisahnya sama sekali bukan tentang perang itu sendiri atau tokoh-tokoh utama yang terlibat dalam perang itu.

Novel ini berkisah tentang gadis bernama Arumdalu, nama tambahan bagi Raden Ayu Danti. Arumdalu menjadi nama yang melekatinya lantaran kesukaannya menyuntingkan bunga itu di rambutnya.

Pada awal meletusnya Perang Jawa, hampir semua orang Salatiga, terutama kaum lelakinya, mengenal Danti Arumdalu. Orang-orang selalu menghubungkannya dengan kehidupan malam. Selanjutnya, Arumdalu dikasak-kusukkan sebagai pelacur kelas tinggi, simpanan seorang bangsawan kaya raya dari Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dari sudut pandang pengawalnya, Ki Brontok, kisah tentang Arumdalu ini dituturkan. Ki Brontok adalah lelaki berwajah rusak yang memiliki nama asli Raden Mas Brata, seorang anak priayi yang sejak anak-anak sangat memuja Danti. Obsesinya pada Danti membuat Brata melakukan apa saja demi bisa dekat dengan sang gadis. Sayang, Danti justru terpikat kepada Resa, seorang lelaki kebanyakan, anak seorang jagal bernama Ki Abilawa.

Secara tidak langsung, Brata kemudian terlibat dalam pembunuhan Ki Abilawa. Kisah pun mengalir panjang, sampai pada upaya pembebasan seorang panglima laskar Dipanegara yang termasyhur, Kiai Maja, yang ditangkap dan kemudian disekap di Benteng Salatiga. Namun, misi itu menjadi begitu rumit dan diperumit lagi dengan persoalan yang menggejolak di dalam dada para pembebas, persoalan manusia yang tidak dapat memungkiri jeritan hati nuraninya.

Seperti novel pendahulunya, novel ini juga sarat dengan paparan mengenai kebobrokan moral para pejabat dan pengusaha. Malima, terutama madon (bermain perempuan) dan madhat (mencandu narkoba) merebak di berbagai tempat. Kisahnya akan membuat kita menyimpulkan bahwa, setelah hampir dua ratus tahun, kebobrokan moral tetap merajai negeri ini.

Dari sisi cerita, memang agak sayang Pangeran Dipanegara sama sekali tidak hadir. Mungkin akan menjadi sensasi tersendiri kalau tokoh ini muncul meskipun hanya sebagai figuran. Satu tokoh sejarah yang muncul hanyalah Kiai Maja. Dari sisi penulisan, novel ini mengalir lancar dan bahasanya enak dinikmati.

Apa pun, setelah Glonggong dan Arumdalu, kita tunggu kisah apa lagi yang akan digelar Junaedi Setiyono dalam buku ketiganya.

(Resensi: Hermawan Aksan)

Detail Buku
Judul: ARUMDALU
Pengarang: Junaedi Setiyono
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 378 Halaman