Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Judul buku : Breakfast at Tiffany’s
Pengarang : Truman Capote
Penerjemah : Berliani M. Nugrahani
Penerbit : Serambi
Cetakan : I, Februari 2009
Tebal : 149 hlm
Novel pendek (novella) Breakfast at Tiffany’s terbit pertama kali pada tahun 1958, enam tahun sebelum penerbitan In Cold Blood, ‘novel non-fiksi’ yang semakin melambungkan nama Truman Capote sebagai penulis papan atas Amerika. Dua buah film yakni Capote (2005) dan Infamous (2006) dibuat berdasarkan kisah hidupnya. In Cold Blood merupakan novel yang ditulis dengan gaya jurnalisme sastrawi berdasarkan kisah nyata pembunuhan sadis yang dilakukan oleh dua orang pembunuh terhadap sebuah keluarga petani kaya di Holcomb, Texas.
Dalam Breakfast at Tiffany’s, Capote menceritakan tentang Holly Golighty, seorang wanita penghibur kelas atas New York. Dengan parasnya yang cantik dan bentuk tubuhnya yang menawan, ia bisa mengencani banyak pria kalangan atas, mulai dari pengusaha, petinggi Hollywood, politisi, petinggi militer, bahkan mafia. Gaya hidupnya glamor dan berpikiran bebas. Dia adalah ratu pesta. Pembawaannya yang supel, ceria, penuh pengertian, wawasan dan pergaulannya yang luas, mampu menarik perhatian siapapun yang mengenalnya, tidak terkecuali seorang pria yang menempati apartemen di atas apartemennya, yang bercita-cita menjadi seorang penulis, yang menjadi narator dalam novel ini. Holly memanggilnya dengan nama Fred, nama kakaknya.
Narator mengawali ceritanya dengan sebuah perbincangan dengan Joe Bell, pengelola sebuah bar di Lexington Avenue, tempat tokoh aku dan Holly biasa berkunjung. Perbincangan itu terjadi beberapa tahun setelah tokoh aku tidak berjumpa dengan Holly, bahkan sekedar mengetahui kabarnya pun tidak. Mereka saling menanyakan kabar Holly, namun tak ada satupun yang bisa memberikan kabar yang pasti, kecuali sebuah foto seorang kulit hitam sedang memamerkan patung kayu ukiran berbentuk kepala seorang gadis yang sangat mirip dengan Holly Golighty. Dan foto itu diambil di sebuah desa kecil di Afrika! Selanjutnya, narator mulai menceritakan awal perkenalannya dengan sang primadona tersebut.
Holly tinggal sendirian di apartemennya di East Seventies, New York, ditemani oleh seekor kucing tak bernama. Tinggal di atas apartemen yang ditempati Holly, membuat tokoh aku sering memperhatikan Holly saat ia keluar masuk apartemennya, sendirian ataupun dengan tamu-tamunya. Di antara tamunya itu adalah O.J. Berman, agen aktor Hollywood dan Rusty Trawler, jutawan muda berwajah bayi. Keduanya memiliki kepentingan yang berbeda dengan wanita muda itu. Narator juga mengamati kehidupan Holly dari keranjang sampah di luar apartemennya, di sana ia mengetahui sekilas apa saja bacaan rutin wanita muda itu, apa saja yang dimakannya, dan surat-surat yang selalu dirobeknya.
Kekuatan novel pendek ini adalah penokohan Holly yang kuat dan kompleks. Di satu sisi kadang ia memperlakukan tokoh aku dengan lembut dan penuh pengertian, namun di sisi lain ia acuh tak acuh tanpa alasan. Kadang ia terlihat kuat dalam menjalani hidupnya, namun tak jarang ia mengeluh dan menunjukkan kelemahan. Dengan statusnya sebagai sosialita muda New York memungkinkannya untuk mendapatkan bermacam kesenangan, namun di satu sisi ia tengah lari dari masa lalunya dan mencari tempat yang bisa membuatnya nyaman dan bahagia, sebagaimana yang ia dapatkan di Tiffany’s.
“Yang paling bisa membuatku merasa lebih baik adalah melompat ke taksi dan pergi ke Tiffany’s. Tempat itu langsung menenangkanku, keheningan dan kemewahannya; hal yang benar-benar buruk tidak akan mungkin menimpaku di sana, dengan pria-pria bersetelan indah itu, juga semerbak aroma perak dan dompet kulit buaya.” (hal. 57)
Masa lalu Holly suram. Ia ditemukan oleh sebuah keluarga dokter kuda di sebuah desa kecil di Texas tengah mencuri susu dan telur kalkun di dapur. Saat ditemukan, ia bersama kakaknya Fred, keadaannya sangat mengibakan. “Tulang-tulang rusuk yang bertonjolan, kaki yang terlalu kurus hingga mereka kesulitan berdiri, gigi yang terlalu goyah hingga mereka tak sanggup mengunyah bubur sekalipun”. (hal. 94).
Lewat penuturan sang narrator, maupun lewat dialog-dialog Holly, Truman Capote menjadikan tokoh Holly benar-benar hidup dan memorable, namun terkesan munafik dan inkonsisten. Jika kehidupan dan pergaulannya di kalangan atas diumpamakan sebagai langit, maka ia telah tinggal di langit seperti yang diinginkannya. Namun ia pun menyadari, bahwa kehidupannya di langit itu tidak akan bertahan lama. Dengan liris ia mengatakan: “.. menatap langit lebih baik daripada tinggal di langit. Tempat sesunyi itu. Langit hanyalah tempat petir berkilatan dan berbagai hal lenyap begitu saja.” (hal. 101)
Terlepas dari perbedaan status antara Holly dan narator, hubungan pertemanan antara keduanya sangatlah dekat, bahkan cenderung romantis meski tak mendayu-dayu. Hubungan yang tanpa hasrat untuk saling memiliki dan memaksakan kehendak satu dengan yang lainnya. Keduanya kadang menghabiskan waktu bersama. Narator dengan setia mendengarkan cerita Holly tentang masa lalunya, simpul-simpul pemikirannya dan mimpi-mimpinya.
Pada tahun 1961, Breakfast at Tiffany’s difilmkan. Tokoh Holly Golighty diperankan oleh si cantik Audrey Hepburn. Sejak saat itu Holly Golighty menjadi ikon budaya pop Hollywood, dan nama Audrey Hepburn melambung menjadi bintang papan atas Holywood. Capote berharap Marylin Monroe lah yang akan memerankan Holly. Bagaimanapun juga, Capote telah berhasil menciptakan sosok karakter yang melegenda lewat sebuah karya yang sangat nikmat dibaca, baik untuk sekedar hiburan, maupun untuk menilik salah salah satu fragmen kehidupan penduduk New York pada kurun 1940-an, semasa perang dunia II tengah berkecamuk, dalam hal ini, kehidupan kalangan atas dengan segala keglamorannya.
(Adi Toha)
dari notes facebook milik Adi Toha
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Leave a reply