Dari abad ke abad buku terus menerus dihasilkan dan dibaca. Tak jarang buku dibakar dan penulisnya ditumpas. Toh buku terus ada. Tak ada jegalan yang mampu menghalangi lahirnya dan dimaknainya sebuah buku. Inilah yang menarik dari novel Libri di Luca; sebuah novel yang mengisahkan buku yang terus bicara.
Matinya Sang Pengarang

Dalam esainya berjudul The Death of the Author, Roland Barthes mengungkapkan tentang persoalan sastra sebagai mahkota dan kesimpulan ideologi kapitalisme selalu mementingkan “pribadi” sang pengarang. Pengarang seperti lengket dalam tulisan yang telah ia buat. Seorang pengarang terus saja membayangi karyanya lewat catatan, biografi, wawancara, dan kesadaran pengarang yang ingin menyatu dalam karyanya. Tak mengherankan kalau kemudian citra buku terpusat kepada pengarang secara tiranik, pribadinya, sejarahnya, seleranya, dan kegairahanya. Karya pun tak pernah dibiarkan melenggang sendirian. Padahal menurut Barthes, seharusnya pengarang mati setelah karyanya lahir.

Persoalan yang diungkapkan Roland Barthes itulah yang ingin dijawab oleh Mikkel Birkegaard dalam novelnya Libri di Luca. Dalam Libri di Luca diceritakan betapa sebuah buku mampu berbicara sendiri tanpa harus dibantu oleh pengarangnya. Semakin dibaca buku itu, semakin banyak tafsir yang dihasilkan, bahkan seringkali melenceng dari keinginan awal penulisnya. Reproduksi makna terus terjadi: “beberapa buku bagaikan diisi kembali setiap kali dibaca.”(hal.63).

Oleh karena itu, sebuah buku yang belum dibaca tidak akan berarti apa-apa walaupun pengarang berkoar-koar bahwa bukunya adalah karya unggul. Di sinilah sebuah buku akan menentukan nasibnya sendiri. Ia bisa hilang dan bisa juga abadi. Semakin banyak buku itu dibaca, maka semakin “bermakna” buku itu: “buku yang lebih tua dan semakin sering dibaca lebih kuat dari buku baru yang belum pernah dibaca.” (hal.63). Pembacalah—yang melakukan reproduksi makna—yang mementukan “kekuatan” sebuah buku, bukan pengarangnya.

Mendengar Suara Buku

Hanya ada satu tempat idaman untuk rumpun kata-kata. Buku. Di situlah mereka bisa menjalankan fungsi sebenarnya—menyampaikan ilmu pengetahuan, membagi infromasi, hingga menyuarakan kebenaran—tanpa takut lenyap seketika terbawa angin yang berhembus. Buku adalah sebuah prasasti, tempat kata-kata menjejakkan maknanya yang ambigu sembari menunggu dipahami lebih lanjut. Pun, sebuah kotak harta karun misterius yang bisa mendatangkan berbagai resiko.

Hal inilah—selain ingin menjawab persoalan Roland Barthes—yang juga ingin disampaikan Luca dan Jon dalam novel Libri di Luca. Novel ini menampilkan sesuatu yang masih asing, yaitu sisi lain dari seorang penggila buku alias kutu buku yang masih sering dipandang aneh oleh beberapa orang. Selintas, Luca, si pemilik toko buku antik Libri di Luca, hanyalah seorang tua pendiam yang lebih memilih hidup di antara tumpukan buku koleksi dan jualannya daripada dengan Jon, anak semata wayangnya.

Keegoisan ini sempat dipandang Jon sebagai salah satu sifat khas para penggila buku yang cenderung aneh dan individualis. Apalagi, Jon seorang pengacara yang tak pernah punya waktu untuk membaca banyak buku, kecuali buku hukum. Namun, seiring bergulirnya waktu, Jon yang semula memandang sebelah mata pada pengabdian almarhum ayahnya pada dunia literatur akhirnya menyadari kesalahan yang telah dibuatnya—kesalahan orang awam pada umumnya. Ternyata, buku pun bisa berbicara; mengisahkan dirinya sendiri. “Gambaran itu sedemikian meyakinkan sehingga Jon ingin melirik ke samping untuk melihat anak itu dengan lebih jelas, tetapi matanya tidak lagi mematuhi dirinya. Mereka menolak meninggalkan halaman buku itu dan terus menelusuri kalimat demi kalimat di dalam buku tentang anak itu….” (halaman 84)

Jon juga menemukan alasan lain atas kesetiaan almarhum ayahnya pada buku-buku: “…Itulah hal yang menakjubkan dari semuanya. Rupanya, setiap buku memiliki suaranya tersendiri… Seperti berkomunikasi langsung dengan buku itu sendiri—dengan jiwanya.” (halaman 85)

Ada cerita di balik cerita. Inilah yang terjadi jika buku bisa berdiri sendiri. Ia selalu memberikan sebuah cerita baru setiap kali dibaca ulang.

Senjata Yang Dikutuk

Kira-kira, ada sekian ratus buku baru yang dicetak dan beredar di negeri ini setiap tahun, namun hanya sedikit buku yang benar-benar layak dimaknai ulang, ditafsirkan, dan diteruskan “suara”-nya kepada orang lain. Yaitu, hasil karya yang mampu mengubah pandangan seseorang tentang sejarah, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Pun, membuka mata dan menyentak kesadaran pembacanya akan fakta yang sebenarnya. Sayangnya, buku-buku semacam itulah yang paling dicari oleh segelintir pihak untuk dimusnahkan karena dianggap sebagai buku yang menyimpan “kutukan”. Kutukan tentang kebenaran.

Di dalam Libri di Luca, yang berlatar belakang kota Denmark di zaman modern, potret masyarakat urban yang disajikan Mikkel ternyata tak jauh berbeda dari apa yang ada di Indonesia. Suara politik bagai “suara Tuhan”. Yang mampu mengaduk-aduk segala hal semaunya, termasuk dunia literatur. Mikkel memunculkan seorang tokoh politisi yang hendak menutup kelas-kelas membaca di sekolah demi membelokkan aliran dana ke kas pribadinya. Namun, kejadian ini berakhir mudah di dunia khayal Mikkel. Dia memberikan kekuatan khusus kepada sejumlah penggila buku yang disebut Lector. Yaitu, kemampuan memengaruhi pikiran seseorang melalui bacaan hingga sesuai yang diinginkan. Di tangan mereka, buku menjadi senjata.

Dalam dunia nyata, imajinasi Mikkel tidaklah terlalu berlebihan. Banyak buku dipaksa menjadi kayu api karena dicap berbahaya. Sebagai contoh, semua buku karangan Pramoedya Ananta Toer sebagian besar dilarang. Karya tersebut dikerangkeng hanya karena penulisnya berpandangan politik berbeda–terlepas dari isi buku tentang serangkaian kebenaran pada masa itu, disamping ungkapan rasa kebangsaaan yang kuat. Hingga sekarang, sejumlah buku tetap diburu untuk dibungkam atau dibakar dengan berbagai dalih yang bermuara pada satu kesimpulan picik. Buku-buku itu terkutuk. Tidak pantas dibaca karena akan merusak moral, stabilitas negara atau apapun namanya. Tapi, tanpa disadari, membumihanguskan buku-buku terkutuk sama saja dengan melepaskan kutukan itu ke tengah pusaran angin. Kutukannya akan hinggap dan tersemai di mana-mana.

(Resensi oleh Anin Siswanto)

Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Tagline: Novel tentang Perkumpulan Rahasia Pencinta Buku
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 588 hlm