Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
“Hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah harus tetap menjalani hidup yang tanpa tujuan.”
Menikah dengan Charles Bovary sepertinya adalah kesalahan terbesar dalam hidup Emma Rouault. Betapa tidak, sebagai gadis yang pernah sekolah dan tinggal di asrama, dia sudah terbiasa dengan kehidupan kota. Selain itu, Emma sangat menyukai buku fiksi, sejarah, serta filsafat. Dia bukan lagi gadis desa biasa yang merasa nyaman hidup di wilayah pertanian. Sedangkan Charles suaminya, sang dokter, adalah seorang laki-laki dengan gaya bicara sedatar permukaan jalan, tanpa ekspresi, humor, atau imajinasi.
Sejak berusia belasan tahun, Emma sudah biasa melumuri tangannya dengan debu yang melekat pada buku-buku tua yang dipinjamnya di perpustakaan. Dia sudah melahap buku-buku fiksi romatis tentang skandal asmara, pasangan kekasih, perempuan simpanan, air mata dan peluk cium, serta para pria gagah sekuat harimau. Dia menghayalkan dirinya tinggal di istana bangsawan berjendela gotik dan didatangi pangeran berkuda hitam yang datang ujung senja. Emma sangat mengagumi Mary Queen of Scotts, Joan of Arc, Heloise, Agnes Sorel, La Belle Ferronie, Clemence Isaure, serta para perempuan mulia dan jahat lainnya.
Sebagai yang menyukai tantangan, Emma merasa bosan dengan rumah tangganya yang monoton. Menurutnya Charles begitu hambar. Dia hanya berbicara tentang hal-hal umum, tidak suka nonton drama di gedung teater, tidak pandai berenang, tidak menguasai ilmu bela diri, tidak pandai menembak, dan tidak tahu menahu soal teknik berkuda yang dibaca Emma dalam sebuah novel. Bagi Emma, Charles benar-benar seorang laki-laki yang payah. Seharusnya dia tahu banyak hal, piawai dalam pelbagai aktivitas, dan penuh inisiatif saat sedang dimabuk asmara. Namun, kenyataannya Charles tidak pernah mengajarkan apapun, tidak tahu apapun, dan tidak menginginkan apa pun. Seolah dia yakin bahwa istrinya telah bahagia.
Meski dibenci istri yang sangat dicintainya, sebenarnya Charles adalah seorang dokter yang penuh dedikasi. Dia bertugas hampir ke semua desa, menembus hujan salju, menantang amukan badai. Dia hanya makan telur dadar di rumah-rumah petani, menyelipkan tangan di balik pakaian tidurnya yang agak lembab, membiarkan mukanya berlumuran darah segar saat menangani pasien yang pendarahan. Dia tekun dan setia.
Namun Emma yang kesepian akhirnya menemukan kesempatan bertualang yang kelak harus dibayarnya dengan mahal. Dia menjalin hubungan dengan seorang karyawan firma hukum bernama Leon yang gemar membaca buku seperti dirinya. Setiap bertemu, mereka mendapat kesempatan untuk bertukar pikiran dan hasrat. Sepeninggal Leon, masih tanpa sepengetahuan Charles, Emma bermain api dengan Rodolphe!
Novel yang telah berusia 1,5 abad ini pernah menyulut kontroversi di Prancis karena begitu lugas mengungkapkan fenomena kehidupan masyarakat borjuis Prancis yang di permukaan tampak begitu saleh namun di belakang penuh skandal. Pada tahun 1857 Gustave Flaubert, sang pengarang, pernah diadili dengan tuntutan sebagai penulis yang ‘tidak bermoral’ dan ‘tidak beragama’ karena novel Madame Bovary yang ditulisnya ini begitu lancang menelanjangi bobrok masyarakat zamannya.
Sekali pun mengungkap perihal kehidupan kaum borjuasi yang glamour, novel ini tetap layak dibaca karena menyuarakan sisi-sisi manusiawi yang teredam oleh hiruk pikuk norma dan nilai moral masyarakat yang terkadang picik. Kenakalan Emma dan kenaifan Charles adalah seperti dua nadi yang terus berdenyut dalam kehidupan nyata.
(Resensi: Ade Efdira,
dimuat di harian Singgalang, Minggu 1 Agustus 2010)
Detail Buku
Judul: MADAME BOVARY
Penulis: Gustave Flaubert
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 507 hlm
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Leave a reply