libriMungkin saya termasuk salah satu orang yang tidak bisa lepas dari buku. Buku adalah penghibur, pembuka jendela ilmu, penuntun khayalan yang tak berbatas, sampai yang sederhana: sebagai pengisi waktu saat harus menunggu atau mengantre.

Tapi, bagaimana jika kegiatan membaca buku ternyata tidak sekadar menikmati sebuah cerita? Bagaimana jika buku yang kaubaca keras-keras bisa memengaruhi orang yang mendengarnya hingga mau menuruti keinginanmu? Sebaliknya, bagaimana jika kau, sebagai pendengar, bisa memengaruhi orang yang sedang membaca, untuk berpikir sesuai keinginanmu?

Ide menarik ini dilontarkan Mikkel Birkegaard dalam novel perdananya, LIBRI DI LUCA. Dia menggambarkan bahwa di sekeliling kita bertebaran orang-orang dengan kemampuan seperti tersebut di atas, para Lector yang terbagi menjadi dua kelompok, pemancar dan penerima.

Tokoh utama dalam buku ini, Jon Campelli, dihadapkan pada fakta mengejutkan tersebut, ketika mewarisi toko buku antik dari ayahnya yang meninggal secara tak wajar. Ayahnya adalah seorang pemancar hebat, dan tidak diragukan lagi, bakat itu pun mengalir dalam darah Jon, seorang pengacara andal yang awalnya skeptis pada hal-hal ‘tak masuk akal’ seperti itu.

Dengan bantuan teman-teman ayahnya, Jon mulai memasuki dunia rahasia para Lector, menguak kenyataan pahit yang membuat ayahnya mengasingkan dia selama dua puluh tahun, sampai menyelidiki penyebab kematian ayahnya. Penyelidikan yang pada akhirnya mempertemukan Jon dengan kelompok Lector yang ingin menguasai dunia, dengan kemampuan mereka memengaruhi orang lewat bacaan.

Menarik karena Birkegaard mengaitkan ide ini dengan fakta sejarah ketika para Pustakawan menempati posisi terhormat di Alexandria. Dengan perpustakaan Bibliothica Alexandrina yang menakjubkan, Alexandria di Mesir menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia ribuan tahun yang lalu. Sekilas mengingatkan saya pada novel Da Vinci Code, yang juga memadukan fiksi dan sejarah secara apik.

Ketegangan cerita yang terbangun perlahan-lahan hingga memuncak di bagian akhir, cukup membuat penasaran walaupun kita sudah bisa menebak siapa yang akan menang. Seperti khasnya cerita thriller, kejutannya adalah orang-orang yang disangka teman ternyata adalah musuh, atau sebaliknya.

Tokoh utama juga tidak dibiarkan kering tanpa sentuhan kisah cinta. Meskipun klise, tampaknya plot percintaan di antara peperangan tetap menjadi bumbu penyedap andalan yang gurih.

Libri di Luca adalah bacaan lezat yang berhasil membuat saya makin mengagumi kekuatan yang terkandung dalam sebuah buku. Sekaligus, jadi sedikit berhati-hati jika bertemu orang yang sangat pandai membacakan cerita dari buku, sampai membuat pendengarnya terbuai.

(Barokah Ruziati)

Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Desember 2009
Tebal: 588 halaman