Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Pada 8 Juli lalu Midnight’s Children (Salman Rushdie) memenangi predikat “the Best of the Booker prize” dalam rangka ulang tahun ke-40 penyelenggaraan Booker Prize, dipilih oleh 7.801 orang, via online maupun surat/faks, dengan persentase kemenangan 36%. Novel tersebut mengalahkan lima nominee lain, yang disaring dari 41 pemenang Booker Prize. Midnight’s Children di antaranya mengalahkan Disgrace (1999) karya J.M. Coetzee dan The Conservationist (1974) karya Nadine Gordimer, dua penulis Afrika Selatan yang sebelumnya mendapat anugerah hadiah Nobel Sastra.
Booker Prize merupakan salah satu anugerah sastra paling prestisius di dunia, terbuka bagi penulis dari Inggris, Irlandia, dan negara anggota Persemakmuran. Penghargaan “the Best of the Booker prize” merupakan hat trick bagi Rushdie, setelah kemenangan awal pada 1981 dan ketika ulang tahun Booker Prize ke-25 pada 1993. Ternyata karya yang lahir lebih dari seperempat abad lalu masih bisa menggetarkan ribuan orang dan memaksa juri kembali mengakui kehebatannya.
Kemenangan ini cukup mengejutkan, pasalnya sebelum penetapan nominee, favorit utamanya ialah Life of Pi (Yann Martel), The English Patient (Michael Ondaatje), dan The God of Small Things (Arundhati Roy.) Hampir persis dua tahun lalu, pada 16 Juni 2006, Salman Rushdie dianugerahi gelar ksatria (Sir) oleh kerajaan Inggris atas jasa-jasa dan pengabdiannya di bidang susastra. Segera penghargaan itu menimbulkan banyak protes di negara mayoritas berpenduduk Muslim, antara lain Pakistan—kampung halaman leluhur Rushdie sendiri. Karena itu sejumlah orang Indonesia di milis menilai bahwa “orang Inggris tak sensitif terhadap Islam.”
Victoria Glendinning, ketua panel juri, menyatakan bahwa keenam unggulan didominasi oleh “tema akhir kekuasaan mutlak dan dua perang dunia.” Disgrace, urutan ke-2, berlatar belakang Afrika Selatan pasca-Apartheid, mengetengahkan sejumlah tema kompleks menyangkut ras, gender, konflik sosial, dan peralihan generasi. Sedangkan urutan ke-6, The Ghost Road, berseting kehancuran dunia setelah Perang Dunia I berakhir. Dunia mutakhir juga merupakan upaya kebangkitan peradaban dari reruntuhan perang. Isu akhir kekuasaan ini makin menguat ketika muncul studi poskolonial, subaltern, dan terutama sekali sastra diaspora, yang antara lain ditandai oleh kemunculan silih berganti penulis keturunan India dalam khazanah sastra Inggris.
Banyak kritik berpendapat Midnight’s Children memang karya terbaik Rushdie, mengalahkan novel-novel setelahnya, termasuk The Satanic Verses, yang secara notorious tetap merupakan novel paling terkenalnya meski memaksa sang penulis bersembunyi selama hampir satu dekade. Novel ini pula yang dengan mudah membuat orang malas menilik lebih jauh pencapaian dia selama ini. Lepas bahwa di satu level kehidupan Rushdie boleh jadi tetap dalam bayang-bayang ancaman terutama dari kaum fanatik garis keras, dia membuktikan tetap mampu melahirkan karya dengan reputasi senantiasa dapat pujian. The Moor’s Last Sigh (1995) oleh The Salon.com Reader’s Guide to Contemporary Authors bahkan diganjar lebih tinggi dibanding Midnight’s Children.
Good Fiction Guide (2001) memuji Midnight’s Children sebagai: “Menyeluruh sekaligus di luar kendali. Novel ini memperlihatkan betapa sejarah berkembang perlahan-lahan lewat banyak sekali kisah, dan semua tak ada yang mutlak. Rushdie adalah penulis penuh daya cipta kaya yang menunggang budaya dan menarik berbagai tradisi Barat dan Timur.” Novel ini sekarang telah menjadi salah satu standar sastra, terutama di genre realisme magis, sejajar dengan One Hundred Years of Solitude (Gabriel García Márquez) dan The Tin Drum (Günter Grass.) Dalam perkembangan sastra Inggris kontemporer, reputasi Salman Rushdie sulit sekali dicari celanya.
Para pembaca Midnight’s Children selalu memuja betapa bagus Rushdie menulis. “Karya itu merupakan ode bagi imajinasi umat manusia,” kata Rani Ambyo, seorang editor di Jakarta, yang mengikuti berita “the Best of the Booker prize” sejak awal, “Rushdie menulis dengan amat indah di sana. Metaforanya cantik-cantik.” Kandie Sekarwulan, seorang penerjemah tinggal di Bandung, berkata, “Ini jenis buku yang ‘menghantui,’ setelah lama tamat masih terpikir terus isinya. Saya kagum cara Rushdie menulis begitu detil tentang kejadian dalam rentang waktu sangat lama, dan semua kejadian itu saling terhubung membuat jaring-jaring rumit.”
DI INDONESIA, apalagi pasca kontroversi The Satanic Verses, boleh jadi orang kesulitan menalar kenapa novel yang secara lentur mengisahkan mitos dan sejarah politik India tersebut bisa menang dengan reputasi gilang-gemilang. Rushdie sendiri konsisten terus beranjak menjauh meninggalkan kontroversi, menghasilkan karya dengan kesungguhan sebagaimana biasa. Harus segera diakui, ini merupakan tanda bahwa mengaitkan Salman Rushdie dengan fatwa mati Imam Khomeini otomatis terbukti usang.
Rushdie menghadirkan eksplorasi terhadap perjalanan bangsa melalui kisah dari satu orang. Midnight’s Children berpusar ketika India tengah berada di masa paling sukar, sedang dipimpin Indira Gandhi yang terpilih jadi perdana menteri untuk kedua kalinya, diceritakan oleh pendongeng yang sulit dipercaya bernama Saleem Sinai. Satu-satunya yang mau dengar dan percaya pada cerita dia ialah tunangannya sendiri, Padma, gadis buta huruf buruh pabrik asinan. Karena sulit dipercaya, cerita Saleem sebagian berlubang, inakurat, dan kontroversial, sampai membangkitkan protes Indira Gandhi, merasa bahwa Rushdie melakukan pencemaran nama baik, menekan agar dia merevisi novel tersebut dan mengajukan permintaan maaf. Rushdie menolak, berkilah yang melakukan kesalahan ialah sang pendongeng, bukan dirinya.
Inakurasi misalnya terjadi pada kisah Mahabharata. Boleh jadi ini terjadi karena Rushdie menulis berdasar ingatan saat tumbuh di Mumbai, sebelum akhirnya tinggal di London ketika kuliah. Kemungkinan lain karena dia menggabung-gabungkan beberapa teks dari epik lain yang sama-sama kompleks, yaitu Ramayana dan Kisah Seribu Satu Malam, belum lagi kecenderungan menggugat legitimasi otoritas agama. Saleem mengklaim dirinya mendapat wangsit. Dia mendengar “dari ribuan lidah mencerocos” dan meski mula-mula dirinya kacau, berjuang, sendirian, untuk memahami apa yang tengah dialaminya, akhirnya dia menyaksikan “selendang seorang genius melambai-lambai, mirip renda kupu-kupu, selubung keagungan bersemayam di pundaknya” (hal. 185.) Jika sejarah India menurut Saleem melontarkan pertanyaan tentang upaya merekam sejarah, penolakannya untuk menentukan satu bentuk umum atas dirinya sendiri menimbulkan pertanyaan tentang cara kita memahami kehidupan sendiri.
Di sisi lain, peristiwa pasca The Satanic Verses memberi pelajaran berharga bagi Rushdie. Dia tampak jera melukai Islam, agama yang secara tradisional dianut keluarga besarnya. Dalam esai “Imaginary Homelands” (1991) yang dia tulis dalam persembunyian, Rushdie menyatakan: “Hubungan saya dengan keyakinan agama formal memang agak terganggu. Yang saya ketahui tentang Islam ialah bahwa toleransi, kasih sayang, dan cinta merupakan jantung agama ini. Saya telah menemukan jalan sendiri menuju pemahaman intelektual terhadap agama. Dan agama bagi saya artinya selalu Islam.” Dia tahu ironi tak selalu cocok bagi semua orang.
Penulis yang berumur 61 tahun pada 19 Juni lalu ini baru saja menerbitkan The Enchantress of Florence, dan kini tengah melakukan tur AS untuk promosi. Associated Press memberitakan kali ini novelnya lebih hati-hati membicarakan kekuasaan dan realitas, mengaitkan teknik berkisah Seribu Satu Malam yang secara bersamaan menggunakan tipu daya dalam The Three Musketeers dan Pirates of the Caribbean.[]
Anwar Holid, eksponen TEXTOUR, Rumah Buku, Bandung.
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
Leave a reply