Penulis: Mark Haddon

Penerjemah: Ferry Halim

Penyerasi: Sidik Nugraha

Cetakan I, April 2008

Sebuah Komedi Manusia untuk zaman kita, mencermati rumitnya hubungan cinta dan keluarga di masa kini.

George Hall baru saja pensiun dan dipaksa melihat hidupnya dari cara baru. Ia menderita penyakit kulit eczema, yang ia kira kanker. Putrinya, Katie, akan menikah dengan Ray, yang tidak ia cintai, tidak pula ia sukai. Putranya, Jamie, seorang homoseks dan ia khawatir ayahnya takkan bisa menerima. Belakangan ia mengetahui istrinya, Jean, berselingkuh dengan mantan rekan kerjanya.

Jean sayang pada George, dan meskipun ia butuh dan cinta kepada David, kekasihnya, ia tidak bisa meninggalkan suaminya yang sedang sakit dan menurutnya mulai kehilangan kewarasannya.

Katie kerepotan dengan putranya dari pernikahannya yang pertama, Jacob, dan tak yakin apakah ia benar-benar mencintai Ray, tunangannya. Ia membatalkan pernikahannya—hanya untuk mengetahui betapa Ray mencintainya, dan kemudian pernikahannya pun tidak jadi batal.

Pacar Jamie ingin datang ke pernikahan Katie, namun Jamie tak yakin apakah orangtuanya akan setuju jika ia membawa kekasihnya, apakah mereka akan menerimanya sebagai seorang homoseks. Menurutnya yang diundang hanyalah keluarga—tetapi Tony mencintainya, dan ia mencintai Tony, maka bukankah itu artinya ia keluarga? Jamie mencoba menjawab pertanyaan ini sepanjang cerita, dan apakah ia rela hanya berpasangan dengan Tony dan tidak berkencan dengan pria-pria lain, sebagaimana yang banyak dilakukan oleh pria-pria homoseks? Mereka sempat putus di tengah cerita, namun kemudian sambung kembali.

Cerita berpindah-pindah dari satu karakter ke yang lain, menunjukkan rumitnya masalah kehidupan mereka, yang membuat hubungan mereka dengan anggota keluarga lain pun bertambah pelik. Meski demikian, cerita terasa humoris dan pengarang mampu membawa kita ke dalam kepala masing-masing tokoh. Pengarang memandang mereka dengan penuh pengertian.

Haddon menulis dengan memperagakan teknik Hemingway, meskipun dari segi tema dan “rasa” buku ini jauh lebih mirip Balzac, Pak Tua Goriot (apa malah sebuah tribute?). Ia tidak memberikan penggambaran perasaan secara bertele-tele, tetapi ia menceritakan karakter dengan detil. Perhatikan adegan ketika George melihat Jean berhubungan intim dengan pria lain di tempat tidur mereka—dan George mengasingkan diri ke hotel, serta bagaimana ia berusaha menyepikan rasa sakitnya.

Penuh dengan referensi ke hal-hal modern (acara TV, film kontemporer, majalah, CD, dll.), buku ini menjadi potret akurat zaman kita.

Awalnya agak sulit diikuti, begitu banyak karakter dalam buku ini. Sukar mengikuti Ray itu siapa, apa hubungannya dengan Tony, dsb.

Namun, keasyikan buku ini meningkat sejak George mengetahui istrinya selingkuh. Cerita terasa bergerak lebih cepat seraya resiko, misteri, dan ketegangan dalam cerita bertambah (apakah George akan bercerai, apakah Jamie akan membawa Tony ke pernikahan, apakah Katie akan jadi menikah, apakah George akan mati??!!!)