Sejarah selalu punya banyak sisi, saat diceritakan oleh pihak-pihak yang berbeda. Sesuatu yang menjadi keyakinan umum belum tentu menggambarkan kejadian sebenarnya, meski telah dikisahkan turun-temurun selama ratusan bahkan ribuan tahun. Sejarah juga kerap menjadi alat politik, karena pihak yang berkuasa tak jarang berusaha mengendalikan sejarah demi mengabadikan nama harum kekuasaan mereka.

Semangat ‘mengoreksi’ sejarah dalam kemasan budaya populer bisa dibilang mulai hidup sejak Dan Brown meluncurkan Da Vinci Code. Walaupun bukan yang pertama, namun karya Brown tak bisa dipungkiri adalah yang paling fenomenal hingga saat ini.

Dan, bagian sejarah yang dipilih Levin untuk diceritakan dalam buku ini adalah mengenai keberadaan Menorah, kandelabra bercabang tujuh dengan api abadi yang (menurut kepercayaan) menjadi saksi atas perjanjian bangsa Israel dengan Tuhan, simbol janji abadi bahwa keturunan Ibrahim akan sama banyaknya dengan jumlah bintang di langit dan pasir di tepi pantai.

Api abadi dengan kekuatan seperti itu tentu ditakuti oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi. Tak heran jika sejak abad ke-7 SM, bangsa Assyria sudah berusaha memadamkannya namun gagal. Begitu pula ketika bangsa Babilonia melakukan upaya yang sama pada tahun 586 SM. Dan sejarah mencatat bahwa menorah ini baru berhasil dicuri oleh bangsa Romawi dibawah pemerintahan kaisar Titus pada abad ke-1 Masehi. Dan sejak itu terus berpindah tangan dari bangsa demi bangsa yang mengalahkan Romawi.

Berdasarkan penelitian Jonathan Marcus, pengacara muda mantan mahasiswa sejarah paling cemerlang di Akademi Amerika di Roma, menorah yang asli sebenarnya tidak pernah lepas dari tangan bangsa Yahudi. Flavius Yosefus, yang dalam sejarah disebut sebagai pengkhianat Yahudi karena bekerja untuk Kaisar Titus setelah kejatuhan Yerusalem, ternyata seorang mata-mata hebat yang dengan kerumitan rencana yang dia susun, berhasil menyelamatkan menorah dari tangkapan pasukan Romawi. Artinya, menorah yang selama ini selalu berpindah tangan mengikuti pihak yang berkuasa, adalah palsu belaka.

Dengan plot menegangkan dan penuh kejutan khas cerita thriller, dalam waktu 24 jam Jonathan Marcus, bersama mantan kekasihnya Emili Travia yang bekerja di Pusat Konservasi Internasional PBB, menelusuri labirin penuh rahasia dan menguak misteri demi misteri yang terbentang antara Roma dan Yerusalem, guna menyingkap keberadaan menorah tersebut. Semua berawal ketika potongan Forma Urbis, peta kuno Roma dari batu muncul di sebuah pameran di Italia. Emili berupaya membuktikan bahwa kepemilikan forma urbis itu ilegal, sementara Jonathan ditugaskan oleh kantor pengacaranya untuk mementahkan tuntutan tersebut. Namun pesan rahasia berusia ribuan tahun di dalam forma urbis yang tanpa sengaja terungkap oleh Jonathan, membuatnya meninggalkan tugas dan kembali bertualang bersama Emili dalam dunia arkeologi yang menjadi cinta sejatinya.

Di luar kisah seru yang dihadirkan, tampak jelas bahwa Levin bemaksud mengangkat sebuah isu yang sebenarnya cukup ‘panas,’ yaitu mengenai Dewan Wakaf – sebuah yayasan perwalian rahasia Islam yang menangani Baitallah di Yerusalem sejak 1187 M. Levin menggugat otoritas yayasan tersebut yang sejak ratusan tahun lalu melarang pihak asing memasuki Baitallah. Akibatnya, kecurigaan Israel bahwa telah terjadi penggalian ilegal di bawah Baitallah tidak pernah dapat dibuktikan. Israel merasa berkepentingan karena penggalian tersebut diduga bermaksud menghancurkan peninggalan sejarah Yahudi-Kristen yang tak ternilai harganya.

Jika perdebatan ‘diseriusi’ sampai ke tataran politik dan agama, tentu tulisan Levin ini bisa menuai banyak diskusi, bahkan sanggahan dan protes. Sesuatu yang juga dialami Dan Brown setelah mengutarakan berbagai teorinya dalam Da Vinci Code.

Namun, saya akan berhenti menilai karya Levin ini hanya sampai tataran hiburan. Sebuah hiburan yang cukup memperkaya pembaca dengan fakta-fakta sejarah serta dunia kuno Roma yang hingga saat ini masih terkubur di bawah kota Roma modern. Adalah kearifan pembaca sendiri yang akan memilah mana fakta dan mana fiksi dalam lembar-lembar halaman buku ini.

(Resensi: Barokah Ruziati)

Detail Buku
Judul: THE LAST EMBER
Anak Judul: Bara di balik penggalian bawah tanah Al Aqsa
Pengarang: Daniel Levin
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penerbit: Serambi
Tebal: 573 hlm
Cetakan : I, Juni 2010