Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.

Apa yang menarik?
Ada Bincang buku LIBRI DI LUCA.
Kapan acaranya?
Valentine nanti, 14 Feb 2010
Di radio Sonora FM 92.0
mulai pkl. 11.00 WIB.
Ada apa lagi?
Siap-siap kebagian buku gratis, karena ada buku-buku Serambi yang akan dibagikan.
Detail Libri di Luca:
http://cerita-utama.serambi.co.id/gcu.php/libri-di-luca.php
Kami tunggu atensi Anda, para pembaca!
Detail Buku
Judul: THE LAST EMPEROR
Anak Judul: Kisah Tragis Kaisar Terakhir China
Penulis: Henry Pu Yi, Direvisi oleh Paul Kramer
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Februari 2010
Tebal: 468 hlm
Harga: Rp —
AUTOBIOGRAFI HENRY PU YI YANG MENGILHAMI FILM PERAIH 9 PIALA OSCAR
Sepertinya tidak ada yang lebih berliku dan tragis dibandingkan dengan kisah ini. Menyimak kehidupan Pu Yi berarti juga menyelami periode penting sebuah bangsa besar: masa peralihan China dari negara kerajaan ke republik—yang sering disama-artikan dengan “perubahan dari tradisional menjadi modern”. Bagi sebagian orang yang menganggap sistem politik modern lebih adil, peristiwa ini merupakan pilihan terbaik. Namun, bagaimana jika dilihat dari sudut pandang sang Kaisar?
Buku ini berdasarkan penuturan Pu Yi sendiri. Dia menceritakan perjalanan hidupnya yang luar biasa: penobatannya sebagai Kaisar pada usia dua tahun, hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, korupsi yang menggerogoti kerajaan, menjadi “boneka” penguasa Jepang, mendekam di penjara sebagai tawanan perang, dan menjadi tukang kebun di mana hanya sedikit orang yang mengenalnya sebagai “Putra Langit”.
Dengan sangat terbuka dan sedemikian banyaknya informasi teperinci yang gamblang, Pu Yi menulis kisah ini di tempat penahanannya. Tak diragukan lagi, buku ini adalah catatan yang unik, memikat, dan penting tentang sejarah China yang paling kacau dan dramatis—dan tentang seorang manusia yang menjadi saksi atas semuanya.
“Pu Yi mencerminkan China modern …”
—The Washington Post
“Penting dan sangat memukau …”
—The New York Times
“Lembaran manuskrip ini berisi sebuah buku yang kuwasiatkan agar diterbitkan sesudah kematianku. Ini karya terjemahanku yang kuupayakan sebisaku agar sesuai aslinya, berasal dari sekumpulan lembaran perkamen yang ditemukan sepuluh tahun lalu di puing-puing kota tua yang berlokasi di barat laut kota Aleppo di Suriah. Membutuhkan tujuh tahun untuk menerjemahkan manuskrip ini dari Bahasa Suryani ke Bahasa Arab. Namun kini, setelah terjemahan selesai, saya menyesal sudah bersusah payah melakukannya.”
Saya butuh dua hari untuk menuntaskan buku ini. Isinya benar-benar membuat saya terpesona. Saya harus memperlmbat kecepatan saya membaca agar bisa lebih memahami berbagai ungkapan makna yang tersirat serta memahami filsafat yang diuraikan.
Buku ini terwujud dari hasil negosiasi seorang pendeta Hypa dengan Azazil adalah raja iblis yang diusir Tuhan dari surga karena membangkang. Hypa setuju untuk menuliskan kisah hidupnya dalam waktu 40 hari dengan harapan sesudah ia selesai menulis maka Azazil mau membiarkannya hidup tenang.
Dalam proses tulis-menulis tersebut, banyak hal yang ingin ditulis Hypra ditentang oleh Azazil. Namun, ada juga saat Azazil merayu Hypa untuk menuliskan kisah menurut versi Azazil. termasuk menuliskan rahasia kelam hidupnya serta pikiran-pikiran terlarangnya yang sesat menurut gereja.
Hypa hidup pada masa pergolakan iman Kristen di abad kelima Masehi. Saat itu terjadi pertentangan antara berbagai aliran gereja menyangkut konsep-konsep sakral, termasuk soal Trinitas dan ketuhanan Yesus, yang kemudian berpuncak pada serangkaian tragedi kekerasan yang mengatasnamakan Tuhan.
Dikisahkan juga situasi serta kondisi kehidupan bermasyarakat pada saat itu, dimana semua yang bersinggungan dengan gereja akan dianggap musuh. Salah satu yang mengalaminya adalah Hypatia yang sering dijuluki Mahaguru Abad Ini. Ia mengalami peyiksaan dari pengikut gereja, tubuhnya dikuliti lalu dipotong empat!
Empat potong tubuh itu kemudian dilemparkan ke tempat yang sekarang menjadi lokasi pembuangan sampah. Meski tubunya sudah terbelah empat, Hypatia masih hidup. Dia siuman ketika api mulai membakarnya. Teriakan terakhirnya membahana sebelum dia diam untuk selamanya; seakan-akan langit kerajaan Tuhan menyerap habis erangan kesakitan yang keluar dari mulutnya yang pernah mengajarkan keagungan filsafat kepada manusia.
Sebagai bumbu, dikisahkan juga cinta terlarang antara Hypa dengan dua wanita jelita. Oktavia yang penyembah berhala dan Martha sang penyanyi gereja. Sepertinya perlu dituliskan ini novel untuk dewasa. Walau tidak berkesan porno, namun banyak adegan syur yang terjadi.
Misalnya saat tiga hari tiga malam Hypa bersama Oktavia, ”Aku pun semakin merasa bahwa aku sekarang sedang tersasar di belantara tubuh Oktavia. Aku sekarang sedang tenggelam dalam arus sungainya yang menyeret deras… Dia mengepungku dari semua penjuru, sebagaimana samudra yang luas mengepung daratan dari segala arah.” Atau pada kalimat, ”Dan kemudian, terjadilah apa yang lazim terjadi antara sepasang lelaki dan perempuan ketika mereka mencampakkan tabir rasa malu.”
Biasanya, saya tidak pernah tergoda komentar orang mengenai buku. Tapi saat saya membaca kalimat-kalimat berikut:
“Azazil adalah buku paling berbahaya bagi keimanan Kristen.”
—Kardinal Besyaway, Sekretaris Umum Kepala Gereja Ortodoks Koptik Mesir
“Sebuah novel yang mendobrak sakralitas.”
—Jurnal Al-Qahirah, Mesir.
“Azazil adalah karya sastra yang tiada tanding.”
—Koran El-Ra`y, Yordania
Saya jadi tergoda untuk membacanya. Suatu keputusan yang tidak salah!
Di buku ini juga ada sepenggal kalimat yang sangat saya suka, “Sesungguhnya tidur adalah anugrah Tuhan yang tiada terkira.” (hal 73). Sebagai orang yang selalu berusaha memanfaatkan waktu luang dengan tidur, jelas saya mendukung pernyataan ini.
(Truly Rudiono)
Detail Buku
Judul: AZAZIL, Godaan Raja Iblis
Pengarang: Youssef Ziedan
Penerjemah: M. Aunul Abied Shah
Penyunting: M. Irfan
Tebal: 574 hal
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: Desember 2009
Masih ingatkah kita akan pengalaman masa kecil ketika kita sedang dibacakan cerita oleh orang tua kita ? Tentunya sangat mengasikan karena biasanya kita akan terpukau oleh ceritanya sehingga kita seolah-olah berada dalam kisah yang sedang kita dengar itu.
Namun, pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah buku yang dibacakan akan memberi pengaruh yang lebih dahsyat lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya dan menjadikan apa yang ada dalam buku terasa begitu nyata melainkan dapat mempengaruhi jiwa, pikiran, dan persepsi mereka yang mendengarnya. Hal inilah yang terpikirkan oleh Mikkel Birkegaard penulis muda Denmark yang ia tuangkan dalam novel perdananya yang berjudul Libri di Luca.
Dalam karyanya ini Mikkel menceritakan mengenai para pembaca buku yang dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka yang mendengar apa yang sedang dibacanya. Para pembaca ini disebut dengan Lector, yaitu mereka yang melatih sebuah seni membaca keras-keras dari sebuah teks sehingga dapat memberi penekanan sesuai dengan keinginan si Lector. Dengan demikian hal ini akan mempengaruhi persepsi mereka yang mendengarkan isi dari sebuah teks yang dibacanya
Lector ini sendiri dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pemancar yang dapat mempengaruhi persepsi pendengar terhadap tulisan yang sedang dibacanya, dan kelompok penerima yang mampu mempengaruhi persepsi seseorang yang sedang membaca sebuah buku. Jika dua kelompok ini disatukan maka akan tercipta sebuah sinergi yang dahsyat yang dapat mempengaruhi dunia sesuai dengan apa yang diinginkan para Lector. Di tangan mereka, buku bisa menjadi sebuah senjata!
Novel ini diawali dengan kisah kematian Luca Campelli seorang Lector yang memiliki sebuah toko buku antik terkemuka di Kopenhagen Denmark yang diberinya nama “Libri di Luca”. Kematiannya sangat ironis karena Luca Campelli meninggal secara mendadak di toko buku kebanggaannya ketika ia sedang membaca buku antik yang sangat ia sayangi.
Luca hanya memiliki seorang anak yang bernama John, seorang pengacara handal. Namun walau John adalah anak tunggalnya hubungan antara Luca dengan anaknya tidaklah sedekat hubungan antara seorang ayah dan anak pada umumnya sehingga tak heran jika John tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya.
Kematian Luca otomatis membuat toko buku Libri di Luca diwariskan pada John. Dengan bantuan Iversen selaku sekretaris pribadi Luca dan Katherine, pegawai kepercayaan Luca lambat laun John mulai mengenal aktifitas ayahnya beserta isi dari Libri di Luca yang menyimpan begitu banyak buku-buku berharga.
Melalui penuturan Iversen akhirnya terungkap bahwa Libri di Luca ternyata merupakan markas sebuah perkumpulan rahasia pecinta buku yang terdiri dari para Lector yang memiliki kekuatan mempengaruhi pendengarnya baik sebagai pemancar maupun penerima. Dan yang paling mengejutkan bagi John adalah ternyata tanpa disadarinya dirinyapun mewarisi kemampuan ayahnya sebagai seorang Lector.
Tidak berapa lama setelah kematian Luca, toko buku Libri di Luca mendapat serangan bom yang menghanguskan sebagian toko buku antik tertua di Kopenhagen itu. Hal ini membuat John Iversen dan Katherne menaruh curiga bahwa kematian Luca bukanlah kematian biasa melainkan ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Libri di Luca beserta perkumpulan rahasianya.
Kematian Luca dan serangan terhadap Libri di Luca memang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan diantara para anggota perkumpulan, antara Lector penerima dan pemancar saling mencurigai sehingga perkumpulan rahasia ini nyaris terpecah belah. Kecurigaan John dan kawan-kawannya akhirnya mengerucut pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan diluar perkumpulan rahasia Libri di Luca yang bertujuan untuk memecah belah Perkumpulan dan mempengaruhi para Lector untuk dapat menguasai dunia lewat kekuatannya.
Pencarian siapa dalang dari kekisruhan ini tak mudah. John dan kawan-kawan harus berpacu dengan waktu, taruhannya adalah nyawa mereka sendiri dan nyawa para Lector yang satu persatu tewas dengan berbagai cara. Pencarian ini ternyata membawa John, Iversen, dan Katherene melintas benua menuju Mesir, dimana pernah berdiri dan kini sedang dibangun kembali sebuah Perpustakaan terbesar di dunia di Alexandria – Mesir (Bibliotheca Alexandrina). Ternyata di tempat ini pulalah cikal bakal terbentuknya perkumpulan rahasia para lector.
Bagi para pecinta buku, novel ini akan menjadi sangat menarik karena mengupas tentang buku dan pembacanya. Buku di tangan seorang lector bisa menjadi sebuah alat yang mempengaruhi dunia. Selain itu Mikkel juga dengan menarik memadukan sebuah fakta sejarah mengenai Bibliothica Alexandrina, perpustakaan paling besar sedunia yang pernah ada di muka bumi ini dengan kisah thriller fantasi yang menghibur.
Plot cerita yang disuguhkan penulisnya dibangun secara perlahan dan mencapai klimaksnya di bagian akhir. Berbagai fakta dibeberkan secara rinci sehingga pembaca bisa memahami logika dari sebuah kisah yang dibangun. Seperti kitah-kisah misteri lainnya, pembaca akan dibuat terkecoh menduga siapa yang menjadi dalang dari misteri kematian Luca Campelli. Jadi bersiap-siaplah untuk terkaget-kaget di bagian akhir novel ini.
Yang agak disayangkan dalam novel ini adalah kurangnya penulis mengeksploitasi kisah ketika berada di Bibliothica Alexandrina. Setting di Alexandria ini baru muncul di bagian-bagian akhir, andai saja setting di perpustakaan ini lebih diekplorasi lebih banyak lagi tentunya novel ini akan lebih menarik dan membuat wawasan pembaca mengenai Bibliothica Alexandrina semakin bertambah.
Saya juga agak menyayangkan deskripsi yang berlebihan mengenai kekuatan seorang Lector yang dengan kekuatan yang dimilikinya bisa menimbulkan fenomena lecutan-lecutan api, asap, cahaya, dll. Andai saja fenomena fisik seperti itu dihilangkan dan diganti dengan deskripsi mengenai bagaimana keadaan jiwa dan pikiran seseorang yang telah dipengaruhi oleh seorang Lector tentunya kesannya akan lebih dramatis dan dalam dibandingkan dengan menonjolkan fenomena fisiknya.
Terlepas dari hal di atas, bagaimanapun novel ini sangat menghibur. Gambaran toko buku antik Libri di Luca dan perpustakaan terbesar di dunia yang pernah ada di Bibliotheca Alexandrina, serta kemampuan seorang lector yang mempengaruhi pendengarnya pasti akan menarik minat para bibliophile dan para pembaca umumnya untuk melahap habis novel ini.
Selain itu, novel ini berhasil menempatkan posisi pembaca buku di tempat terhormat sebagai tokoh sentral dan merupakan ruh dari keseluruhan novel ini, berbeda dengan novel-novel lain yang kadang menempatkan tokoh seorang pembaca buku hanya sebagai pelengkap cerita dengan sosok seorang berkacamata tebal yang terasing dalam dunianya sendiri.
Dari semua hal diatas, tak heran jika novel ini mencuri perhatian para pembaca buku fiksi dan menuai sukses. Hal ini terbukti ketika cetakan pertamanya sebanyak 10.000 ekslempar ludes hanya dalam waktu tiga hari saja. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam tujuh belas bahasa dan menjadi International Best Seller. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi penulisnya karena ini adalah novel perdananya.
@htanzil
http://bukuygkubaca.blogspot.com
Detail Buku
Judul: LIBRI DI LUCA
Penulis: Mikkel Birkegaard
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penyunting: Moh. Sidik Nugraha
Penerbit: Serambi Ilmu Semesta
Cetakan: II, Des 2009
Tebal: 588 hlm
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.