Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.
“As for the story, the level of espionage in Rome and Greece has always fascinated. I was a classics student and was surprised to discover loads of intrigue around every corner. So I thought, what if some of that ancient intrigue came with modern consequences? I began to research illegal excavation sites around the world and started to see a pattern: some of the largest sites of archaeological destruction were damaged for purely political purposes – simply as a way to erase the past — and then it occurred to me, what if someone was politically motivated to control – not the future, but the past?”
Membaca kisah petualangan Jonathan Marcus ini, serasa membuat adrenalin terpacu lebih kencang. Kisah yang mengantarkan Marcus meyingkap mengenai keberadaan Menorah, simbol monoteisme yang paling kuno. Simbol keagamaan sepanjang zaman.
Menorah yang kira-kira seperti inilah gambar ilustrasinya.
Petunjuk awal berupa tulisan Phene nike umbilicus orbis terrarium berhuruf latin dalam bentuk sebuah tatto pada mayat, menjadi hal yang mengantarkan Marcus ke dalam situasi yang lebih kompleks.
Marcus yang akhirnya secara tidak sengaja berpartner dengan Dr. Emili Travia, ilmuwan PBB yang juga adalah mantan kekasihnya di masa lalu, terus-terusan menghadapi bahaya dalam setiap langkah mereka demi menyingkap misteri dalam artefak tersebut. Arterfak yang berumur lebih dari 2000 tahun tersebut.
Pada bab menjelang akhir cerita, dikisahkan Jon dan Emili yang berusaha keluar dari Israel dengan bantuan Eilat Segev memakai pesawat El Al. Mereka bermaksud untuk kembali ke Italia, walaupun pihak Carabineri di Roma telah mengeluarkan surat penahanan yang berlaku di seluruh Uni Eropa bagi mereka berdua.
Lucunya, mereka begitu percaya diri tidak akan sampai tertangkap di bandara Fiumicino, Italia, karena para petugas Carabineri Fiumicino akan mancari-cari mereka berdua di antara penumpang yang hendak ke luar negeri, bukan sebaliknya.
Walaupun ada beberapa orang yang membandingkan kisah dari Levin ini mirip dengan kisah Da Vinci Code series yang ditulis Dan Brown, dari segi pemecahan simbol dan teka-teki, tetapi The Last Ember ini terasa lebih kompleks.
Dari cerita tentang Monoteisme kuno, yang mengapa harus menyembah pohon, mengingatkan saya akan film Avatar yang fenomenal.
Diceritakan juga bagaimana laut merah itu ada dan terbelah, membuat saya kagum akan riset yang dilakukan Levin dan pengetahuan yang ia miliki.
(Resensi: Noviane Asmara)
Detail Buku
Judul: THE LAST EMBER
Penulis: Daniel Levin
Penerjemah: Fahmi Yamani
Tebal: 573 halaman
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Juni 2010
Sejarah selalu punya banyak sisi, saat diceritakan oleh pihak-pihak yang berbeda. Sesuatu yang menjadi keyakinan umum belum tentu menggambarkan kejadian sebenarnya, meski telah dikisahkan turun-temurun selama ratusan bahkan ribuan tahun. Sejarah juga kerap menjadi alat politik, karena pihak yang berkuasa tak jarang berusaha mengendalikan sejarah demi mengabadikan nama harum kekuasaan mereka.
Semangat ‘mengoreksi’ sejarah dalam kemasan budaya populer bisa dibilang mulai hidup sejak Dan Brown meluncurkan Da Vinci Code. Walaupun bukan yang pertama, namun karya Brown tak bisa dipungkiri adalah yang paling fenomenal hingga saat ini.
Semangat serupa jelas terbaca dalam karya perdana Daniel Levin, The Last Ember atau Bara Terakhir. Sebagai keturunan Yahudi, sejarah bangsanya tentu menjadi topik yang menarik bagi peraih gelar sarjana dalam bidang peradaban Romawi dan Yunani dari Universitas Michigan ini. Dan bagian sejarah yang dipilih Levin untuk diceritakan dalam buku ini adalah mengenai keberadaan Menorah, kandelabra bercabang tujuh dengan api abadi yang (menurut kepercayaan) menjadi saksi atas perjanjian bangsa Israel dengan Tuhan, simbol janji abadi bahwa keturunan Ibrahim akan sama banyaknya dengan jumlah bintang di langit dan pasir di tepi pantai.
Api abadi dengan kekuatan seperti itu tentu ditakuti oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi. Tak heran jika sejak abad ke-7 SM, bangsa Assyria sudah berusaha memadamkannya namun gagal. Begitu pula ketika bangsa Babilonia melakukan upaya yang sama pada tahun 586 SM. Dan sejarah mencatat bahwa menorah ini baru berhasil dicuri oleh bangsa Romawi dibawah pemerintahan kaisar Titus pada abad ke-1 Masehi. Dan sejak itu terus berpindah tangan dari bangsa demi bangsa yang mengalahkan Romawi.
Itu yang tercatat dalam sejarah. Namun Levin menghadirkan ‘koreksi’ sejarah dalam buku ini. Berdasarkan penelitian Jonathan Marcus, pengacara muda mantan mahasiswa sejarah paling cemerlang di Akademi Amerika di Roma, menorah yang asli sebenarnya tidak pernah lepas dari tangan bangsa Yahudi. Flavius Yosefus, yang dalam sejarah disebut sebagai pengkhianat Yahudi karena bekerja untuk Kaisar Titus setelah kejatuhan Yerusalem, ternyata seorang mata-mata hebat yang dengan kerumitan rencana yang dia susun, berhasil menyelamatkan menorah dari tangkapan pasukan Romawi. Artinya, menorah yang selama ini selalu berpindah tangan mengikuti pihak yang berkuasa, adalah palsu belaka.
Dengan plot menegangkan dan penuh kejutan khas cerita thriller, dalam waktu 24 jam Jonathan Marcus, bersamai mantan kekasihnya Emili Travia yang bekerja di Pusat Konservasi Internasional PBB, menelusuri labirin penuh rahasia dan menguak misteri demi misteri yang terbentang antara Roma dan Yerusalem, guna menyingkap keberadaan menorah tersebut. Semua berawal ketika potongan Forma Urbis, peta kuno Roma dari batu muncul di sebuah pameran di Italia. Emili berupaya membuktikan bahwa kepemilikan forma urbis itu ilegal, sementara Jonathan ditugaskan oleh kantor pengacaranya untuk mementahkan tuntutan tersebut. Namun pesan rahasia berusia ribuan tahun di dalam forma urbis yang tanpa sengaja terungkap oleh Jonathan, membuatnya meninggalkan tugas dan kembali bertualang bersama Emili dalam dunia arkeologi yang menjadi cinta sejatinya.
Di luar kisah seru yang dihadirkan, tampak jelas bahwa Levin bemaksud mengangkat sebuah isu yang sebenarnya cukup ‘panas,’ yaitu mengenai Dewan Wakaf – sebuah yayasan perwalian rahasia Islam yang menangani Baitallah di Yerusalem sejak 1187 M. Levin menggugat otoritas yayasan tersebut yang sejak ratusan tahun lalu melarang pihak asing memasuki Baitallah. Akibatnya, kecurigaan Israel bahwa telah terjadi penggalian ilegal di bawah Baitallah tidak pernah dapat dibuktikan. Israel merasa berkepentingan karena penggalian tersebut diduga bermaksud menghancurkan peninggalan sejarah Yahudi-Kristen yang tak ternilai harganya. Levin secara tersirat juga menegaskan bahwa sudah saatnya bangsa Yahudi mendapatkan apa yang menjadi hak mereka, yang selama ribuan tahun (menurut sudut pandangnya) telah dirampas dari mereka.
Jika perdebatan ‘diseriusi’ sampai ke tataran politik dan agama, tentu tulisan Levin ini bisa menuai banyak diskusi, bahkan sanggahan dan protes. Sesuatu yang juga dialami Dan Brown setelah mengutarakan berbagai teorinya dalam Da Vinci Code.
Namun, seperti pernyataan Levin dalam wawancaranya dengan Steve Berry: “My primary goal was to entertain, so I hope readers have a great time with the story. I did writing it. Now if they happen to learn something they didn’t know, then that’s a great bonus.” Saya juga akan berhenti menilai karya Levin ini hanya sampai tataran hiburan. Sebuah hiburan yang cukup memperkaya pembaca dengan fakta-fakta sejarah serta dunia kuno Roma yang hingga saat ini masih terkubur di bawah kota Roma modern. Adalah kearifan pembaca sendiri yang akan memilah mana fakta dan mana fiksi dalam lembar-lembar halaman buku ini.
(Resensi: Barokah Ruziati)
Detail Buku
Judul: THE LAST EMBER
Anak Judul: Bara di balik penggalian bawah tanah Al Aqsa
Pengarang: Daniel Levin
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penerbit: Serambi
Tebal: 573 hlm
Cetakan : I, Juni 2010
“Bila kau ingin lepas dari dukamu, lepas tanpa kau kehilangan kepekaan, temuilah aku di sini. Bulan purnama yang kaulihat di malam hari menjadi tanda bahwa kita akan bertemu. Kau terlalu muda untuk memanjakan dukamu.” (hal. 147)Dari Rumah Gajah milik keluarga Pitanan, Raden Ayu Danti, seorang putri bangsawan dari keluarga Dananjayan memainkan perannya dalam Perang Jawa yang meletus di awal tahun 1825 dan merenggut lebih dari dua ratus ribu nyawa. Putri cantik itu memakai nama Arumdalu (bunga sedap malam), menjalankan pergaulan dengan kalangan orang-orang penting, sehingga diisukan sebagai pelacur kelas tinggi.
Benarlah bahwa daya cinta teramat besar, sehingga mampu menggulingkan roda kehidupan seseorang. Seseorang yang dilukai cinta dapat melakukan hal-hal yang barangkali tak terencanakan sebelumnya. Seorang bangsawan terhormat bersedia menjadi budak demi berdekatan dengan orang yang dicintainya. Seorang terpandang rela menceburkan diri ke lembah bahaya penuh intrik demi menebus rasa bersalah atas nasib pahit yang ditanggung kekasih hatinya.
Demikianlah, skenario nasib menautkan Mas Brata (kelak menukar namanya menjadi Ki Brontok), Danti Arumdalu, Den Mas Danar, Den Mas Lesmana, Karsa, Resa, dan Karni dalam sebuah drama yang berpaut pada peristiwa sejarah perang besar di Tanah Jawa. Bagi pembaca yang pernah menjadi penyimak setia sandiwara radio, kisah berliku yang dirangkai oleh penulis novel Glonggong ini penuh dengan sepak terjang konflik yang mendebarkan. Secara berbingkai, cerita dismpaikan melalui tokoh Danukusuma (adik Danti) yang menceritakan kisah yang dituturkan oleh Ki Brontok sebelum meninggal. Ya, cerita di dalam cerita atau istilahnya cerita berbingkai.
Bermula dari cinta segitiga antara Mas Brata-Danti-Resa yang berakibat fatal pada terbunuhnya Ki Ambalawa (orang tua Resa dan Karsa) dalam sebuah peristiwa berdarah yang dirancang oleh Den Mas Danar yang menginginkan adiknya bersuami dengan laki-laki kaya raya. Setelah Ki Ambalawa tewas, Danti kemudian dinikahkan dengan seorang bangsawan kaya yang cacat mental, Den Mas Lesmana. Sebelum pernikahan, Danti menyelundupkan Resa ke kamarnya dengan maksud menyerahkan kegadisannya. Namun Resa yang patah hati tidak bersedia kemudian pergi dalam keadaan frustasi dan ditemukan oleh petinggi Laskar Dipanegaran.
Masing-masing kemudian menjalani kehidupannya; Danti dengan pernikahan semu, Brata menjadi priyayi yang hidup berfoya-foya, dan Resa menikah dengan pelayan bernama Karni yang ternyata adalah seorang mata-mata Laskar Dipanegaran. Pada akhirnya, perjalanan waktu mengalirkan mereka pada pilihan untuk bergabung membela pangeran Aria Dipanegara dalam peran yang berbeda. Puncaknya adalah ketika mereka terlibat dalam usaha membebaskan Kiai Maja, satu dari tiga tokoh berpengaruh dalam Perang Jawa, yang disekap Belanda di Benteng Salatiga.
Detail Buku
Judul: ARUMDALU
Tagline: Tiap-tiap sejarah besar diwarnai kejadian kecil yang kadang lebih menarik daripada peristiwa besar itu sendiri
Pengarang: Junaedi Setiyono
Penerbit: Serambi
Cetakan: I, Mei 2010
Tebal: 378 hlm
Gita Cerita Utama adalah salah satu lini produk penerbit Serambi yang mempersembahkan buku-buku karya Penulis kelas dunia, seperti Dan Brown, Orhan Pamuk, Amin Maalouf, Tariq Ali, Toni Morisson, S.J. Rozan, dan masih banyak lagi.
Menghidangkan kisah-kisah pilihan, baik fiksi maupun nonfiksi, yang cerdas sekaligus melipur.